jalan dan wisata · Serba Serbi

Keliling 2 Benua Modal 50K di Great Asia Afrika

Outfit yang saya pake di Great Asia Afrika itu sama pas waktu lagi di Sariater. Iya, karna saya mengunjungi kedua tempat cantik ini dihari yang sama. Selepas kunjungan dari Sariater, masih ada banyak waktu sebelum malam menjelang. Ya kebetulan lagi libur solat saya jadi lebih leluasa dan santai untuk eksplor beberapa tempat lagi. Karna sebelumnya perkiraan kunjungan ke Sariater ini memakan waktu hampir seharian jadi saya ngga ada plan akan kemana setelah itu. Eh, ternyata waktu untuk menikmati pemandian air hangat itu cuma butuh waktu setengah hari rasanya udah puas. Jadi begitu keluar dari area itu rada bingung mau kemana. Setelah berselancar diinternet akhirnya dapet tuh tujuan berikutnya yang kebetulan letaknya dekat sekali sama tempat saya tidur, Moscato Hotel

Baca juga: Sari Ater

Lanjutkan membaca “Keliling 2 Benua Modal 50K di Great Asia Afrika”
Serba Serbi

Ga Bisa Share, Why??

Saat ini, ngeblog bukan lagi cuma jadi satu hobi, tapi udah jadi satu mata pencarian bagi banyak blogger. Penghasilan dari menulis ngga bisa dianggap remeh, loh. Jangan bilang menulis ngga pake efort. Untuk menghasilkan tulisan yang baik, berbobot dan menarik juga perlu modal. Ya modal mikir, modal kuota, modal waktu, modal keterampilan dan modal kreatifitas. Hayooo… siapa yang masih sering bilang kerjaan apa itu menulis? Suruh main lebih jauh, pake internet 🙂

Salah satu kebahagiaan saat kita udah selesai menulis adalah tulisan kita dibaca banyak orang. Menggunakan berbagai cara agar tulisan punya banyak pembaca, apalagi punya pembaca setia. Kebahagiaan semakin bertambah saat tulisan kita dibagikan banyak orang dan bermanfaat. Duh, serasa hidup ngga sia-sia, hahaha

Salah satu caranya adalah dengan membagikan tulisan kita di berbagai medsos yang kita punya. Dengan menempel link tersebut, dengan harapan pengikut bisa langsung klik dan terbuka lah tulisan itu.

Saya termasuk yang selalu rajin share tulisan ke berbagai medsos. Meskipun ngga banyak, setidaknya setiap tulisan selalu ada like dan komen dari temen-temen yang baca. Seneng, kan? Daripada selesai nulis, dibiarin diblog sendiri ngga ada yang baca karna ngga ada yang tau kalo kita ada tulisan baru, kan sayang.

Tapi itu dulu….

Sekarang saya ngga bisa share hasil tulisan saya ke medsos (FB dan IG) dan masalah ini sudah berlangsung selama 2 tahun lebih. lama, ya…..

Saya belum menemukan cara yang setidaknya bisa saya pahami untuk memperbaikinya. Sebab musabab awalnya kenapa bisa begini juga saya ngga tau pasti. Satu yang pasti, blog saya ngga berisi konten yang melanggar seperti yang tertulis pada peringatan saat saya coba share link blog disana. Hasilnya, saya sempet hiatus nulis dalam waktu yang lama karena ngga bersemangat lagi. Saya ngga lagi bertegur sapa dengan sesama mbak-mbak blogger se-Indonesia di berbagai grup.

notif saat share link blog di beranda fb
notif saat masukkan link dikomentar grup

Masalahnya apa aja?

  • Ngga bisa share di beranda FB
  • Ngga bisa share di kolom komentar FB baik di status maupun di grup
  • Ngga bisa sematkan link blog / web di profil IG
  • Ngga bisa ganti foto profil IG kecuali ganti dari FB da sengaja disinkron ke IG

Menyebalkan, ngga? 🙁

Dia ngga tau betapa rindunya bebas share-share seperti dulu. Betapa rindunya tulisan dibaca dan dikomentarin banyak orang.

Saya sudah coba laporkan dengan berbagai cara sesuai petunjuk yang saya cari di google. Melalui tulisan ini, adakah temen-temen yang pernah mengalami dan punya solusinya?

jalan dan wisata · Serba Serbi

Pilihan lokasi Jalan Pagi

Seperti biasa, hari libur selalu kami awali dengan jalan pagi. Kalau sedang semangat, jalan paginya agak jauhan. Pukul 6:30 sudah bergerak biasanya ke daerah kampus USU (Universitas Sumatera Utara) juga pernah sekali ke daerah Medan Baru (sekitar Taman Beringin sampe Gubernuran dan komplek disekitarnya) pulang pergi sekitar 8KM. Pilihan lokasi untuk kami berjalan juga ngga sembarang tempat. Kami lebih senang berjalan di tempat-tempat sepi dan teduh, maksudnya ngga krodit dengan lalu lintas dan orang ramai. Biasanya kalo ngga ke USU ya cari komplek atau perumahan yang lengang. Kalau lagi malas, ke pajak aja (baca: pasar) sambil belanja yang biasanya pake motor diganti dengan berjalan kaki pulang pergi sekitar 3KM. Sambil bawa belanjaan, cukup lumayan berkeringat.


