jalan dan wisata

Perjalanan Nekat ke Sebuah Hidden Gem di Deli Serdang (Trandingcamp Sikabung-kabung Part 2)

Cerita Sebelumnya Trandingcamp Sikabung-kabung Part 1

Trandingcamp Sikabung-kabung – Bukan ayam berkokok yang membangunkan saya, melainkan panggilan alam yang memaksa saya untuk keluar seorang diri menuju toilet yang gelap gulita. Rasanya ngga tega mau bangunin yang lain minta temenin. Bermodalkan senter hp, saya memberanikan diri.

Selesai sikat gigi dan berwudhu, setibanya di tenda adek saya protes. “Kok aku ngga dibangunin, kan biar ada temen ke toilet”

Laah, saya hanya bisa menjawab “siap salah!”

Pukul 6:30 pagi semua sudah siap bersih-bersih. Sungai yang malam tadi hanya terdengar derunya, kini sudah tampak jelas wujudnya. Airnya jernih mengalir melalui celah-celah bebatuan seakan memanggil-manggil untuk disapa. Namun, dinginnya pagi membuat kami masih betah mengaguminya hanya dari depan tenda ditemani kicauan burung-burung dan angin yang meniup lembut. Kompor, nesting dan seperangkat meja kursi sudah dikeluarkan dan tersusun rapi tepat di depan tenda. Masak-memasak pun dimulai. Ya apalagi kalau bukan mi lagi mi lagi.

Setelah kenyang, tak membuat nyali kami kuat untuk berendam dalam air sungai. Matahari juga belum memancarkan sinarnya. Sisa-sisa air hujan pun sesekali masih menetes dari ranting-ranting pohon. Cuma si bungsu yang berani ambil start lebih dulu, memasukkan kakinya ke dalam air menyusul badannya kemudian. Meski menggigil, tak membuatnya keluar dari sungai. Bahkan tetangga sebelah kami pun masih belum terbangun padahal sudah pukul 7 lebih.

Tak lama, Pak Sinulingga lewat setelah selesai mengambil air nira. Beliau memang biasa membuat gula aren di rumahnya dan dijual pada pengunjung. Sambil berbincang, kami menawarkan beberapa roti untuknya. Dari beliau kami tahu kalau sungai yang mengalir jernih di depan kami bernama Lau Belawan

Kami kemudian mengikuti jejak sibungsu untuk turun ke sungai. Duduk pada sebongkah batu besar. Tak lupa membawa beberapa cemilan untuk turut serta. Tak lama matahari mulai naik, membuat badan sedikit terasa hangat meski masih harus beradu dengan dinginnya angin gunung.

Menuju Kolam Sungai Lau Belawan

Sebenarnya aliran sungai depan tenda itu bukanlah spot yang baik untuk berenang. Hampir seluruh aliran dipenuhi batu besar serta banyak riaknya.

Ada sebuah kolam yang bisa dipakai untuk renang, tapi pada saat itu kami tak tahu pasti letaknya, apakah ke hilir atau hulu. Sampai akhirnya kami bertanya pada pemuda-pemuda tetangga sebelah yang sudah bangun dan kebetulan memang sedang bersiap menuju kesana.

Tak mau ketinggalan, kami mengkuti jejak mereka menuju lokasi kolam Sungai Lau Belawan. Menyusuri sungai menuju arah hulu artinya kami melawan arus sungai. Berjalan beriringan pada sisian tebing-tebing rendah dan berpijak pada bebatuan, sesekali harus menyeberangi sungai untuk menghindari batu besar yang menghalangi jalan serta memilih medan yang lebih mudah.

Ternyata letaknya tidak terlalu jauh, sekitar 7-10 menit perjalanan tiba pada kolam yang dicari. Nikmat sekali memang piknik dijam-jam anti mainstream, sebab area itu jadi berasa milik pribadi. Belum ada pengunjung lainnya.

Related Post: Pantai Arofan Simalungun, Berasa di Private Beach

Di area ini, ada dua air terjun kecil yang mengalir membentuk sebuah kolam. Kedalaman kolam setinggi orang dewasa pada bagian tengahnya. Airnya jernih dan dingin sekali. Tak membuang kesempatan, kami berenang sepuas-puasnya.

