jalan dan wisata · Serba Serbi

Lewat Asia Afrika Naik Bandros

Waktu jalan-jalan di Kota Tua Jakarta beberapa tahun lalu, saya pingin sekali naik bus wisata yang bertingkat disana. Kebetulan salah satu titik keberangkatannya tepat di depan stasiun Jakarta Kota yang pas sebelahan dengan Kota Tua. Tapi waktu liat antriannya yang panjang beneeerr, dan waktu juga udah mepet, nyali jadi ciut. Ngga jadi, deh. Akhirnya mampir ke Mesjid Istiqlal dan Situ lembang

Mampir dong Kota Tua , Masjid Istiqlal, Situlembang

Kunjungan ke Bandung kali ini ngeliat bus wisata yang lebih lucu. Bentuknya sih mirip odong-odong. Odong-odong kalo di Medan identik dengan anak-anak dan musik dangdut yang meriah. Lain hal dengan odong-dongnya kota kembang. Karna dikemas sedemikian rupa, dilengkapi dengan city tour guide dan sound system yang bagus, jadinya odong-odong ini bernilai tinggi. Bus ini adalah bagian dari program Walikota kala itu yang memang terkenal dengan jiwa milenialnya, sebagian dari APBD dan sebagian lagi merupakan program CSR dari beberapa perusahaan dalam rangka membantu penggalakan wisata Jawa Barat khususnya kota Bandung. Kalo di Medan punya Mowiee yang ngga kalah oke.

Bandung City Tour on Bus disingkat Bandros adalah sebutan untuk bus wisata yang lucu ini. Bus petak yang bagian depan sekilas mirip Tayo ini punya sekitar 8 kursi besi masing-masing 4 di sisi kiri dan kanan serta 2 kursi di belakang (seperti kursi besi yang ada di kapal penyebrangan Parapat), Badan bus dan jendelanya sebagian besar dibiarkan terbuka dan dihias dengan ornamen serta lukisan-lukisan warna warni. Penamaan bus ini berawal dari sayembara kemudian dimenangkan oleh seorang pemuda sana. Bandros sendiri adalah sebutan untuk jajajan khas Jawa Barat yang bentuknya mirip kue pancung. Kreatif sekaligus mbandung sekali ya bikin namanya. Kalo di Medan anggap aja kita punya makanan khas Batak yang disebut ARSIK. Kalo disingkat jadi Armada Raun-Raun Asik. Cemana? Cocok? tapi kurang macho ya, hahhaahaaaa

petak mirip tayo. Bandung memenga juara

Awal-awal bus ini beroprasi, bentuknya nyaris mirip dengan bus wisata yang ada di London. Berwarna merah seperti warna sponsornya, tinggi dan bertingkat. Namun kecelakaan yang menimpa seorang mahasiswa yang jatuh kemudian meninggal membuat bus ini berhenti berkeliling. Selain keluhan lainnya adalah kabel-kabel listrik yang menjuntai-juntai berantakan dihampir sepanjang jalan kota Bandung suka nyangkutin kepala dan itu membahayakan sekali. Kemudian tampilan bus dimodif lebih sederhana dan lebih lucu.

Bandros

Jalan-jalan di atas bus ini dengan suasana udara Bandung yang sejuk serta angin sepoi-sepoi sebenernya bisa bikin kita ngantuk. Disinilah dibutuhkan peran Tour Guide yang aktif dan pintar membangun suasana. Menjelaskan segala sesuatu dengan detail dan lengkap sambil sesekali diselipin lucu-lucuan biasanya bisa bikin peserta tour jadi tertawa dan antusias mendengarkan bahkan ada yang tergelitik untuk bertanya lebih jauh.

Dengan tarif 20ribu per orang, kita udah bisa jalan-jalan keliling kota Bandung selama kurang lebih 45 menit. Bukan sebuah harga yang mahal apabila yang kita dapatkan adalah ilmu, sensasi dan kontribusi kita memajukan wisata kota. Beroprasi mulai pukul 8 pagi sampai pukul 4 sore.

Kru Bandros
Lanjutkan membaca “Lewat Asia Afrika Naik Bandros”
jalan dan wisata · Serba Serbi

Sebentar di Tangkuban Perahu

Lembang, setelah diguyur hujan dari semalaman, paginya masih menyisakan gerimis dan meninggalkan angin yang teramat dingin menusuk tulang. Kalau ngga ingat waktu yang sayang terbuang, rasanya setelah subuh, masih ingin berleha-leha di atas kasur empuk dan bersembunyi dalam selimut tebal sambil memandangi bukit-bukit dengan perkebunan hijau dihias patung-patung berbentuk aneka buah dan kartun yang lucu sebagai wahana bermain anak. Dari jendela kaca kamar yang lebar di lantai 2, masih terlihat rintik hujan kecil-kecil di luar sana. Kalau di Tanah Jawa, jam 6 pagi udah seterang jam 7 pagi kalo di Medan. Selama pandemi, hampir seluruh hotel yang saya inapi menyediakan pelayanan sarapan yang diantar ke kamar. Dari beberapa hotel tersebut, Hotel Vipassana Lembang adalah satu-satunya hotel dengan sarapan terlengkap. Makanan beratnya, cemilan, buah-buahan, kopi, teh dan juice diantar ke kamar dan disusun rapi di atas meja. Hotel ini juga setiap kamarnya punya balkon. Untungnya ngga lama kemudian gerimisnya berangsur-angsur hilang bersamaan dengan keluarnya sinar matahari. Rasanya meriah sarapan di balkon sambil mandangin taman dan kolam ikan yang ada di bawah sembari berjemur dihangatnya sinar matahari yang muncul tapi masih malu-malu. Seru sekali bercengkrama dengan tamu lainnya yang mayoritas Tionghoa dan kebetulan jadi tetangga saya yang sama-sama sarapan di balkon. Meskipun ngga kenal, tapi mereka tetangga kanan kiri yang ramah-ramah. Jadi berasa tinggal di rusun, kan. haha.

