jalan dan wisata · Review

Menikmati Masakan Rumahan di Ida Restaurant Bukit Lawang

Menikmati Masakan Rumahan di Ida Restaurant With a View – Deretan kafe, warung dan penginapan serta toko sovenir mengapit sepanjang jalan setapak pada salah satu sisi daratan di area wisata Bukit Lawang. Begitu juga halnya pemandangan di daratan yang ada di seberangnya.

Di tengahnya mengalir sungai Bahorok selebar kurang lebih 50 Meter dengan kedalaman dan arus yang bervariasi. Yang jelas airnya dingin dan jernih sekali.

Tampak ratusan pengunjung bermain di sungai itu, di bawah tempat saya duduk sambil menunggu pesanan makan siang. Terlihat pula beberapa jembatan gantung yang menjadi perantara antara daratan satu dan lainnya. Di atasnya berlalu lalang pejalan kaki yang tengah menyeberang.

Ida Restaurant

Saya duduk pada satu set kursi dan meja makan yang terletak di sisian dinding semi terbuka bangunan Restoran Ida. Dindingnya yang hanya setinggi pinggang orang dewasa membuat saya bisa dengan leluasa memandang aliran sungai bahorok dengan aktifitas pengunjung di bawah sana. Perbukitan dengan hutan hijaunya menjadi latar belakang yang memanjakan mata.

Ruang semi terbuka yang tidak terlalu luas, dengan interior didominasi warna coklat ini tampak elegan. Hiasan tanaman gantung disusun teratur di tepian atap juga di beberapa sudutnya. sangat nyaman berada di dalamnya, sebab sirkulasi udara yang bagus dan ruangan yang bersih.

Restoran ini memang sudah saya incar ketika momen jalan-jalan malam keliling Bukit Lawang. Maka siang harinya, setelah chek out dari Riverside Guesthouse, kami langsung menuju Ida Restoran untuk makan siang.

Related Post: Review Riverside Guesthouse Bukit Lawang

Alasan utama memilih restoran ini sebagai tempat makan karena lokasinya sangat strategis, terlihat bersih dan nyaman dibanding warung lainnya. Bukankah itu poin utama sebagai first impression pengunjung, kan? Menurut saya, dalam hal ini mereka sudah berhasil.

Nama restoran ini memang terdengar “ndeso” dan bangunannya sederhana juga tidak terlalu luas. Tapi jangan salah, pelanggannya sebagian besar adalah orang-orang bule. Selain tamu mereka sendiri, pengunjung resto ini juga banyak yang merupakan tamu dari penginapan lain. (FYI, Ida ini juga punya penginapan bernama sama dengan resto, letak keduanya saling berhadapan).

Bersantap With a View

Sadar pengunjungnya banyak turis mancanegara, mereka menyediakan hidangan western. Itu terlihat dari daftar menu yang ada di setiap meja.

Siang itu cuaca memang sedang panas-panasnya. Ketika memasuki area resto, kami sempat bingung mencari tempat duduk kosong. Sebabnya, saat itu terlihat kerumunan orang memenuhi setiap meja.

Salah seorang lelaki yang awalnya saya pikir adalah petugas resto mempersilahkan kami duduk pada sebuah kursi kosong yang ada di dekat dinding. Wah, tempat yang pas untuk makan dan santai sambil lihat pemandangan. Perpaduan antara deretan penginapan estetik, sungai mengalir dengan air yang saking jernihnya sampai terlihat bebatuan di dasarnya, juga Hutan Gunung Leuser yang masih begitu alami. Cuaca yang cerah menambah sempurnanya pemandangan siang itu.

Lelaki itu ternyata seorang pengunjung yang berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris. Beliau sedang membawa beberapa muridnya untuk praktek berbicara langsung dengan bule (native) yang ada di restoran itu. Melihat kami kebingungan nyari kursi kosong, beliau langsung tanggap karena sadar sumber kebingungan kami, ya karena melihat mereka berkerumun.

