jalan dan wisata

Uji Adrenalin Menyusuri Kolam Abadi Menuju Air Terjun Teroh-teroh

Uji Adrenalin Menyusuri Kolam Abadi Menuju Air Terjun Teroh-teroh – Tentu ini akan terasa biasa saja bagi kalian yang jago renang dibantu mental baja. Tapi untuk saya, yang sama sekali ngga bisa renang, ini bikin jantung berdebar sepanjang kegiatan.

Kolam Abadi Teroh-teroh

Begitulah kota Medan disegala musim. Lagi kemarau, tau-tau subuh turun hujan sampe sore. Atau lagi musim hujan, besoknya panas seharian. Jadi saat memutuskan untuk main ke sungai dimusim hujan, ya berdoa aja semoga pada hari-H, cuacanya mendukung.

Bener, dong. Pagi itu matahari bersinar terang. Ngga mau kehilangan moment, pukul 6:30 pagi kami berangkat menuju Kolam Abadi, sebuah sungai yang konon katanya airnya sebening kristal dan sebiru lautan.

Kolam Abadi letaknya di Desa Rumah Galuh, tepatnya di Jalan Telagah, Kecamatan Sei Bingei, Kabupaten Langkat. Tetanggaan sama Pamah Simelir. Dari Medan, jaraknya sekitar 48KM atau kurang lebih 1,5 jam perjalanan.

Related Post: Rumah Ladang Simelir, Ambience yang Tenang

Dipertengahan jalan, Bang Timo, ranger/guide yang sehari sebelumnya sudah kami “book” melalui Instagram, mengirimkan sebuah pesan WA. Bertanya posisi kami dan mengirimkan lokasi / Shareloc. Bukan karena ngga tau lokasinya, tapi lebih ke supaya kami ngga nyasar ke basecamp lain.

Jadi gini…

Sejauh ini, Kolam Abadi Teroh-teroh itu lebih dikenal dengan nama Pelaruga. Termasuk saya (atau mungkin cuma saya), yang meyakini kalau Pelaruga itu ya nama sungainya. Ternyata bukan begitu.

Pelaruga itu singkatan dari Pemandu Alam Rumah Galuh. Sebuah perkumpulan pemandu yang tersebar di beberapa basecamp. Nah, jadi di sepanjang lokasi kolam abadi itu, berdiri beberapa basecamp tepat di pinggir jalan lintas. Sebut sajalah lapak ya.

Bagi mereka yang kebetulan sedang melintas kemudian pingin main ke sungai tapi belum melakukan pemesanan, bebas berhenti di lapak manapun. Disetiap lapak, akan selalu ada petugas dan ranger yang ready kapanpun kedatangan tamu. Tapi kalau sudah melakukan pemesanan, berhentilah di lapak tempat ranger itu bernaung.

Makanya setiap sudah melakukan booking, dihari-H kita akan tektokan sama guide baik sebelum berangkat dan disepanjang perjalanan. Tujuan berkabar sebelum berangkat, supaya guide bisa ngasi info kondisi cuaca dan kondisi sungai. Kalau hujan dan banjir, disarankan untuk menunda kegiatan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Gitu…

Persiapan ke Kolam Abadi

Tiba di lokasi, kami sarapan dulu pada sebuah pondokan sederhana sambil ditungguin Bang Timo dan salah satu rekannya yang bakalan jadi guide kami nanti.

Jadi, sebelum melakukan kegiatan, kita diberikan sedikit brief terkait do and don’t selama berada di sungai. Sambil diberikan pelampung.

Pembayaran dilakukan di awal, kemudian segala barang-barang dititipkan di basecamp kecuali makanan dan hp. Itu juga optional, kalau mau dibawa atau ngga terserah kita. Sebagaian ranger bersedia mendokumentasikan kegiatan pakai kameranya. Tapi ada juga yang ngga.

Kalau pingin dokumentasi pake kamera kita, tinggal berikan ke guide biar beliau yang jadi fotograpernya. Ya, percayakan saja pada mereka apapun hasilnya. Sebab, cuma mereka yang diperbolehkan membawa perlengkapan untuk di air, termasuk wadah untuk gadget dan makanan. Kita, cuma bawa diri berbekal pelampung dan doa sehat selamat.