Sabtu itu, harinya ngga begitu cerah ngga juga mendung tapi juga sedikit anginnya. Jalan kaki yang agak kesiangan itu berencana menuju USU. Kalaupun ngga dapat izin masuk, ya lanjut kemana kaki melangkah. Pasca kasus covid meningkat akhir-akhir ini, orang-orang yang ngga berkepentingan sempat ngga diizinkan masuk kampus USU lagi.

Olahraga di USU

USU memang jadi salah satu tempat pavorit warga sekitar untuk melakukan beragam aktivitas. Paling  banyak ya olahraga baik itu sore ataupun pagi hari. Bersepeda, joging, jalan kaki, dan badminton adalah olahraga yang sering dilakukan disini. Selain olahraga, pemburu foto juga sering terlihat disini. Sore hari adalah momen terbaik bawa keluarga utamanya anak-anak melihat-lihat rusa sembari memberinya makan. Mahasiswa juga banyak belajar sambil duduk santai di bawah pohon-pohon rindang. Diterpa semilir angin biasanya tingkat konsentrasi akan bertambah tapi ngga sedikit juga yang malah ngantuk, haha. Kegiatan birdwatching juga bisa banget disini. Ah, lengkaplah. Itu sebelum covid melanda. 

baca juga: Taman Hewan Mini USU

baca juga : Birdwatching

Hijaunya kampus USU memang jadi pilihan tepat untuk kegiatan di luar rumah. Banyak pepohonan jadi sumber oksigen dan udara segar melimpah. Tanpa gangguan riuhnya kendaraan, suara klakson apalagi teriakan pengemudi yang mau cepat semua. Semakin tenang dengan suara kicau burung-burung liar. Luasnya area bikin banyak pilihan rute berjalan. Kami biasa suka cari rute jalan potong yang sama sekali belum pernah kami lewati. Meski pernah bertahun-tahun menimba ilmu disana, tapi belum semua sisi kampus dijelajahi. Semakin sepi semakin enak kegiatan olahraganya walau sedikit horor saat melewati pohon besar dengan akar menjuntai-juntai. 

Pemindahan lokasi Pajak USU (PAJUS) ke luar area kampus memberi dampak positif. Area kampus lebih teratur, bersih dan steril dari masyarakat luar yang tidak berkepentingan. Penutupan akses jalan potong juga demikian memberikan rasa aman dari pencurian motor yang sebelumnya marak terjadi. 

Ya, pintu doraemon. Begitu mahasiswa menyebutnya. Sebuah akses jalan kecil letaknya di sisi kiri belakang kampus USU. Jalan ini menghubungkan area kampus dengan perumahan di sebelahnya yang kebanyakan kos-kosan. Dulu, jalan ini dipakai sebagai jalan pintas orang orang untuk bisa masuk kampus. Pejalan kaki, sepeda, motor bahkan becak motor bisa  masuk melalui jalan ini. Kecuali roda 4. Macet udah pasti. Sekarang semua akses jalan pintas sudah diportal dengan alasan keamanan. Pejalan kaki sih masih bisa lewat di pinggir-pinggirnya. 

Lanjutkan membaca “Pilihan lokasi Jalan Pagi”
Serba Serbi

Vaksinasi Covid Drive Thru di Lanud Suwondo Medan

Berhubung permintaan vaksin lewat kantor tak kunjung ada kejelasan kapan tersedia dan kapan pelaksanaanya, kami memutuskan mencari wanita vaksin lainnya yang tentu saja gratis. Dapatlah vaksin melalui aplikasi Halodoc yang pelaksanaannya dilakukan disekitaran Lanud Suwondo dengan metode drive thru dan ada juga di ex Bandara Polonia Medan.

Untuk vaksinasi dikedua tempat tersebut, pendaftarannya melalui apliasi Halodoc. Jadi pertama sekali harus instal dulu aplikasinya. Seperti ini

Setelah itu cari kategori yang sesuai jangan lupa perhatikan tempat pelaksanaannya juga, ya. Karna pilihannya ada diberbagai kota seluruh Indonesia.

FYI: Untuk yang berlokasi Lanud Suwondo diperuntukkan khusus pelayan publik atau publik 18+. Sementara yang berlokasi di Ex Bandara Polonia khusus untuk BUMN dan Lansia. (Info pada saat itu)

Pendaftaran hanya bisa dilakukan H-1, ya. Jadi kalau berencana besok vaksin, hari ini harus sudah daftar. Ngga bisa dadakan atau mepet waktunya atau kecepetan. Ada dua jadwal tersedia untuk vaksin. Jadwal pagi dan siang. Isi formulir online seperti nama dll, juga sedikit interview terkait riwayat kesehatan kita saat itu dan unggah KTP. Selesai melakukan pendaftaran, beberapa saat kemudian aplikasi Halodoc akan mengirimkan notifikasi bahwa jadwal vaksin dosis 1 sudah terkonfirmasi.