vipassana hotel

Ngga mau buang-buang waktu, selepas makan saya beberes barang untuk segera check-out dan lanjut perjalanan ke Kota Bandung. Tapi sebelum itu saya mau singgah dulu ke kawasan wisata alam terpopuler yang jadi salah satu ikon dan tujuan utama orang-orang kalo ke Bandung. Rindu juga kesini lagi mumpung lokasinya masih ada di Lembang juga. Setelah proses check-out selesai, bergegas pergi mumpung hujan reda. Baru juga setengah perjalanan, eh, hujan lagi. Jadi keinget momen gagal ke Kaliurang, Jogya, 4 tahun silam karna dihadang hujan deras juga.

Gagal Ke Kaliurang 

Ngga bole ngumpat-ngumpat juga, sih ya dengan rahmat Allah. Hujan bagi sebagian orang itu petaka, tapi rezeki bagi sebagian yang lain. Karna datangnya memang dimusim hujan khas akhir tahun. Waktu itu saya prediksi jalanan bakalan sepi karna musim hujan ditambah situasi pandemi. Nyatanya ngga. Situasi bener-bener kayak ngga ada yang namanya corona. Hampir sepanjang jalan macet parah. Warung – warung pinggir jalan dan restoran semuanya rame. Di hotel juga kemarin siangnya saat menunggu waktu chek-in cuma ada beberapa orang tamu aja, malah saya pikir hotelnya “ngga laku”. Eh, malamnya tau-tau di lobi rame dan parkiran udah penuh. Pada kejebak macet rupanya.

Berbatasan dengan Kabupaten Subang sekitar 20KM dari kota Bandung tepatnya di Desa Cikole – Lembang terdapat sebuah gunung dengan ketinggian sekitar 2084 Mdpl. Gunung yang terkenal akan kisah legendarisnya itu adalah Gunung Tangkuban Perahu (GTP). Tempat wisata pertama yang saya kunjungi selama transit di Lembang.

GTP

Diruas jalan keluar dari Lembang, disuguhkan oleh pemandangan yang sedikit merusak mata dengan banyaknya sampah yang berserakan di tepi-tepi jurang. Harusnya bisa dihindari mengingat Lembang kawasan wisata populer. Sepertinya memang ada yang sengaja buang sampah disitu. Mentang-mentang di tepi jurang. Untungnya ngga begitu penampakan sepanjang jalan. Dan layaknya tempat wisata di pegunungan pada umumnya selalu ada penatapan tempat pengunjung istirahat sambil memandang dari puncak. Biasa menyediakan minuman dan makanan yang hangat-hangat seperti aneka mi, jagung bakar, dan sate. Disini terkenal dengan sajian sate kelinci dan kagetnya lagi ada beberapa warung menyediakan sate biawak! Untung saya ngga singgah apalagi makan disana.

Kurang lebih 2 jam perjalanan setelah melewati kemacetan karna diberlakukan juga jalur buka tutup akhirnya sampe juga. Normalnya sih sekitar 1 jam. Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu (TWA. Gunung Tangkuban Perahu) saat itu sedikit berbeda dengan kondisi pertama kali saya dan keluarga kesini sekitar 6 tahun lalu. Melewati loket tiket, selain untuk beli tiket tentunya, semua pengunjung dicek suhu badannya satu persatu. Infonya sih, kalau ada seorang aja dalam satu rombongan yang suhu badannya tinggi, maka semuanya ngga diijinin masuk. Selain itu, akses masuk ke puncak kawah diberlakukan jalur searah. Jadi ada semacam portal sebagai penutup. Pengunjung akan diarahkan ke pelataran outbound terlebih dahulu untuk bisa menuju ke kawah. Muter dikit, lah. Harus rajin bertanya atau jeli melihat tulisan petunjuk jalan bagi yang jarang-jarang kesini.

Caca Cahyo kecil (2014)
Lanjutkan membaca “Sebentar di Tangkuban Perahu”
jalan dan wisata · Serba Serbi

Tips Sederhana Terbang Aman Dimasa Pandemi

Semua moda transportasi jadi berbeda situasinya dimasa pandemi ini. Dari mulai kapasitas penumpang yang dikurangin sampe ongkos yang dinaikin, hiks!