Sudah beres?? So, Let’s go to the river!

Tracking ke Kolam Abadi

Trek menuju sungai didominasi perkebunan. Dibilang kebun tapi banyak ditumbuhi pohon besar kaya di hutan, meski ada beberapa lahan ditanami padi darat, jagung, pinang dan durian. Dibilang hutan tapi juga ngga rimbun-rimbun amat.

Yang pasti itu adalah ladang warga setempat, sebab banyak anjing sebagai penjaganya.

Butuh waktu sekitar 15-20 menit berjalan kaki dengan diawali medan berupa jalan setapak berlantai paving block hingga sampai ke medan dengan kontur tanah naik turun dan cenderung licin (karena musim hujan). Beberapa trek dibantu oleh pegangan berupa bambu pada tepiannya.

Sayang, dalam perjalanan pulang pergi dari dan menuju sungai, ngga ada dokumentasi sama sekali. Sebab hp sedari awal sudah diserahkan ke guide. It’s ok, lah…

Kolam Abadi

Sesaat sebelum tiba di sungai, pada undakan licin, sudah terdengar deru arus air menandakan sumber air sudah dekat. Benar saja, dari balik ranting-ranting pohon, nampak sekumpulan air berwarna hijau tosca sudah siap sedia kedatangan tamu.

Pagi itu, kami menjadi pengunjung pertama mencicipi dinginnya air di kolam abadi. Saya, meski ngga bisa renang, paling tidak bisa mengapung berkat bantuan pelampung.

Di kolam abadi, sebagian titik punya kedalaman yang lumayan. Selain berenang, pengunjung bisa melakukan atraksi dengan melompat indah dari tebing. Lumayan juga tingginya, tapi nyali saya ngga sekuat waktu arung jeram. Pada saat itu meski grogi, saya berhasil melompat.

Related Post: Arung Jeram Seru di Sungai Bah Bolon, Ada Green Canyon!

Kata guide, kalau musim kemarau, airnya jauh lebih jernih dan pandangan kita bisa menembus sampai dasar sungai. Gapapa, lain waktu kita datang lagi…

Body Rafting Menyusuri Sungai

Enaknya main di sungai ini, kita sendiri yang menentukan batas waktu. Pokoknya guide sudah kita book seharian, deh. Puas di kolam abadi, lanjut menuju air terjun teroh-teroh.

Kali ini bukan tracking di hutan, tapi menyusuri sungai dengan arus yang cukup deras dan kedalaman yang bervariasi.

Dalam benak saya, namanya body rafting ya paling nganyut. Kan pake pelampung. Ternyata bukaan…

Nganyutnya cuma sekejap, selebihnya adalah naik turun manjat bebatuan besar, renang di arus yang deras dan sesekali terpaksa lompat ke air yang dalamnya ngga tau seberapa demi menghindari pusaran air.

Sekali saya kelelep dan nelen air lumayan banyak sampe tersedak dan terbatuk-batuk. Mata pedih dan kaki kebentur bebatuan. Sesaat bikin saya jiper, haha. Tapi mau ngga mau ya harus lanjut. Ngga mungkin balik juga.

Di pertengahan jalan, ketemu air terjun kecil-kecil. Bisa sekalian duduk pada bebatuan untuk istirahat sebentar. Untung sepanjang sungai, teduh oleh pohon-pohon besar dan cuaca ngga sedang terik matahari. Kurang lebih 5KM perjalanan menyusuri sungai dengan berbagai rintangan itu. Meski terasa lama, akhirnya tiba juga di persinggahan terakhir.

Air Terjun Teroh-teroh

Air terjun dengan ketinggian kurang lebih 20 meter dan lebar 30 meter ini menjadi hilir kegiatan alam disana. Debit air yang deras membuat titik-titik air terlempar sampe ke atas ke tempat kita berdiri.

