Review

Review Film Buya Hamka & Siti Raham Vol 2

Review Film Buya Hamka & Siti Raham Vol 2 – Sebenarnya Vino dan Bella bukanlah artis yang saya idolakan. Gara-gara iseng nonton Buya Hamka 1 di Netflix, saya jadi tertarik untuk mengetahui kisah lanjutannya di vol 2 yang tayang Desember lalu di Bioskop.

Yang saya ketahui selama ini, Buya Hamka adalah seorang penulis novel romantis berjudul Tenggelamnya Kapal Vanderwijk. Dari Film Buya Vol 1, barulah saya dapat pengetahuan baru lagi kalau ternyata beliau adalah seorang ulama besar Indonesia yang disegani hingga pernah menjabat sebagai ketua MUI.

Semakin kesini, semakin mengagumi sosoknya. Baru deh cari tahu, ternyata beliau telah menerbitkan banyak novel dan buku. Masyaallaah…

Sinopsis Film Buya Hamka & Siti Raham Vol 2

Judul: Hamka & Siti Raham Vol. 2

Sutradara: Fajar Bustomi

Penulis: Cassandra Massardi, Alim Sudio

Produser: Frederica, Chand Parwez Servia

Cast: Vino G Bastian, Laudia C Bella, Anjasmara dkk

Produksi : Falcon Picture, StarVision Plus, Majelis Ulama Indonesia

Durasi : 1 Jam 43 Menit

Rilis : 21 Desember 2023

————————————————

Perjuangan Siti Raham sebagai istri yang setia terus mendampingi dan mendukung Buya Hamka disaat-saat memperjuangkan kemerdekaan dan perjalanan dakwah. Kesetiaannya semakin diuji disaat Buya Hamka putus asa karena mendekam di penjara, Siti Raham terus mendukungnya dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Pada akhirnya, hanya cinta yang menguatkan Hamka. Cintanya pada agama dan cintanya pada Siti Raham.

Betapa sedihnya Buya, ketika harus mengikhlaskan Siti Raham mendahuluinya menghadap sang pencipta. Siti Raham berpulang setelah menyelesaikan tugasnya menjadi istri yang setia mendampingi Buya dalam segala kondisi.

Review Film Hamka & Siti Raham Vol. 2

Kisah yang hangat dan menginspirasi dipertontonkan melalui sekuel dari film berjudul Buya Hamka yang rilis April 2023 lalu. Di vol 1, menceritakan perjuangan Buya Hamka dalam meniti karir, berdakwah dan melawan penjajah.

Nah, di vol. 2 yang rilis bulan Desember tahun yang sama, masih bercerita tentang karir Buya, meski dalam layar, sosok Buya Hamka masih mendominasi, namun ceritanya lebih menonjolkan perjuangan lain dari sosok istri yang setia atas dukungan dan kasih sayang mendampingi suaminya dalam kondisi senang maupun susah. Itulah sebab, judulnya menjadi Hamka & Siti Raham.

Menurut Vino dalam wawancara sebuah podcast, proses syuting film ini memakan waktu 6 bulan untuk 3 volume. Menceritakan Buya dari usianya 16 tahun sampai 80 tahun. Dua volume aja tayang di tahun yang sama, loh. Jadi ngga sabar nungguin vol 3 tayang, deh.

Buya Hamka yang Bijaksana dan Siti Raham yang Sabar

Cerita dimulai ketika baru saja rakyat merasakan kemerdekaan, Buya Hamka dan muridnya kembali harus melawan agresi Belanda di Sumatera Barat tahun 1947. Mereka terpaksa meninggalkan istri dan anak-anaknya di pengungsian.

Disini sangat diperlihatkan betapa Umi, panggilan Buya untuk sang istri turut berjuang dengan menjaga dan mendidik anak-anak dengan kondisi yang serba terbatas. Selain setia, Ia juga sangat sabar merawat anak-anak dikala sakit bahkan kekurangan makanan. Yang dia lakukan adalah terus berdoa untuk keselamatan suaminya dalam perjuangan.

Related Post: Habibie & Ainun 3 : Jodoh Pasti Bertemu

Bagian paling terharu ketika Buya difitnah akibat sikap kritisnya dan berseberangan pendapat dengan Bung Karno, yang kemudian menghantarkannya hidup dalam penjara. Buya yang sudah lanjut usia harus mendapat siksaan baik secara fisik maupun mental sebab dipaksa mengaku untuk hal yang tidak Ia lakukan.

