Review

Naik Transmetrodeli Medan

Naik Teman Bus Medan (Transmetrodeli) – Teman Bus atau Transmetrodeli atau lebih dikenal dengan sebutan Tayo, bisa dikatakan sebuah moda transportasi baru di kota Medan. Diluncurkan pada tanggal 22 November 2020, kini usianya baru 3 tahun. Meski begitu, Teman Bus ini sudah sangat berarti untuk mobilitas bagi sebagian besar masyarakat kota Medan.

Bagaimana tidak, dari pusat kota Medan, Bus ini menggapai hampir beberapa besar wilayah ujung Medan yang sudah berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang. Kalau naik angkot, biasanya akan sambung menyambung dan tentu saja ongkosnya pun bisa berkali-kali.

Disebut Tayo karena memang bentuknya mirip bus yang ada di film kartun Tayo. Orang Medan memang paling jago, deh, dalam hal memberikan panggilan pada sesuatu atau seseorang.

Transmetrodeli Medan

Transmetrodeli adalah sistem transportasi berupa Bus Raya Terpadu atau Bus Rapid Transit (BRT) yaitu angkutan massal berbasis bus dengan biaya rendah namun dengan akses cepat serta kenyamanan dalam pelayanan yang diberikan sebagai angkutan umum perkotaan. Layanan dengan sistem ini diciptakan untuk memudahkan mobilitas warga Medan agar mau menggunakan transportasi publik. Kalau di Ibukota dikenal dengan Transjakarta

Saat ini, Transjakarta dianggap sebagai jejaring BRT terbesar di dunia, dengan panjang koridor 2.309 kilometer (1.435 mi)

Di kota Medan, Transmetrodeli sudah beroperasi pada lima koridor.

Adapun Rute Transmetrodeli sbb:
KoridorAsalTujuanTgl Beroperasi
K1MTerminal Pinang BarisLapangan Merdeka22-Jan-21
K2MTerminal Amplas16-Okt-20
K3MBelawan22-Jan-21
K4MTuntungan16-Okt-20
K5MTembung
Semuanya bermuara di pusat kota (lapangan merdeka)

Related Post: Restoran Belawan Seafood Bang Tamrin

Berapa Tarif dan Bagaimana Cara Bayar Transmetrodeli

Adapun tarifnya sebesar Rp. 4.300/ flat (jauh dekat tarifnya sama). Pelajar dan lansia dikenakan tarif khusus sebesar Rp. 2.000. Untuk tarif khusus ini, barcodenya dibedakan dengan yang umum. Kalau bayar pakai kartu, harus didaftarkan terlebih dahulu kartunya ke kantor Transmetrodeli agar bisa mendapatkan tarif khusus. Beberapa waktu lalu ada pendaftaran di beberapa halte, tapi untuk saat ini harus datang ke kantornya. No cash money at all.

Untuk metode pembayaran bisa menggunakan QRIS (pastikan di hp sudah ada aplikasi bank atau ewallet dan yang paling penting ada saldonya) dan kartu non tunai (e-money, flazz, tapcash dan brizzi serta berisi saldo).

Cara Naik Transmetrodeli

Pastikan dulu tujuannya kemana, lalu pilih koridor ataupun tunggu di bus stop terdekat. Transmetrodeli ini akan selalu berhenti, ada atau tidak ada penumpang yang turun ataupun naik.

Berdasarkan info terakhir pak supir, satu kartu hanya boleh digunakan oleh satu penumpang saja. Artinya, kartu ngga boleh di tap lebih dari satu kali, meski saldonya banyak. Lain hal kalau menggunakan QRIS, boleh scan barcode berulang kali sesuai jumlah penumpang. Begitulah yang kami lakukan saat itu. Saking jarangnya bawa dompet dan uang cash kalau lagi jalan pagi, jadinya harus scan barcode berulang kali.

Yup, scan barcode tidak dilakukan di halte, melainkan saat sudah ada di dalam bus. Minusnya, kalau penumpang lagi rame, ya ngantri di area pintu masuk bus. Pada saat proses scan atau tap, tentu saja bus belum berjalan atau berjalan lambat. Efeknya di belakang terjadi kemacetan. Belum lagi kalau misal kartunya kosong, atau mau scan tapi ngga ada jaringan internet atau error lainnya, ya tentu saja penumpang harus turun kembali.

Pintu masuk dan keluar juga dibedakan. Pintu depan untuk masuk (naik) dan pintu di tengah untuk keluar (turun). Kedua pintu tersebut akan terbuka dan tertutup secara otomatis.

Pengalaman Naik Transmetrodeli Medan

Saya aslinya suka mabok kalau naik mobil. Tapi lain hal kalau naik bus model transmetrodeli begini. Mungkin armadanya harus besar, lapang dan adem serta minim pewangi yang menyengat di dalamnya dan tentu saja supirnya bawanya kudu enak.

