Under The Queen’s Umbrella, Melawan Mertua, Kenapa Ngga?
Under The Queen’s Umbrella, Melawan Mertua, Kenapa Ngga? – Kebayang ya, gimana repotnya punya anak 5 yang semuanya cowo. Tingkahnya juga macem-macem bikin pusing kepala. Ada yang cool tapi suka diem-diem keluyuran, ada yang berisik tapi mikirin cewe mulu, ada yang patuh tapi orientasi menyimpang dan ada si tukang tidur.

Under The Queen’s Umbrella
Artis: Kim Hye-soo, Moon Sang-min, Yoo Seon-ho, Bae In-hyuk dkk
Sutradara: Kim Hyeong Sik
Tahun: 2022
Episode: 16 Episode
Related Post: The Haunted Palace, Perpaduan Horor dan Romantis
Sinopsis Under The Queen’s Umbrella
Bercerita tentang seorang Ratu sekaligus ibu, Im Hwa-ryeong (Kim Hye-Soo) yang berjuang untuk memenangkan ke-4 putranya (4 pangeran) dalam pertarungan supaya bisa menggantikan putra sulung (putra mahkota) yang juga sedang berjuang melawan sakit. Perjuangannya semakin berat sebab bukan hanya tentang ke-5 anaknya, tetapi juga perselisihan dengan ibu suri (mertuanya) yang mendapat dukungan dari beberapa pejabat istana dan juga selir-selir lainnya.
Ratu yang seharusnya lemah lembut itu ngga berlaku bagi Im Hwa. Baginya, menjadi tegas, gesit dan berani adalah keharusan untuk bisa bertahan di dalam istana yang penuh penghianatan, kecurangan dan kemunafikan.
Bermula dari Putra Mahkota yang juga putra sulungnya sedang melawan sakit parah. Istana yang dipimpin Raja (ayah putra mahkota) berencana mencari pengganti putra mahkota. Kemudian dilaksanakanlah berbagai test selama beberapa hari yang diikuti oleh empat pangeran (anak dari ratu / adik-adik putra mahkota) dan masing-masing satu anak dari tujuh selir raja. Banyak yeee…
Saking banyaknya selir sampe mereka ada kedudukannya, dari mulai selir senior tingkat 1 dst. Raja mah bebas bos! haha. Di Konoha juga banyak kok, selir-selir, tapi untuk menampung uang korupsi #Eh…
Selir senior tingkat 1 bernama Hwang (Ok Ja-Yeon) merasa putranya lebih berhak menggantikan posisi putra mahkota, sebab mengklaim anaknya lebih dulu lahir. Disokong penuh Ibu Suri, Selir Hwang semakin besar kepala.
Yang paling repot tentu saja Ratu Im Hwa, setiap hari harus ngurus empat pangeran yang selalu saja ada tingkahnya. Saking nakalnya, Ibu Suri menjuluki mereka dengan “para berandalan” serta sering kali membandingkan dengan anak selir Hwang yang tanpa diketahui ternyata juga bersifat culas.
Dari sini benih perselisihan dimulai. Ratu ngga pernah bisa berdiam diri dengan segala pernyataan dan tindakan Ibu Suri yang penuh fitnah, kejam dan menyakitkan. Saking kejamya, dia ngga segan-segan menyingkirkan cucunya sendiri demi kekuasaan. Heran deh, udah tua juga banyakin ibadah aja napa, ya? Sementara itu Ibu Suri merasa ngga dihargai karena segalanya ditentang menantunya. Which is, budaya istana itu Ibu Suri adalah pangkat tertinggi, gimana ngga murka kalau ditentang menantunya, ya, kan?
Perjuangan ratu semakin berat dimana pada akhirnya putra mahkota wafat karena penyakit yang dia curigai bukan penyakit biasa. Disela-sela kerepotannya mendidik empat pangeran, sisi lain, ratu harus berjuang mencari tahu dalang kematian putranya sekaligus melawan kelicikan ibu suri yang dibantu pejabat istana. Tentu ini bukan perkara mudah untuk dikerjakan sendirian.
Mampukan Ratu mengatasi semuanya?
Related Post: Review: Between Shades of Gray

