jalan dan wisata · Serba Serbi

Jalan Pagi ke Gedung Sate

Aktivitas jalan pagi setidaknya sudah jadi kebiasaan saya terlebih dihari libur. Kebiasaan ini bermula semenjak pandemi, sih. Jadi waktu lagi ada di Bandung memang berencana melakukan kegiatan sama. Kepikiran berjalan ke arah Gedung Sate yang katanya jadi salah satu tempat olahraga di kota Bandung. Setelah lihat-lihat peta, ternyata berjarak kurang lebih 1,6KM dari tempat saya menginap. Pulang pergi berarti kurang lebih 3.2KM. Masih sangguplah, toh cuaca Bandung juga adem. Meskipun ujung-ujungnya berniat naik gojek kalo ngga sanggup lagi balik dengan berjalan kaki. Perjalanan pagi itu dimulai sekitar pukul 06:30 disaat tanah Bandung masih lembab dan dedaunan masih berembun sisa hujan semalam.

Jalan Santai Sepanjang Trotoar Kota Bandung

Ngerasain kemacetan parah dikunjungan akhir tahun lalu sempet bikin saya males jalan-jalan di dalam kota. Ternyata ngga semua ruas jalan mengalami hal yang sama. Terlebih pagi itu suasana sungguh berbeda. Udara yang luar biasa sejuk, segar dan jalanan lengang bikin smakin semangat jalan pagi. Diawali dari jalan Wastukencana lokasi dimana hotel tempat saya nginep menuju jalan Martadinata. Setidaknya begitu petunjuk peta. Meskipun ada beberapa alternatif rute menuju kesana. Saya pilih jalan ini karna saya yakin sanggup menempuh jaraknya dengan berjalan kaki. Melewati pasar bunga, sesekali langkah kaki didahului oleh rombongan pesepeda. Menyusuri trotoar yang sangat jarang sekali dihadang oleh pedagang kaki lima. Beda dengan kota tempat saya tinggal, trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki malah hampir seluruhnya sudah berubah fungsi.

Saya suka sekali dengan bola-bola batu yang diletakkan teratur di sepanjang sisian trotoar kota Bandung. Banyak juga kursi yang sengaja disediakan. Sebagian dijadikan tempat tidur tuna wisma. Pagi itu, selain pesepeda hanya ada pemulung, tukang sampah dan pedagang kecil yang mulai beraktivitas. Disetiap persimpangan selalu ada tugu yang berisi tulisan dengan bahasa Indonesia juga bahasa asing.

Berbelok ke kiri agak menanjak menuju Jl. Martadinata ketemu tugu lagi di pertigaannya. Jalanan di sebagian besar kota Bandung ini aspalnya hitam dan mulus-mulus. Apalagi setelah tersiram hujan jadi keliatan bersih dan mengkilat sekali. Trotoarnya juga ngga banyak yang pecah-pecah. Sepanjang jalan ini banyak sekali fashion outlet ternama yang cabangnya juga ada dikota saya. Rumah Sakit Ibu dan Anak dan beberapa gerai makanan kekinian. Di ujung jalan, mentoknya adalah sebuah Fashion Outlet yang cukup terkenal bernama 3Second sekaligus bersimpangan dengan jalan Banda tempat saya berbelok kiri menuju kesana. Dibanding Martadinata, jalan Banda jauh lebih enak untuk jalan kaki karna sepanjang jalan pepohonan rindang menaunginya. Sering juga berpapasan dengan sesama pejalan kaki.

Kupat tahu adalah salah satu makanan sarapan yang banyak saya jumpain sepanjang jalan pagi itu. Dasar memang saya ngga hobi kulineran dengan mencoba berbagai makanan meskipun khas, saya lewatkan saja mereka. Sampai di ujung jalan Banda, belok kiri sudah tiba di sebelah kawasan kantor Gubernur Jabar. Jalan sedikit kemudian belok kanan, kembali menyusuri trotoar yang agak unik. Beberapa “ubin” trotoar sengaja diukir motif batik dengan tulisan nama dearah asalnya. Beberapa langkah kemudian tibalah di Gedung Sate. Meskipun pelatarannya ditutup tapi tetep rame ibu-ibu pesepeda berhenti buat foto-foto.

Sebelum kesini saya ngga tau kalo Gedung Sate itu berada di dalam satu komplek Gubernuran. Saya pikir gedung ini seperti Kota Tua atau Lawang Sewu yang berdiri sendiri sebagai tujuan wisata. Oh ternyata tempat Pak RK berkantor. kurang puas sebenernya belum bisa masuk ke dalam.

Lanjutkan membaca “Jalan Pagi ke Gedung Sate”
jalan dan wisata · Serba Serbi

Floating Market Lembang

Membahas tentang Bandung rasanya memang kurang lengkap jika tidak menyebut Lembang. Dataran tinggi beriklim sejuk tempat berkumpulnya segala macem model wisata yang kalo akhir pekan bakalan rame dan maceeet parah. Begitu juga kunjungan saya saat itu. Kejebak macet sepanjang jalan kenangan bikin pinggang pegel. Untung pemandangannya hijau royo-royo, dengan udara sejuknya meskipun dibeberapa titik banyak gunungan sampah. Terutama di pinggiran jurang-jurang.

Selepas kunjungan dari Tangkuban Perahu, sempet mau mampir ke Orchid Cikole. Pas di depan loket tiket, mikir-mikir lagi mengingat waktu yang terbatas dan gerimis pula lagi rasanya kurang seru hujan-hujanan di hutan. Udah pernah soalnya. Saya putuskan ngga jadi masuk. Puter balik dan milih Floating Market jadi tempat singgah menghabiskan waktu sore. Saya, sih memang sudah lama penasaran sama kawasan wisata ini. Toh lokasinya deket sama hotel, sekalian jalan balik ke hotel.

Sebentar di Tangkuban Perahu

Keliling Sebagian Kawasan Floating Market

Salah satu tempat wisata keluarga di Bandung selain GTP dan Kawah Putih yang patut untuk dikunjungi adalah Floating Market, Lembang. Kawasan wisata buatan ini, HTM nya 30ribu (pada saat itu long weekend dan ada hari libur nasional). Ditiket sih ada tulisan bisa ditukar sama minuman, tapi ngga kepikiran buat nukerin. Begitu pegang tiket, saya langsung masuk dan nyari musolah mengingat waktu ashar udah hampir habis. Selepas solat ngeliat jam udah hampir jam 5 sore. Masih ada waktu sekitar 1 jam buat keliling-keliling lokasi. Yang penting udah pernah masuk dan tau seperti apa dalemnya, gitu aja deh…

Masuk dari sebelah mana gitu ya, pokoknya belok kanan langsung ketemu kebun bunga warna warni. Trus mandang ke bawah keliatan danau dan seluruh area wisata. Seru sekali kaya lagi ada di puncak gitu. Gatau deh, karna udah capek jadinya ngga sempet liat-liat peta atau keterangan lagi di wahana apa, gitu. Saya cuma numpang lewat karna takut lokasinya keburu tutup juga. Sambil lewat ya sesekali foto lah tetep, haha.

Trus jalan lagi sampe dapet lorong menuju hutan pinus mini yang mana di sebelah kanan atas adalah wahana flying fox. Keluar hutan pinus belok kiri baru deh ketemu floating marketnya. Dalam bayangan saya, transaksi di floating market itu dilakukan bener-bener di atas air kek pasar terapung di Kalimantan itu. Baik penjual maupun pembeli sama-sama dayung sampan gitu. Rupanya, hanya perahu yang ditambatkan dipinggir danau sebagai tempat lapak penjual. Sementara pengunjung tetap ada di daratan. Saya ngga ada beli apa-apa jadi ngga ada tukar koin.

Saya ngga kepikiran buat bertransaksi apa-apa disini. Lebih tepatnya ngga sempet, deng. Selain rame, juga kejar-kejaran sama waktu. Saya lanjutkan jalan sesuka hati mengikuti kaki melangkah. Bukan ngikuti tanda panah. Yang dicari adalah papan koin yang sering dijadiin latar foto. Ya apalagi kalo bukan ikutan poto, haha. Rela nunggu antrian, ya….