Saking terpukul dan putus asa akibat perlakuan polisi, Buya ingin bunuh diri. Seorang ulama bijaksana berilmu tinggi, seorang jurnalis sekaligus penulis yang cerdas dan dihormati pun, sempat terpikir untuk mengakhiri hidup sebab keputusasaan yang mendera. Manusia tetaplah manusia…

Iman yang kokoh, kesabaran, doa istri setia yang tiada pernah putus dan dukungan anak-anak soleh solehah adalah kunci bertahannya sebuah keluarga untuk bisa melewati badai kehidupan.

Pada akhirnya, Umi, istri yang dicintainya meninggal setelah dirawat dalam sakitnya. Umi meninggal dalam tenang, telah selesai tugasnya mendampingin Buya di dunia.

Related Post: 7 Rekomendasi Film di Netflix Tentang Perjuangan Berdasarkan Kisah Nyata

“Rumah Tangga yang aman dan damai adalah gabungan antara tegapnya laki-laki dan halusnya perempuan”

~Buya Hamka~

Bagian-bagian Paling Mengharukan dan Menonjol di Film Buya Hamka Vol. 2

Film biopik ini dibagi menjadi 3 part (volume).

Volume 1 menceritakan Perjalanan karir Buya Hamka meskipun tidak ada Tips Melamar Kerja, kemudian cerita kehidupannya di awal menikah dan meniti karir sebagai jurnalis dan penulis sambil ikut berjuang hingga Indonesia merdeka.

Volume 2 bercerita tentang perjuangan pasca kemerdekaan ketika agresi militer Belanda di wilayah Sumatera Barat. Selain berjuang melawan Belanda, beliau juga berjuang menyatukan para ulama. Hingga perjalanan hidup dalam penjara yang menyiksa batinnya.

Volume 3 kabarnya sedikit bercerita mundur ke masa muda Buya Hamka seperti masa-masa Ia menuntut ilmu dan awal perkenalan dengan Siti Raham.

Dari volume 1 dan 2, ada banyak pesan menyentuh dan adegan yang mengharukan. Perpaduan antara akting yang luar biasa serta kru dari berbagai divisi yang mendukung terciptanya sebuah film “mahal”

  • Sedih saat Buya ditangkap polisi dan harus kembali berpisah dengan keluarganya. Adegan sedih lainnya saat Buya yang renta hidup tersiksa dalam penjara. Lalu ketika Ia menjadi Imam solat jenazah sahabatnya sekaligus sosok yang menjebloskannya ke penjara, Bung Karno.
  • Bagian termehek-mehek (meski ngga sampe bikin saya nangis) ya saat istrinya meninggal terlebih dahulu. Siapapun yang mencintai pasangannya pasti akan tersentuh dengan scene ini.
  • Teknik make up dengan istilah prostetik ini tuh paling the best. Ini yang bikin sebuah film ngga harus mengganti pemain lebih tua atau lebih muda. Dengan teknik ini, Vino bisa terlihat seperti seorang kakek-kakek beneran. Bukan hanya direpresentasikan dengan rambut putih, tapi juga botak kepalanya, kerutan-kerutan, kulit ari yang menipis dll itu detail sekali. Ya, selain emang Vino dan Bella juga berakting dengan sangat baik. Caranya berbicara, dialeknya, gesturenya kayak bungkuk layaknya orang tua dll itu dapet bangeeet.
  • Plotnya lebih enak diikuti sebab ngga banyak alur yang maju mundur. Ada keterangan-keterangan waktu seperti tahun berapa dan saat itu sedang masa apa. Kekgitu-gitu sih untuk saya yang rada lambat dalam mencerna alur cerita (yang rumit) ya sangat membantu, hehe
  • Dalam film Buya Hamka, kita akan menyadari bahwa perjuangannya melawan penjajah dan menyatukan sesama rakyat itu bukanlah hanya bisa memakai senjata bambu runcing semata, melainkan bisa menggunakan mata pena yang runcing. Yap, beliau banyak berjuang melalui tulisan-tulisannya yang kritis, menggugah, menyentuh dan menampar. Jadi meski film dimasa perjuangan, bukan berarti isinya perang-perang mulu, tapi justru lebih banyak dialog yang panjang tapi berisi banyak pesan.
  • Banyak adegan romantis. Romantis maksudnya dimana Buya sering memuji istrinya dengan ungkapan-ungkapan pakai bahasanya yang khas satsra romantis (sampai bikin Umi Raham tersipu), seperti pengakuan bahwa sumber kekuatannya dalam melalui badai kehidupan adalah karena peran besar sang istri yang setia di sampingnya. Jadinya saya malah merasa adegan romantis mereka itu malah masih sangat kurang. Padahal kisah cintanya begitu menginspirasi apalagi untuk suami istri.
  • Soundtracknya juga ngga kalah menyentuh. Berjudul cintaku untukmu oleh Dewa Bujana ft Fadli Padi dan Putri Ariani yang ngena banget untuk kisah mereka berdua. Skoringnya juga punya intensitas yang pas banget dalam setiap adegan-adegan.
  • Sinematografinya juga persis dibikin sesuai jamannya. Warna serba kuning pudar yang menjadi ciri khas suasana jaman itu. Begitu juga kostum yang mencerminkan masyrakat pada masa itu.
  • Hampir 70 persen dialognya pakai bahasa minang. Selebihnya menggunakan bahasa Indonesia dan Belanda. Sebab memang sebagian besar syuting dilakukan di Tanah Minang yang merupakan daerah asal Buya Hamka.