Besoknya datang dong, satu jam lebih awal dengan tujuan supaya dapat antrian pertama. Pake ada acara drama kesasar pula, gaeeees. Saya taunya lanud Suwondo itu ya sama dengan di Ex Bandara Polonia itu juga. Rupanya salah besar, hahaa. Pantesan mikir kok katanya Drive Thru tapi kenapa motor harus parkir?? Mana udah pake ngotot sama panitia, untung mereka pada baik dan ramah tamah. Akhirnya kita di”usir” secara sopan santun, hahaa. Udah keluar dari parkiran masih pake bingung itu Lanud adanya dimana hahhaa. Memastikannya pake G-map lokasi Lanud yang dimaksud, eh deket aja. Untung sampe sana antrian belum panjang dan masih harus nunggu dipersilahkan masuk.

Dokumen yang harus dibawa saat pelaksanaan vaksin:

  • Fotokopi KTP
  • Surat keterangan / Surat pengantar dari instansi tempat kita bekerja
  • Bukti konfirmasi dari Halodoc (boleh diprint boleh juga hasil capture)
Lanjutkan membaca “Vaksinasi Covid Drive Thru di Lanud Suwondo Medan”
jalan dan wisata · Serba Serbi

Jalan Pagi ke Gedung Sate

Aktivitas jalan pagi setidaknya sudah jadi kebiasaan saya terlebih dihari libur. Kebiasaan ini bermula semenjak pandemi, sih. Jadi waktu lagi ada di Bandung memang berencana melakukan kegiatan sama. Kepikiran berjalan ke arah Gedung Sate yang katanya jadi salah satu tempat olahraga di kota Bandung. Setelah lihat-lihat peta, ternyata berjarak kurang lebih 1,6KM dari tempat saya menginap. Pulang pergi berarti kurang lebih 3.2KM. Masih sangguplah, toh cuaca Bandung juga adem. Meskipun ujung-ujungnya berniat naik gojek kalo ngga sanggup lagi balik dengan berjalan kaki. Perjalanan pagi itu dimulai sekitar pukul 06:30 disaat tanah Bandung masih lembab dan dedaunan masih berembun sisa hujan semalam.

Jalan Santai Sepanjang Trotoar Kota Bandung

Ngerasain kemacetan parah dikunjungan akhir tahun lalu sempet bikin saya males jalan-jalan di dalam kota. Ternyata ngga semua ruas jalan mengalami hal yang sama. Terlebih pagi itu suasana sungguh berbeda. Udara yang luar biasa sejuk, segar dan jalanan lengang bikin smakin semangat jalan pagi. Diawali dari jalan Wastukencana lokasi dimana hotel tempat saya nginep menuju jalan Martadinata. Setidaknya begitu petunjuk peta. Meskipun ada beberapa alternatif rute menuju kesana. Saya pilih jalan ini karna saya yakin sanggup menempuh jaraknya dengan berjalan kaki. Melewati pasar bunga, sesekali langkah kaki didahului oleh rombongan pesepeda. Menyusuri trotoar yang sangat jarang sekali dihadang oleh pedagang kaki lima. Beda dengan kota tempat saya tinggal, trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki malah hampir seluruhnya sudah berubah fungsi.

Saya suka sekali dengan bola-bola batu yang diletakkan teratur di sepanjang sisian trotoar kota Bandung. Banyak juga kursi yang sengaja disediakan. Sebagian dijadikan tempat tidur tuna wisma. Pagi itu, selain pesepeda hanya ada pemulung, tukang sampah dan pedagang kecil yang mulai beraktivitas. Disetiap persimpangan selalu ada tugu yang berisi tulisan dengan bahasa Indonesia juga bahasa asing.

Berbelok ke kiri agak menanjak menuju Jl. Martadinata ketemu tugu lagi di pertigaannya. Jalanan di sebagian besar kota Bandung ini aspalnya hitam dan mulus-mulus. Apalagi setelah tersiram hujan jadi keliatan bersih dan mengkilat sekali. Trotoarnya juga ngga banyak yang pecah-pecah. Sepanjang jalan ini banyak sekali fashion outlet ternama yang cabangnya juga ada dikota saya. Rumah Sakit Ibu dan Anak dan beberapa gerai makanan kekinian. Di ujung jalan, mentoknya adalah sebuah Fashion Outlet yang cukup terkenal bernama 3Second sekaligus bersimpangan dengan jalan Banda tempat saya berbelok kiri menuju kesana. Dibanding Martadinata, jalan Banda jauh lebih enak untuk jalan kaki karna sepanjang jalan pepohonan rindang menaunginya. Sering juga berpapasan dengan sesama pejalan kaki.

Kupat tahu adalah salah satu makanan sarapan yang banyak saya jumpain sepanjang jalan pagi itu. Dasar memang saya ngga hobi kulineran dengan mencoba berbagai makanan meskipun khas, saya lewatkan saja mereka. Sampai di ujung jalan Banda, belok kiri sudah tiba di sebelah kawasan kantor Gubernur Jabar. Jalan sedikit kemudian belok kanan, kembali menyusuri trotoar yang agak unik. Beberapa “ubin” trotoar sengaja diukir motif batik dengan tulisan nama dearah asalnya. Beberapa langkah kemudian tibalah di Gedung Sate. Meskipun pelatarannya ditutup tapi tetep rame ibu-ibu pesepeda berhenti buat foto-foto.