Lanjutkan membaca “Floating Market Lembang”
jalan dan wisata · Serba Serbi

Sepanjang Braga dan Asia Afrika

Ntah kapan tepatnya saya punya keinginan untuk bisa mengunjungi Braga. Seperti halnya keinginan duduk menikmati suasana malam di Malioboro, Jogja atau bersepeda ria di Kota Tua, Jakarta. Braga, Kota Tua dan Malioboro, ketiga tempat yang akhirnya kaki saya meninggalkan jejaknya disana meskipun ngga sempat bersepeda ria. Mungkin akan ada Kota Tua part 2. Aamiin…

Menikmati Malam di Malioboro

Saya punya ketertarikan dengan ketiga tempat itu setelah melihatnya dari galeri foto di internet. Ketiganya punya kesamaan. Dari mulai Gedung-gedung tua yang cantik dan estetik juga keingintahuan tentang sejarah yang melatarbelakanginya. Saya memang suka dengan hal-hal yang kuno, unik dan bersejarah. Bermula dari hayalan berbagai kegiatan apa yang seru dilakukan saat disana. Berfoto atau sekedar duduk santai menikmati sore sambil makan tahu gejrot atau es krim.

Sejarah Batavia Ada di Kota Tua

Janji saya ketika berhayal, saya harus ke Braga bila ada kesempatan berkunjung ke Bandung. Tahun 2016 kunjungan pertama ke Bandung belum ada kesempatan, lebih tepatnya ngga kepikiran. Kunjungan kedua juga belum ada kesempatan karna lebih banyak berwisata didua lokasi primadona luar kota Bandung. Tangkuban Perahu dan Kawah Putih. Kali ketiga akhirnya ke Braga plus bonus naik Bandros. Alhamdulillaah…

Tangkuban Perahu ,Kawah Putih , Naik Bandros

Sekilas Tentang Braga

Dahulu hanya sebuah jalan kecil yang punya julukan jalan culik akibat dari jalan yang terlalu kecil, sunyi dan rawan. Berangsur-angsur ramai sejak para Belanda bikin semacam toko pakaian dan kedai kopi. Terbukti yaa, sampe sekarang dimana ada fashion outlet dan warung kopi ramailah tempatnya. Menyusul kemudian dibangun gedung swalayan pertama di kota Bandung bernama De Vries. Terus Gedung Concordia yang saat ini bernama Gedung Merdeka kemudian hotel Savoy Homann yang menjadi tempat menginap tamu peserta Konfrensi Asia Afrika. Braga perlahan-lahan mulai ramai dan menjadi jalan utama.

Mendengar penuturan guide Bandros waktu itu, asal usul penamaan Braga berasal dari bahasa Sunda Ngabaraga yang artinya bergaya atau mejeng. Braga waktu itu memang menjadi tempatnya anak nongkrong. Sampe sekarang, sih. Ruas jalan yang tak terlalu panjang itu, dulunya jadi tempat pertemuan sambil jalan-jalan dan belanja. Sebab kala itu di kota Bandung, Jalan Bragalah satu-satunya tempat shopping paling bergengsi.

Pada masa itu, Belanda yang fashionnya berkiblat pada Prancis sehingga apa sedang gandrung di kota Paris, mereka ikuti dan dibawa sampai Bandung. Dari sinilah muncul istilah Paris Van Java. Tetapi sejarawan Bandung bernama Haryoto Kunto bilang, julukan Paris Van Java bukan untuk menunjukkan keindahan seperti di Paris, melainkan lebih pada kecantikan dan kemolekan mojang-mojang Priangan, yang mirip dengan kecantikan wanita-wanita di Paris. Begitu juga dengan istilah Kota Kembang, bukan berarti di kota Bandung banyak bunga, melainkan banyaknya mojang-mojan geulis (gadis-gadis cantik) di kota Bandung yang diibaratkan kembang wangi dan indah. Terbukti, sih. Saya liat perempuan Bandung itu cantik, manis dan modis dan lemah lembut. MasyaAllah…

Menjelang Konferensi Asia-Afrika tahun 1955, bangunan-bangunan di jalan Braga dipercantik menjadikan jalan ini kembali hidup kembali dan meriah sampai sekarang.

Braga Sore Itu

Saya jadi tiba-tiba ingat apa yang bikin saya tertarik pada Braga selain mau lihat gedung-gedung tuanya. Adalah bola-bola batu yang diletakkan dihampir setiap sisi jalanan kota Bandung. Ya sama kayak Kota Tua juga punya bola-bola batu di pelatarannya. Ya ampun, sederhana sekali ya, hahaa. Maklum di kota saya Medan ngga ada bola-bola batu kekgitu. hikss. Selain itu saya tertarik pingin liat jalannya yang bisa hitam dan mengkilat (kalau difoto). Yang tadinya saya pikir itu paving blok yang sengaja dibikin warna hitam. Saya baru tau dari guide Bandros ternyata itu susunan dari batu endesit. Sejenis dengan batu pada candi-candi di Jogja. Wow, pantes eksotik…

Tapi, begitu nyampe batin saya berkata beda jauh dengan kondisi yang saya liat di foto dari internet, ya? Difoto ngga ada motor dan mobil terparkir tapi ini malah berjejer sesak. Di trotoar banyak tersedia mesin parkir tapi kenapa masih ada kang parkir? Lalu, bola-bola batunya jadi ketutupan, dong. Pada intinya mengurangi keestetikan jalan Braga. Menurut saya sih, gitu. Ngga tau apakah memang sedari dulu tempat parkiran memang disitu atau pas saya liat difoto momen lagi ngga ada kendaraan parkir? Coba disterilkan dari parkiran, kan lebih cantik, ya.

Waktu ke Kota Tua, yang langsung keinget adalah Malioboro dan Tugu Jogja. Nah waktu ke Braga, yang keinget adalah Malioboro dan Kota Tua. Ketiganya punya vibe yang sama. Saya juga bingung mau menyampaikannya. Pokoknya saat berada disana seperti terkenang akan sesuatu atau seseorang tapi ngga tau apa dan siapa. Mungkin karna saya orangnya perasa. Syukurnya yang dirasakan itu adalah vibe positip, tenang, damai yang bikin selalu rindu dan ingin kembali….

Lanjutkan membaca “Sepanjang Braga dan Asia Afrika”
jalan dan wisata · Serba Serbi

Gerimis di Kawah Putih yang Romantis

Karna dimusim penghujan, kunjungan saya ke Kota Kembang pertama dimasa pandemi ini lebih banyak bekerja dari kamar dan sama sekali ngga keliling kota padahal sangat pingin ke Gedung Sate, Mesjid Raya, Alun-alun dan Braga. Kalo ada kerjaan lagi ke Bandung, saya harus sempetin keliling dalam kota. Tapi begitupun sudah saya perjuangin untuk bisa datang ke tempat-tempat yang bikin rindu seperti Tangkuban Perahu meskipun udah pernah kesana dan juga tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Karna saya sukanya yang alam-alam, saya rela berjauh-jauh ria sekaligus menerobos kemacetan demi bisa kesana, lagi-lagi meskipun harus kehujanan. Selain Tangkuban Perahu, Kawah Putih juga jadi destinasi primadona yang rasanya wajib dikunjungin bila sedang berada di Bandung. Kalo di Medan mungkin bisa diibaratkan antara Danau Toba dan Tanah Karo. Keduanya merupakan destinasi alami andalan di Sumut yang lokasinya beda arah. Begitu juga Tangkuban Perahu dan Kawah Putih. Satu di Kabupaten Bandung Barat satu lagi di Kabupaten Bandung Selatan. Jadi kalo mau maksimal, kunjungi keduanya dihari yang berbeda.

silahkan singgah: Tangkuban Perahu

Rute Menuju Kawah Putih

Alternatif menuju Kawah Putih

  1. Bila keluar dari pintu tol Kopo, langsung cari Jl. Raya Soreang menuju Ciwidey
  2. Dari kota Bandung, langsung cari Jl. Raya Soreang menuju Ciwidey

Rutenya sih sederhana, cuma ngelewatin dua jalan tersebut. Tapi karna jalannya itu panjang bisa bikin ragu, apalagi yang baru pertama kalinya. Ini bener ngga sih, bener ngga sih? sambil sering-sering cek gmap yang sinyalnya hilang timbul itu.

