jalan dan wisata

Mengulang Kenangan Antara Gambir dan Monas

Siapa yang selalu suka dengan suasana stasiun??? Apalagi kalo sore, atau menjelang pagi vibes nya lebih berasa ya…

Tapi kali ini saya ke stasiun sudah menjelang siang. Dari bandara menumpang Damri menuju Gambir untuk bertemu seorang kerabat. Saya dari Medan pake pesawat, dia dari Jawa Barat pake kereta. Sama-sama perjalanan subuh supaya selang waktu nyampenya ngga terlalu jauh dan sepakat untuk ketemu di Stasiun Gambir. Siapa sangka dari Bandara yang saya perkirakan memakan waktu kurleb 1 jam, dengan niat akan tidur sepanjang perjalanan sebab sudah bangun dari jam 2 pagi dan ngga pernah bisa tidur di pesawat bikin badan lemas, dan mata sepet. Eh, waktu beberapa menit selama di bus dipake untuk motoin gedung-gedung tinggi Jakarta tau-tau udah nyampe Gambir aja.

Lanjutkan membaca “Mengulang Kenangan Antara Gambir dan Monas”
jalan dan wisata

Pengalaman Pertama naik MRT Jakarta

Ada yang berbeda dari kunjungan saya ke Jakarta kali ini. Ngga ngerasa kejebak macet! Padahal lagi ngga lebaran dan ngga ada ritual mudik. Ntah, apa karna saya berada di pusat kota yang lalu lintasnya lebih teratur. Atau pengaruh PPKM juga. Tapi dari Bandara ke Gambir pake Damri juga lancar jaya, kok. Malah nyampenya jauh lebih cepat dari perkiraan. Baru naik bus, mandangin kota Jakarta dari jalan layang. motoin gedung bertingkat. Eh, tau-tau udah sampe monas. Lebih lama nunggu bus di bandara daripada di perjalanannya, hehe. Seingat saya 2017 saya naik Damri dari Bandara ke Gambir malah sempet ketiduran pules di bus, dibangunin kernet pas udah nyampe Gambir.

Related post: Senja Antara Gambir dan Monas

Lanjutkan membaca “Pengalaman Pertama naik MRT Jakarta”
about us

Single simply mom with two kids. Suka jalan-jalan apalagi kalau dapat dinas luar kota. Lebih suka suasana sepi itu sebab lebih suka menyendiri. Suka mengoleksi buku diskonan, apalagi dikasih gratisan, haha.

Email: trisuci.AS@yahoo.co.id

IG: @trisuci.as

FB: Tri Suci Agus Susanti

jalan dan wisata · Kuliner

Cita Rasa Jawa di Tanah Karo

Tadinya niat mau sarapan di Warung Wajik Peceren. Tapi karena dari Lau Debuk-debuk berangkatnya jam 6 pagi, nyampe Peceren masih jam 7 kurang, dan warungnya belum buka, dong. Abang-abangnya masih pada nyapu dan beberes. Makanya kami jadinya cari sarapan di warung lain di daerah Pasar Buah Berastagi, ngga jauh dari Peceren. Kalo ngga karna ngejar waktu sih mungkin masih rela nunggu sampe mereka selesai beberes. Bila perlu kami bantu. Bantu dengan doa, hehe..

Lanjutkan membaca “Cita Rasa Jawa di Tanah Karo”
jalan dan wisata · Review

View Jembatan Pasupati dari Lantai 5 Hotel California

Welcome to the Hotel California. Such a lovely place. Such a lovely face…
Plenty of room at the Hotel California. Any time of year . You can find it here…

Jika kalian mendengar namanya kemudian dikait-kaitkan dengan sebuah lagu dari grub Band Eagles yang judulnya Hotel California, berarti kita samaan. Mulanya saya pun bertanya-tanya ada hubungan apa hotel ini dengan lagu tersebut. Duluan siapakah yang lahir? Hotel California Bandung atau Hotel Californianya Eegles? Lagu itu kan mengisahkan sebuah hotel yang tamu-tamunya pada terjebak ngga bisa keluar sebab ulah para hantu.

