jalan dan wisata

Rumah Ladang Simelir, Ambience yang Tenang

Rumah Ladang Pamah Simelir – “I love this kind of place so much“, Satu kalimat yang terucap dalam hati ketika kedua kaki resmi masuk ke kawasan wisata alam bernama Rumah Ladang Pamah Simelir. Perpaduan bukit hijau berselimut kabut, udara sejuk serta suasana sunyi dan tenang memanglah sebuah ambience kesukaan manusia-manusia introvert.

Tiada kata menyesal meski berangkat kesiangan dan tiba sudah hampir magrib, hujan pula. Ternyata, di cuaca apapun, suguhan senja belum pernah gagal. Lelah seketika hilang bukan hanya sebuah kalimat penghibur semata. Perbukitan setelah diguyur hujan itu memang selalu menyisakan syahdu. Daun dan rumput basah punya aroma magic sendiri.

Perjalanan ke Rumah ladang Pamah Simelir

Kalau kata Mama Rani, yang natural-natural memang ngga akan pernah bisa terkalahkan oleh destinasi dengan spot foto berupa tulisan “i love you”, bentuk love ataupun spot yang dihasilkan oleh tangan manusia, terlebih sampai merusak alam itu sendiri.

Terletak di kaki Bukit Barisan, kawasan wisata ini memang dikelilingi bukit yang hijau oleh pepohonan. Bahkan, segala jenis operator seluler-pun ngga ada yang mampu menjangkau lokasi ini. Kebayang ya, seperti apa private-nya. Kalau mau menyendiri dan menjauh dari hingar bingarnya dunia sosial media dan hiruk pikuknya kota, boleh lah kesini.

Rumah Ladang di Dusun Pamah Simelir, berjarak sekitar 5KM dari jalan besar utama berupa jalan alternatif menuju Tanah Tinggi Karo. Yap, berbatasan dengan Kabupaten Karo, salah satu alasan Desa Telagah, Kecamatan Sei Bingei, Kabupaten langkat ini punya hawa yang teramat sangat segar juga sejuk.

Akses ke Rumah Ladang, setengahnya jalan beraspal, setengahnya lagi tanah berbatu. Karena saya dari Medan, simpang Rumah Ladang ini ada di sisi kanan, dan sebaliknya kalau dari Tanah Karo.

Dari simpang ini, ada beberapa tempat wisata serupa. Jadi harus fokus tujuan utamanya kemana. Rumah ladang ada di sisi kiri dan masih harus melewati jalanan berbatu serta beberapa genangan air, sekitar 10 menit. Jadi dari Medan, waktu tempuhnya sekitar kurang kebih 2,5-3 jam dengan kondisi normal.

Menuju Desa Telagah Pamah Simelir, bisa melalui Desa Sei Mencirim, bisa juga melalui jalan besar Medan-Binjai. Kalau perginya rame-rame, disarankan melalui Desa Sei Mencirim saja karena melewati perkampungan dengan view ladang dan kebun yang cenderung lebih sepi dan bebas hambatan (macet). Tapi kalau pergi sendiri, mendingan dari jalan besar, deh. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Rest Area Rumah Galuh

Ngga cuma di jalan tol aja yang ada rest area. Menuju Pamah Simelir juga ada rest area di daerah Rumah Galuh. Fasilitasnya serba sederhana tapi cukup lengkap dengan adanya musolah, toilet dan kantin kecil. Meski begitu, tempat ini sudah lebih dari cukup untuk tempat istirahat, berteduh, stretching otot-otot sambil makan dan minum. Boleh bawa makanan sendiri? Boleh, dong…

Di belakang kantin dan musolah, ada sebuah gazebo dengan desain, warna dan ukiran khas Jawa. Kata Bapak pengelolanya, gazebo ini memang asli didatangkan dari Pulau Jawa dan boleh disewa untuk menginap. Bangunan ini dikelilingi ladang yang ditumbuhi bermacam tanaman dengan latar belakang perbukitan hijau Bukit Barisan.

Rumah Ladang Pamah Simelir Dengan View Bukit Barisan yang Hijau dan Sejuk

Area kosong yang cukup luas dengan pijakan rerumputan adalah tempat parkir yang mampu menampung cukup banyak kendaraan. Sore itu nampak lowong sebab memang sudah waktunya pengunjung beranjak pulang. Kami, malah sebaliknya.