Saya berangkat selepas sarapan sekitar pukul 9 pagi. Libur panjang menyebabkan kemacetan di Kota Bandung sampe hampir sepanjang jalan menuju Ciwidey, lokasi si Kawah Putih. Jadi dari Bandung cari jalan menuju ke jalan terusan Soreang yang lumayan panjang sampe ketemu Ciwidey yang ditandai dengan mulai disambut udara sejuk dan pepohonan pinus di kanan dan kiri jalan. Sepanjang jalan Ciwidey ini, bakalan banyak kita lewati destinasi wisata buatan manusia yang sering wara-wiri di IG bertema wisata. Seperti Bumi Perkemahan Ranca Upas, Kebun stroberi, Green Hill Park, Bukit Jamur, Kebun teh Rancabali, Situ Patenggang, Hot Spring Cimanggu, Taman kelinci dan juga air terjun. Duh, pingin disinggahin semuanya. Berjarak sekitar 25Km, saya tiba setelah hampir 2 jam perjalanan sudah pakai kejebak macet dan berhenti lihat-lihat peta. “Wilujeng Sumping” yang bermakna selamat datang, itulah kalimat yang acap kali saya baca dihampir setiap tempat yang saya lewati. Bandung memang juara dalam berkreatifitas. Banyak alam yang disulap jadi tempat wisata menarik dan cantik. Baik di dalam kota maupun luar kota dan itu dengan cepat menjadi terkenal sampe seluruh nusantara.

HTM dan Fasilitas di Kawah Putih

Sampe di kawasan Kawah Putih, disambut gapura selamat datang kemudian sedikit belok ke kanan menuju loket pembelian tiket. Yang lalu seingat saya HTM masih 25ribu untuk tiket masuk, 25ribu untuk ongkos menuju puncak Kawah Putih, dan 10ribu untuk tiket terusan spot foto serta biaya parkir. Jadi boleh pake tiket terusan bole juga ngga. Kalo ngga pake, resikonya ya ngga bole masuk ke lokasi spot foto. Tapi kalo selisihnya cuma 10ribu ya bayar aja kali, ya. Jadi total per-orangnya 60ribu di luar tarif parkir. Karna mobil dan motor serta bus tarif parkirnya beda-beda. Tiket nggak sempet kefoto dan keburu lecek juga kena hujan.

Lengkapnya HTM terbaru saya pinjem dari situs travelspromo.com. Sepertinya harga ada kenaikan sedikit.

Tiket Masuk Terusan + Dermaga Ponton + Skywalk CantigiRp38.000
Wisatawan DomestikRp27.000
Wisatawan MancanegaraRp81.000
Angkutan WisataRp27.000
Jasa Lingkungan (Parkir R4 di Pusat Kawah)Rp162.000
Dermaga PontonRp10.000
Sunan IbuRp11.000
Sky Walk CantigiRp10.000
Charge Foto Pra WeddingRp500.000
Charge ShootingRp3.000.000
Tiket Parkir Kendaraan 
Tiket Parkir MotorRp6.000
Tiket Parkir MobilRp11.000
Tiket Parkir BusRp27.000
sumber: HTM Kawah Putih
Lanjutkan membaca “Gerimis di Kawah Putih yang Romantis”
jalan dan wisata · Serba Serbi

Lewat Asia Afrika Naik Bandros

Waktu jalan-jalan di Kota Tua Jakarta beberapa tahun lalu, saya pingin sekali naik bus wisata yang bertingkat disana. Kebetulan salah satu titik keberangkatannya tepat di depan stasiun Jakarta Kota yang pas sebelahan dengan Kota Tua. Tapi waktu liat antriannya yang panjang beneeerr, dan waktu juga udah mepet, nyali jadi ciut. Ngga jadi, deh. Akhirnya mampir ke Mesjid Istiqlal dan Situ lembang

Mampir dong Kota Tua , Masjid Istiqlal, Situlembang

Kunjungan ke Bandung kali ini ngeliat bus wisata yang lebih lucu. Bentuknya sih mirip odong-odong. Odong-odong kalo di Medan identik dengan anak-anak dan musik dangdut yang meriah. Lain hal dengan odong-dongnya kota kembang. Karna dikemas sedemikian rupa, dilengkapi dengan city tour guide dan sound system yang bagus, jadinya odong-odong ini bernilai tinggi. Bus ini adalah bagian dari program Walikota kala itu yang memang terkenal dengan jiwa milenialnya, sebagian dari APBD dan sebagian lagi merupakan program CSR dari beberapa perusahaan dalam rangka membantu penggalakan wisata Jawa Barat khususnya kota Bandung. Kalo di Medan punya Mowiee yang ngga kalah oke.

Bandung City Tour on Bus disingkat Bandros adalah sebutan untuk bus wisata yang lucu ini. Bus petak yang bagian depan sekilas mirip Tayo ini punya sekitar 8 kursi besi masing-masing 4 di sisi kiri dan kanan serta 2 kursi di belakang (seperti kursi besi yang ada di kapal penyebrangan Parapat), Badan bus dan jendelanya sebagian besar dibiarkan terbuka dan dihias dengan ornamen serta lukisan-lukisan warna warni. Penamaan bus ini berawal dari sayembara kemudian dimenangkan oleh seorang pemuda sana. Bandros sendiri adalah sebutan untuk jajajan khas Jawa Barat yang bentuknya mirip kue pancung. Kreatif sekaligus mbandung sekali ya bikin namanya. Kalo di Medan anggap aja kita punya makanan khas Batak yang disebut ARSIK. Kalo disingkat jadi Armada Raun-Raun Asik. Cemana? Cocok? tapi kurang macho ya, hahhaahaaaa

petak mirip tayo. Bandung memenga juara

Awal-awal bus ini beroprasi, bentuknya nyaris mirip dengan bus wisata yang ada di London. Berwarna merah seperti warna sponsornya, tinggi dan bertingkat. Namun kecelakaan yang menimpa seorang mahasiswa yang jatuh kemudian meninggal membuat bus ini berhenti berkeliling. Selain keluhan lainnya adalah kabel-kabel listrik yang menjuntai-juntai berantakan dihampir sepanjang jalan kota Bandung suka nyangkutin kepala dan itu membahayakan sekali. Kemudian tampilan bus dimodif lebih sederhana dan lebih lucu.

Bandros

Jalan-jalan di atas bus ini dengan suasana udara Bandung yang sejuk serta angin sepoi-sepoi sebenernya bisa bikin kita ngantuk. Disinilah dibutuhkan peran Tour Guide yang aktif dan pintar membangun suasana. Menjelaskan segala sesuatu dengan detail dan lengkap sambil sesekali diselipin lucu-lucuan biasanya bisa bikin peserta tour jadi tertawa dan antusias mendengarkan bahkan ada yang tergelitik untuk bertanya lebih jauh.

Dengan tarif 20ribu per orang, kita udah bisa jalan-jalan keliling kota Bandung selama kurang lebih 45 menit. Bukan sebuah harga yang mahal apabila yang kita dapatkan adalah ilmu, sensasi dan kontribusi kita memajukan wisata kota. Beroprasi mulai pukul 8 pagi sampai pukul 4 sore.