Sekedar duduk mendengarkan suara aliran air pun berhasil bikin pikiran sedikit tenang. Asalkan jangan sambil memikirkan jalur/trek saat nanti pulang yang menanjak bebas itu, haha. Saat itu hanya saya sih yang ngga ikut berenang, selain memang kurang ahli, saya lebih memilih menjaga barang-barang bawaan, utamanya ponsel dan alhasil sayalah yang bertugas mengambil gambar dan video.

Related Post: Kalau Beruntung, Bisa Melihat Rangkong Julang Emas di TWA Sibolangit

Bahkan ada saat saya ditinggalkan seorang diri sebab mereka semua menyebrang ke lokasi air terjun lain yang letaknya ada di balik tebing. Alih-alih wujud mereka terlihat, suaranya saja menghilang. Entah seberapa jauh saya ditinggalkan. Jiper juga rasanya seorang diri di tengah hutan meski sinar matahari tak terhalang rimbunnya pepohonan. Saya bahkan sampai ngga berani melihat ke belakang. Tapi ini tak saya sampaikan ke yang lain, takut dibuli, wkwkkkw.

Harap-harap cemas menunggu, saya lihat kedatangan pengunjung lain. Semakin lama semakin banyak. Lega sekaligus cemas sebab barang-barang kami letaknya agak jauh dari jangkauan, tepatnya di seberang sungai tempat saya duduk. Selain mempertahankan posisi duduk yang lantai batunya sudah mulai licin dan berusaha menjawab pertanyaan pengunjung yang baru datang, mata saya harus tetap awas mengintai kumpulan hp adek-adek saya agar tetap ada di posisinya.

Untung saja anggota saya akhirnya muncul satu-persatu. Kami putuskan langsung balik ke tenda saja sebab kolam sudah mulai rame pengunjung berdatangan. Sembari memakai sendal kembali, tiba-tiba sibungsu lari tergopoh-gopoh mengikuti arus mengejar sesuatu, yang ternyata sendal gunungnya hanyut sebelah. Padahal itu sendal baruuu aja dibeli sore kemaren sebelum berangkat yang harganya itu lumayan, sebab maksudnya untuk dipakai ngebolang-ngebolang berikutnya, hikss.

Sampai depan tenda, dia duduk di batu besar nungguin sambil ngemil roti dengan harapan sendalnya yang hanyut itu lewat di depannya. Setengah jam berlalu, yang ditunggu tak kunjung lewat. Akhir kata, sebelah sendal diikhlaskan dan sebelahnya lagi mau dibuang tapi masih sayang. Sebab ngga ada penjual sendal, maka, si bungsu pulang dengan memakai sebelah sandal di kaki kanan dan sebelahnya lagi kaki kiri pakai kaos kaki lapis 4, hahaa.

Trandingcamp Sikabung-kabung

Pengunjung yang punya tenda, bebas datang ke Sikabung-kabung. Tapi sebaiknya tetap harus reservasi via telepon atau WA untuk memastikan ketersediaan lahan. Cukup membayar retribusi saja dan pasang tenda sendiri. Lalu kalau pingin ngecamp tapi ngga punya perlengkapan gimana?

Ya, jaman sekarang itu udah gampang sih kalau mau ngecamp. Banyak persewaan peralatan camping baik yang dibawa dari daerah asal ataupun sudah tersedia di area camping.

Seperti halnya Trandingcamp Sikabung-kabung yang menyediakan tenda sewaan dari mulai ukuran kecil hingga besar. Bukan hanya tenda, mereka juga punya kompor, nesting serta seperangkat meja kursi lipat untuk disewakan.