Rumah Ladang Simelir seperti dikepung kabut. Uap-uap air itu seolah hampir menyentuh tanah tempat kami berpijak. Setelah menukar tiket seharga 15K, kami masuk melalui jalan setapak dengan lantai bebatuan dan undakan-undakan kecil. Kanan kirinya merupakan taman dengan lantai rumput hijau serta tanaman jenis pakis dan tananam hias lainnya yang tumbuh subur. Batu-batu berukuran sedang terduduk dengan posisi berantakan. Sengaja ataupun tidak, justru malah membuat taman ini jauh lebih indah. Sungguh saya menyukai suasana disini.

Semakin ke dalam, ambience-nya semakin bikin betah. Selain bunga-bunga aneka warna yang tumbuh subur dimusim penghujan, juga tumbuh tanaman sayuran dan herbal. Begitupun rumput-rumput yang mendominasi pijakan menjadi hijau royo-royo.

Pondokan dan dudukan tersebar di berbagai sudut sebagai tempat untuk pengunjung beristirahat. Sekeliling mata memandang adalah perbukitan hijau Bukit Barisan dengan suara-suara satwa yang jadi penghuninya. Sesekali dahan pohon bergoyang keras karena ayunan kawanan monyet liar.

Saya duduk tenang pada sebuah kursi di area rooftop, mengagumi bukit hijau sambil menunggu senja. Meski saya yakin, senja sore itu tak seindah harapan setelah dihajar hujan hampir sepanjang hari. Sejuknya angin membuat saya harus sering-sering menarik nafas dan menghembuskannya pada telapak tangan demi mendapatkan sedikit rasa hangat.

Related Post: Gerimis di Kawah Putih

Camping Ground & Private Villa

Yang bikin semakin jatuh cinta, Rumah Ladang menyediakan fasilitas menginap berupa camping ground dan sebuah Villa pribadi.

Khusus Villa memang cuma ada satu buah dan letaknya di sudut ujung serta tertutup pagar yang tinggi. Namanya juga private, ya. Bangunan dua lantai ini punya fasilitas lengkap seperti dua buah kamar, dapur, kamar mandi dan kolam renang. Referensi untuk keluarga besar, nih.

Tapi kalau tanya saya, tentu saja saya lebih memilih tidur di tenda. Bukan ngga suka dengan kenyamanan, hanya sedang menyukai suasana yang dekat dengan alam. Bercengkerama dengan tetangga dan bebas memandang perbukitan.

Berbeda dengan villa, area camping ini jauh lebih luas mencakup segala area. Sebagian besar tenda didirikan di padang rumput bagian belakang. Tapi kalau sedang ramai, segala lahan kosong nampaknya bisa dijadikan tempat untuk mendirikan tenda. Termasuk taman di bagian depan dan area parkir. Khusus tenda yang disediakan pengelola, beberapa didirikan pada dipan kayu setinggi paha orang dewasa. Jadi kalau becek, kita tetap aman damai di dalamnya.

Ada tiga jenis tenda yang disewakan pengelola. Kamar Glamping (Glamour Camping), Private Tent (Tenda Pribadi) dan Tenda Biasa. Tentu saja masing-masing hanya beda fasilitas dan kenyamanan. Kalau lokasinya sama-sama terletak di camping ground dengan view yang sama pula.

Related Post: Trandingcamp Sikabung-kabung Part 1

Fasilitas di Rumah Ladang Pamah Simelir

Seakan menyadari lokasinya jauh dari pemukiman, Rumah Ladang menyediakan fasilitas standar yang dibutuhkan pengunjung. Meski sederhana, namun lengkap dan terjaga kebersihannya.

  • Restoran yang ada di tengah-tengah area ini menyediakan makanan dan minuman serta cemilan dengan harga yang masih sangat wajar
  • Musolah yang meski kecil, tapi bersih
  • Enam toilet yang ada di tiga titik (toiletnya bersih banget)
  • Gazebo untuk acara / pertemuan
  • Pondokan tersebar di setiap sudut dapat digunakan secara gratis
  • Sebuah rooftop dengan meja dan kursi lengkap dengan payung peneduhnya. Disini cocok untuk tempat bersantai sambil menonton sunset
  • Camping ground yang luas dan bersih
  • Area parkir yang luas
  • Wifi khusus untuk pengunjung (meski demi mendapatkan sinyal, kita harus dekat dengan perangkat, tapi lumayanlaah daripada lose contact sama sekali)

Sebelum kesini, pastikan kamu nyaman dengan suasana yang sunyi dan dingin. Wilayah ini sepertinya memang sengaja untuk mereka yang mencari ketenangan. Ngga ada aktifitas lain kecuali santai atau ngobrol dengan teman seperjalanan atau teman baru. Mungkin alternatif kegiatan lain bisa dengan treking ke perbukitan atau jalan santai dipagi dan sore hari.