Kru Bandros
Lanjutkan membaca “Lewat Asia Afrika Naik Bandros”
jalan dan wisata · Serba Serbi

Sebentar di Tangkuban Perahu

Lembang, setelah diguyur hujan dari semalaman, paginya masih menyisakan gerimis dan meninggalkan angin yang teramat dingin menusuk tulang. Kalau ngga ingat waktu yang sayang terbuang, rasanya setelah subuh, masih ingin berleha-leha di atas kasur empuk dan bersembunyi dalam selimut tebal sambil memandangi bukit-bukit dengan perkebunan hijau dihias patung-patung berbentuk aneka buah dan kartun yang lucu sebagai wahana bermain anak. Dari jendela kaca kamar yang lebar di lantai 2, masih terlihat rintik hujan kecil-kecil di luar sana. Kalau di Tanah Jawa, jam 6 pagi udah seterang jam 7 pagi kalo di Medan. Selama pandemi, hampir seluruh hotel yang saya inapi menyediakan pelayanan sarapan yang diantar ke kamar. Dari beberapa hotel tersebut, Hotel Vipassana Lembang adalah satu-satunya hotel dengan sarapan terlengkap. Makanan beratnya, cemilan, buah-buahan, kopi, teh dan juice diantar ke kamar dan disusun rapi di atas meja. Hotel ini juga setiap kamarnya punya balkon. Untungnya ngga lama kemudian gerimisnya berangsur-angsur hilang bersamaan dengan keluarnya sinar matahari. Rasanya meriah sarapan di balkon sambil mandangin taman dan kolam ikan yang ada di bawah sembari berjemur dihangatnya sinar matahari yang muncul tapi masih malu-malu. Seru sekali bercengkrama dengan tamu lainnya yang mayoritas Tionghoa dan kebetulan jadi tetangga saya yang sama-sama sarapan di balkon. Meskipun ngga kenal, tapi mereka tetangga kanan kiri yang ramah-ramah. Jadi berasa tinggal di rusun, kan. haha.

vipassana hotel

Ngga mau buang-buang waktu, selepas makan saya beberes barang untuk segera check-out dan lanjut perjalanan ke Kota Bandung. Tapi sebelum itu saya mau singgah dulu ke kawasan wisata alam terpopuler yang jadi salah satu ikon dan tujuan utama orang-orang kalo ke Bandung. Rindu juga kesini lagi mumpung lokasinya masih ada di Lembang juga. Setelah proses check-out selesai, bergegas pergi mumpung hujan reda. Baru juga setengah perjalanan, eh, hujan lagi. Jadi keinget momen gagal ke Kaliurang, Jogya, 4 tahun silam karna dihadang hujan deras juga.

Gagal Ke Kaliurang 

Ngga bole ngumpat-ngumpat juga, sih ya dengan rahmat Allah. Hujan bagi sebagian orang itu petaka, tapi rezeki bagi sebagian yang lain. Karna datangnya memang dimusim hujan khas akhir tahun. Waktu itu saya prediksi jalanan bakalan sepi karna musim hujan ditambah situasi pandemi. Nyatanya ngga. Situasi bener-bener kayak ngga ada yang namanya corona. Hampir sepanjang jalan macet parah. Warung – warung pinggir jalan dan restoran semuanya rame. Di hotel juga kemarin siangnya saat menunggu waktu chek-in cuma ada beberapa orang tamu aja, malah saya pikir hotelnya “ngga laku”. Eh, malamnya tau-tau di lobi rame dan parkiran udah penuh. Pada kejebak macet rupanya.

Berbatasan dengan Kabupaten Subang sekitar 20KM dari kota Bandung tepatnya di Desa Cikole – Lembang terdapat sebuah gunung dengan ketinggian sekitar 2084 Mdpl. Gunung yang terkenal akan kisah legendarisnya itu adalah Gunung Tangkuban Perahu (GTP). Tempat wisata pertama yang saya kunjungi selama transit di Lembang.

GTP

Diruas jalan keluar dari Lembang, disuguhkan oleh pemandangan yang sedikit merusak mata dengan banyaknya sampah yang berserakan di tepi-tepi jurang. Harusnya bisa dihindari mengingat Lembang kawasan wisata populer. Sepertinya memang ada yang sengaja buang sampah disitu. Mentang-mentang di tepi jurang. Untungnya ngga begitu penampakan sepanjang jalan. Dan layaknya tempat wisata di pegunungan pada umumnya selalu ada penatapan tempat pengunjung istirahat sambil memandang dari puncak. Biasa menyediakan minuman dan makanan yang hangat-hangat seperti aneka mi, jagung bakar, dan sate. Disini terkenal dengan sajian sate kelinci dan kagetnya lagi ada beberapa warung menyediakan sate biawak! Untung saya ngga singgah apalagi makan disana.

Kurang lebih 2 jam perjalanan setelah melewati kemacetan karna diberlakukan juga jalur buka tutup akhirnya sampe juga. Normalnya sih sekitar 1 jam. Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu (TWA. Gunung Tangkuban Perahu) saat itu sedikit berbeda dengan kondisi pertama kali saya dan keluarga kesini sekitar 6 tahun lalu. Melewati loket tiket, selain untuk beli tiket tentunya, semua pengunjung dicek suhu badannya satu persatu. Infonya sih, kalau ada seorang aja dalam satu rombongan yang suhu badannya tinggi, maka semuanya ngga diijinin masuk. Selain itu, akses masuk ke puncak kawah diberlakukan jalur searah. Jadi ada semacam portal sebagai penutup. Pengunjung akan diarahkan ke pelataran outbound terlebih dahulu untuk bisa menuju ke kawah. Muter dikit, lah. Harus rajin bertanya atau jeli melihat tulisan petunjuk jalan bagi yang jarang-jarang kesini.

Caca Cahyo kecil (2014)
Lanjutkan membaca “Sebentar di Tangkuban Perahu”
jalan dan wisata · Serba Serbi

Tips Sederhana Terbang Aman Dimasa Pandemi

Semua moda transportasi jadi berbeda situasinya dimasa pandemi ini. Dari mulai kapasitas penumpang yang dikurangin sampe ongkos yang dinaikin, hiks!

Bus yang biasa saya tumpangin kalo pulang kampung juga awalnya menerapkan anjuran untuk mengurangi 50 persen jumlah penumpang. Tapi itu berlangsung setengah jalan doang. Sekarang kursi penumpang udah kembali full tapi ongkos ngga dikurangin lagi. Menang banyaklah dia!

Ternyata naik pesawat juga demikian. Kursi tengah wajib kosong, alias “seat distancing”. Setidaknya begitu situasi terakhir saat saya menumpang pesawat citylink Medan – Bandung pulang pergi. Meskipun ada maskapai yang udah mulai “bandel” berdasarkan pengalaman pribadi temen saya, sih.

Mau naik mobil, bus, kereta api, kapal laut dan pesawat rasanya punya resiko yang sama besar terkait pandemi ini. Tapi kenapa aturannya dibikin berbeda, ya? Ada yang ngga pake syarat apapun, ada yang cuma rapid antibodi, ada yang harus antigen, bahkan PCR. Mana masa berlakunya berubah-ubah pula. Tapi ya begitulah, sebagai warga yang baik harus taat aturan.

Nah, setelah sekian lama hiatus naik pesawat pasca pulang merantau dari kota hujan, akhirnya saya kembali terbang sebulan menuju akhir tahun lalu dan masih dimasa pandemi. Tapi sebelumnya saya beberapa kali udah bolak balik ke bandara meskipun cuma antar jemput. Kalo ada yang nanya apa profesi saya? Ya, saya seorang… supir! wkwkwk.

mampir juga, dong

Setelah dibuka kembali beberapa bulan belakangan, Bandar udara Kualanamu Medan seakan kembali bernyawa. Tadinya diawal-awal pandemi, hotel, toko dan semua gerai makanan disana masih tutup. Lampu juga sebagian besar dimatiin. Yang biasanya riuh, terang dan berisik, mendadak jadi gelap dan ngga bersemangat. Bandara hanya diperuntukkan bagi petugas, penumpang, penjemput, dan para supir angkutan. Bahkan railink juga ikut ditutup. Itupun kita ngga boleh masuk area dalam bandara kecuali petugas dan penumpang.