Sebelum kesini saya ngga tau kalo Gedung Sate itu berada di dalam satu komplek Gubernuran. Saya pikir gedung ini seperti Kota Tua atau Lawang Sewu yang berdiri sendiri sebagai tujuan wisata. Oh ternyata tempat Pak RK berkantor. kurang puas sebenernya belum bisa masuk ke dalam.

Lanjutkan membaca “Jalan Pagi ke Gedung Sate”
jalan dan wisata · Serba Serbi

Floating Market Lembang

Membahas tentang Bandung rasanya memang kurang lengkap jika tidak menyebut Lembang. Dataran tinggi beriklim sejuk tempat berkumpulnya segala macem model wisata yang kalo akhir pekan bakalan rame dan maceeet parah. Begitu juga kunjungan saya saat itu. Kejebak macet sepanjang jalan kenangan bikin pinggang pegel. Untung pemandangannya hijau royo-royo, dengan udara sejuknya meskipun dibeberapa titik banyak gunungan sampah. Terutama di pinggiran jurang-jurang.

Selepas kunjungan dari Tangkuban Perahu, sempet mau mampir ke Orchid Cikole. Pas di depan loket tiket, mikir-mikir lagi mengingat waktu yang terbatas dan gerimis pula lagi rasanya kurang seru hujan-hujanan di hutan. Udah pernah soalnya. Saya putuskan ngga jadi masuk. Puter balik dan milih Floating Market jadi tempat singgah menghabiskan waktu sore. Saya, sih memang sudah lama penasaran sama kawasan wisata ini. Toh lokasinya deket sama hotel, sekalian jalan balik ke hotel.

Sebentar di Tangkuban Perahu

Keliling Sebagian Kawasan Floating Market

Salah satu tempat wisata keluarga di Bandung selain GTP dan Kawah Putih yang patut untuk dikunjungi adalah Floating Market, Lembang. Kawasan wisata buatan ini, HTM nya 30ribu (pada saat itu long weekend dan ada hari libur nasional). Ditiket sih ada tulisan bisa ditukar sama minuman, tapi ngga kepikiran buat nukerin. Begitu pegang tiket, saya langsung masuk dan nyari musolah mengingat waktu ashar udah hampir habis. Selepas solat ngeliat jam udah hampir jam 5 sore. Masih ada waktu sekitar 1 jam buat keliling-keliling lokasi. Yang penting udah pernah masuk dan tau seperti apa dalemnya, gitu aja deh…

Masuk dari sebelah mana gitu ya, pokoknya belok kanan langsung ketemu kebun bunga warna warni. Trus mandang ke bawah keliatan danau dan seluruh area wisata. Seru sekali kaya lagi ada di puncak gitu. Gatau deh, karna udah capek jadinya ngga sempet liat-liat peta atau keterangan lagi di wahana apa, gitu. Saya cuma numpang lewat karna takut lokasinya keburu tutup juga. Sambil lewat ya sesekali foto lah tetep, haha.

Trus jalan lagi sampe dapet lorong menuju hutan pinus mini yang mana di sebelah kanan atas adalah wahana flying fox. Keluar hutan pinus belok kiri baru deh ketemu floating marketnya. Dalam bayangan saya, transaksi di floating market itu dilakukan bener-bener di atas air kek pasar terapung di Kalimantan itu. Baik penjual maupun pembeli sama-sama dayung sampan gitu. Rupanya, hanya perahu yang ditambatkan dipinggir danau sebagai tempat lapak penjual. Sementara pengunjung tetap ada di daratan. Saya ngga ada beli apa-apa jadi ngga ada tukar koin.

Saya ngga kepikiran buat bertransaksi apa-apa disini. Lebih tepatnya ngga sempet, deng. Selain rame, juga kejar-kejaran sama waktu. Saya lanjutkan jalan sesuka hati mengikuti kaki melangkah. Bukan ngikuti tanda panah. Yang dicari adalah papan koin yang sering dijadiin latar foto. Ya apalagi kalo bukan ikutan poto, haha. Rela nunggu antrian, ya….

Lanjutkan membaca “Floating Market Lembang”
jalan dan wisata · Serba Serbi

Sepanjang Braga dan Asia Afrika

Ntah kapan tepatnya saya punya keinginan untuk bisa mengunjungi Braga. Seperti halnya keinginan duduk menikmati suasana malam di Malioboro, Jogja atau bersepeda ria di Kota Tua, Jakarta. Braga, Kota Tua dan Malioboro, ketiga tempat yang akhirnya kaki saya meninggalkan jejaknya disana meskipun ngga sempat bersepeda ria. Mungkin akan ada Kota Tua part 2. Aamiin…

Menikmati Malam di Malioboro

Saya punya ketertarikan dengan ketiga tempat itu setelah melihatnya dari galeri foto di internet. Ketiganya punya kesamaan. Dari mulai Gedung-gedung tua yang cantik dan estetik juga keingintahuan tentang sejarah yang melatarbelakanginya. Saya memang suka dengan hal-hal yang kuno, unik dan bersejarah. Bermula dari hayalan berbagai kegiatan apa yang seru dilakukan saat disana. Berfoto atau sekedar duduk santai menikmati sore sambil makan tahu gejrot atau es krim.