Atraksi lompat dari ketinggian juga bisa dilakukan disini, tapi khusus untuk mereka yang bernyali besar. Butuh effort lebih untuk kembali ke atas setelah terjun, sebab tebingnya licin dan mulus (tanpa undakan) serta hanya berbekal tali tambang kecil.

Saya, cukup puas menikmatinya dari atas tebing. Bahkan untuk menunduk ke bawah pun, ngga cukup berani.

Puas di air terjun Teroh-teroh sambil ngeteh, tau-tau mendung dan gerimis mulai berdatangan. Kami sudahi kegiatan untuk kembali tracking menuju basecamp dengan rute berbeda. Tapi tetap dengan medan yang sama, licin dan menanjak.

Sepanjang perjalanan kembali ke basecamp, hujan turun semakin deras. Niat mengabadikan jalur tracking kembali pupus. Tapi selalu disyukuri, setiap perjalanan didukung semesta. Cuaca cerah selama kegiatan dan turun hujan diakhirnya. Ngga kebayang kalau hujan deras di tengah penyusuran sungai, biasanya air sungai akan naik. Alhamdulillah …

Setibanya di basecamp, hujan semakin menjadi-jadi. Banyak pengunjung yang gagal main di sungai sebab memang sangat tidak dianjurkan ke sungai disaat hujan. Benar saja, kabar dari mereka yang baru selesai, air sungai sudah berubah coklat dan naik setinggi 2 meter.

Alhamdulillaah lagi…

Rangkaian Kegiatan & Biaya

Keseluruhan rangkaian kegiatan Pelaruga meliputi

  • Kolam Abadi
  • Body Rafting
  • Air Terjun Teroh-teroh

Untuk grup, minimal 5 orang masing-masing membayar 50ribu. Tapi misal kalau cuma sendiri atau berdua, biayanya 100ribu /orang. Itu sih tarif normalnya. Lebih tinggi atau lebih rendah biasanya selisihnya ngga terlalu jauh tergantung banyaknya spot yang didatangi dan pelayanan plus dari guidenya.

Misalnya selain 3 spot di atas, biasanya guide menawarkan spot lain seperti air terjun tongkat, air terjun siluman dan air terjun bidadari (banyak air terjun, btw). Kalau nambah spot, otomatis biaya juga bertambah. Untuk biaya itu semua sudah termasuk parkir dan toilet serta penipitan barang.

So far, biaya itu worth it lah untuk kegiatan seru main seharian yang ngga selalu bisa kita lakukan. Ya, minimal pernah, deh. Ada yang nagih tapi ada juga yang kapok. Saya, sih rada kapok. Kalau saat ini belum ada keinginan kesana lagi. Mungkin harus dijeda setahun lagi kali ya, baru deh rindu lagi 😀

Tips Berkunjung ke Kolam Abadi

Bermain di alam memang ngga boleh sembarangan. Terlabih kalau belum tau kondisi medan atau belum pernah sama sekali. Kalau katanya pakai ranger/guide, yasudah patuhi saja. Jangan pinter-pinteran pergi sendiri.

Pesan jasa guide melalui sosmed, banyak kok dan mereka biasanya mematok harga yang sama. Kalaupun ada perbedaan, biasanya ngga jauh dan karena ada plus minusnya juga. Berikut sedikit tipsnya, yaa..