Pertama kali nyobain transmetrodeli, pilih rute panjang yaitu Lapangan Merdeka-Belawan. Seperti yang pernah saya ceritakan, kalau naik Tayo ini ngga ada rencana sebelumnya. Lepas jalan pagi, trus nongkrong sambil sarapan di Pos Bloc, lalu gabut dan si Tayo lewat depan mata, akhirnya kepikiran buat ikutan jadi penumpang.

Releted Post: Pos Bloc, Tongkrongan Baru di Kantor Pos

Saya bilang pengalaman karena memang saya ngga bakalan rutin naik Tayo. Sesekali aja kalau lagi kepingin atau ada sesuatu hal yang mengharuskan. Ya, sebabnya rumah ke kantor itu kurang efektif kalau harus naik Tayo. Andai lewat depan rumah dan kantor, boleh juga transportasi ini jadi pilihan sehari-hari.

Selain kursi untuk umum, bus ini dilengkapi dengan beberapa kursi prioritas, CCTV dan ada banyak handle grip. Tinggal woman area aja, nih, yang perlu ditambah, supaya penumpang perempuan tetap merasa nyaman. Sebagian besar supir juga ramah, tanggap dan sopan santun. Kalau ada yang jutek, ya itu hanya oknum, ya 🙂

Salah satu bus kebanggaan kota medan ini selain untuk tujuan mobilitas warganya, juga bisa untuk city sightseeing, loh. Ya, kurang lebih seperti tujuan utama kami saat itu. Naik bus, duduk santai sampai tujuan akhir, lalu kembali ke koridor awal.

Saking nyamannya berada di dalam, adek saya sampe ketiduran. Penumpang di sebelah saya malah ada yang konseling via telepon. Coba di dalam angkot, ngeluarin hp aja udah was-was diintai copet.

Oiya, ngomongin soal konseling, khususnya bagi warga Malang saya ada rekomendasi konseling mengenai Parenting di Malang bernama Sekolah Parenting Harum yang fokus memberikan pengetahuan pada para orang tua bagaimana mendidik anak dengan baik, menyenangkan dan penuh motivasi.

Related Post: Bila ke Malang, Harus ke Museum Angkut

Rute Lapangan Merdeka-Belawan

Kami naik rute Lapangan Merdeka-Belawan dimana haltenya berada tepat di seberang Kantor Pos pusat. Jaraknya sejauh kurang lebih 25 KM via Jl. Yos Sudarso ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit.

Ada dua tipe bus transmtrodeli, yang pendek dan yang panjang. Pengalaman saya dua kali naik dengan tujuan Belawan, belum menemukan bus yang berukuran panjang. Lain hal kalau tujuan Terminal Pinang baris, rata-rata busnya berukuran panjang.

Pemandangan kota Medan ternyata cantik juga kalau dilihat dari ketinggian (maksudnya setinggi bus). Sepanjang 25 KM, ada beberapa daerah yang dilewati seperti Glugur, Brayan, Martubung, Medan Labuhan dan berakhir di Pelabuhan Belawan.

Pemandangan paling epik itu saat sudah tiba di perairan Belawan, dimana laut seakan berbatasan langsung dengan padatnya rumah penduduk dan beberapa hutan bakau yang sempit. Sesekali terlihat beberapa perahu nelayan tertambat di air yang dangkal. Gedung tinggi tampak kecil dari kejauhan meski bayangannya tak terpantul sedikitpun di air yang keruh pekat kecoklatan.

Transmetrodeli Medan

Berbeda dengan Jakarta, Di Medan sendiri tidak ada jalur khusus Transmetrodeli. Bus ini memakai jalanan umum seperti halnya kendaran lain. Hanya saja terdapat beberapa area bus stop untuk naik turun penumpang.

Area bus stop, ada yang berbentuk halte, ada juga yang hanya berupa plank ataupun tanda berupa cat merah di aspal. Jarak satu halte ke halte lainnya, sih, termasuk jauh. Tapi bisa dimaklumi, sebab di Medan tidak disediakan jalur khusus. Kalau jarak halte terlalu dekat, bisa-bisa bikin kemacetan parah. Untuk halte atau titik pemberhentiannya dimana saja, bisa dilihat melalui aplikasi Teman Bus. Informasi halte juga ada di running text pada bagian depan bus dan juga pengumuman oleh operator.

Kalau naik bus ini dipagi hari, dijamin suasana masih segar, busnya masih wangi dan mood pas supir juga masih baik. Anak sulung saya sudah beberapa kali naik Tayo, selalu saya tanya “supirnya gimana?” Jawabannya beragam, ada yang baik, ada yang cuek, ada yang sabar, ada yang suka ngebut malah terakhir dia bilang supirnya mirip kakek, hahaa.

Kesimpulan

Andai depan rumah saya ada haltenya, saya lebih milih naik Tayo kemanapun tujuannya. Senyaman dan seaman itu rasanya. Selain kita ngga capek nyetir, duduk manis di ruangan yang adem, ngga kena hujan atau panas, naik transportasi umum juga bisa banyak membantu program pemerintah dalam mengatasi kemacetan.