Bus yang biasa saya tumpangin kalo pulang kampung juga awalnya menerapkan anjuran untuk mengurangi 50 persen jumlah penumpang. Tapi itu berlangsung setengah jalan doang. Sekarang kursi penumpang udah kembali full tapi ongkos ngga dikurangin lagi. Menang banyaklah dia!

Ternyata naik pesawat juga demikian. Kursi tengah wajib kosong, alias “seat distancing”. Setidaknya begitu situasi terakhir saat saya menumpang pesawat citylink Medan – Bandung pulang pergi. Meskipun ada maskapai yang udah mulai “bandel” berdasarkan pengalaman pribadi temen saya, sih.

Mau naik mobil, bus, kereta api, kapal laut dan pesawat rasanya punya resiko yang sama besar terkait pandemi ini. Tapi kenapa aturannya dibikin berbeda, ya? Ada yang ngga pake syarat apapun, ada yang cuma rapid antibodi, ada yang harus antigen, bahkan PCR. Mana masa berlakunya berubah-ubah pula. Tapi ya begitulah, sebagai warga yang baik harus taat aturan.

Nah, setelah sekian lama hiatus naik pesawat pasca pulang merantau dari kota hujan, akhirnya saya kembali terbang sebulan menuju akhir tahun lalu dan masih dimasa pandemi. Tapi sebelumnya saya beberapa kali udah bolak balik ke bandara meskipun cuma antar jemput. Kalo ada yang nanya apa profesi saya? Ya, saya seorang… supir! wkwkwk.

mampir juga, dong

Setelah dibuka kembali beberapa bulan belakangan, Bandar udara Kualanamu Medan seakan kembali bernyawa. Tadinya diawal-awal pandemi, hotel, toko dan semua gerai makanan disana masih tutup. Lampu juga sebagian besar dimatiin. Yang biasanya riuh, terang dan berisik, mendadak jadi gelap dan ngga bersemangat. Bandara hanya diperuntukkan bagi petugas, penumpang, penjemput, dan para supir angkutan. Bahkan railink juga ikut ditutup. Itupun kita ngga boleh masuk area dalam bandara kecuali petugas dan penumpang.

Terbang Dimasa Pandemi

Pemeriksaan ketat yang mengakibatkan antrian panjang, bikin saya pagi itu berangkat lebih awal dari rumah. Bus ALS juga keliatannya membatasi armadanya sehingga butuh waktu lebih lama menunggu kedatangannya. Udah kayak lagu Bang Haji lah. Tapi karna itu armada paling ekonomis ya sabar aja menanti.

Di terminal keberangkatan, dokumen yang perlu disiapkan untuk bisa masuk adalah tiket dan KTP. Kesimpulannya, selain penumpang pesawat tidak diijinkan masuk ke dalam ruang bandara. Selebihnya prosedur ngga banyak berubah.

FYI: libur natal dan tahun baru 2020-2021, umum diijinkan masuk tanpa pemeriksaan sama sekali melalui terminal kedatangan. Seminggu berikutnya ijin masuk hanya boleh melalui terminal keberangkatan. Mungkin karna sudah ada lab untuk tes rapid juga disini. Hal ini juga menandakan aturan bisa saja berubah sewaktu-waktu.

Setelah melewati area pintu pemeriksaan (metal detector), langsung aja belok kiri menuju area validasi rapid tes (Airline Service Center). Jadi ada baiknya minimal sehari sebelum berangkat kita harus udah melakukan rapid tes terlebih dahulu. Ada beberapa daerah yang memperketat syarat masuk dengan menunjukkan Rapid Antigen bahkan PCR. Untungnya keberangkatan dan kepulangan saya hanya beberapa hari sebelum peraturan baru itu dirilis. Yang pasti ini dokumen yang wajib ada kalo mau naik pesawat dimasa pandemi dan hasilnya tentunya yang Non Reaktif, ya. Kalo hasilnya Reaktif, jangan dibawa ke bandara karna udah pasti ditolak. Lagian kalo hasilnya reaktif sebagai warga yang baik harus segera melapor dan jangan kemana-mana dulu sebelum hasil swab PCRnya keluar. Rapid tes yang tadinya berlaku hanya 3 hari, diperpanjang jadi 14 hari. Kemudian kembali dipersingkat jadi 3 x 24jam, malah ada yang 2 x 24 jam. Sampe tulisan ini tayang, masa berlaku yang terbaru belum berubah.

Airline Service Center (Area Validasi Rapid)

Selanjutnya ke area self check-in. Tapi kalo sudah cek-in online ya ngga perlu lagi cek-in ulang sih karna cukup tunjukin skrinshutnya ke petugas udah boleh masuk, kecuali memang mau cetak boarding pass. Yang boleh cek-in manual ke konter petugas hanya bagi pemilik banyak bagasi. Jadi kita yang cuma punya barang dikit, silakan lakukan cek-in mandiri di konter yang sudah disediakan. Yang mau kursinya deketan ya banyak-banyak berdoa karena bakalan random dapet nomor kursinya. Sukur-sukur kalo cek-innya barengan, kursinya bisa dapet yang deketan.