Lanjutkan membaca “View Jembatan Pasupati dari Lantai 5 Hotel California”
Kuliner · Review · Uncategorized

Luti Gendang, Kecil-kecil Bikin Nagih

Cemilian yang asalnya dari Anabas, Kepri (Kepuluan Riau) ini dikirim oleh seorang rekan kerja langsung dari Batam ke Medan dengan ongkir yang tentu saja ngga murah. Semoga beliau dilancarkan rezekinya, dimudahkan segala urusannya, Aamiin..

Namanya agak lucu, ya. Saya pernah liat oncom (versi medan), nah bentuknya mirip combro gitu. Bulet bulet kecil. Mirip juga kayak onde onde dan mirip kue bohong juga tapi kulit luarnya doang. Kenapa ngga dikasi namanya misalnya roti isi atau roti onde misalnya. Misalnya gitu…

Lanjutkan membaca “Luti Gendang, Kecil-kecil Bikin Nagih”
jalan dan wisata

Merasakan Nuansa Eropa di Farmhouse Lembang

Beruntung sekali rasanya kunjungan saya ke Bandung untuk yang kesekian kalinya ini disaat cuaca lagi bagus. Siang ngga panas terik, ngga hujan dan mendung juga ngga. Malah cenderung sejuk dan enak buat jalan-jalan.

Dan hari itu, Rabu adalah jadwal kepulangan saya ke Medan. Jadwal penerbangan sore bikin saya masih punya banyak waktu hari itu. Setelah selesai tes antigen (iya waktu itu syaratnya masih swab antigen) jam tangan saya masih menunjukkan pukul 11 siang. Masih ada sekitar 4 jam lagi menuju jam 4 sore. Bahkan barang-barang saya masih tertinggal di hotel Moscato

Kemana ya enaknya dengan waktu 4 jam saja? Aha!! saya tau..

Akhirnya balik ke hotel, beberes dan menitipkan barang di resepsionis sekalian cekout lalu berangkat menuju tempat yang hanya berjarak 5 menit dari Moscato.

Lanjutkan membaca “Merasakan Nuansa Eropa di Farmhouse Lembang”
jalan dan wisata

Keliling 2 Benua Modal 50K di Great Asia Afrika

Outfit yang saya pake di Great Asia Afrika itu sama pas waktu lagi di Sariater. Iya, karna saya mengunjungi kedua tempat cantik ini dihari yang sama. Selepas kunjungan dari Sariater, masih ada banyak waktu sebelum malam menjelang. Ya kebetulan lagi libur solat saya jadi lebih leluasa dan santai untuk eksplor beberapa tempat lagi. Karna sebelumnya perkiraan kunjungan ke Sariater ini memakan waktu hampir seharian jadi saya ngga ada plan akan kemana setelah itu. Eh, ternyata waktu untuk menikmati pemandian air hangat itu cuma butuh waktu setengah hari rasanya udah puas. Jadi begitu keluar dari area itu rada bingung mau kemana. Setelah berselancar diinternet akhirnya dapet tuh tujuan berikutnya yang kebetulan letaknya dekat sekali sama tempat saya tidur, Moscato Hotel

Baca juga: Sari Ater

Lanjutkan membaca “Keliling 2 Benua Modal 50K di Great Asia Afrika”
jalan dan wisata · Review

Gunung Tangkuban Perahu dari Moscato Hotel

Kunjungan ke-3 di Bandung kali ini, saya nyari lagi penginapan di daerah Lembang tapi yang belum terlalu jauh juga dari kota Bandung. Pertimbangannya ya biar deket aja kalo mau jalan sekitar Lembang sekaligus kalo pingin ke Bandung. Dan kalian tau? ternyata hotel tempat saya tidur kali ini hanya selemparan batu dari tempat wisata hits Bandung. Great Asia Afrika dan Farmhouse Lembang. Saya nyadarnya waktu makan disebuah warung bambu dan jembatan penyebrangan antara kedua objek wisata itu terlihat dari warung bambu. Ini beneran ngga sengaja dan bagi saya rejeki banget dapat hotel cantik dekat sama lokasi wisata.