Review
Drama lama yang baru nemu tapi bikin saya jatuh hati, serius banget nontonnya dari episode pertama sampe selesai dan baru kali ini nonton drama kek kurang panjang gitu episodenya deh, haha.
Under The Queen’s Umbrella, bagi saya bukan sekedar tontonan menarik tapi juga sarat pesan yang bisa “dibawa pulang”. Apalagi sudah menjadi ibu, nonton drama ini kek relate aja semuanya.
Berikut beberapa pesan moral dari drama Under The Queen’s Umbrella
- Setiap anak itu unik. Disini keterampilan orang tua, utamanya ibu diuji bagaimana memandang setiap keunikan itu sebagai sebuah kesempatan untuk berkembang. Menjadi payung yang mampu menaungi setiap anak dengan adil.
- Meski bergelar pangeran (anak laki-laki), mereka juga punya sisi rapuh, lelah, sedih dan keinginan untuk menyerah. Lagi-lagi peran ibu diuji bagaimana menerima setiap kelemahan tanpa perlu menyalahkan dan membuat setiap pribadi semakin jatuh. Sebaliknya, dukungan penuh diberikan meski dengan omelan-omelan khas emak-emak.
- Persaingan antar saudara, alih-alih bermain curang, justru membuat interaksi antar empat pangeran itu semakin erat dan kompak. Satu sama lain saling mendukung.
- Dibalik hatinya yang rapuh karena kesedihan kehilangan putra mahkota, Ratu punya sisi kuat lainnya yang harus dia tunjukkan di depan musuh. Pun begitu di depan empat pangeran. Baginya, tekanan hati yang ditampakkan, bisa merusak mental empat pangerannya. Jadi harus selalu terlihat baik-baik saja 🙁
- Alih-alih mengusir atau menghukum, dia justru memberii ruang bagi anak-anaknya yang menyimpang dan melakukan kesalahan. Kelembutan memang mampu meluluhkan hati, yes? Marah ngga harus dengan ngamuk dan main tangan, justru dengan mengalah dan “menerima”, hati semakin tenang.
- Meski punya sifat “melawan” tapi ngga bikin ratu kehilangan kebiasaan istana yang tetap harus dia jaga. Selalu menunduk setiap kali menghadap raja dan ibu suri, meski setelah itu teteeep yaa membantah, haha. Ratu melawan ngga pake teriak atau tantrum, melainkan dengan tatapan tajam dan kalimat yang nyelekit.
- Ratu itu defenisi perempuan yang cerdas, gesit, berani sekaligus punya empati yang tinggi juga hati yang super lembut.
Selain Pesan Moral, beberapa hal yang bikin drama ini ngga membosankan
- Suka sekali sama sosok ratu. Lupakan ratu yang kalem, lembut dan penurut. Ratu Hwa adalah defenisi emak-emak super pada umumnya tapi versi Joseon. Nyeret-nyeret anaknya yang males bangun, ngomelin dan teriakin anak yang bandel adalah jobdesk sehari-hari.
- Akting semuanya jempolaaaan. Terutama tentu saja Ratu. Emang pantes aja dia jadi center of attention. Mimik mukanya itu dapeet banget disetiap moment. Marah, sedih, kesel semuanya dapeeeet. Apalagi kalau Ibu Suri dan Ratu ketemu lalu beradu tatapan dan beradu debat. Jangan sampe mati lampu atau putus wifi atau ada interupsi lain deh, haha.
- Salah satu yang bikin saya lebih seneng dengan drama kerajaan adalah karena sinematografinya ngga pernah gagal. Pegunungan yang melatarbelakangi istana kerajaan, sungai-sungai, taman dengan bonsai-bonsainya, bangunan dengan atap dan ukiran yang khas, warna-warni hanbok dan riasan rambut para wanita semuanya memanjakan mata.
- Momen-momen dimana para pangeran bikin ulah, dihukum, bikin ulah lagi, dihukum lagi dan momen receh lainnya bikin drama ini ngga terasa kering. Sedih, lucu, haru semua jadi satu di sini.

Pesan Cinta Untuk Para Ibu
Under The Queen’s Umbrella menjadi pengingat kalau dibalik kesuksesan seorang anak, ada payung ibu yang rela luluh lantak demi memastikan anaknya tetap terlindungi dari panas dan hujan. Sosok Ratu Im Hwa adalah perwakilan semua Ibu yang berjuang tanpa lelah.
Kasih ibu sepanjang masa, menjadi garda terdepan menghantarkan anaknya meraih masa depan dan menjadi sosok terakhir yang akan melepas anaknya menjalani kehidupan yang baru.
Sebagai seorang ibu dan anak, saya belajar banyak dari sosok Im Hwa. Abis nonton ini berasa pengen nerapin pola didikan ke anak-anak, tapi ternyata beraaaaat bangeet. Kadang ada rasa ngga teganya, kasihan, kurang kesabaran dsb.
Kuat dan sehat yaa untuk para ibu diseluruh belahan dunia… sesama ibu harus saling dukung ya, woman support woman. Ngga usah saling adu nasib, adu komentar, adu kekuatan dan adu keahlian. Peran kita semua sama, menjadi madrasah, tauladan dan guru sekaligus pembelajar yang justru belajar banyak dari anak itu sendiri. BTW, blogger rafahlevi punya banyak review seru berbagai film tentang ibu di blognya, boleh dibaca-baca deh. Blogger film bandung ini juga menulis review Esok Tanpa Ibu yang related dan bikin mewek.
Jadi anak yang menyejukkan hati orang tua, Ibu yang menjadi rumah paling nyaman untuk anak, dan jadi ibu mertua yang sayang ke menantu seperti Ratu, yang rasa sayangnya seperti anak kandung sendiri. Kalau dapat mertua kek ibu suri boleh dilawan? Kenapa ngga? Tapi lawan dengan cara elegan, yes? hihi
Ngga salah kalo drama ini dapat Baeksang Arts Award for Best New Actor in Broadcasting karena memang sebagus itu. Pecinta drakor pasti udah nonton dong? Gimana-gimana menurut kalian?