jalan dan wisata

Taman Kebun Bunga Tjong Yong Hian Medan

Taman Kebun Bunga Tjong Yong Hian Medan – Tjong A Fie dikenal sebagai saudagar kaya raya kota Medan. Sebagaian wilayah rumahnya kini jadi sebuah museum bernama Tjong A Fie Mansion, salah satu destinasi wisata yang bisa dikunjungi di pusat kota. Meski begitu, ternyata kakaknya Tjong Yong Hian merupakan orang terkaya pertama di kota Medan. Tjong Yong Hian pertama kali merantau ke Medan kemudian disusul oleh Tjong A Fie.

Related Post: Tjong A Fie Mansion, Bukti Sejarah Saudagar Kaya di Medan

Tjong Yong Hian

Lahir di Guangdong kota Songkou, distrik Meixian Tiongkok Selatan pada tahun 1850. Dia merantau dari Tiongkok ke Indonesia melalui pelabuhan Shantou lalu mendarat di Batavia (Jakarta). Tiga tahun kemudian, berbekal tabungannya, Ia pindah merantau ke Medan dan memulai usaha perkebunannya sendiri. Sayap-sayap bisnisnya semakin melebar sebab kepiawaiannya dalam bergaul dan berbaur dengan semua kalangan.

Kesawan, dimana lokasi Tjong A Fie Mansion berada merupakan nama wilayah di pusat kota Medan yang adalah salah satu bisnisnya berupa real estate pasa masa itu. Bank dan pelayaran adalah sayap bisnisnya yang lain.

Tjong Yong Hian sangat dihormati oleh komunitas Tionghoa dan dihargai oleh pemerintahan Belanda. Oleh Belanda, Dia dianugerahi gelar Luitenant der Chindaneezen (Letnan) tahun 1888, kemudian Kapten tahun 1893 dan Mayor tahun 1898. Kemudian menjadi pimpinan Tionghoa.

Meski tak sepopuler adiknya, Tjong Yong Hian punya banyak kontribusi dalam memajukan perkembangan Kota Medan. Semasa hidupnya, dua bersaudara ini membangun beberapa bangunan, seperti Masjid Raya Al-Mashun, Rumah Sakit di Belawan, Vihara Tian Hou, dan Masjid Lama di Gang Bengkok.

Setelah wafat pada tahun 1911, putra tertuanya Chang Pu Ching beserta saudaranya melanjutkan kegiatan sosial ayahnya dengan membangun jembatan Tjong Yong Hian yang melintasi Sungai Babura (Jalan KH. Zainul Arifin). Kini jembatan itu diberi nama Jembatan Kebajikan dan telah dijadikan sebagai salah satu warisan sejarah dan budaya Kota Medan. Tahun 2003, jembatan ini mendapatkan penghargaan Unesco Award Of Merit. Sebuah penghargaan Anugerah Pelestarian warisan sejarah.

Salah satu bentuk apresiasi dan penghargaan yang diberikan Pemerintah Kota Medan terhadap Tjong Yong Hian atas jasa besarnya dalam perkembangan kota Medan adalah dengan menabalkan nama Jalan Bogor menjadi Jalan Tjong Yong Hian serta meresmikan Taman Tjong Yong Hian di Jalan Kejaksaan Medan.

Taman Kebun Bunga Tjong Yong Hian

Tak banyak yang tahu bahwasanya ada sebuah taman bunga di tengah Kota Medan. Selain cantik juga punya nilai sejarah tinggi. Adalah Taman Bunga Tjong Yong Hian yang berada di Jalan Kejaksaan, Petisah Tengah, Kota Medan.

Saya adalah salah satu yang baru tahu kalau di Medan punya taman secantik itu. Padahal bangunan ini sudah diresmikan sejak Oktober 2011. Kemana sajakah saya selama 12 tahun ini? Yang pasti 2011 itu saya baru lahiran, lalu sibuk ngurus bayi sampe dia balita sampe jadi anak-anak lalu sibuk kerja, kerja dan kerja, hahaa. Tapi, wajar sih ngga banyak yang tahu sebab saat berkunjung kesana, kata penjaganya, taman ini memang belum dibuka untuk umum. Sudah pernah dibuka tahun 2020, tapi kemudian ditutup lagi sampe dengan sekarang sebab masih ada sedikit pemugaran.

Taman bergaya Tiongkok ini merupakan perwujudan dari rukunnya umat beragama dan seluruh ras yang ada di kota Medan. Apa hubungannya? Ya, bersama adiknya Tjong A Fie, mereka banyak berkontribusi untuk pembangunan kota Medan. Mereka yang notabene seorang Tionghoa turut menyumbangkan sebagian hartanya untuk pembangunan Masjid Raya dan Masjid Lama di Gang Bengkok. Selain itu, keberadaan Vihara, rumah sakit dan fasilitas kota juga ada andil mereka di dalamnya. Artinya kedua bersaudara ini mampu berbaur dan bersahabat baik dengan semua kalangan. Sampai sekarang, kota Medan masih dikenal dengan daerah yang sangat toleran.