Sejarah Batavia Ada di Kota Tua

Janji saya ketika berhayal, saya harus ke Braga bila ada kesempatan berkunjung ke Bandung. Tahun 2016 kunjungan pertama ke Bandung belum ada kesempatan, lebih tepatnya ngga kepikiran. Kunjungan kedua juga belum ada kesempatan karna lebih banyak berwisata didua lokasi primadona luar kota Bandung. Tangkuban Perahu dan Kawah Putih. Kali ketiga akhirnya ke Braga plus bonus naik Bandros. Alhamdulillaah…

Tangkuban Perahu ,Kawah Putih , Naik Bandros

Sekilas Tentang Braga

Dahulu hanya sebuah jalan kecil yang punya julukan jalan culik akibat dari jalan yang terlalu kecil, sunyi dan rawan. Berangsur-angsur ramai sejak para Belanda bikin semacam toko pakaian dan kedai kopi. Terbukti yaa, sampe sekarang dimana ada fashion outlet dan warung kopi ramailah tempatnya. Menyusul kemudian dibangun gedung swalayan pertama di kota Bandung bernama De Vries. Terus Gedung Concordia yang saat ini bernama Gedung Merdeka kemudian hotel Savoy Homann yang menjadi tempat menginap tamu peserta Konfrensi Asia Afrika. Braga perlahan-lahan mulai ramai dan menjadi jalan utama.

Mendengar penuturan guide Bandros waktu itu, asal usul penamaan Braga berasal dari bahasa Sunda Ngabaraga yang artinya bergaya atau mejeng. Braga waktu itu memang menjadi tempatnya anak nongkrong. Sampe sekarang, sih. Ruas jalan yang tak terlalu panjang itu, dulunya jadi tempat pertemuan sambil jalan-jalan dan belanja. Sebab kala itu di kota Bandung, Jalan Bragalah satu-satunya tempat shopping paling bergengsi.

Pada masa itu, Belanda yang fashionnya berkiblat pada Prancis sehingga apa sedang gandrung di kota Paris, mereka ikuti dan dibawa sampai Bandung. Dari sinilah muncul istilah Paris Van Java. Tetapi sejarawan Bandung bernama Haryoto Kunto bilang, julukan Paris Van Java bukan untuk menunjukkan keindahan seperti di Paris, melainkan lebih pada kecantikan dan kemolekan mojang-mojang Priangan, yang mirip dengan kecantikan wanita-wanita di Paris. Begitu juga dengan istilah Kota Kembang, bukan berarti di kota Bandung banyak bunga, melainkan banyaknya mojang-mojan geulis (gadis-gadis cantik) di kota Bandung yang diibaratkan kembang wangi dan indah. Terbukti, sih. Saya liat perempuan Bandung itu cantik, manis dan modis dan lemah lembut. MasyaAllah…

Menjelang Konferensi Asia-Afrika tahun 1955, bangunan-bangunan di jalan Braga dipercantik menjadikan jalan ini kembali hidup kembali dan meriah sampai sekarang.

Braga Sore Itu

Saya jadi tiba-tiba ingat apa yang bikin saya tertarik pada Braga selain mau lihat gedung-gedung tuanya. Adalah bola-bola batu yang diletakkan dihampir setiap sisi jalanan kota Bandung. Ya sama kayak Kota Tua juga punya bola-bola batu di pelatarannya. Ya ampun, sederhana sekali ya, hahaa. Maklum di kota saya Medan ngga ada bola-bola batu kekgitu. hikss. Selain itu saya tertarik pingin liat jalannya yang bisa hitam dan mengkilat (kalau difoto). Yang tadinya saya pikir itu paving blok yang sengaja dibikin warna hitam. Saya baru tau dari guide Bandros ternyata itu susunan dari batu endesit. Sejenis dengan batu pada candi-candi di Jogja. Wow, pantes eksotik…

Tapi, begitu nyampe batin saya berkata beda jauh dengan kondisi yang saya liat di foto dari internet, ya? Difoto ngga ada motor dan mobil terparkir tapi ini malah berjejer sesak. Di trotoar banyak tersedia mesin parkir tapi kenapa masih ada kang parkir? Lalu, bola-bola batunya jadi ketutupan, dong. Pada intinya mengurangi keestetikan jalan Braga. Menurut saya sih, gitu. Ngga tau apakah memang sedari dulu tempat parkiran memang disitu atau pas saya liat difoto momen lagi ngga ada kendaraan parkir? Coba disterilkan dari parkiran, kan lebih cantik, ya.

Waktu ke Kota Tua, yang langsung keinget adalah Malioboro dan Tugu Jogja. Nah waktu ke Braga, yang keinget adalah Malioboro dan Kota Tua. Ketiganya punya vibe yang sama. Saya juga bingung mau menyampaikannya. Pokoknya saat berada disana seperti terkenang akan sesuatu atau seseorang tapi ngga tau apa dan siapa. Mungkin karna saya orangnya perasa. Syukurnya yang dirasakan itu adalah vibe positip, tenang, damai yang bikin selalu rindu dan ingin kembali….