Terbang Dimasa Pandemi

Pemeriksaan ketat yang mengakibatkan antrian panjang, bikin saya pagi itu berangkat lebih awal dari rumah. Bus ALS juga keliatannya membatasi armadanya sehingga butuh waktu lebih lama menunggu kedatangannya. Udah kayak lagu Bang Haji lah. Tapi karna itu armada paling ekonomis ya sabar aja menanti.

Di terminal keberangkatan, dokumen yang perlu disiapkan untuk bisa masuk adalah tiket dan KTP. Kesimpulannya, selain penumpang pesawat tidak diijinkan masuk ke dalam ruang bandara. Selebihnya prosedur ngga banyak berubah.

FYI: libur natal dan tahun baru 2020-2021, umum diijinkan masuk tanpa pemeriksaan sama sekali melalui terminal kedatangan. Seminggu berikutnya ijin masuk hanya boleh melalui terminal keberangkatan. Mungkin karna sudah ada lab untuk tes rapid juga disini. Hal ini juga menandakan aturan bisa saja berubah sewaktu-waktu.

Setelah melewati area pintu pemeriksaan (metal detector), langsung aja belok kiri menuju area validasi rapid tes (Airline Service Center). Jadi ada baiknya minimal sehari sebelum berangkat kita harus udah melakukan rapid tes terlebih dahulu. Ada beberapa daerah yang memperketat syarat masuk dengan menunjukkan Rapid Antigen bahkan PCR. Untungnya keberangkatan dan kepulangan saya hanya beberapa hari sebelum peraturan baru itu dirilis. Yang pasti ini dokumen yang wajib ada kalo mau naik pesawat dimasa pandemi dan hasilnya tentunya yang Non Reaktif, ya. Kalo hasilnya Reaktif, jangan dibawa ke bandara karna udah pasti ditolak. Lagian kalo hasilnya reaktif sebagai warga yang baik harus segera melapor dan jangan kemana-mana dulu sebelum hasil swab PCRnya keluar. Rapid tes yang tadinya berlaku hanya 3 hari, diperpanjang jadi 14 hari. Kemudian kembali dipersingkat jadi 3 x 24jam, malah ada yang 2 x 24 jam. Sampe tulisan ini tayang, masa berlaku yang terbaru belum berubah.

Airline Service Center (Area Validasi Rapid)

Selanjutnya ke area self check-in. Tapi kalo sudah cek-in online ya ngga perlu lagi cek-in ulang sih karna cukup tunjukin skrinshutnya ke petugas udah boleh masuk, kecuali memang mau cetak boarding pass. Yang boleh cek-in manual ke konter petugas hanya bagi pemilik banyak bagasi. Jadi kita yang cuma punya barang dikit, silakan lakukan cek-in mandiri di konter yang sudah disediakan. Yang mau kursinya deketan ya banyak-banyak berdoa karena bakalan random dapet nomor kursinya. Sukur-sukur kalo cek-innya barengan, kursinya bisa dapet yang deketan.

Cek-in mandiri

Abis itu prosedur tetep seperti biasa. Masuk ruang tunggu setelah melewati area screening lagi. Nah disini kayaknya peraturan setiap bandara berbeda-beda. Di KNO, sebelum masuk ruang bandara, petugas akan memeriksa tiket dan KTP. Sementara saat akan memasuki ruang tunggu, petugas hanya memeriksa boarding pass dan KTP. Selanjutnya pada saat akan naik ke kabin pesawat, petugas akan memeriksa boarding pass, KTP dan surat rapid yang harus sudah divalidasi petugas. Jadi jangan lupa rapidnya divalidasi dulu sebelum masuk ruang tunggu karna kemaren banyak yang kelupaan jadinya harus balik ke area validasi rapid sementara saat itu sudah harus boarding. Repot, kan.

Lanjutkan membaca “Tips Sederhana Terbang Aman Dimasa Pandemi”
jalan dan wisata · Serba Serbi · Tips

Pasar Unik di Sungai Landak Bukit Lawang

Jangan berharap banyak bisa duduk santai di mobil menuju Sungai Landak. Akses kesini cuma bisa naik motor atau jalan kaki. Kalo ngga ada motor bisa naik ojek dengan tarif 15rb rupiah atau 20ribu kalo tarik tiga, haha. Ya, jalan menuju ke Sungai Landak itu searah dengan Goa Kampret. Dari goa kampret, sekitar 1KM lagi menuju Sungai Landak. Jadi bisa dibayangkan kaki udah gemetar karna abis susur goa, harus dilanjut jalan kaki ke Sungai Landak. Jadi ditotal 1KM goa + 6KM pulang pergi untuk rute hari itu. Belum seberapa ya, dibanding saudara kita di pedalaman yang belum punya akses mendukung. Eh alah ngga usah jauh-jauh lah, saya juga dulu sekolah jalan kaki kok jarak 3KM pulang pergi tiap hari. Makanya urusan jalan kaki atau melewati sungai dan kebun-kebun itu udah pernah saya lalui dimasa kecil.

Baca juga : Goa Kampret

Bayangan mandi di sungai, makan di atas aliran air yang jernih seperti yang kami tonton di yutub malam harinya di penginapan, bikin kaki semangat melangkah meskipun matahari tepat di atas kepala. Walau masih harus melewati perkebunan serta debu-debu terbang dari motor yang lalu lalang baik motor pengunjung maupun motor ojek.

Ada sebuah rumah cantik dengan sedikit nuansa Bali di atas pekarangan luas yang pasti dilewati sebelum memasuki kawasan Sungai Landak. Belakangan saya tau dari tukang ojek ternyata itu rumah dan sekaligus panti asuhan bagi anak-anak korban banjir bandang silam. Katanya rumah ini milik warga Jerman yang menikah dengan penduduk lokal. Sayangnya lokasi ini ngga dibuka untuk umum. Mau permisi juga ngga ada keliatan orangnya.

Review · Serba Serbi

Melukis Dengan Teknik Kolase Berbahan Ampas Teh

Sependek pengetahuan saya, lazimnya melukis itu ya menggunakan media kanvas dengan cat sebagai pewarnanya. Ternyata seni melukis itu jauh lebih luas dari itu. Baik tekniknya maupun media-media yang dipergunakan itu bukan cuma kanvas dan kuas semata, malah ada yang tidak menggunakan kuas sama sekali. Seperti lukisan pasir yang hanya menggunakan tangan sebagai alat satu satunya. Pasir cukup ditabur, digores-gores sampai terbentuk sebuah karakter. Selain pasir, limbah sisa rumah tangga dan industri juga bisa digunakan sebagai properti melukis. Sebagai contoh seni lukis dengan teknik kolase (menempel) yang dilakukan oleh Bang Rendy. Seorang Seniman yang juga berprofesi sebagai dosen seni.

Rendy Handycraft

Rendy Handycraft, itulah label untuk hasil karya yang dilahirkan dari tangan dinginnya. Mengolah sampah menjadi suatu karya yang bernilai seni tinggi. Sekilas memang tampak tak ada yang istimewa dari hasil karyanya. Hanya celengan dan lukisan-lukisan siluet tanpa warna. Monoton. Setelah dilihat dari dekat, ternyata hasil karyanya bukanlah karya asal-asalan. Siapa sangka seluruh karyanya ini dihasilkan dari limbah yang selama ini kita anggap sampah yang hanya layak untuk dimusnahkan.

Melalui tagar #SeniAmpasTeh, Bang Rendy memang dominan menggunakan ampas teh sebagai bahan utama melukisnya. Bukan teh celup, ya. Melainkan bubuk / serbuk teh yang masih kering. Selain bubuk teh baik dengan tekstur yang sedikit kasar dan juga halus untuk warna gelap, ada juga bahan lainnya sebagai penambah warna seperti bubuk kunyit sebagai pewarna kuning, serbuk kayu pinus sebagai pewarna putih sekaligus warna dasar. Semua bahan dasar tersebut dia dapatkan melalui kerjasama dengan berbagai pihak seperti UKM binaan termasuk dari PTPN IV Sidamanik sebagai penghasil bubuk teh.