Taman ini berada di tengah-tengah pemukiman warga dan bangunan perkantoran. Kalau tidak jeli, memang akan sedikit terabaikan. Berbeda dengan Tjong A Fie Mansion, Taman bunga ini tidak semegah bangunan milik adiknya itu. Gerbang utama hanya seperti sebuah gapura sederhana berwarna merah tanpa ada ornamen khas Tionghoa yang membuatnya mencolok. Kami sengaja singgah disela-sela aktivitas jalan pagi.

Melewati gapura, taman bunga tidak serta merta langsung terlihat. Dibatasi oleh sedikit lahan kosong, kamudian kembali melewati pagar, ada sebuah galeri di sisi kiri yang masih tutup. Lalu kembali dibatasi oleh sebuah pagar, barulah di depan mata tampak sebuah taman yang benar-benar indah.

Meski kecil, tapi taman ini ditata dengan sangat rapih dan menarik. Sebuah kolam dengan bunga teratai tersebar dan air mancur berada di tengah-tengahnya memberikan kesan luas. Keseluruhan lantai untuk area jalan kaki dibuat dari susunan paving blok dengan sebagain ditumbuhi rumput hijau yang subur dan terpangkas rapi dengan beberapa tanaman hias berada di atasnya. Bonsai-bonsai estetik juga teresbar di beberapa titik.

Berdiri di satu titik saja, kita bisa memandang seluruh area taman yang berbentuk lingkarang ini. Berjalan searah jarum jam, terdapat sebuah prasasti dengan inskripsi Bahasa Arab, Belanda dan Tionghoa yang menceritakan perjalanan hidup serta prestasi Tjong Yong Hian.

Setelah itu sebuah area mirip gazebo berada di bawah dua buah pohon besar yang teduh, di dalamnya terdapat seperangkat meja kursi keramik berwarna cerah dengan corak khas. Disusul bangunan tertutup dengan gaya khas Tiongkok menjadi spot yang paaaling cantik untuk berfoto. Bagian depannya sebagian tertutup oleh tumbuhan pelindung hijau yang menjuntai sangat kontras dengan warna bangunannya yang merah cerah.

Di sebelahnya adalah makam Tjong Yong Hian dan istri. Layaknya makam Tionghoa pada umumnya, kedua tempat peristirahatan ini memuat hampir setengah wilayah bangunan dengan ukurannya yang besar. Terdapat larangan naik atau duduk di atasnya. Hal ini dibuat memang untuk tujuan mengingatkan sesama, sebab kalau dilihat sekilas oleh orang awam, bangunan rendah namun lebar ini tidak seperti sebuah makam. Tidak seram dan menakutkan layaknya scene horor yang ada di Film Indonesia.

Terakhir adalah bagian samping bangunan galeri depan berupa balkon dengan gaya yang lebih modern. Di depannya tumbuh subur pohon mangga yang sedang berbuah lebat. Sayang semuanya masih mentah, padahal boleh loh diminta buahnya. Asal tau diri, ngambilnya jangan banyak-banyak, hehee

Kok bisa, sih masuk padahal belum dibuka untuk umum? Ya begini lah kalau pasukan nekat sudah bersatu, hehee. Selama tidak ada tanda forbiden, ya masuk aja gitu. Iseng-iseng berhadiah, kalau ditolak ya jangan baper, diijinkan masuk ya syukur. Ternyata abang penjaga berbaik hati memberikan kami akses untuk masuk. Oiya, meski iseng-iseng, harus tetap mengutamakan kesopanan, ya. Masuklah seperti layaknya seorang tamu. Biar bagaimanapun andai kami masuk seperti preman, mungkin kami malah diusir.

Karena memang belum dibuka untuk umum, kami tetap harus segera keluar meski sebenarnya masih betah ada di dalamnya. Padahal udah mirip lokasi syuting dalam drakor-grakor romantis itu. Kasian juga sama abang penjaga yang standby berdiri setengah jam lebih mengawasi kami dari pagar masuk. Tak lupa menyalamkan sedikit uang rokok untuknya.

Saya pribadi merasa agak sayang kalau area ini dibuka untuk umum. Selain sempit, dan sakral, ada rasa khawatir kalau taman cantik ini akan rusak apabila dibanjiri pengunjung. Kalaupun dibatasi, rasanya ngga semua pengunjung punya kesadaran untuk menjaga fasilitas. Jangan-jangan demi foto atau demi konten, segala larangan diabaikan. Makam dinaikin, rumput dipijak atau dinding dicoret dan lain sebagainya. Duh, gimana, ya?