Untuk harga sewa peralatan camping (berlaku pada saat itu)

  • Tenda double layer kap, tinggi 135CM, lebar 250CM, panjang 320CM untuk kapasitas 4-5 orang dewasa. Dilengkapi dengan empat matras, 1 lampu tenda dan 4 baterai. Harga sewa sebesar 120ribu (inc HTM dan parkir).
  • Tenda doube layer kap, tinggi 170CM, Lebar 300CM, panjang 350CM untuk kapasitas 7-8 orang dewasa. Dilengkapi dengan 5 matras, 1 lampu tenda dan 4 baterai. Harga sewa sebesar 160ribu (inc HTM dan parkir)
  • Harga sewa dua buah kursi lipat dan 1 meja serta perlengkapan masak adalah 20ribu

Murah bangeeet!!! Tapi bukan versi Indra Kenz

Dari beberapa camping ground yang harganya sudah kami survey, Sikabung-kabung ini termasuk menawarkan harga yang relatif terjangkau dan sementara masih satu-satunya yang menyediakan tenda besar.

Kalau dibagi rata per orangnya, biaya keseluruhan sudah termasuk tenda, makan (sampe siang berikutnya), cemilan bahkan bensin hanya kurang lebih 120ribu/pac (versi kami). Malah bisa lebih hemat lagi kalau belanja cemilan dikurangin. Ya maklum yang berangkat cewe semua dan ada anak-anak pula.

Murah bangeeeet, kan??!! hehee

Related Post: Berkemah di Paropo, Tepian Danau Toba

Tips Camping di Trandingcamp Sikabung-kabung

Meski agak terkesan memaksa sebab nekat berangkat jumat malam, padahal sabtu pada libur, ternyata keputusan kami yang tanpa sengaja ini terasa sudah tepat. Karena ternyata di akhir pekan, Trandingcamp ini dibanjiri pengunjung.

Memang kalau di malam hari suasana gelap, sunyi senyap, tenang dan damai. Tapi saya bahkan ngga nyangka siang harinya berubah jadi objek wisata keluarga. Bahkan nenek-nenek pun ada yang ikutan piknik bawa tikar, bawa bekal bawa ban dll. Salut, kakinya masih kuat untuk turun dan nanjak trek. Atau bisa jadi udah kepalang nyampe masa mau balik lagi. Ya sekalian aja uji fisik.

Jadi supaya ngga “zonk”, berikut sedikit tips kalau mau camping ke Sikabung-kabung.
  • Kalau memang ingin suasana camping yang betul-betul natural, tenang dan damai, maka pergi dihari kerja atau minimal jumat malam.
  • Kalau suka suasana meriah, datang pada saat ada event karena camping ground akan dipenuhi lampu-lampu neon.
  • Kalau camping, usahakan datang ke kolam Lau Belawan di pagi hari saat suasana masih sepi. Selain hasil foto ngga bocor, airnya masih sangat jernih. Saat pengunjung lain baru datang, kita sudah puas.
  • Bawa kendaraan yang sehat/prima. Untuk mobil disarankan yang dobel kabin atau offroad, karena citycar kebanyakan nyangkut.
  • Tak perlu bawa gitar, seruling, biola apalagi speaker atau microphone sebab memang dilarang keras membawa sumber kebisingan. Khususnya kami, sangat mendukung karena pernah mengalami susah tidur/istirahat saking banyaknya biduan dadakan di malam hari :(. Itu camping apa pasar malam?
  • Pakai baju hangat atau bawa selimut tipis untuk tidur di malam hari.
  • Bawa / Pakai sendal gunung atau sendal air yang nyaman untuk mempermudah perjalanan menuju kolam Lau Belawan.
  • Pakai sunscreen dan sunblock
  • Bawa power bank. Dikarenakan ngga ada listrik, disarankan untuk menghemat baterai hp atau gadget lainnya. Sinyal hp juga banyakan turunnya daripada naiknya jadi lebih baik matikan data untuk menghemat daya.
  • Bawa serta casing hp anti air kalau mau bikin video ala-ala menyelam.
  • Meski ada ruang sholat dan toilet, tapi tetap bawa alat sholat dan alat mandi sendiri.
  • Latihan jalan kaki, sebab trek menuju area camping lumayan terjal, mendaki, menurun dan akan terasa cukup jauh untuk kaum mager hehee
  • Tetap berhati-hati, jaga lisan, jaga sikap dan jaga kebersihan.