Cek-in mandiri

Abis itu prosedur tetep seperti biasa. Masuk ruang tunggu setelah melewati area screening lagi. Nah disini kayaknya peraturan setiap bandara berbeda-beda. Di KNO, sebelum masuk ruang bandara, petugas akan memeriksa tiket dan KTP. Sementara saat akan memasuki ruang tunggu, petugas hanya memeriksa boarding pass dan KTP. Selanjutnya pada saat akan naik ke kabin pesawat, petugas akan memeriksa boarding pass, KTP dan surat rapid yang harus sudah divalidasi petugas. Jadi jangan lupa rapidnya divalidasi dulu sebelum masuk ruang tunggu karna kemaren banyak yang kelupaan jadinya harus balik ke area validasi rapid sementara saat itu sudah harus boarding. Repot, kan.

Lanjutkan membaca “Tips Sederhana Terbang Aman Dimasa Pandemi”
Kuliner · Tips

Corona dan Mpon-Mpon

Bukan hanya masker dan hand sanitizer aja yang mendadak harganya melonjak dan menghilang dari peredaran. Ini tuh bikin kaget ya, karna harga masker jadi gila-gilaan tapi jadi rebutan pula. Belum lagi hilang rasa kaget, para ibu se-nusantara harus dihadapkan dengan kepusingan (kepusingaaaan….) karna harga bumbu pun ikut merangkak naik seiring datangnya serangan virus Corona yang diklaim mematikan itu.

Baru kali ini harga masker dan bawang lebih mahal dari harga tas Hermes KW 5, ya, haha. Saya yang memang sehari-hari pake masker ya ngga hawatir dengan hilangnya mereka dari peredaran karna saya punya stok banyak. Tapi masker kain :D. Yang ngga tau kebiasaan saya maskeran tiap hari kalo keluar rumah meski dekat sekalipun kok langsung komen “masker kan ngga perlu kalo kita ngga lagi sakit”. Selain karna memang lagi demam corona, saya sudah mulai membiasakan pake masker itu sejak sembuh dari TB paru dua tahun lalu. Jadi udah berjalan cukup lama. Pake masker bagi saya bukan karna demam corona tapi memang udah jadi kebutuhan saya.

Baca juga: masker

Baca juga: Pengalaman Sakit TB Paru

Kembali ke masalah masker, bumbu dan Corona. Kini trio ini jadi bahan pembicaraan di seluruh dunia. Eh, kalo bumbu keknya cuma di Indonesia, deng. Negara yang terkenal dengan rempah-rempahnya.

Baca juga : Trio Pribumi

Virus Corona dan Gejalanya

Corona atau disebut juga COVID-19 kali ini ditemukan pertama kali di kota Wuhan Cina akhir tahun lalu. Virus ini mampu menular dengan cepat dan menyebar ke hampir seluruh wilayah di Cina dan beberapa negara lainnya. Awal Maret lalu, Presiden Jokowi mengumumkan bahwa 2 orang di Depok sudah positif terinveksi virus Corona. Itu artinya virus ini sudah masuk Indonesia setelah beberapa waktu sebelumnya pada yakin negara ini akan terbebas. Tapi pada akhirnya…

Terjangkitnya oleh virus Corona diantaranya ditandai dengan gejala sbb:

  • Flu yang biasanya disertai dengan sakit tenggorokan, meler, bersin dan batuk
  • demam tinggi
  • sesak nafas

Gejala-gejala tersebut muncul dalam rentang waktu 1 sampe 2 minggu setelah terpapar virusnya. Sekilas agak sepele ya, sama gejalanya karna mirip flu biasa. Tapi kalo udah demam tinggi dan menyerang saluran pernafasan ada baiknya langsung diperiksakan. Oiya, bahkan ada juga mereka yang terlihat baik-baik saja tapi setelah dites ternyata positif. Mirip sekali dengan TB Paru.

Penularan Virus Corona juga bisa terjadi melalui berbagai cara seperti :

  • Terkena percikan ludah yang disebarkan lewat angin atau cairan bersin yang menyebar dari penderita COVID
  • Menyentuh bagian wajah dengan tangan yang terkena percikan ludah dan belum dicuci
  • bersalaman atau bersentuhan secara langsung dengan penderita COVID
  • menyentuh benda-benda bekas pegangan orang yang terpapar COVID. Ini nih bisa banyak sekali contohnya. kayak uang, hp, gagang pintu, teralis tangga ah pokoknya banyak. Dan ini sepertinya paling banyak menyumbang media penularan (ini apa sih bahasanya?). Di kantor saya sekaran udah ngga boleh lagi pinjam meminjam barang semacam pulpen, steples, penggaris apapun itu sebisa mungkin pake punya masing-masing. Makan dan istirahat juga ngga bole ngumpul-ngumpul.