Umat muslim khususnya orang Minang patut berbangga memiliki seorang ulama yang bijaksana dan penuh sahaja, terlebih telah begitu banyak jasanya dalam sendi-sendi kehidupan khususnya umat Islam.

Namun begitu, film ini bukan berarti ngga bisa disaksikan oleh non Muslim, loh. Sebab banyak pesan yang relate dengan seluruh aspek kehidupan. Arti kesetiaan, tangguh, kekuatan doa, kejujuran, kesabaran dll itu semua kita butuhkan untuk bisa melewati takdir dengan ikhlas.

Film ini tuh semacam titik air di musim kemarau. Adem begitu selesai nonton filmnya. Pesan perdamaian yang disampaikan itu kena disituasi saat ini yang panas karena kaum mayoritas dan minoritas.

Untuk semua orang, semua agama, semua usia, semua kalangan, tonton deh. Ngga kalah seru, kok dengan serial Shinbi House.

Pada akhirnya, saya berikan nilai 8/10 untuk film Hamka & Siti Raham Vol. 2 🙂

“Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja”.

~Buya Hamka~

28 tanggapan untuk “Review Film Buya Hamka & Siti Raham Vol 2

  1. Aku kelewat nonton Vol.II ini, padahal Vol I dulu aku suka banget. Cuma baca dari ulasan ini, filmnya tetap setia sama novelnya. Di novel, adegan Buya menyolatkan Soekarno itu terasa banget harunya setelah semua yang Buya dapatkan. Aku penasaran ketika adegan itu di filmnya jadi kayak apa. Kangen juga liat akting para pemain-pemainnya cakap pakai bahasa Minang 🙂

    Semoga gak lama lagi tayang di OTT. Secara yang vol I pun udah lama tayang sih ya.

  2. Sudah Vol 2 aja mbak? Waduh, aku benar-benar kurang update untuk film Indonesia, hiks.
    Dari ulasan yang ditulis disini aku jadi tertarik untuk menontonnya. Terlihat menarik karena ga hanya menceritakan perjuangan melawan penjajah, tapi keromantisan Buya dan istri tercinta yang menginspirasi 💕

  3. Kalau saya kenal nama Buya Hamka berawal dari membaca tafsir Al Azhar, lalu membaca biografinya. Ternyata selain ulama, juga sastrawan.

    Kisah Buya Hamka dan Siti Raham ini seolah ingin menunjukkan bahwa sekuat-kuatnya lelaki, ada sosok dibelakangnya yang lebih kuat, yaitu istri, wanita yang dicintainya

  4. Saya pernah baca buku Buya Hamka yang ditulis anaknya, dan jujur penasaran banget jadinya nonton filmnya.
    Menurut saya, beliau adalah sosok yang luar biasa sih, baik sebagai ulama, sebagai ayah maupun sebagai suami.
    Dan membaca buku anaknya, saya yakin dibuat 3 volume pun tetap menarik untuk ditonton 😀

  5. Saya pun lebih mengenal Buya Hamka setelah membaca novelnya Tenggelamnya Kapal Vanderwijk
    Cukup tebal dan susah mendapatkan novel kisah menyedihkan itu secara saat itu tahun 80-90an belum semodern sekarang. Buku novel itu didapat di perpustakaan itu pun rebutan dan antri.