Wacana walikota Medan dalam menambah koridor dan armada patut didukung sepenuhnya. Semoga mampu menjangkau area-area publik yang susah aksesnya terutama ke daerah-daerah yang terdapat objek wisata. Diharapkan banyak masyarakat yang berpindah menggunakan transportasi umum demi kenyamanan bersama.

28 tanggapan untuk “Naik Transmetrodeli Medan

  1. Kalo fasilitas transportasi senyaman itu, publik pasti akan lebih memilih fasilitas ini ketimbang harus setir sendiri. Apalagi jika kondisi dalam bis yang terlihat bersih seperti Trans Metro Deli ini. Rute yang dilewatipun keknya banyak ya Ci. Menolong sekali loh itu.

    Dan senangnya sistem pembayaran bisa digital, cashless. Dipastikan jauh lebih efisien, efektif dan ringkas ketimbang uang cash. Memang di awal-awal agak lambat response mesinnya. Tapi kedepannya akan lebih cepat. Dulu Singapore juga gitu. Sekarang, setelah bertahun-tahun semuanya jadi mudah.

    Kapan ke Medan pengen nyobain ah. Dah lama pun tak lihat Belawan. Masih banyak kah warung/kedai seafood di sana Ci?

  2. Aku belum pernah ke Medan. Kalo ke sana, mau ah keliling kota naik Transmetrodeli. Nyobain aja semua rute. Hehe…
    Kok sama sih sama aku, naik busa engga mabok.
    Di Bandung juga kami nyebutnya bus ‘tayo’ deh.
    Macem² ada yg Damri, Transmetro Bandung, sama² cashless.
    Makin nyaman ya transportasi umum

  3. Wuiihhh warnanya ijo 😀
    Kalau di Surabaya warnanya merah. Ada beragam jenisnya juga. Tapi saya baru cobain yang Suroboyo Bus, kalau jenis teman Bus gini kayaknya yang Trans Semanggi namanya deh.
    Asyiknya zaman now, transportasi umum makin mudah dan nyaman serta murah ya.
    Dulu mah, rempong banget, mana belom ada ojek online, jadinya naik angkot yang berkali-kali oper hiks

  4. Waaa….. moda transportasi saya kalo ke Bandung
    Di sini namanya Trans Metro Pasundan dan warnanya biru
    Saya naik bus ini sejak masih gratis….tis

    harus nulis juga nih saya, supaya semakin seru! ^^

  5. Persis 3 tahun lalu saat nama Tayo muncul dan jadi jingle, entah untuk guyonan apa waktu itu, aku penasaran apa itu tayo. Oh ternyata bus. Lalu penasaran lagi, bus apa? Kenapa dinamakan Tayo? Pertanyaanku ga terjawab karena waktu itu memang ga ada yang menjelaskan dengan serius. Akhirnya, aku lupakan soal Tayo.

    Eh baca tulisan ini jadi ingat tayo lagi, dan baru tahu ternyata sebutan lain dari Transmetrodeli. Lengkap dengan ulasannya. Mantap! Makasih ya Mbak Suci.

  6. Harusnya ini rogi dong buka tayo, soalnya tayo warna biru, rogi warna hijau. Alhamdulillah ya kalo sekarang tiap daerah sudah terpenuhi adanya transportasi umum yang baik dan nyaman. Kemarin mudik di Sidoarjo-Gresik juga udah ada bis begini, sayangnya ukuran kecil jadi kurang nyaman buat anak-anak.

  7. Setuju dengan harapanmu, Mbak, kalau ada halte di dekat rumah, mau banget…. Saya suka naik BRT karena murce dan nyaman, sih. Tapi sementara kalau saya masih ngayal karena belum ada BRT di kota saya.

  8. Kenapa disebutnya Tayo ya? Apa karena dia seperti tokoh Tayo dalam film animasi asal Negeri Ginseng yang memang bertugas sebagai bus penumpang jalur tertentu gitu ya.

  9. Wah baru tahu kalau di Medan juga ada transportasi yang lumayan nyaman dan murah buat berkeliling Medan dan kota sekitarnya. Semoga suatu saat nanti bisa ke Medan juga.
    Btw aku suka blogpostmu dengan foto besar2 gini mbak jadi terbayang visualisasi bus-nya 😀

  10. Kalau ingat Belawan jadi ingat sepupu yang tinggal di sana dekat pelabuhan katanya. Suka ngajak ke sana untuk silaturahmi walau kami belum bisa. Keren ya sudah ada bis Trans si tayo, aku juga suka naik Transjakarta, gak mabok karena bis nya bersih dan pola duduknya gak sempit, beda sama bis umum yang knalpotnya mengeluarkan asap hitam, entah mengapa bikin mabok perjalanan

Tinggalkan Balasan