Pokoknya, mau datang dimusim hujan ataupun cerah, punya suasana nyamannya masing-masing. Mungkin akan jauh lebih menarik kalau pengelola mau menyediakan kebun buah sebagai alternatif atraksi wisata petik buah, misalnya buah strawberi, jambu, dll. Dengan begitu, bisa mengurangi rasa bosan untuk anak-anak. Sekaligus chalange untuk orang tua menerapkan ilmu parenting nya πŸ™‚

Related Post: Trandingcamp Sikabung-kabung Part 2

40 tanggapan untuk “Rumah Ladang Simelir, Ambience yang Tenang

  1. Masya Allah membayangkannya aja syahdu, apalagi kalau bisa menikmati langsung.

    Jadi inget sama temen kerja yg sekarang nemilih berwirausaha bikin meubel gitu, katanya ya lebih banyak dikirim ke luar Jawa, seperti Sumatra dan Kalimantan. Kayaknya penggemar joglo banyak peminatnya di seluruh Indonesia ya.

  2. Sayang ya, lokasi Rumah Ladang Pamah Semilir nun jauh di sono… Padahal tempat asri nan vintage itu favorit aku sekeluarga. Dapat bonus pemandangan indah lagi…. Lengkap deh pokoknya

  3. MashaAllah. Semalam rasanya gak cukup untuk stay di Rumah Ladang Pamah Simelir ini ya Ci. Saya membayangkan menikmati kenyamanan villanya selama tiga malam. Pagi dan sore hari menjelajah, merasakan indahnya alam yang masih terawat murni lalu di siang dan malam hari istirahat di dalam kamar sembari tetap produktif menulis. Indahnya hidup dengan segala kualitas yang bisa dirasakan. Sama seperti saat kita merasakan bahwa hidup itu harus seimbang.

  4. Sepakat, kalau yang asli view keindahan alam yang jadi ‘jualan’ utamanya akan sangat membuat betah saat berkunjung dan destinasinya juga akan bertahan lama, gak hanya sesaat viral setelah itu hilang.
    Semoga ada kesempatan mengunjungi Rumah Ladang Pamah Simelir.

  5. Adem sekali tempatnya. Cocok banget nih buat liburan nataru tahun ini. Semoga ada rezeki buat berkunjung ke Rumah Ladang Pamah Simelir

  6. pinter nih ngasih nama: Rumah Ladang
    Bikin penasaran pengen ke sana
    Ternyata emang mengasyikkan ya?
    Bikin betah. Kebayang nulis novel di sini
    Sebulan aja πŸ˜€

  7. Aku bayangin kalau sedang ada di sana pasti asyik banget ya viewnya cakep banget bikin betah euy rasanya gak pengen pulang hehehe

  8. Bagus banget tempatnya, Kak. Ya Allah, jadi pengen ke sana. Kenapa sih baru ada sekarang? Coba udah ada awal tahun 90an waktu aku masih tinggal di Medan >.<

  9. Sepertinya daku kek kak Suci nih kalau melihat kamar glampingnya, asik tidur di tenda, karena nuansanya memang berbeda sih ya.
    Semisal tidurnya di kamar biasa, vibesnya ya jadi sama aja seperti di rumah.
    Cuma kalau pas musim hujan, cuacanya bakalan mendingin banget kali ya

  10. Kalau lihat foto view di sana, sepertinya udaranya kalam malam dingin dan anginnya kencang nih, Kak. Tapi dengan adanya area buat nginep itu, bikin vibes yang makin hidup

  11. Cuma bisa membayangkan betapa sejuknya udara di sana, begitu membuka jendela penginapan, wuaah paru-paru berasa plong ya, pemandangannya juga syahdu, walau begitu sepertinya harus memakai jaket rapat-rapat nih, buat orang yang gak kuat dingin sepertiku, hehe

  12. Masha Allah tempatnya adem banget pas banget untuk ngadem, healing dari berisiknya dunia, rumah ladang cocok banget untuk cari inspirasi untuk nulis suasananya

  13. sesuai dengan namanya ya Mba, umah ladang yang mendamaikan hati. Pas banget klo mau healing n kontemplasi disana. gak perlu keramaian yang hiruk pikuk dengan hal remeh.

  14. Adem banget suasanya. Jadi teringat kota Kayapura di papua tempat aku menghabiskan masa kecil. Tentram adem dan menawan

  15. Masyaa Allah pengen banget deh ngajakin anak-anak camping ala-ala di sini, ngeliatnya aja udah kebayang sejuk banget, udaranya pasti segar ya kak

  16. Destinasi yang natural kayak gini justru tak lekang oleh waktu apalagi ada sentuhan vintage klasik gitu. Tempatnya juga adem bikin tentram pikiran dan perasaan ^^

Tinggalkan Balasan