Jadi karna virus ini ngga menularkan melalui udara, melainkan benda, itu sebabnya dikurangin kebiasaan megang-megang yaa…

Tips Pencegahan Penyebaran Corona

  • Anggap seolah-olah sudah terpapar covid jadi sebisa mungkin mengisolasikan diri sendiri. Merasa takut untuk tertular dan menularkan
  • Rajin cuci tangan dengan sabun. Repot memang, tapi demi kebaikan diri dan sekitar ada baiknya setelah menyentuh banda apapun sebisa mungkin langsung cuci tangan pake air mengalir
  • Menunda berkegiatan di luar kalau tak sangat mendesak.
  • Rajin membersihkan rumah, rajin ngepel lantai, lap gagang pintu, pegangan kulkas, lemari dll. Pokoknyabenda yang sering dipegang. Sebisa mungkin gunakan siku tangan misal mau buka pintu.
  • Bawa hand sanitizer bila berpergian, kalo ngga punya, alternatifnya bisa bawa tisu basah
  • Hindari berjabat tangan dan bersentuhan dengan orang lain. Bila sudah terlanjur segera cuci tangan
  • Pake masker bila ada. Atau jangan dulu latah menyentuh bagian wajah. Nih yang kebiasaan mencetin jerawat agak dikondisikan tangannya.
  • Tegur secara sopan mereka yang batuk dan bersin di tempat umum tanpa menutup mulutnya. Perokok juga tuh. Kalo ngeyel ditegur mendingan kita yang ngalah dan menjauh.
  • Kalo sudah ada perintah WFH atau sekolah libur, bukan berarti waktu yang ada dimanfaatkan untuk liburan ke pantai-pantai (Ya Allaah sedih liatnya). Taatlah pada aturan demi kebaikan bersama, pliis…
  • Konsumsi makanan bersih dan sehat. Sertakan dengan tambahan suplemen, vitamin C atau rempah-rempah herbal.

Meskipun belum diterapkan atau mungkin ngga akan diterapkan yang namanya lockdown mengingat kondisi dan karakter yang beragam serta kebiasaan masyarakat kita yang sulit untuk patuh, tapi sebagian instansi udah menerapkan yang namanya social distancing. Ada yang work from home dan daring. Usaha sekecil apapun pasti akan membuahkan hasil, kan. Semoga…

Disela-sela perbincangan virus Corona dan usaha para ilmuan untuk menemukan vaksin penangkalnya, Indonesia tetap setia dengan rempah-rempah alami yang konon mampu menangkal radikal bebas.

jalan dan wisata · Serba Serbi · Tips

Pasar Unik di Sungai Landak Bukit Lawang

Jangan berharap banyak bisa duduk santai di mobil menuju Sungai Landak. Akses kesini cuma bisa naik motor atau jalan kaki. Kalo ngga ada motor bisa naik ojek dengan tarif 15rb rupiah atau 20ribu kalo tarik tiga, haha. Ya, jalan menuju ke Sungai Landak itu searah dengan Goa Kampret. Dari goa kampret, sekitar 1KM lagi menuju Sungai Landak. Jadi bisa dibayangkan kaki udah gemetar karna abis susur goa, harus dilanjut jalan kaki ke Sungai Landak. Jadi ditotal 1KM goa + 6KM pulang pergi untuk rute hari itu. Belum seberapa ya, dibanding saudara kita di pedalaman yang belum punya akses mendukung. Eh alah ngga usah jauh-jauh lah, saya juga dulu sekolah jalan kaki kok jarak 3KM pulang pergi tiap hari. Makanya urusan jalan kaki atau melewati sungai dan kebun-kebun itu udah pernah saya lalui dimasa kecil.

Baca juga : Goa Kampret

Bayangan mandi di sungai, makan di atas aliran air yang jernih seperti yang kami tonton di yutub malam harinya di penginapan, bikin kaki semangat melangkah meskipun matahari tepat di atas kepala. Walau masih harus melewati perkebunan serta debu-debu terbang dari motor yang lalu lalang baik motor pengunjung maupun motor ojek.

Ada sebuah rumah cantik dengan sedikit nuansa Bali di atas pekarangan luas yang pasti dilewati sebelum memasuki kawasan Sungai Landak. Belakangan saya tau dari tukang ojek ternyata itu rumah dan sekaligus panti asuhan bagi anak-anak korban banjir bandang silam. Katanya rumah ini milik warga Jerman yang menikah dengan penduduk lokal. Sayangnya lokasi ini ngga dibuka untuk umum. Mau permisi juga ngga ada keliatan orangnya.

jalan dan wisata · Tips

Susur Goa Kampret di Bukit Lawang

Ini pengalaman pertama saya caving alias susur goa. Tadinya saya pikir ini sekedar goa kecil pendek yang di dalamnya terdapat beberapa benda-benda peninggalan. Karena dulu sebelum banjir bandang menerjang Bukit Lawang, saya pernah masuk goa yang di dalamnya ada sebuah benda berupa alat musik yang mirip biola berukuran besar. Tapi keknya itu bukan goa tapi cerukan biasa kali, ya, haha. Jadi selain jungle trekking dan tubing, caving atau susur goa merupakan aktifitas utama yang bisa dilakukan bila berkunjung ke Bukit Lawang.

Baca juga : Bukit Lawang

Goa Kampret

Apa pasal dinamakan Goa Kampret? Sederhana saja, karna di dalam goa ini dihuni oleh ribuan kelelawar kecil. Di Sumut, Kelelawar punya nama lain yaitu Kalong dan juga Kampret. Jadi terserah saja mau sebut Goa ini sebagai Goa Kelelawar, Goa Kalong tapi lebih sering dan lebih mantap menyebutnya dengan Goa Kampret. Tapi nyebut kampretnya jangan pas lagi kesel, ya, hehe.