Mengunjungi Bandung 2 kali dalam setahun bikin saya ngga kapok. Bagi saya, Bandung tuh menyenangkan. Bandung mampu bikin wisatawan jauh macam saya pingin balik dan balik terus kesana. Salim sama orang Bandung… 🙂

Sore itu selepas kunjungan dari Paris Van Java Mall yang super luas dan susah cari makanan lokal itu, padahal tujuan utama kesana mau makan siang, saya bergegas menuju hotel di daerah Lembang. Sebentar kemudian sampe pada sebuah bangunan yang ngga terlalu megah berlantai 4 dengan sebagian besar balkon depan tertutup pohonan hias merambat.

Memasuki pelataran, saya disambut sekuriti yang ramah nian mengarahkan tempat parkiran. Pelataran hotel itu sekaligus juga difungsikan sebagai tempat parkiran. Hotel yang ngga terlalu luas ini terlihat sangat sepi karena hanya ada 2 mobil terparkir di depan. Karna sempet trauma atas hotel sebelumnya, saya sempet pesimis juga. Tapi, hotel ini reviewnya bagus, sih.

Melangkah menuju lobi, saya mulai dapat kesan pertama. Lobi yang ngga terlalu luas namun bersih dan rapih. Hawa sejuk menyeruak keseluruh area lobi. Ruang resepsionis sangat kecil menyempil di sudut kanan. Sebuah meja bundar diletakkan tepat di tengah-tengah lorong terbuka menuju lobi. Sebuah botol hand sanitizer ada disana. Seorang petugas resepsionis perempuan muda menyapa saya dengan senyum ramahnya. Sejenak seluruh ruangan jadi terasa sepi hanya dengan 2 orang petugas. Pandemi sangat memberi dampak menyedihkan pada berbagai sektor. Saya yakin hotel ini salah satunya.

Lima menit kemudian, saya sudah pegang kartu akses dan langsung menuju lantai 2. Lift, lorong, lantai dan dinding hotel nampak bersih secara keseluruhan. Begitu pintu terbuka, wangi ruangan deluxe ini memanjakan hidung menandakan kamar ini baru saja dibersihkan. Lagi-lagi hawa sejuk langsung merasuk, padahal belum juga AC dinyalakan. Saya letakkan ransel disebelah TV tanpa menyentuh dan menengok apapun yang lain untuk kemudian membuka pintu yang mengarahkan ke balkon dan membuka gorden lebar-lebar. Senengnyaaa dapat kamar berbalkon dengan view perkebunan dan Gunung Tangkuban Perahu (GTP) di kejauhan. Sayang sekali lagi-lagi saya lupa foto bagian dalam kamar. Kebiasaan yang menyebalkan, hahaha

Saya sudahi aktifitas menatap kebun, untuk kemudian melaksanakan solat ashar. Memasuki toilet yang tersedia lengkap toiletrisnya bikin lega, ya. Yang paling penting ada shower cap dan gulungan tisu yang masih tebal. Selesai dengan aktifitas ibadah sore, saya kemudian buru-buru mencari swalayan demi sebuah popmi sebab selama pandemi hotel ini meniadakan sarapan dan menutup restoran. Selain memang popmi adalah makanan wajib tersedia di kamar untuk jaga-jaga saat perut lapar tengah malam. Menjelang magrib saya urung berwudhu karna tamu bulanan akhirnya datang, sayapun istirahat dengan merebahkan diri di kasur yang bersih, menyalakan TV kemudian tertidur sampe pagi.

Lanjutkan membaca “Gunung Tangkuban Perahu dari Moscato Hotel”