Baca juga: Agrowisata Kebun Teh Sidamanik

Celengan adalah produk pertama yang dihasilkannya. Selain celengan ada juga vas bunga, berbagai wadah dan asbak rokok. Batu alam dan pasir adalah bahan utamanya. Setelah itu kemudian berkembang menjadi lukisan berbahan dasar ampas teh menjadi produk utamanya kini.

Melalui bincang-bincang pada acara Overall Day yang diprakarsai Persegi Medan di Degil House, Menurutnya, berkarya seni bukanlah sekedar menghasilkan sebuah karya. Namun alangkah lebih baik lagi apabila menguasai filosofi dari berbagai karya seni yang dihasilkan. Mengingat sifat dan sikap konsumen ini beragam. Ada yang sekedar suka dan membeli. Ada yang rewel sampai hal-hal kecil bahkan asal usul pun ditanyakan. Dengan menguasai apa yang kita hasilkan serta memberikan jawaban yang memuaskan, mereka akan rela membayar mahal pada setiap karya dari seniman.

Selain anggota binaan dari UKM, Bang Rendy juga memiliki anggota binaan agar jiwa seninya semakin terasah serta ilmu yang bisa dibagikan pada warga. Begitu juga pada mahasiswanya, beliau menggunakan metode mengajar yang asik dan selalu mengapresiasi hasil dari setiap tugas yang diberikan . Itu sebab ilmu yang diberikan dapat dengan mudah diserap dan mahasiswa semakin percaya diri dalam menghasilkan karya.

Lanjutkan membaca “Melukis Dengan Teknik Kolase Berbahan Ampas Teh”
lovely kids...and famz · Serba Serbi

Surga Seorang Istri

Pasti udah pada liat video istri menghajar suaminya yang stroke dengan pukulan menggunakan tongkat? Suami yang udah ngga berdaya hanya bisa menjerit-jerit tanda kesakitan dan minta pengampunan. Sungguh sedih melihatnya…

Keinget saat Alm Bapak sakit. Mamaklah yang dengan setia mendampingi. Mulai menyuapi makan, membersihkan badan sampe membersihkan kotoran. Siapa lagi kalau bukan mamak, istrinya sendiri. Mamak bahkan ngga mau tugasnya digantikan oleh siapapun. Lelah sudah pasti. Sesekali terlihat raut letih di wajah mamak. Tapi tak ada keputusasaan dalam dirinya. Kata orang-orang pakai ramuan ini itu, mamak langsung sigap membuatnya. Beli obat ini itu, mamak langsung cepat membelinya. Uang simpanan habis beserta emas satu-satunya direlakan demi kesembuhan Bapak. Maklum Bapak bukan seorang pensiunan dan ngga pake asuransi apapun, jadi ngga punya tanggungan apapun untuk biaya perobatan.

Sampai sekarang, 5 bulan sudah Bapak dipanggil Allah, sesekali mamak bergumam semoga saat merawat Alm Bapak, ngga ada keinginan Alm yang belum terpenuhi. Atau ada kekurangan saat merawat Alm Bapak. Kami anak-anaknya yang menyaksikannya rasanya Mamak udah melakukan tugasnya dengan sangat baik dan penuh kesabaran. Bahkan pesan-pesan terakhir Alm, tersampaikan pada kami anak-anaknya tanpa terlupa, Insyaallah.

Baca juga: Kenangan Tentang Bapak

Lanjutkan membaca “Surga Seorang Istri”
Review · Serba Serbi

Trinity Traveler : Antara Hobi dan Cinta

Travel blogger masa sih masi ada yang ga tau Trinity???

Dulu ya, awal-awal film naked traveller yang pertama, saya belum tau Trinity itu orangnya yang mana. Dalam bayangan saya Trinity itu ya seperti Maudy Ayunda. Energik, aktif, independen itu udah pasti sama. Tapi ga nyangka ternyata Trinity aslinya itu ga se body goal dan seglowing itu, hehe.

Kali aja kulit eksotisnya hasil dari kebiasaan kakak Trinity ini berjemur di berbagai pantai indah seluruh dunia. Apalah arti glowing kalo tak pernah merasakan panas matahari di pantai Malibu, ye kan? Haha

Yang ga sempet nonton trinity 1, ga perlu hawatir karna dimenit-menit pertama tayang bakalan direview kok ceritanya. Sayangnya ngereviewnya kelamaan. Rasanya sayang aja kurleb 15 menitan hanya untuk ngulang episod 1.

Trinity dan sahabat

Kali ini saya nontonnya juga ga greget kaya episod sebelumnya. Selain ngerasa antara Maudy dan Hamish itu ga dapet kemistrinya, juga episod ini pelit nampilin pesona alam. Padahal justru itu kan yang dijual.

Akting keduanya juga kurang natural. Keknya antara Maudy atau Hamish deh yang diganti. Untuk Hamish, Maudy itu terlalu muda dan sebaliknya untuk Maudy, Hamish itu ketuaan πŸ˜‚

Untung aja ada Babe cabita dengan humornya. Kalo ngga ada, ini pilem bakalan bener-bener garing.

Antara Hobi dan Cinta

Kalo di episod pertama kan dia masi jadi orang kantoran tuh, yang ijin cutinya terbatas dan susahnya minta ampun. Kali ini dia jadi mahasiswa S2 yang tetep nerusin hobinya jalan-jalan.

Tapi saya malah suka sama gigihnya dia bertahan milih cuti demi bisa mencoret satu persatu bucket listnya. Meskipun sang bos neror dengan berbagai tugas, dia tak gentar.

Berburu tiket murah

Kupikir sekelas Trinity ga pernah berburu tiket murah dengan rela melek sampe pagi atau sengaja bangun dini hari. Ternyata dari hobi begadang inilah keberuntungan dia dimulai. Berkat sering dapat tiket murah jadinya sering jalan-jalan dan hobinya ini berujung lucky. Alih-alih berburu tiket murah justru dia malah bisa keliling hampir seluruh dunia gratis πŸ‘

Pertemuan kembali dengan Paul (Hamish) menimbulkan benih-benih cinta diantara keduanya. Tembok besar yang dibangun supaya ga gampang baper ternyata runtuh juga. Trinity akhirnya jatuh cinta.

Hmmm… Kurang greget

Tapi, karna kesibukan masing-masing malah bikin susah ketemu dan komunikasi jadi jelek. Bahkan mampu membuat mood nulisnya hilang.

Kepergian sang ayah bikin dia berpikir kembali tentang keinginan alm agar dia segera menikah. Namun karna sikap Paul yang misterius, dia pun bimbang.

Teringat kembali perkataan ayah bahwa kebahagiaan itu bukan didapat dari seseorang ataupun suatu tempat. Melainkan melalui pikiran.

Betul betul betul…

Curhat sama mama

Jadi, ceritanya kira-kira Trinity dan Paul lanjut atau putus, hayo??

Oiya rasa penasaran tentang sosok Mr.X yang baik hati ngasi tiket gratis itu terjawab sudah diepisod kali ini.

Makanya tonton… 😌😌

Bonus 😁

Serba Serbi

Ngeblog Pake HP, kenapa ngga?

Tulisan saya di blog ini, 90% semuanya saya tulis pake hp. Dari mulai draft sampe terbit. Awalnya ngerasa sendirian, ya. Karna hari gini orang-orang pada rajin bawa laptop kemana-mana apalagi jaringan wifi udah gampang dapetnya.

Ternyata Durian (kegiatan rutin Blogger Medan) November ini materinya malah soal pengalaman ngeblog lewat HP oleh kak Jannah Tambunan. Wah, berasa ada kawan, kan.

Alasan kenapa nulis lewat HP

Saya ga pernah bawa tas ransel atau tas besar. Dan bawa laptop kemana-mana itu bukan kebiasaan saya juga. Itu alasan utamanya. Selain berat juga ribet, hehe.