Kesimpulan

Meski bukan sebuah bumi perkemahan, tapi Trandingcamp Sikabung-kabung layak dipertimbangkan apabila ingin mencoba suatu pengalaman baru. Bagi kami, kegiatan di alam seperti itu bisa menaikkan imun atau semangat yang menurun. Suasana yang natural dan jauh dari kebisingan merupakan satu keistimewaan tersendiri.

Akses jalan besar dari dan menuju Sikabung-kabung memang sudah bagus. Tapi masuk ke dusun memang tidak ada jalur lain selain melewati beberapa ratus meter jalanan rusak serta jalanan setapak yang medannya cukup terjal. Untung saja kami sudah terbiasa jalan pagi berkilo-kilo meter, meski tetap merasa pegel dan ngos-ngosan, tapi ngga sampe bikin jantung berdegub kencang.

Melewati jalan yang sama saat kedatangan semalam, siang itu barulah terlihat jelas apa-apa saja sudah kami lewati. Sebagian perkebunan sawit, pohon-pohon besar salah satunya adalah pohon asam gelugur yang seumur hidup baru sekali saya lihat wujud pohon dan buahnya, kemudian pohon salak, pohon bambu daaaaaaan ada satu atau dua (saya lupa) kuburan pemirsa….

Salah satu cerita mistis dikisahkan adek saya, bahwasanya sepanjang jalan treking, kami diikuti nenek-nenek berpakaian kemben, serta terdengar bunyi lonceng yang samar. Menurutnya, kalau bunyi-bunyian samar, berarti mahluk tersebut ada pada jarak dekat. Tapi kalau bunyi-bunyiannya nyaring, maka mahluknya berjarak jauh. Wallaua’lam…

Cerita yang lain memang saya ngga mau cari tau dan curi dengar, daripada jadi menghantui dalam bayangan, hehee

Related Post: Pilihan lokasi Jalan Pagi

Jadi memang berkunjung ke Sikabung-kabung ini tidak disarankan untuk kaum mager atau mendang-mending. Jangankan indo alfa apalagi ramayana, listrik aja ngga ada dan fasilitas seadanya. Jangan sampai kebanyakan mengeluh daripada senengnya karena keterbatasan tersebut. Makanya sebelum berangkat, ada baiknya cari informasi terlebih dahulu agar setibanya di lokasi, mood tetap stabil meskipun pulang pergi harus treking.

Tapi keseluruhan, ngga ada salahnya untuk mencoba ya. Sofar aman dan seru berkemah di Sikabung-kabung. Kapan dan dimanapun itu, selama kita jaga sikap dan tutur kata, Insyaallah kita juga dijaga.

Oiya kalau masih punya uang lebih, beli gula merah buatan keluarga Pak Sinulingga, deh. Gulanya asli dari nira yang diambil langsung dari pohon aren, enak rasanya dan terjangkau harganya. Ada juga alpukat dan salak hasil kebun sendiri. Daging alpukatnya tebal dan manis, cocok untuk makanan diet kenyang seperti yang diulas di Blog Gaya Hidup Sehat. Selain dapat harga murah, juga membantu perekonomian dan usaha menengah warga setempat.

Galeri Foto

28 tanggapan untuk “Perjalanan Nekat ke Sebuah Hidden Gem di Deli Serdang (Trandingcamp Sikabung-kabung Part 2)

  1. Asyik banget pemandangannya mbak.
    Kalau camping gitu, walau mi lagi dan mi lagi, tapi tetap seru dan itu yang ngangeni mbak, soalnya klo pas nggak camping mana boleh makan mie instan tiap hari hehehe.

    Duh dibalik semua kesenangannya, si bungsu harus kehilangan sebelah sandalnya, mana sandal masih baru pula.
    Tapi udah dibeliin yang baru lagi kan mbak?

    1. Belum beli sendal lagi mbak, karena belum ada rencana ngebolang lagi…
      biar yang sebelah itu aja dulu dipandang2in melepas rindu hahaa

  2. Emang paling enak ngambil jadwal tuh pas weekdays karena relatif lebih sepi. Apalagi kalau tempatnya seseru dan seunik kemping di Sikabung-kabung ini. Tapi kalau begini, yang kerja jadi gak bisa ikutan ya. Dilema. Secara ngalamin itu sama suami dan anak-anak yang memang jadwalnya padat.

