jalan dan wisata · Kuliner · Sponsor Post

Cuma Sehari di Medan, Bisa Kemana aja?

Kepulangan saya dari Bandung bulan lalu, di pesawat saya duduk di sebelah seorang perempuan muda dan seorang lagi paruh baya. Saya bisa tebak keduanya adalah ibu dan anak. Saat itu saya duduk di aisle seat (lorong) dan merhatiin mereka yang nampak kerepotan dengan barang bawaan yang kecil-kecil tapi jumlahnya banyak. Melihat kursi sisi kanan kosong, saya inisiatif pindah. Lumayan, jadi sama-sama lega dan saya pada akhirnya dapet window seat.

Lanjutkan membaca “Cuma Sehari di Medan, Bisa Kemana aja?”
jalan dan wisata · Kuliner

Makan Seafood Kiloan Bang Bopak di Bandung, Maknyus!

Sebelum bertolak ke Lembang, malam minggu terakhir di Bandung kemarin, kami sempetin berburu olahan seafood. Selepas bertanya pada google, dari beberapa cabang yang ada di Bandung, ketemulah lokasi terdekat dari hotel tempat kami menginap.

Lanjutkan membaca “Makan Seafood Kiloan Bang Bopak di Bandung, Maknyus!”
Kuliner · Review

Kopi Nako, Tempat Nongkrong di Bogor yang Cocok Untuk Semua Umur

Kenapa saya bilang semua kalangan Umur?

Karena sebenernya ini tuh semacam warteg kekinian. Warteg yang berada di sebuah kafe berkonsep seperti urban space dengan dominiasi warna putih dan beratap tinggi semi terbuka serta dikelilingin sama dinding kaca nako bening yang gede-gede. Mungkin ini salah satu alasan kenapa namanya kopi nako. Udah gitu di depannya ada sebuah pohon rindang bikin Ambience nya nyaman.

Lanjutkan membaca “Kopi Nako, Tempat Nongkrong di Bogor yang Cocok Untuk Semua Umur”
Kuliner

Kuliner Malam di Jalan Sabang Jakarta

Kulineran memang selalu jadi salah satu agenda tiap pendatang apabila berkunjung ke suatu daerah tertentu. Bagi saya, yang termasuk golongan ngga susah makan tapi lebih suka makanan tradisional ya seneng-seneng aja diajak makan ke pusat kuliner yang isinya makanan rakyat Indonesia. Makan nasi goreng atau sate di emperan toko aja enak, kok. Saya jadi inget waktu jalan-jalan ke Mall Paris Van Java Bandung yang begitu susahnya nyari makanan Indonesia saking semuanya makanan serba korea-korea-an.

Lanjutkan membaca “Kuliner Malam di Jalan Sabang Jakarta”
jalan dan wisata · Kuliner

Cita Rasa Jawa di Tanah Karo

Tadinya niat mau sarapan di Warung Wajik Peceren. Tapi karena dari Lau Debuk-debuk berangkatnya jam 6 pagi, nyampe Peceren masih jam 7 kurang, dan warungnya belum buka, dong. Abang-abangnya masih pada nyapu dan beberes. Makanya kami jadinya cari sarapan di warung lain di daerah Pasar Buah Berastagi, ngga jauh dari Peceren. Kalo ngga karna ngejar waktu sih mungkin masih rela nunggu sampe mereka selesai beberes. Bila perlu kami bantu. Bantu dengan doa, hehe..

Lanjutkan membaca “Cita Rasa Jawa di Tanah Karo”
Kuliner · Review · Uncategorized

Luti Gendang, Kecil-kecil Bikin Nagih

Cemilian yang asalnya dari Anabas, Kepri (Kepuluan Riau) ini dikirim oleh seorang rekan kerja langsung dari Batam ke Medan dengan ongkir yang tentu saja ngga murah. Semoga beliau dilancarkan rezekinya, dimudahkan segala urusannya, Aamiin..