Yasudahlah, yaa sebab setelah itu kami lanjut mau naik tayo (sejenis bus damri mirip trans jakarta). Jauh-jauh cuma mau ngrasain naik Tayo sebab ongkosnya jauh dekat itu sama, hehe. Sekalian mau nyari ikan di tempat asalnya Pelabuhan Belawan. Gara-garanya saya baca artikel Bloger Makanan tentang ide mengolah ikan. Ceritanya naik tayo ini nanti di artikel selanjutnya, ya…

Oiya, foto-foto milik pribadi tentang taman ini ada di hp yang hilang dan belum sempat terselamatkan, sebagian saya pakai foto dari google deh.

Galeri Foto

39 tanggapan untuk “Taman Kebun Bunga Tjong Yong Hian Medan

  1. Kesan Tiongkoknya sangat kental ya taman Tjong Yong Hian ini. Terlihat dari arsitektur bangunan itu, mirip istana istana dinasti China atau Taiwan.
    Perjuangan pendatang di Nusantara ini jadi sejarah bagus untuk kita.

  2. Tamannya keren banget ini kak, daku pikir ada di negeri mana gitu, karena jadi keinget kayak latarnya drama China gitu sih.

    Semoga terus terawat dengan baik ya. Karena pemandangan cantik di sana itu, bisa jadi healing sekaligus destinasi wisata juga

  3. Destinasi wisata ini lengkap banget ada taman yg indah, bangun bersejarah ( makam) dll.. Pasti yg nanti datang kesini pada suka.. Jadi pengen deh kesana.. Kapan ya bukanya

  4. Keren banget taman Tjong Yong Hian ini. Bisa betah berlama-lama di sana deh. Apalagi arsitektur rumahnya, masih terawat dan unik. Aku belum pernah ke Medan, pengen banget. Wisata sejarah dan kuliner yah…

  5. Serba salah ya, kalau ga dibuka untuk umum, sayang kali..kalau dah dibuka buat siapa saja takut rusak huhu…Atau sebaiknya dibatasi pengunjungnya. Jadi seperti beberapa tempat di Jakarta, pengunjung daftar online, jumlah sebatas kuota dan ga bisa nambah lagi

  6. Wah saya juga baru tahu dari kakak nih kalau di medan ada taman kebun bunga tjong yong hian. Pas baca dan lihat foto langsung bergumam wah tamannya cantik, rapi, bersih, dan tenang banget itu suasananya

  7. Sekilas taman kebun bunga tjong yong hian mengingatkanku akan rumah pengasingan Presiden Sukarno yaa, kak Suci.
    Heheh…
    Cantik, halaman luas dan terawat rapih. BIkin ketah melihat yang hijau-hijau begini untuk waktu yang lama.

  8. Baca ini saya jadi ingat di Semarang juga ada sosok seperti beliau nih. Kaya raya tiada tara dan rajin membantu. Punya taman luas di rumahnya yang kadang dibuka untuk wisata. Kebetulan ada ceritanya di surat tahun 1902 yang saya baca. Tak banyak sosok peranakan kaya raya yang mau membangun ini itu untuk kotanya.

  9. Rejeki banget Kak, bisa masuk ke Taman Bunga cantik yang ternyata aksesnya belum dibuka untuk umum. Kelihatan apik dan bener, berasa kayak lagi pose pose di drama … uungg … aku anggapnya drachin aja ya biar sesuai sama nama tamannya.

  10. Cakep banget tamannya, bersih dan luas. Tempat yang asik buat menghabiskan sore bersama keluarga. Kalau udah dibuka sih hehehe

  11. Tamannya sangat terawat ya, kalau tempatnya jadi rame apalagi viral pasti ada saja yang rusak. Karena pengunjung ada saja yang bertingkah usil atau tidak mau peduli untuk menjaga kondisi lingkungan.

  12. Indonesia memang sejak zaman dahulu ramah ya pada setiap pendatang, lalu bagaimana dengan anak cucu keturunannya mbak? Adakah mereka stay di Medan juga?

    1. Anak keturunannya banyak mbak, tersebar. Tapi tetap ada yang stay di Medan rata2 pengusaha dan masih mengurus/merawat seluruh peninggalan orang tuanya juga

  13. Wah, Kak Suci, saya lama di Medan tapi ga tahu tentang taman cantik ini. Dan wajar juga sebenarnya karena ternyata ini blm dibuka untuk umum yaa?
    Dan saya sepakat dengan kekuatiranmu, Kak, sayang juga kalo dibuka untuk umum, akan diserbu dan ketertiban berubah jadi injak sana injak sini, sehingga apa yang tertata apik dan cantik malah jadi berantakan takutnya….

    Btw, thank you for sharing. How lucky you are, bisa masuk dan pepotoan di dalamnya. Hehe.

Tinggalkan Balasan