Ada yang bilang goa kampret ini milik pribadi, tapi ada juga yang bilang milik pemerintah karna letaknya di Taman Hutan Gunung Leuser. Kabarnya juga goa ini dijadikan sebagai tempat tinggal warga jama dahulu, hal ini bisa terlihat dari pemisahan ruang-ruang dalam goa.

Untuk yang pertama kali masuk goa, harus dengan bantuan seorang pemandu. Jangan asal masuk kalo belum tau persis kondisi medan. Kami aja pulangnya sempet nyasar, kok. Ngga nyasar sih, cuma abang pemandunya lupa belokannya kiri apa kanan. Tapi sempet masuk ke kanan, padahal harusnya ke kiri. Udah gitu kondisi di dalam itu gelap, jadi bener-bener ngga bole sembarangan masuk kalau belum pernah.

Menengok ke Dalam Goa Kampret

Pagi itu, setelah sarapan dan sesuai janji kami beranjak dari penginapan menuju lokasi Goa Kampret. Matahari belum begitu meninggi saat kami memulai menapaki kebun demi kebun milik warga. Dari Ecolodge, kami kemudian menyebrangi jembatan gantung yang hanya bisa dilewati maksimal 8 orang. Momen ini ngga bisa dihindari karna memang akses utama menuju goa. Bukan apa-apa, bahkan setelah berhasil melewati jembatan yang bergoyang-goyanG itu, keliyengannya ngga ilang-ilang sampe lama. Kan rasanya ngga enak.

Berjarak sekitar 2 KM dari Ecolodge, sepanjang jalan kami berkutat dengan hutan serta perkebunan karet dan sawit disisi kanan dan kiri jalan setapak sampe akhirnya memasuki kawasan hutan dimana Goa Kampret berdiam. Ini bukan pertama kalinya saya ikut kegiatan jelajah hutan. Sebelumnya beberapa tahun lalu kantor saya rajin ngadain hash atau jelajah hutan yang selalu dilakukan dikawasan hutan Sibolangit. Hash lazimnya dimulai dari jam 7 pagi dan selesai sekitar jam 9nan. Mau trek yang mudah hanya telusur pinggiran hutan sampe trek yang sulit. Mendaki, menurun sampe nyebrang-nyebrang sungai bisa aja tinggal request sama pemandunya. Dan trek di Sibolangit masih jauh lebih ekstrim dibanding trek menuju goa kampret.

Baca juga : Hash

lovely kids...and famz

Belajar Dari Anak Kecil

Ini kali kedua anak-anak kehilangan hp. Saya tau mereka ngga sengaja ngilangin karna banyak tangan yang megang. Ya, kami memang ajarkan mereka untuk berbagi apapun yang dipunya termasuk minjemin gadget untuk dipake bersama. Namanya barang udah raib ya mau gimana lagi. Kali ini saya ngga mau cerewet dengan memberikan pertanyaan menginterogasi, memojokkan apalagi menyalahkan bahkan nasehatpun ngga. Cukup saya kasi pilihan beli hp baru pake uang celengan atau mama beliin lagi tapi nunggu SMA. Saya pikir mereka akan nangis, sedih, ngambek sebulan atau milih beli hp baru pake uang tabungan. Ternyata ngga kedua-duanya. Jawabannya justru di luar dugaan dan melebihi ekspektasi saya.

“Uang celengan kan mama bilang untuk qurban, yaudah kami nanti punya hp nya nunggu udah SMA aja, ma”

Mekipun melalui telepon, tapi saya bisa ngerasa dari nada bicara dan suaranya ngga ada rasa sedih yang berlebihan. Malah ceria-ceria saja kaya ngga ada kejadian apa-apa. Padahal saya tau mereka pasti sedih ngga akan bisa lagi main hp. Padahal mereka lagi maruk-maruknya belajar Bahasa Inggris pake aplikasi Duolingo dan perkembangannya cukup bagus. Kosakata inggrisnya udah mulai banyak. Diajak komunikasi pake bahasa inggris udah mulai nyambung.

Uang tabungan mereka yang sebelumnya selama beberapa tahun memang rencana untuk qurban tahun lalu, ternyata masih kurang dikit untuk beli 2 kambing karna untuk masing-masing anak. Maklum nabungnya receh seribu duaribu. Saya tunda untuk qurban tahun berikutnya (2020) supaya bisa barengan. Terkadang bahkan sering mereka ngga jajan di sekolah karna neneknya rajin bawain roti, nah uang jajannya kemudian dimasukin celengen. Karna udah terbiasa bahkan tanpa diperintah setiap mereka dapet uang biasanya langsung dimasukin celengan. Begitu selalu, alhamdulillah.

Selain sering dibawain neneknya roti, saya pernah nasehatin anak-anak untuk ngga sering jajan sembarangan di sekolah. Syukurnya mereka nurut meski kadang agak nakal mungkin karena kepingin juga liat temen-temennya jajan. Saya ngga marah-marah, karna memang dikasi uang jajan ya tujuannya untuk jajan. Tapi mereka ngga latah jajan tiap hari. Itu sebab celengannya membukit meskipun butuh waktu bertahun-tahun. Hahaha… tetep alhamdulillaah.