Namanya agak lucu, ya. Saya pernah liat oncom (versi medan), nah bentuknya mirip combro gitu. Bulet bulet kecil. Mirip juga kayak onde onde dan mirip kue bohong juga tapi kulit luarnya doang. Kenapa ngga dikasi namanya misalnya roti isi atau roti onde misalnya. Misalnya gitu…

Lanjutkan membaca “Luti Gendang, Kecil-kecil Bikin Nagih”
Kuliner · Tips

Corona dan Mpon-Mpon

Bukan hanya masker dan hand sanitizer aja yang mendadak harganya melonjak dan menghilang dari peredaran. Ini tuh bikin kaget ya, karna harga masker jadi gila-gilaan tapi jadi rebutan pula. Belum lagi hilang rasa kaget, para ibu se-nusantara harus dihadapkan dengan kepusingan (kepusingaaaan….) karna harga bumbu pun ikut merangkak naik seiring datangnya serangan virus Corona yang diklaim mematikan itu.

Baru kali ini harga masker dan bawang lebih mahal dari harga tas Hermes KW 5, ya, haha. Saya yang memang sehari-hari pake masker ya ngga hawatir dengan hilangnya mereka dari peredaran karna saya punya stok banyak. Tapi masker kain :D. Yang ngga tau kebiasaan saya maskeran tiap hari kalo keluar rumah meski dekat sekalipun kok langsung komen “masker kan ngga perlu kalo kita ngga lagi sakit”. Selain karna memang lagi demam corona, saya sudah mulai membiasakan pake masker itu sejak sembuh dari TB paru dua tahun lalu. Jadi udah berjalan cukup lama. Pake masker bagi saya bukan karna demam corona tapi memang udah jadi kebutuhan saya.

Baca juga: masker

Baca juga: Pengalaman Sakit TB Paru

Kembali ke masalah masker, bumbu dan Corona. Kini trio ini jadi bahan pembicaraan di seluruh dunia. Eh, kalo bumbu keknya cuma di Indonesia, deng. Negara yang terkenal dengan rempah-rempahnya.

Baca juga : Trio Pribumi

Virus Corona dan Gejalanya

Corona atau disebut juga COVID-19 kali ini ditemukan pertama kali di kota Wuhan Cina akhir tahun lalu. Virus ini mampu menular dengan cepat dan menyebar ke hampir seluruh wilayah di Cina dan beberapa negara lainnya. Awal Maret lalu, Presiden Jokowi mengumumkan bahwa 2 orang di Depok sudah positif terinveksi virus Corona. Itu artinya virus ini sudah masuk Indonesia setelah beberapa waktu sebelumnya pada yakin negara ini akan terbebas. Tapi pada akhirnya…

Terjangkitnya oleh virus Corona diantaranya ditandai dengan gejala sbb:

  • Flu yang biasanya disertai dengan sakit tenggorokan, meler, bersin dan batuk
  • demam tinggi
  • sesak nafas

Gejala-gejala tersebut muncul dalam rentang waktu 1 sampe 2 minggu setelah terpapar virusnya. Sekilas agak sepele ya, sama gejalanya karna mirip flu biasa. Tapi kalo udah demam tinggi dan menyerang saluran pernafasan ada baiknya langsung diperiksakan. Oiya, bahkan ada juga mereka yang terlihat baik-baik saja tapi setelah dites ternyata positif. Mirip sekali dengan TB Paru.

Penularan Virus Corona juga bisa terjadi melalui berbagai cara seperti :

  • Terkena percikan ludah yang disebarkan lewat angin atau cairan bersin yang menyebar dari penderita COVID
  • Menyentuh bagian wajah dengan tangan yang terkena percikan ludah dan belum dicuci
  • bersalaman atau bersentuhan secara langsung dengan penderita COVID
  • menyentuh benda-benda bekas pegangan orang yang terpapar COVID. Ini nih bisa banyak sekali contohnya. kayak uang, hp, gagang pintu, teralis tangga ah pokoknya banyak. Dan ini sepertinya paling banyak menyumbang media penularan (ini apa sih bahasanya?). Di kantor saya sekaran udah ngga boleh lagi pinjam meminjam barang semacam pulpen, steples, penggaris apapun itu sebisa mungkin pake punya masing-masing. Makan dan istirahat juga ngga bole ngumpul-ngumpul.