    Sekarang malah bisa tahu sejarah Buya Hamka melalui tayangan film nya ya

  6. Saya belum nonton nih, Mbak. baik vol 1 dan 2. Padahal ceritanya menarik dari awal perjuangan Buya Hamka, sampai ditemani Siti Raham. Saya mau sempatkan nonton dulu, sebelum hadir vol 3.

  7. MashaAllah. Saya baru saja menyelesaikan buku yang berjudul “HAMKA. Ulama Serba Bisa dalam Sejarah Indonesia” yang diterbitkan oleh NEO HISTORIA. Buku terbitan 2015. Isinya tentu saja luar biasa. Tapi yang pasti lebih berfokus pada cerita hidup Hamka sejak dari kecil, sekolah (hanya) sampai sekitar kelas 3SD, berpetualang kesana kemari, berguru pada banyak orang, menjadi salah seorang pendiri Al-Azhar di Indonesia, ketua MUI hingga akhirnya wafat. Menyentuh banget. Sayang, di buku ini tidak menyenggol ranah pribadi, seperti soal pernikahan, istri-istri dan anak-anak beliau. Jadi pas baca ini saya baru ngeh dengan profil SITI RAHAM.

    Sepertinya harus cari buku yang mengulas tentang kehidupan berumah tangganya beliau dan nonton film volume ke-2 ini ya Ci. Setidaknya saya memahami sisi lain beliau secara pribadi, terlepas dari rangkaian perjuangannya sebagai ulama yang disegani, dihormati, yang juga adalah sastrawan hebat di Indonesia.

    1. Sebenernya dari filmnya udah kebayang kehidupan beliau dan keluarganya. Tapi kalau mau lebih detail lagi mungkin harus baca biografinya ya, Bu….

      Kalau ada kepingin juga deh ikut baca. Semakin nonton filmnya semakin kagum sama sosoknya

  8. Daku belum nonton ini kak..
    Pengen lihat paduan akting Vino dan Bella, apalagi ada pesan mendalam ya.
    Dah baca beberapa review ada yang bilang oke, ada juga yang menyayangkan karena dibuat “berseri/volume” gitu tapi kurang diminati. Entahlah..

  9. jadi ingat kisah Prof Habibie dan istri. Seorang istri punya hati yang luas untuk terus membersamai suami dalam susah dan senang. Jadi terinspirasi untuk lanjut nonton buya hamka volume 2 ini mba

  10. Pemikiran Buya Hamka pada zamannya memang menjadi sebuah kebijaksanaan tersendiri. Sosok besarnya memang gak bisa dilepaskan dari kiprah luar biasa pendamping hidup sang ulama.
    Dari sejarah, kita bisa mempelajari sosok bijak beliau dan meneladaninya.

    Haturnuhun, ka Suci.
    Aku tadinya bingung juga nih, kalo mo nonton vol. 1-nya dimana.
    Alhamdulillah menemukan jawaban di awal artikel. Ayee~

      1. Hihi, jadi positif.
        Positif ga perlu ke bioskop yaa…huhuhu, antara kangen juga nonton di bioskop tuh..tapi asa keluar rumahnya beuraaatt banget.

        **Dilema macam apa iniih??

  11. Blogger Bandung ngadain nonton bareng nih, sayang saya gak bisa ikutan

    sesudahnya rame bersaut-sautan tentang film ini, ternyata emang sebagus itu ya?

    Nonton ah, aku suka banget sama akting Vino dan Laudya, dan tentu saja penulis naskah: Cassandra Masardi

  12. Aku suka sekali baca-baca quotes untuk pengingat diri, salah satu quotes favoritku adalah dari Buya Hamka. Terkesan lugas namun sangat dalam maknanya.
    Masuk list dulu film Buya Hamka ini, eh mungkin harus nonton yang volume 1 dulu ya mba, sebelum vol. 2 ini

Tinggalkan Balasan