  • Pesan jasa guide terlebih dahulu. Gunanya untuk bertukar informasi sebelum berangkat dan selama diperjalanan, terutama mengenai cuaca dan kondisi sungai
  • Cari tau terlebih dahulu seperti apa kegiatannya dari medsos atau youtub agar sedikit banyak paham situasinya.
  • Dengan mengetahui situasi sungai dan rangkaian kegiatan, kita bisa persiapkan mental (kira-kira berani atau ngga). Jangan makasin diri kalau ngga berani.
  • Patuh apa kata guide. Kalo katanya bahaya, ya jangan nekat dilakukan.
  • Meski didampingi guide, tetap usahakan pergi dengan teman yang bisa renang dan bermental kuat supaya seimbang (itu kalau kondisinya kaya saya yang ngga bisa renang dan suka jiper duluan). Ya, satu guide memandu minimal 5 orang, kalau banyak yang jiper kan keteter juga dia nolongin satu persatu. Nah kalo temen kita ada yang berani dan jago renang kan terbantu, ya. begitu kira-kira. Tapi kalau semua mentalnya kuat, ya, gaass!
  • Bawa kamera sendiri dan aktif minta tolong guide untuk ambil dokumentasi atau boleh kita sendiri yang ambil. Memang sih, dia agak repot harus ngeluarin dan masukin kamera dari tasnya di area sungai yang basah. Tapi inikan momen yang jarang terjadi, jadi yaa harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tapi tenang aja, mereka ngga ngerasa direpotin kok (memang sudah tugasnya), cuma kadang kitanya (saya) yang suka ngga enak hati. Rada nyesel sih jadi ngga punya banyak dokumentasi, hahaha
  • Jangan ragu minta istirahat kalau kondisi badan lelah.
  • Pakai sepatu air atau sendal yang nyaman untuk tracking dan selama di dalam air
  • Tetap disiplin pakai pelampung. Periksa pelampung dan pastikan dalam konsisi baik sebelum meninggalkan basecamp. Karena guide ngga bawa pelampung cadangan.
  • Pastikan kondisi tubuh dalam keadaan fit dan jangan mulai kegiatan dalam kondisi lapar. Sarapan dulu, yaa
  • Enaknya mulai kegiatan dari pagi, saat sungai masih sepi dan bersih. Kalau mau nambah spot, waktunya juga masih cukup banyak.
  • Bawa makanan secukupnya saja. Kasian guidenya kalo banyak bawa barang. Lagipula di kolam abadi dan air terjun teroh-teroh ada penjual popmi, snack dan minuman hangat kok. Kemarin kami bawa kue, ya ngerembes :). Tapi untuk gadget, aman!
  • Kan ngga bawa duit? Tenang aja, penjual dan guide udah saling kenal, jadi kita bisa ngutang dulu nanti tinggal bayar ke guidenya. Selebihnya jadi urusan mereka.
  • Jangan coret-coret dinding sungai, yaa… percayalah, kalian itu norak dan itu ngga keren sama sekali. Bikin pemandangan jadi jelek
  • Jangan buang sampah ke sungai. Buang pada tempatnya
  • Jaga sikap dan tutur kata dimanapun berada
  • Berdoa sebelum dan sesudah berkegiatan

Galeri Foto

22 tanggapan untuk “Uji Adrenalin Menyusuri Kolam Abadi Menuju Air Terjun Teroh-teroh

  1. Seru sekali acara uji adrenalin-nya, Mbak. Dan dengan 50 ribu dengan minimal 5 orang, dan 100 ribu untuk 1-2 orang, ini termasuk pas di hati, dan kantong hahaha. Apalagi sensasinya itu.
    Dan memang kalau kegiatan alam seperti ini, harus ada pemandunya ya, Mbak. Jadi pastinya lebih aman dan tenang.
    Sayang ya, ada yang coret nama itu. JOE.. ABAY..awas kamu hahaha.

  2. Kalau di Bandung ini seperti di Green Canyon, kak. Sama, body rafting di sana juga hape diserahkan pada pemandu. Sayang, kalau memang sudah sedari awal diserahkan pada mereka, harusnya minimal ada 1 foto dalam proses berangkat dan pulang.

    Aku juga nggak bisa berenang dan takut ketinggian, tapi mau body rafting lagi.
    Soal cuaca labil, kayaknya semua daerah di Indonesia begitu wkwkwk.

    1. Naah Green Canyon suka aku liat di IG.
      Tapi disini kayanya arusnya lebih deras, jeramnya lebih bnayak dan batunya juga lebih banyak pun gede2 bangeet.

      Kepingin banget ke Green Canyon itu, beneran….