    BTW, kemping dengan peralatan, perlengkapan lengkap seperti di Sikabung-kabung ini bener-bener bikin asik ya. Disediakan lengkap semuanya dan dengan harga yang murah. Kita juga gak repot. Apalagi pada dasarnya memang gak punya keperluan-keperluan kemping seperti itu.

    1. Serunya camping di alam terbuka seperti itu, meskipun saya pun pasti deg-degan kalo sendirian butuh ke toilet malam-malam. Hehe.
      Apalagi campingnya sama anak, pasti ada banyak hal yang perlu dipersiapkan. Tapi bakal jadi pengalaman berkesan untuk mencintai alam

      1. Iya mbak, mumpung anak libur biar nanti ada yang diceritain kalau diminta guru bahasa indonesia nya (inget jaman SD pengalaman tamasya) hahaa

  3. Jadi inget saya juga pernah nginep di pinggir sungai,
    tapi lupa namanya …hehe ..udah lama
    Suasananya emang sesuatu banget dan gak terlupakan
    Apalagi kalo pas hujan gede dan volume air naik sehingga suara aliran sungai bikin horor menteramkan 😀

    1. Sebelumnya agak ragu karna kesana pas hujan. tapi diyakinkan sama mereka kalau air sungai aman meski hujanny deras. Alhamdulillaj stay safe…

  4. Keindahan TrandingCamp Sikabung-kabung ini dicapainya gak mudah. Pantes banget terasa sangat alami.

    Tapi kak Suci, Aku sesungguhnya takut banget kalau sepi. Kalau ramean gini kan..berasa camping-nya.
    Hehehe…

    Dapet kenalan baru, pengalaman baru dan yang pasti keren euuii…berinteraksi dengan alam sedekat ini.

  5. Waktu baca part 1 Trendingcamp Sikabung-kabung saja, aku sudah penasaran banget…. Ini di part 2 malah lebih vulgar lagi ya pamer keseruan di sana…. Hiks…. Andai lokasinya dekat dengan Sueabaya… Udah cuss dari kemarin deh….

  6. Kalau camping pas suasana meriah, kebayang dah serunya plus cerianya lampu-lampu ya. Bisa deh sekalian pepotoan hehe.
    Namun bila suasananya kalem, bisa sebagai healing juga.
    Ah pokoknya seru dah ya camping ya kak, apalagi bareng kekuarga.
    Ada kelanjutan part 3 nya gak nih kak?

  7. Yang dicari saat camping memang suasana tenang. Memang jadinya ganggu banget kalau bising. Saya masih bisa memaklumi asalkan belum jalm tidur. Tapi, kalau udah masuk jam istirahat, ya dilepas semua alat musik dan keramaian lainnya.

  8. Sungainya jernih banget ^^
    Dan ternyata di Trandingcamp juga ada penyewaan tenda dan peralatan camping lainnya, jadi udah nggak perlu repot bawa sendiri dan harganya terjangkau banget. Senangnya Kaaakkk ^^

  9. Weh aku kalau jadi mbak kyknya juga ciper, pas lagi enak2nya di sungai tiba2 sunyi wkwkwk. Tapiseru yaa bisa berenang di sungai dalam hutan. Duh kebayang airnya masih jernih dan segar. Cuma kalau yang di bagian sungai berarusnya kyknya aku pas, amin kecipukan kaki aja hehe.

  10. MasyaAllaah serunya.. Berasa ikut camping baca tulisan mb. Sering liat video orang camping, pengen bgt sekali lah seumur hidup ngerasain camping begini. Tp kadang juga mikir takut. Padahal indah banget ya mb. Menyatu dg alam.

  11. akupun kalau denger suara air sungai mengalir hati dan pikiran jadi lebih tenang hehe. Tentang toilet, mungkin kalau bakalan maksa seseorang untuk bangun dan nganter aku. Aduh mana berani, hanya berbekal senter hehe. Dibalik kebahagiaan ada perjuangan sandal ya mbak. Seru banget tapi pengalamannya. Pasti selalu terpatri di hati anak-anak ya.

Tinggalkan Balasan