Beberapa hari lalu anaknya telpon lagi ngabarin kalo celengan ayamnya hilang satu, hikss! “Celengan punya kakak, ma, mungkin karna punya kakak lebih berat dari punya Cahyo”. Begitu katanya. Dan saya ngga mau banyak komentar. Dengar ketegaran mereka merelakan barangnya hilang bertubi-tubi aja udah bikin hati adem. Ya Allaah, nak…

“Kakak ikhlas, ga celengannya ilang?”

“Ikhlas, ma. Kata nenek kalo ikhlas diganti sama Allah yang lebih banyak. Oiya ma, nanti kalo pulang belikan kakak krayon ya, yang lama udah pada pendek. Krayonnya dibawa pas ulang tahun kakak ya ma, untuk kadonya”.

Mau nangis ga tuh dengernya??

Bagi mereka krayon yang nota bene kebutuhan sekolah malah dianggap barang berharga yang pantas dijadikan sebagai kado ulang tahun.

Tapi memang begitu harusnya, ya. Karna setiap ulang tahun kado yang didapat justru melebihi ekspektasi sederhananya itu.

Baca juga: Simple Way

Kembali ke cerita kehilangan. Alih-alih marah atau menyalahkan. Saya justru kasihan dan ngga tega kalo lagi-lagi harus dihadapkan pada kenyataan bahwa anak-anak lagi-lagi harus kehilangan angan-angan sederhana mereka. Tapi dari sini saya jadi belajar dan paham satu hal bahwa berikan anak kepercayaan dan jauh dari menghakimi atau menyalahkan anak kalau mereka berbuat satu kesalahan. Agar kedepannya mereka berani mengaku salah dan mau jujur tentang berbagai hal. Bagi saya itu paling penting

Kita orang dewasa aja kalau dapat penghakiman, atau melulu disalahkan atau diungkit akan jadi jengah, kan? Ngga mau lagi untuk terbuka dan bercerita terus terang tentang perasaan. Begitu juga halnya dengan anak. Sebaliknya beri penghiburan supaya hatinya tenang dan mudah mengikhlaskan segala sesuatunya.

Baca juga : Dear Kids

jalan dan wisata · Tips

Imlek Ceria di Bukit Lawang

Setelah melewati berbagai pertarungan serta perdebatan tiada henti. Dari mulai nyari penginapan, transportasi dan lain-lainnya terlebih nyaris batal karna satu dan lain hal yang bikin mood jelek seharian, pada akhirnya H-1 rencana terlaksana juga meskipun personil harus berkurang banyak.

Pukul 8 malam kami mulai bergerak dari Medan menuju Bukit Lawang, dimana tempat akhir pekan akan kami habiskan. Segala macem perlengkapan juga tak luput dibawa serta. Ngalah-ngalahin orang kempinglah pokoknya. Panggangan, ikan, ayam, jagung, berbagai cemilan bahkan rujak serta bumbunya juga telah siap sedia. Tak lupa pula majigcom, pemanas air serta 2 galon air ikut diboyong.

3 Jam perjalanan terlewati tanpa ada halangan yang berarti. Ngga ada macet panjang khas weekend, ngga ada nyasar-nyasar serta ngga ada drama aneh-aneh, termasuk jalan juga mulus meski beberapa titik ada bolong-bolongnya. Ditempuh dengan perjalanan santai, akhirnya pukul 11 malam tiba di penginapan dengan selamat aman sentosa. Alhamdulillah liburan di depan mata…

Sampai di penginapan, letakkan barang-barang di kamar kemudian duduk-duduk sebentar di restoran sementara para lelaki mempersiapkan bara api untuk ikan-ikan dan ayam dipanggang segera.

Ngga ada kegiatan lain selain makan-makan,nyanyi dan bercanda karna memang hari udah kelewat malam dan lelah melanda. Sementara besok pagi mau menyusuri goa dan main air di Sungai Landak.

Review · Sponsor Post

Review JA Glow Intense Lightener : Jerawat Lewat

Sebulan lalu saya coba ganti susu dan pembersih wajah. Meskipun dari segi harga produk yang pertama lebih murah, ternyata dikulit saya malah lebih cocok. Ngga kering dan ngga jerawatan.

Apa daya karna udah terlanjur dibeli dan dibuang sayang, saya lanjutin pake yang baru ini. Niatnya sampe abis biar ngga mubazir aja. Meskipun di muka jadi timbul jerawat dan kulit jadi kering karna tonernya dirasa lebih keras dan menimbulkan efek perih. Jerawatnya ngga nanggung-nanggung ya langsung muncul banyak kecil-kecil dan besarnya juga ada hampir diseluruh bagian muka 😕

Kemaren oleh seorang teman saya diminta nyobain produk baru namanya JA Glow (dibaca Ya Glow). Konon katanya diklaim selain bisa menyembuhkan jerawat, menyamarkan bekasnya, juga mampu mencerahkan kulit wajah dan menjadikannya glow. Nampaknya 2020 ini trend masih kearah glowing-glowingan, ya. Ngga salah kalo banyak produsen skinker iming-imingnya adalah menjadikan wajah glow layaknya artis korea.