Jadi karna virus ini ngga menularkan melalui udara, melainkan benda, itu sebabnya dikurangin kebiasaan megang-megang yaa…

Tips Pencegahan Penyebaran Corona

  • Anggap seolah-olah sudah terpapar covid jadi sebisa mungkin mengisolasikan diri sendiri. Merasa takut untuk tertular dan menularkan
  • Rajin cuci tangan dengan sabun. Repot memang, tapi demi kebaikan diri dan sekitar ada baiknya setelah menyentuh banda apapun sebisa mungkin langsung cuci tangan pake air mengalir
  • Menunda berkegiatan di luar kalau tak sangat mendesak.
  • Rajin membersihkan rumah, rajin ngepel lantai, lap gagang pintu, pegangan kulkas, lemari dll. Pokoknyabenda yang sering dipegang. Sebisa mungkin gunakan siku tangan misal mau buka pintu.
  • Bawa hand sanitizer bila berpergian, kalo ngga punya, alternatifnya bisa bawa tisu basah
  • Hindari berjabat tangan dan bersentuhan dengan orang lain. Bila sudah terlanjur segera cuci tangan
  • Pake masker bila ada. Atau jangan dulu latah menyentuh bagian wajah. Nih yang kebiasaan mencetin jerawat agak dikondisikan tangannya.
  • Tegur secara sopan mereka yang batuk dan bersin di tempat umum tanpa menutup mulutnya. Perokok juga tuh. Kalo ngeyel ditegur mendingan kita yang ngalah dan menjauh.
  • Kalo sudah ada perintah WFH atau sekolah libur, bukan berarti waktu yang ada dimanfaatkan untuk liburan ke pantai-pantai (Ya Allaah sedih liatnya). Taatlah pada aturan demi kebaikan bersama, pliis…
  • Konsumsi makanan bersih dan sehat. Sertakan dengan tambahan suplemen, vitamin C atau rempah-rempah herbal.

Meskipun belum diterapkan atau mungkin ngga akan diterapkan yang namanya lockdown mengingat kondisi dan karakter yang beragam serta kebiasaan masyarakat kita yang sulit untuk patuh, tapi sebagian instansi udah menerapkan yang namanya social distancing. Ada yang work from home dan daring. Usaha sekecil apapun pasti akan membuahkan hasil, kan. Semoga…

Disela-sela perbincangan virus Corona dan usaha para ilmuan untuk menemukan vaksin penangkalnya, Indonesia tetap setia dengan rempah-rempah alami yang konon mampu menangkal radikal bebas.

Kuliner · lomba · Review

6 Alasan Makan di Warung Mi Ayam Jamur Mahmud

Di tengah persaingan bisnis kuliner, makanan tradisional benar-benar harus pinter mencari celah bila tak ingin dihempas oleh kuliner kekinian. Terlebih setelah diinvansi oleh drama korea berikut jenis-jenis cemilannya yang tak mau kalah menyerbu nusantara.

Medan yang tak asing lagi bila disebut-sebut sebagai kota kuliner terlengkap, mana mungkin tak ikut-ikutan meramaikan makanan dari negeri yang artis dan street foodnya sekarang lagi digemari semua kalangan. Jelas saja tak sulit menemukan kuliner yang identik dengan saus dan rempah merahnya tersebut. Bahkan disudut-sudut gang pun dengan mudahnya kita menemukan makanan yang sengaja dibikin semirip mungkin dengan aslinya. Sebut saja “teokkebi” meskipun versi gang dibuat dari adonan tepung seadanya. Atau “odeng” yang versi gangnya dibuat dari lilitan jeroan ayam dan berbagai jenis lainnya. Semudah menenukan gerobak mi ayam.

Oh iya, berbicara tentang mi ayam, adakah yang tak menyukai kuliner satu ini? Nampaknya tak seorangpun menyangkal bahwa mi ayam tak boleh dilewatkan dalam kondisi cuaca apapun. Mi ayam seolah tak gentar dengan serbuan makanan kekinian tersebut. Seakan tak pernah mati atau terbunuh waktu, membuat mi ayam dimanapun diseluruh penjuru nusantara, kita dengan mudahnya menemukan kuliner ini. Jadi tak ada kata rindu yang terpendam.

Baca juga: Asal-usul mi ayam

Medan punya satu warung mi ayam yang melegenda. Kenapa disebut demikian? Karena warung ini sudah berdiri selama 31 tahun. Selama itu pula warung ini tak pernah kehilangan pelanggannya. Maka bisa dipastikan warung ini tentu punya rahasianya. Ya, Mi Ayam Jamur Haji Mahmud Medan atau orang Medan biasa sebut dengan Mi Ayam Mahmud.

Lanjutkan membaca “6 Alasan Makan di Warung Mi Ayam Jamur Mahmud”