Lanjutkan membaca “Sepanjang Braga dan Asia Afrika”
jalan dan wisata · Serba Serbi

Gerimis di Kawah Putih yang Romantis

Karna dimusim penghujan, kunjungan saya ke Kota Kembang pertama dimasa pandemi ini lebih banyak bekerja dari kamar dan sama sekali ngga keliling kota padahal sangat pingin ke Gedung Sate, Mesjid Raya, Alun-alun dan Braga. Kalo ada kerjaan lagi ke Bandung, saya harus sempetin keliling dalam kota. Tapi begitupun sudah saya perjuangin untuk bisa datang ke tempat-tempat yang bikin rindu seperti Tangkuban Perahu meskipun udah pernah kesana dan juga tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Karna saya sukanya yang alam-alam, saya rela berjauh-jauh ria sekaligus menerobos kemacetan demi bisa kesana, lagi-lagi meskipun harus kehujanan. Selain Tangkuban Perahu, Kawah Putih juga jadi destinasi primadona yang rasanya wajib dikunjungin bila sedang berada di Bandung. Kalo di Medan mungkin bisa diibaratkan antara Danau Toba dan Tanah Karo. Keduanya merupakan destinasi alami andalan di Sumut yang lokasinya beda arah. Begitu juga Tangkuban Perahu dan Kawah Putih. Satu di Kabupaten Bandung Barat satu lagi di Kabupaten Bandung Selatan. Jadi kalo mau maksimal, kunjungi keduanya dihari yang berbeda.

silahkan singgah: Tangkuban Perahu

Rute Menuju Kawah Putih

Alternatif menuju Kawah Putih

  1. Bila keluar dari pintu tol Kopo, langsung cari Jl. Raya Soreang menuju Ciwidey
  2. Dari kota Bandung, langsung cari Jl. Raya Soreang menuju Ciwidey

Rutenya sih sederhana, cuma ngelewatin dua jalan tersebut. Tapi karna jalannya itu panjang bisa bikin ragu, apalagi yang baru pertama kalinya. Ini bener ngga sih, bener ngga sih? sambil sering-sering cek gmap yang sinyalnya hilang timbul itu.

Saya berangkat selepas sarapan sekitar pukul 9 pagi. Libur panjang menyebabkan kemacetan di Kota Bandung sampe hampir sepanjang jalan menuju Ciwidey, lokasi si Kawah Putih. Jadi dari Bandung cari jalan menuju ke jalan terusan Soreang yang lumayan panjang sampe ketemu Ciwidey yang ditandai dengan mulai disambut udara sejuk dan pepohonan pinus di kanan dan kiri jalan. Sepanjang jalan Ciwidey ini, bakalan banyak kita lewati destinasi wisata buatan manusia yang sering wara-wiri di IG bertema wisata. Seperti Bumi Perkemahan Ranca Upas, Kebun stroberi, Green Hill Park, Bukit Jamur, Kebun teh Rancabali, Situ Patenggang, Hot Spring Cimanggu, Taman kelinci dan juga air terjun. Duh, pingin disinggahin semuanya. Berjarak sekitar 25Km, saya tiba setelah hampir 2 jam perjalanan sudah pakai kejebak macet dan berhenti lihat-lihat peta. “Wilujeng Sumping” yang bermakna selamat datang, itulah kalimat yang acap kali saya baca dihampir setiap tempat yang saya lewati. Bandung memang juara dalam berkreatifitas. Banyak alam yang disulap jadi tempat wisata menarik dan cantik. Baik di dalam kota maupun luar kota dan itu dengan cepat menjadi terkenal sampe seluruh nusantara.

HTM dan Fasilitas di Kawah Putih

Sampe di kawasan Kawah Putih, disambut gapura selamat datang kemudian sedikit belok ke kanan menuju loket pembelian tiket. Yang lalu seingat saya HTM masih 25ribu untuk tiket masuk, 25ribu untuk ongkos menuju puncak Kawah Putih, dan 10ribu untuk tiket terusan spot foto serta biaya parkir. Jadi boleh pake tiket terusan bole juga ngga. Kalo ngga pake, resikonya ya ngga bole masuk ke lokasi spot foto. Tapi kalo selisihnya cuma 10ribu ya bayar aja kali, ya. Jadi total per-orangnya 60ribu di luar tarif parkir. Karna mobil dan motor serta bus tarif parkirnya beda-beda. Tiket nggak sempet kefoto dan keburu lecek juga kena hujan.

Lengkapnya HTM terbaru saya pinjem dari situs travelspromo.com. Sepertinya harga ada kenaikan sedikit.