  3. Saya selalu berdecak kagum setiap baca petualangan Suci dan teman-teman ke tempat-tempat alam nan eksotik. Apalagi kondisi itu dilengkapi dengan pengalaman luar biasa. Gak cuma tentang bagaimana kita menikmati alam apa adanya, tapi juga tentang banyak kepatuhan agar kita tetap selamat sembari tetap menjaga kelestarian alam yang kita kunjungi. Menuruti apa kata guide yang sudah berpengalaman tuh wajib banget. Bukan sunnah.

    Saat masih lajang sampai usia 30an (belum punya anak), saya sering banget tadabur alam seperti ini. Khususnya rafting di daerah Sukabumi dan rope/bungee jumping di perbukitan Uluwatu Bali. Awal-awal cuma nyoba tapi lama kelamaan jadi nagih hahahaha. Herannya sekarang mental dan keberaniannya sudah hilang. Mungkin efek usia dan kesehatan juga kali ya Ci. Jadi, selama masih bisa beraktivitas fisik luar ruang, lakukan dan lakukan sampe puas hahahaha.

    BTW, kek ginilah besar huruf yang nyaman dibaca Ci. Jangan kicil-kicil kali kau buat hahahaha. BTW, coba pakai huruf Arial Ci. Lebih readable menurut saya.

    1. Sama, sih, Bu… nyali saya juga ngga sekuat dulu waktu masih usia 20an, hehee
      Memang faktor U ngga bisa boong, ya hehee

      Tapi semoga gairah petualang ini ngga hilang, jadi nanti masih bisa bareng anak2.

      Sesuai pesan Ibu, tulisan digedein. Siap laksanakan!

  4. Senangnyaaa….jalan-jalan ke blog Mbak Suci
    Banyak tulisan traveling di Sumatera dan asyiknya Mbak Suci rajin masuk ke area2 yang hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki

    Agak heran dengan pengumpulan HP. Wajib gak sih?
    Larangan atau sekadar jaga-jaga agar tidak terkena air?

    1. Kayanya lebih ke jaga-jaga biar ngga kena air atau terjatuh, ambu. Sebab Medan sungainya susah dan bahaya untuk pengunjung (apalagi pemula)

  5. Keren banget ya.. Cuma memang benar memacu adrenalin terlebih yang takut ketinggian kayak aku. Tapi soal kecipakan di air kok menyenangkan sekali. Tapi beneran deh. kalau hujan mending nggak ngeyel buat lanjutin rencana. Nggak kebayang itu seberapa jernihnya sampai bisa lihat sampai ke dasar..

  6. Seru banget acara main di sungainya mba. Rutenya cakep banget, itu aja kondisi airnya sudah bening dan biru dari foto gak kebayang kalau bukan musim penghujan, super bening berarti. Biayanya sangat-sangat sepadan banget, malah kalau di banding kegiatan body rafting di P. Jawa, biayanya murah. Doh, di Medan ternyata banyak surga alam yang indah2.

  7. Wah sampe kelelep juga ya kak?
    Untungnya ada pelampung sih ya, jadinya bisa nongol lagi ke atas.
    Dilihat dari air terjunnya yang bikin seger pemandangan dan suasana.
    Cuma unik juga ponsel kudu dititipin yak?

  8. Berbekal pelampung dan doa selamat. Ya ampun. Nggak tau mesti senyum atau malah merinding baca kalimat itu. Nyaliku kayaknya lebih kecil daripada Mb Suci dah.
    Dan astagaaaahhhh… itu ada yang begitu jailnya mencoret-coret dinding sungai?

  9. Yang coret-coret di sungai tuh beneran se-niat itu yaa..
    Semoga terpulihkan dengan lumut-lumut yang tumbuh. Agak takut juga kalau kanyut di saat arus deras yaa.. Disinilah peran guide yang sangat membantu dengan tau banget kondisi medan Kolam Abadi.

  10. Waaa seru banget deh mba bisa nyusuri sungai terus ke air terjun. Eh beneran tapi itu kolam abadinya jernih ya airnya, sejuk liatnya. Beruntung banget pas mbanya jalan2 hujannya di akhir. Itu biayanya juga bener aku setuju,worth it …

Tinggalkan Balasan