Saking udah terbiasanya nulis di HP, saya malah merasa lebih nyaman nulis di HP. Di kantor yang 8 jam berhadapan dengan PC, kalo pas lagi ada ide malah nulisnya di hp. Di rumah juga begitu. Laptopnya dipake untuk nonton drakor πŸ˜„

Selain itu, ngeblog lewat HP itu rasanya lebih fleksibel dan praktis. Ada notifikasi langsung ketauan dan bisa langsung cepet dibalas atau ditanggapin.

Upload foto juga begitu. Karna semua foto diambil pake HP, jadi lebih gampang milihnya. Ga perlu mindahin dari HP ke PC atau sebaliknya.

Dan enaknya lagi kapan mau buka blog itu bisa dimanapun juga. Yang penting ada kuota dan batrenya kuat.

Kekurangan ngeblog dari HP

Kurang lebih pengalaman sama kayak Kak Jannah. Sering typo bikin saya malah banyak dapet komentar yang ngasi tau kalo tulisan saya banyak typo nya. πŸ˜‘

Dan nulis lewat HP, saya ngga leluasa untuk edit-edit foto. Apa yang ada ya itu yang diupload. Karna memang seringnya ide itu datangnya dadakan. Jadi daripada keburu ambyar, yaudah disitu nulis disitu juga milih-milih foto dari galeri.

Oiya, tampilan lewat HP itu jauh beda dibanding laptop. Selain beda ukuran layar, kita juga harus rajin ngecilin atau besarin tampilan HP supaya bisa terlihat dengan jelas.

Hanya saja kalo kak Jannah udah banyak prestasinya, saya belum dong!! 😁

Semoga dari sharing dari kak Jannah bisa ketularan banyak prestasi. Aamiin…

Happy Blogging!!

Serba Serbi · Tips

Perpanjangan SIM Dengan Syarat dan Prosedur yang Mudah

Keberadaan samsat-samsat kecil kaya di mol-mol atau mobil gitu sungguh sangat membantu sekali bagi karyawan seperti saya yang ijinnya terbatas. Meskipun harus bener-bener datang lebih awal demi dapat antrian di depan. Tapi ternyata ya ngga juga karna saya belum paham triknya. Nanti saya kasi tau di akhir kisah. Tsaaah!!

Jadi SIM itu kan memang harus diperpanjang per 5 tahun. Jadi diliat-liat SIM nya, ya. Jangan sampe kelewatan karna bakalan urus baru lagi yang prosesnya lebih panjang.

Syarat Perpanjangan SIM

  1. SIM
  2. Fotokopi KTP (2 lembar)
  3. Surat Keterangan Berbadan Sehat selanjutnya disebut (SKBS)
  4. Uang

Prosedur Perpanjangan SIM

Yang namanya urus-urus di sebuah instansi itu identik sama antrian yang panjang dan jelimet ya. Jadi kalo mau urus-urus berkas gitu usahakan datang sangat-sangat awal. Kebetulan kemaren saya urusnya di Samsat Corner Sun Plaza. Letaknya saya lupa ya itu lantai berapa, tapi yang pasti posisinya tepat di depan lift. Parking Ground, deh kayaknya Lt. G. Jadi ngga masuk ke dalam area molnya gitu. Saya datang jam 8 yang mana udah banyak orang-orang duduk ngantri.

Antrian dibuka setengah 9. Sebelum kita masuk, SIM asli kita bakalan dikumpulin dulu sama seorang petugas kepolisian. Bukan sekedar dikumpulin ya, tapi ada kuotanya. Nah, disini nih salah satu trik agar dapat antrian awal adalah, berdirilah tepat di depan pintu masuk supaya SIM yang kita sodorin bisa langsung ditangkap sama pak polisinya, haha.Maling kali, tangkap! Ya, sadar diri aja sih, badan kecil gini kali harus desak-desakan keknya lemes duluan. Engap!

Serba Serbi

Belajar SEO di Kelas Blogger Medan

Mengenai SEO sebenernya saya udah sering baca dari google. Teknik-tekniknya kaya mana dan apa pengaruh untuk blog kita. Ya kesimpulannya semakin baik penerapan SEO semakin baiklah prestasi blog tersebut.

Masalahnya… Praktek itu ngga seindah teori. SEO itu bagi saya adalah ilmu tingkat tinggi. Semakin dipelajarin malah semakin banyak yang ngga diketahui. Ibaratnya dari judul besar ada sub-sub judul yang beranak pinak. Makanya setiap kali belajar / praktek mengenai SEO yang ada semakin bingung. Mau nanya pun bingung, haha.

Beruntung Blog-M punya kelas khusus yang membahas mengenai SEO ini. Dibimbing oleh Bang Rudi Hartoyo salah satu Travel Blogger ngetop sekaligus praktisi SEO dari Blogger Medan.

Travel Blogger Medan
Rudi Hartoyo

Lanjutkan membaca “Belajar SEO di Kelas Blogger Medan”

Review · Serba Serbi

Maleficient : Mistress of Evil

Setelah sukses dengan Maleficient 1 (yang lagi-lagi saya ngga nonton) wkwkw, akhirnya Disney kembali menayangkan kelanjutanya di Maleficient ke 2 bertajuk Mistress of EVil yang tayang perdana di bioskop 16 Oktober lalu.

Kalo udah Disney katanya, para penyuka dunia animasi dan fantasi pasti akan sangat terhibur dengan suguhan para peri-peri yang terbang sambil bernyani dan menari, taman bunga warna-warni serta aliran sungai yang jernih dan menenangkan menampilkan kehidupan yang damai. Begitu juga dengan film ini.

Putri Aurora (Elle Fanning) yang cantik dari kerajaan Moors ini menerima lamaran dari Pangeran Philip (Harris Dickinson) dari kerajaan Ulstead seakan-akan film ini sudah berakhir dengan happy ending. Padahal ini baru permulaan dari 118 menit durasi tayangnya.

Semua pihak menyambut baik rencana pernikahan mereka. Kecuali Maleficient (Angelina Jolie). Meskipun dengan berat hati, Ibu angkat Aurora ini akhirnya besedia menghadiri undangan dari keluarga Philip terkait rencana pernikahan anak-anak mereka. Sambutan baikpun diterima oleh keluarga kerajan Ulstead kecuali sang Ratu Ingrith (Michelle Pfeiffer).

Sejak awal tatapan mata dari kedua ratu ini memanglah sudah terlihat tanda-tanda adanya sisa-sisa benci dan dendam. Layaknya ibu komplek sebelah yang merasa tersaingi dengan ibu komplek sebelahnya lagi gitu. Memang yaa, emak-emak kalo udah dendam kesumat susah move on nya, hahaha. Bener aja, ngga lama karna kenyinyiran dan Ratu Ingrith terhadap Maleficient, memancing kemurkaannya. Perang kecil pun tak terelakkan.

Atas insiden itu, Raja John tiba-tiba jatuh karna sebuah kutukan dan tertidur untuk waktu yang sangat lama disusul Ratu Ingrith mengumumkan perang melawan Maleficient.