Saya jadi keinget pengalaman pribadi puluhan tahun silam. Dari yayasan tempat saya les Inggris juga menerapkan metode yang sama. Di tempat yang sama, Bukit Lawang jauh sebelum daerah ini diterjang banjir bandang.

Bedanya jaman saya belum ada ponsel pintar. Saya ngga bisa nyontek google translate kala dilanda speakless dan berfoto masih pakai kamera analog. Pada tau ngga sih, itu loh kamera yang pake klise (film) kalau ngga salah hanya berisi 36 rol saja.

Kalau salah jepret atau salah gaya rugi lah satu klise, belum lagi kalau kebakar dan kelamaan nyuci / cetak klisenya, alamat rusak dah semua. Untung kenangan-kenangan jaman itu terselamatkan semua, deh. Saya masih punya beberapa foto sama bule dan di beberapa sudut di Bukit Lawang kekita wujudnya masih asli 🙂 (belum rusak karena banjir bandang).

Related Post : Susur Goa Kampret di Bukit Lawang

Makan Masakan Rumahan

Selain masakan western, Restoran Ida juga menyediakan masakan lokal. Dari mulai menu kafe pada umumnya, sampai olahan rumahan.

Saya yang sudah lapar memilih menu rumahan. Sempat dibikin bingung juga dengan banyaknya pilihan dan akhirnya memutuskan makan nasi dengan gado-gado dan sambal kentang tempe. Pada langsung ngebayangin, ga?

Yang bikin lebih kaget, ternyata hidangan yang datang itu fresh from the wajan dan porsinya masing-masing sepiring penuh. Sambel kentangnya masih hangat dan sayuran di gado-gadonya seger-seger. Kalau dua hidangan udah approve, biasanya hidangan lainnya juga demikian.

Bule-bule juga makannya pada lahap, tuh.

Dua petugas laki-laki dan satu perempuan warga lokal sigap mencatat dan mengerjakan pesanan. Mereka ini dituntut untuk bisa setidaknya berbahasa Inggris, meski ngga tertutup kemungkinan bisa bahasa asing lainnya. Mereka bahkan terlihat sudah sangat akrab dengan banyak pelanggan yang merupakan tamu dari negara lain. Terlihat kompak, ngobrol dan bercanda layaknya bestie…

Selama saya disana, tamu asing itu datang silih berganti. Malah yang lokal kayanya cuma rombongan kami dan rombongan anak-anak sekolah di awal tadi.

Para bule itu, meski ada yang makan hidangan lokal seperti mie dan nasi goreng, tapi sepenglihatan saya, mereka sebagian besar masih makan hidangan mereka kaya spageti, roti, salad dan tentu saja bir sebagai minumannya.

Rekomendasi Restoran di Bukit Lawang

Restoran Ida termasuk salah satu tempat makan yang akan saya rekomendasikan ke orang lain dan selalu saya kunjungi kalau nanti ada kesempatan ke Bukit Lawang lagi. Selain tempatnya nyaman, menu makanan mereka juga beragam dengan harga yang masih bersahabat.

Dengan harga terjangkau dan setiap porsi yang banyak, bisa untuk makan minimal bertiga bahkan ber-empat. Jadi jatuhnya malah murah plus bisa merasakan hidangan rumahan.

Oiya satu lagi yang bikin nilai Restoran Ida semakin plus-plus di mata saya adalah minim asap rokok meski ngga ada larangan untuk merokok. Tamu mayoritas mereka kan bule, ya, dan as we know bule itu jarang sekali merokok.

Selain bebas asap rokok, di sini tuh ngga berisik. Ngga ada musik dengan sound menggelegar dan pengunjung ngga ada yang ngobrol sambil ngakak ngikik.

Suara riuh justru terdengar dari pengunjung yang tengah main di sungai dan suara-suara berbagai jenis musik di pondokan yang ada di bawah melalui speaker aktif yang dibawa pengunjung.

Tinggalkan Balasan