Ja Glow Intense Lightener

Merupakan produk pendatang baru di Medan yang berasal dari New York. Kabarnya diformulasikan oleh seorang Indonesian-born Medical Degree yang berdomisili di Rocheste. Tujuannya sangat mulia sekali yaitu membawa brand lokal menjadi internasional serta membantu mengurangi perusakan alam dengan menggunakan kemasan anti kertas.

Ja Glow merupakan produk kecantikan yang non mercury dan non hydroquinon, sehingga aman untuk ibu hamil dan menyusui. Yang paling penting sudah terdaftar di BPOM membuktikan bahwa Ja Glow diformulasi dari bahan-bahan yang aman. Sementara untuk sertifikasi halal, sedang dalam proses pengurusan di MUI. Semoga segera keluar.

Kita ulas satu persatu ya…

opini

Harga Wajar di Warung Makan

Di beranda saya terlebih di grup kampung Sidamanik berseliweran perkara harga tinggi yang harus dibayar oleh satu keluarga di Rumah Makan Ayam Napinadar daerah Sidikalang. Konon katanya 2 ekor ayam kampung dan lauk pauk lainnya dihargai 800rb. Tentu saja rame sekali pro dan kontra di grup itu yang anggotanya sekampung saya karna memang daerah saya mayoritas suku Batak dimana lokasi rumah makan ayam napinadar itu masih wilayah mayoritas orang Batak juga. Tidak jauh dari Sidamanik sekitar 3-4 jam perjalanan. Kalo mau kesana bisa kok via Sidamanik sebagai jalur akternatif. Banyak temppat eksotis yang bisa disinggahin ;). Video perdebatan sengit antara pelanggan dan pemilik rumah makan yang nampaknya sulit untuk didamaikan.

Baca juga : Pemandian Aek Manik

Ada yang pro dengan membeberkan secara detail harga dari setiap bahan makanan sehingga hitungannya bisa sampe diangka segitu. Salah satunya anak dari pemilik warung makan. Banyak juga yang kontra dengan menyuguhkan perhitungannya sendiri.

Sebelumnya juga pernah viral perkara minum air kelapa di sebuah daerah perkebunan Pabatu. Masih wilayah Sumatera Utara juga. Lupa berapa, tapi yang pasti terlalu mahal untuk sebuah kelapa muda yang warungnya lesehan di perkebunan sawit di bawah pohon rindang beralaskan tikar tepat di sisi jalan lintas. Sejuk memang kalo lagi duduk istirahat disitu. Ngga lama kemudian viral lagi meskipun masih kalangan grup juga perkara harga seporsi bakso yang melonjak naik dikarenakan hari besar. Kebanyakan memang pemilik warung memanfaatkan orang asing yang makan disana dengan menaikkan harga berlipat-lipat terlebih dihari-hari besar.

Lain halnya dengan warung yang ada di tempat wisata. Sudah hal umum kalau harganya dilangitkan. Makanya banyak orang piknik lebih milih bawa bekal daripada jajan disana. Kami salah satunya. Tapi sedihnya ada juga tempat wisata yang melarang pengunjung bawa makanan, hiks. Kalo begini ya terpaksa beli disana, kan. Ditempat wisata, setidaknya harus bawa uang 15ribu untuk beli popmi atau 10rb untuk beli air mineral. Sukur-sukur masih ada kembaliannya 😆. Karna ditempat begituan harga main tebak-tebakan. Saya pernah beli kerak telor di Monas. Dengan pedenya beli langsung 4 porsi tanpa nanya harga dulu dan kemudian terkaget-kaget waktu bayar seharga 100rb. Berarti 1 porsi 25rb. Baru tau ternyata mereka pake telur bebek. Sampe rumah kerak telornya utuh ga kemakan karna ga ada yang doyan 😁.

Tiba-tiba keinget beberapa tahun lalu saat di rumah ngga masak pilih praktis beli lauk untuk Caca kecil. Beli soto di warung sebelah rumah yang pemiliknya masih satu keluarga. Satu porsi dihargai 25rb. Waktu itu sekitar tahun 2012an klo ga salah. Isian soto kebanyakan mi dan sedikit toge. Tanpa suiran ayam bahkan ngga ada toping daun seledri atau bawang goreng sama sekali. 2012 harga segitu lumayan mahal untuk 1 porsi soto “alakadarnya”. Secara ngga sengaja kebetulan salah satu tetangga yang juga masih keluarga lagi ada di rumah. Melihat Caca makan pake kuah soto itu, si ibu langsung bilang soto paling mahal sekota Medan, pantesan emasnya tebal-tebal orang jualan ambil untungnya ga kira-kira. Si ibu yang memang doyan ngomel langsung berasa dapat bahan sambil sedikit nahan emosi dan volume suara sengaja dikuatkan agar terdengar pembantu pemilik warung yang sering wara-wiri di depan rumah. See… begitulah reaksi pembeli kalo ngga puas dan penjual dapet umpatan. Itu dulu… smoga sekarang ngga begitu lagi.

Masih pengalaman pribadi makan di komplek Istana Maimun. Terkaget-kaget waktu bayar dengan harga yang ngga wajar yang mana makanan yang rasa dan penampilan juga seadanya. Ceritanya bisa dibaca disini.