Tiket Masuk Terusan + Dermaga Ponton + Skywalk CantigiRp38.000
Wisatawan DomestikRp27.000
Wisatawan MancanegaraRp81.000
Angkutan WisataRp27.000
Jasa Lingkungan (Parkir R4 di Pusat Kawah)Rp162.000
Dermaga PontonRp10.000
Sunan IbuRp11.000
Sky Walk CantigiRp10.000
Charge Foto Pra WeddingRp500.000
Charge ShootingRp3.000.000
Tiket Parkir Kendaraan 
Tiket Parkir MotorRp6.000
Tiket Parkir MobilRp11.000
Tiket Parkir BusRp27.000
sumber: HTM Kawah Putih
Lanjutkan membaca “Gerimis di Kawah Putih yang Romantis”
jalan dan wisata · Serba Serbi

Lewat Asia Afrika Naik Bandros

Waktu jalan-jalan di Kota Tua Jakarta beberapa tahun lalu, saya pingin sekali naik bus wisata yang bertingkat disana. Kebetulan salah satu titik keberangkatannya tepat di depan stasiun Jakarta Kota yang pas sebelahan dengan Kota Tua. Tapi waktu liat antriannya yang panjang beneeerr, dan waktu juga udah mepet, nyali jadi ciut. Ngga jadi, deh. Akhirnya mampir ke Mesjid Istiqlal dan Situ lembang

Mampir dong Kota Tua , Masjid Istiqlal, Situlembang

Kunjungan ke Bandung kali ini ngeliat bus wisata yang lebih lucu. Bentuknya sih mirip odong-odong. Odong-odong kalo di Medan identik dengan anak-anak dan musik dangdut yang meriah. Lain hal dengan odong-dongnya kota kembang. Karna dikemas sedemikian rupa, dilengkapi dengan city tour guide dan sound system yang bagus, jadinya odong-odong ini bernilai tinggi. Bus ini adalah bagian dari program Walikota kala itu yang memang terkenal dengan jiwa milenialnya, sebagian dari APBD dan sebagian lagi merupakan program CSR dari beberapa perusahaan dalam rangka membantu penggalakan wisata Jawa Barat khususnya kota Bandung. Kalo di Medan punya Mowiee yang ngga kalah oke.

Bandung City Tour on Bus disingkat Bandros adalah sebutan untuk bus wisata yang lucu ini. Bus petak yang bagian depan sekilas mirip Tayo ini punya sekitar 8 kursi besi masing-masing 4 di sisi kiri dan kanan serta 2 kursi di belakang (seperti kursi besi yang ada di kapal penyebrangan Parapat), Badan bus dan jendelanya sebagian besar dibiarkan terbuka dan dihias dengan ornamen serta lukisan-lukisan warna warni. Penamaan bus ini berawal dari sayembara kemudian dimenangkan oleh seorang pemuda sana. Bandros sendiri adalah sebutan untuk jajajan khas Jawa Barat yang bentuknya mirip kue pancung. Kreatif sekaligus mbandung sekali ya bikin namanya. Kalo di Medan anggap aja kita punya makanan khas Batak yang disebut ARSIK. Kalo disingkat jadi Armada Raun-Raun Asik. Cemana? Cocok? tapi kurang macho ya, hahhaahaaaa

petak mirip tayo. Bandung memenga juara

Awal-awal bus ini beroprasi, bentuknya nyaris mirip dengan bus wisata yang ada di London. Berwarna merah seperti warna sponsornya, tinggi dan bertingkat. Namun kecelakaan yang menimpa seorang mahasiswa yang jatuh kemudian meninggal membuat bus ini berhenti berkeliling. Selain keluhan lainnya adalah kabel-kabel listrik yang menjuntai-juntai berantakan dihampir sepanjang jalan kota Bandung suka nyangkutin kepala dan itu membahayakan sekali. Kemudian tampilan bus dimodif lebih sederhana dan lebih lucu.

Bandros

Jalan-jalan di atas bus ini dengan suasana udara Bandung yang sejuk serta angin sepoi-sepoi sebenernya bisa bikin kita ngantuk. Disinilah dibutuhkan peran Tour Guide yang aktif dan pintar membangun suasana. Menjelaskan segala sesuatu dengan detail dan lengkap sambil sesekali diselipin lucu-lucuan biasanya bisa bikin peserta tour jadi tertawa dan antusias mendengarkan bahkan ada yang tergelitik untuk bertanya lebih jauh.

Dengan tarif 20ribu per orang, kita udah bisa jalan-jalan keliling kota Bandung selama kurang lebih 45 menit. Bukan sebuah harga yang mahal apabila yang kita dapatkan adalah ilmu, sensasi dan kontribusi kita memajukan wisata kota. Beroprasi mulai pukul 8 pagi sampai pukul 4 sore.