Review · Serba Serbi

Hayya : The Power Of Love 2

Jaman the power of love 1 saya kemana ya? Tau-tau udah ada sekuelnya aja. Begitu tau saya ketinggalan yang pertama, pagi nyampe kantor langsung streaming nyari film “212: The Power Of Love” πŸ˜…

Alasan pertama yang bikin saya tertarik nonton Hayya ga lain ga bukan karna aktornya Fauzi Baadilah. Dipilem Mengejar Matahari, sekaligus pilem bioskop pertama yang saya tonton jaman kuliah. Selepas itu kamar dan lemari saya tuh penuh sama foto-foto dan poster bang Fauzi Badillah ini. Pas udah nikah kan barang-barang jaman ngekos pada dibawa, disuruh suami lepas semua poster-poster orang botak itu, atau jangan dibawa, kasi lemarinya ke anak kos. hahaha…

Kalo inget ya dulu tipe laki-laki idaman saya memang yang kepalanya botak. Serius! Temen kampus saya yang namanya Jesika pas pula agak bocor anaknya dan dia tau persis, dah. Kalo mau jalan-jalan ke pajus (pajak usu) atau solat dimusolah kampus kan ngelewatin banyak sekret kayak mapala dan teater O yang isinya kaum adam semua. Dia kasi pengumuman “haloo abang-abang yang merasa kepalanya botak tolong keluar ada yang nyariin”. Eh sekalinya ada yang naksir rata-rata anak mapala yang kepalanya gondrong. Dese kasi pesen “Abang, kalo mau pedekate sama Uci coba botakin kepalanya”. Lah tau-tau besoknya udah ada yang botak beneran. Hahaaa

Lanjutkan membaca “Hayya : The Power Of Love 2”

lovely kids...and famz · Serba Serbi

Selamat Jalan, Bapak

Bapak Terbaik

Berpulangnya bapak memberikan banyak pelajaran, diantaranya menghargai apa yang sedang dimiliki, serta rasa sabar dan ikhlas. Meskipun praktek selalu ngga semudah teori.

Masi ingat trakhir kali jenguk Bapak di rumah sakit. Meskipun saya ngga setiap hari dan sepanjang waktu mengikuti perkembangan kesehatan Bapak, tapi hari itu saya liat dari jendela kaca kamar, Bapak udah bisa ketawa dan bercanda sama mamak. Bapak udah mau minta makanan yang dia pingin makan. Udah mau duduk menandakan badannya ga terlalu lemes seperti sebelumnya. Alhamdulillah, masi ada harapan Bapak akan sembuh.

Kami rasanya memang sudah siap dengan segala kondisi Bapak. Walaupun dalam doa-doa selalu berpasrah pada ketetapan terbaik Allah, yaitu kesembuhan seperti sedia kala.

Sungguh rindu dengan aktifitas piknik sederhana bersama Bapak ke Simarjarunjung bersantai duduk di puncak sambil makan kacang kulit kesukaannya dan memandang indahnya Danau Toba ataupun berkunjungΒ  ke Tigaras tempat pavoritnya hanya untuk melihat kapal-kapal berlayar dan berlabuh. Naik motor bersama cucu-cucunya. Rasanya tak seorangpun dari cucu-cucunya yang tak pernah dibawa piknik sederhana seperti itu… Ya, Allah rindunya…

Lanjutkan membaca “Selamat Jalan, Bapak”
Serba Serbi

Sabar, Ikhlas dan Egois

Setiap manusia punya porsi yang berbeda dalam menata hatinya agar bisa ikhlas. Ikhlas, ilmu tertinggi yang tak semua manusia mampu menaklukkannya dengan cepat.

Aku sungguh mengapresiasi siapapun yang mampu mengikhlaskan sesuatu dengan sangat cepat. Termasuk kalian… Bersyukurlah

Aku hanya butuh waktu untuk itu. Sayangnya hal yang harus kuikhlaskan saat ini melebihi badai masa lalu yang dengan lebih cepat mampu kutaklukkan dengan keihklasan.

Ternyata dua kasus yang berbeda nenempati ruang sakit di hati yang berbeda pula. Bagiku yang ini jauh lebih kejam dan tajam daripada pedang…

Aku tak sendiri. Tapi sungguh ini bukan suatu pembenaran, bukan pula ajang cari kawan. Ternyata tajam lidah itu sakitnya melebihi perbuatan apapun. Menurut survey ini berlaku bagi sebagian besar korban bahwa hal yang paling sulit dilupakan adalah “ucapan”. Tak percaya? Makanya coba dulu rasakan… 😊

Aku sudah pernah merasakan sakit yang dirasakannya tapi belum tentu dia pernah merasakan sakit yang kurasakan.

Bukan tak mau, hanya butuh waktu. Tak ada yang tau betapa besar usaha seseorang untuk melupakan dan mengikhlaskan sesuatu perbuatan atau perkataan. Mereka mungkin bisa manis di depan tapi masi menyimpan dendam dan sumpah di hatinya. Aku tak mau begitu…

Cukup beri aku waktu untuk melupakan dan berdamai. Aku pasti bisa, aku yakin bisa.

Beri aku waktu…

Jauh dari pikiran apalagi niatan untuk membalas. Aku menyerah untuk berseteru dengannya, aku yakin aku akan kalah dalam segala hal. Kekuatan dukungan, kekuatan fisik apalagi kekuatan lisan. Lebih baik aku menyerah sebelum bertanding (berseteru) 😊

Selain mengadu pada Allah, terkadang manusia butuh manusia lain untuk bercerita. Yang bisa menjawab, menanggapi secara nyata. Kalau bercerita pada orang yang salah, hanya ketimpangan dan ketidakadilan yang didapat. Pasti akan berat sebelah, itu pasti.

Bila tak ada manusia yang mau mendengar, maka menulislah jadi pilihan lain.
Bila tak mau mendengar cerita dan tulisanpun masih menjadi kehawatiran?

Berarti selain ilmu ikhlas yang tinggi, ilmu egois juga tak kalah tingginya…

Bila ikhlas sudah bisa ditaklukkan, belum tentu dengan egois. Begitu juga sebaliknya.

Tanyakan pada diri, memang benar ingin menasehati atau hanya karna tulisan yang menganggu kenyamanan pribadi?

Jangan ajari aku untuk bersabar karna bila itu tak kulakukan, sedari dulu pasti sudah hancur berantakan.

Karna dengan sabarlah aku mampu melewati gerimis bahkan badai sekalipun.

Jadi, mari sama-sama kita belajar 😊

just IMHO…

#selfreminder

lovely kids...and famz · Review · Serba Serbi

Nonton Spiderman di Deretan Paling Depan

Gara-gara supir gra* yang ngetem tapi nerima orderan trus udah ditunggu lama tau-tau minta kensel bikin jadwal nonton berantakan. Akhirnya pilih bioskop yang paling deket rumah yang pilihan film nya cuma 1 untuk SU dan jadwalnya keburu. Padahal tadinya mau nonton Toy Story dapetnya Spiderman. Ngejar yang jam 19 dapetnya 19:30 itupun dapet kursi di deretan paling depan, jadilaaah. Daripada gatot. Maklum bawa 3 anak yang ngga bisa denger janji. Bakalan ditagih 30 purnama kalo tak kunjung ditepatin.

Selesai urusan tiket, beliin popkorn, akua dan nyari tempat dudukan saya tinggalin solat magrib. Dilalah ada kakak-kakak cantik yang mau berbagi meja dan bersedia ngawasin anak-anak. haha

Lanjutkan membaca “Nonton Spiderman di Deretan Paling Depan”
Review · Serba Serbi

Belajar Dari Aladin

Bagi saya yang penggemar berat drama musikal, Ini filem live action terbaik yang saya tonton selain Beauty and the beast.

Ngga berlebihan karna bagi saya indikator seru apa ngganya sebuah filem itu saya nontonnya ketiduran apa ngga. Haha… Dan ini??? Saya mau kalo ada yang ngajak nonton untuk kesekian kalinya.

Meskipun banyak yang ngga mengagumi kegantengan Aladin, tapi bagi saya ngga terlalu terpaku pada sosok fisiknya. Bagi saya yang pantas-pantas saja seorang yatim, pencuri pula berasal dari desa berpenampilan kurang memesona. Tapi pas disandingkan dengan putri Jasmine kemistrinya dapet. Putri Jasmine mengingatkan saya sama Maudy Ayunda. Ngga tau aya rasanya mirip aja gitu pembawaanya. Aladin jadi manis dan berwibawa apalagi pas udah jadi pangeran. Terlebih mereka menyanyikan sendiri semua sontrek sepanjang filem itu jadi penjiwaannya dapet. Itu menurut saya…

Lanjutkan membaca “Belajar Dari Aladin”