Kru Bandros
Lanjutkan membaca “Lewat Asia Afrika Naik Bandros”
jalan dan wisata · Serba Serbi

Sebentar di Tangkuban Perahu

Lembang, setelah diguyur hujan dari semalaman, paginya masih menyisakan gerimis dan meninggalkan angin yang teramat dingin menusuk tulang. Kalau ngga ingat waktu yang sayang terbuang, rasanya setelah subuh, masih ingin berleha-leha di atas kasur empuk dan bersembunyi dalam selimut tebal sambil memandangi bukit-bukit dengan perkebunan hijau dihias patung-patung berbentuk aneka buah dan kartun yang lucu sebagai wahana bermain anak. Dari jendela kaca kamar yang lebar di lantai 2, masih terlihat rintik hujan kecil-kecil di luar sana. Kalau di Tanah Jawa, jam 6 pagi udah seterang jam 7 pagi kalo di Medan. Selama pandemi, hampir seluruh hotel yang saya inapi menyediakan pelayanan sarapan yang diantar ke kamar. Dari beberapa hotel tersebut, Hotel Vipassana Lembang adalah satu-satunya hotel dengan sarapan terlengkap. Makanan beratnya, cemilan, buah-buahan, kopi, teh dan juice diantar ke kamar dan disusun rapi di atas meja. Hotel ini juga setiap kamarnya punya balkon. Untungnya ngga lama kemudian gerimisnya berangsur-angsur hilang bersamaan dengan keluarnya sinar matahari. Rasanya meriah sarapan di balkon sambil mandangin taman dan kolam ikan yang ada di bawah sembari berjemur dihangatnya sinar matahari yang muncul tapi masih malu-malu. Seru sekali bercengkrama dengan tamu lainnya yang mayoritas Tionghoa dan kebetulan jadi tetangga saya yang sama-sama sarapan di balkon. Meskipun ngga kenal, tapi mereka tetangga kanan kiri yang ramah-ramah. Jadi berasa tinggal di rusun, kan. haha.

vipassana hotel

Ngga mau buang-buang waktu, selepas makan saya beberes barang untuk segera check-out dan lanjut perjalanan ke Kota Bandung. Tapi sebelum itu saya mau singgah dulu ke kawasan wisata alam terpopuler yang jadi salah satu ikon dan tujuan utama orang-orang kalo ke Bandung. Rindu juga kesini lagi mumpung lokasinya masih ada di Lembang juga. Setelah proses check-out selesai, bergegas pergi mumpung hujan reda. Baru juga setengah perjalanan, eh, hujan lagi. Jadi keinget momen gagal ke Kaliurang, Jogya, 4 tahun silam karna dihadang hujan deras juga.

Gagal Ke Kaliurang 

Ngga bole ngumpat-ngumpat juga, sih ya dengan rahmat Allah. Hujan bagi sebagian orang itu petaka, tapi rezeki bagi sebagian yang lain. Karna datangnya memang dimusim hujan khas akhir tahun. Waktu itu saya prediksi jalanan bakalan sepi karna musim hujan ditambah situasi pandemi. Nyatanya ngga. Situasi bener-bener kayak ngga ada yang namanya corona. Hampir sepanjang jalan macet parah. Warung – warung pinggir jalan dan restoran semuanya rame. Di hotel juga kemarin siangnya saat menunggu waktu chek-in cuma ada beberapa orang tamu aja, malah saya pikir hotelnya “ngga laku”. Eh, malamnya tau-tau di lobi rame dan parkiran udah penuh. Pada kejebak macet rupanya.

Berbatasan dengan Kabupaten Subang sekitar 20KM dari kota Bandung tepatnya di Desa Cikole – Lembang terdapat sebuah gunung dengan ketinggian sekitar 2084 Mdpl. Gunung yang terkenal akan kisah legendarisnya itu adalah Gunung Tangkuban Perahu (GTP). Tempat wisata pertama yang saya kunjungi selama transit di Lembang.

GTP

Diruas jalan keluar dari Lembang, disuguhkan oleh pemandangan yang sedikit merusak mata dengan banyaknya sampah yang berserakan di tepi-tepi jurang. Harusnya bisa dihindari mengingat Lembang kawasan wisata populer. Sepertinya memang ada yang sengaja buang sampah disitu. Mentang-mentang di tepi jurang. Untungnya ngga begitu penampakan sepanjang jalan. Dan layaknya tempat wisata di pegunungan pada umumnya selalu ada penatapan tempat pengunjung istirahat sambil memandang dari puncak. Biasa menyediakan minuman dan makanan yang hangat-hangat seperti aneka mi, jagung bakar, dan sate. Disini terkenal dengan sajian sate kelinci dan kagetnya lagi ada beberapa warung menyediakan sate biawak! Untung saya ngga singgah apalagi makan disana.

Kurang lebih 2 jam perjalanan setelah melewati kemacetan karna diberlakukan juga jalur buka tutup akhirnya sampe juga. Normalnya sih sekitar 1 jam. Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu (TWA. Gunung Tangkuban Perahu) saat itu sedikit berbeda dengan kondisi pertama kali saya dan keluarga kesini sekitar 6 tahun lalu. Melewati loket tiket, selain untuk beli tiket tentunya, semua pengunjung dicek suhu badannya satu persatu. Infonya sih, kalau ada seorang aja dalam satu rombongan yang suhu badannya tinggi, maka semuanya ngga diijinin masuk. Selain itu, akses masuk ke puncak kawah diberlakukan jalur searah. Jadi ada semacam portal sebagai penutup. Pengunjung akan diarahkan ke pelataran outbound terlebih dahulu untuk bisa menuju ke kawah. Muter dikit, lah. Harus rajin bertanya atau jeli melihat tulisan petunjuk jalan bagi yang jarang-jarang kesini.

Caca Cahyo kecil (2014)
Lanjutkan membaca “Sebentar di Tangkuban Perahu”