Semesta Nusantara Sibolangit, Bakar Pizza di Open Kitchen

Semesta Nusantara Sibolangit, Bakar Pizza di Open Kitchen

Semesta Nusantara Sibolangit, bisa dibilang salah satu resto di tengah hutan yang punya banyak hiddem gem dan spot foto estetik. Letaknya di atas bukit memungkinkan kita bisa dengan leluasa mendapati hijaunya hutan sejauh mata memandang dan kilau lampu kota Medan di malam hari.

Suka, adalah sebuah rasa yang pertama kali muncul ketika kaki saya baru saja menapak di area parkir. Pada suasana sore yang mendung, yang tampak adalah kabut tipis di atas deretan pepohonan hijau. Angin dingin menusuk sampai ke tulang tak menghalangi langkah ini berjalan menuju sisian tebing hanya untuk memandang luasnya hutan basah. Suasana yang langka saat ini…

Di area parkir, terdapat sebuah bangunan semi terbuka, tampak beberapa orang duduk santai dan bercerita mengelilingi sebuah meja dengan masing-masing secangkir kopi di atasnya. Sebuah suguhan kopi yang nampak tak biasa. Terdapat tungku kecil di bawah cangkirnya. Meskipun unik, tapi sebagai orang yang ngga terlalu hobi dengan kopi, saya sedikit mengabaikan.

Saya lebih tertarik dengan bangunan penuh lampu neon yang ada di balik hutan pinus estetik di depan saya. Kabut bukan hanya menutupi hutan di bawah sana, tetapi merasuk sampai ke pepohonan pinus di sisi kanan dan kiri jalan setapak menuju bangunan yang bikin saya penasaran itu. Berjalan di tengah hutan pinus yang berkabut begini, saya jadi berasa seperti sedang syuting film Twilight, haha. Artinya, saya sedang berada di tempat yang paling tinggi saat itu.

Jalan setapak ini memang berada di antara hutan pinus. Pada beberapa titik, lampu sorot diletakkan dipangkal batang pohonnya. Jadi kalau menjelang gelap apalagi cuaca mendung berkabut, sinarnya temaram menambah kesyahduan suasana. Suka sekali…

Di ujung jalan setapak, saya masih bertemu sebuah selasar berlantai beton masih dengan hiasan lampu neon mengikuti polanya yang meliuk-liuk. Dibatasi dengan dinding rendah, sisi kanan masih dengan hutan pinus yang sama, sementara sisi kiri adalah kebun yang ditumbuhi beberapa jenis tanaman, salah satunya pohon kopi.

Semesta Nusantara Sibolangit

Kalau saya simpulkan sejak dini, berada di tempat ini sepertinya makin sore makin cantik. Saya berasa seperti dihipnotis. Ambiencenya enak, romantis, syahdu dan dibikin betah. Meskipun letaknya di ketinggian hutan belantara, saya yang penakut ini ngga ada ngerasa horor atau merinding sama sekali. Tumben…

Kafe yang menyatu dengan alam ini punya beberapa spot andalan. Selain indor, tentu saja ada area outdor yang jadi tempat pavorit semua pengunjung. Alunan musik Chill ngga bikin obrolan kita terganggu meskipun suaranya terdengar santai memenuhi seluruh ruangan. Pentingnya memilih genre musik yang tepat menyesuikan suasana supaya pengunjung tetap nyaman berbincang, kan?

Sebelum hujan turun semakin deras, saya sempat melongok sejenak sebelum memilih tempat duduk. Sengaja melewati area indor dan semi indor karena tentu saja ingin menengok area outdor yang setelah dilihat langsung, saya ikut setuju dengan review-review yang berseliweran di beranda. Tempat ini enak sekali untuk bersantai. Mau sendirian, berdua, atau rame-rame. Mau sendirian bengong, sambil kerja atau emang untuk seru-seruan semuanya cocok.

Ada empat area oudor di lantai dengan ketinggian yang berbeda. Satu lantai di bawah indor, sebuah area setengah lingkaran berpagar layaknya panggung menjadi area outdor yang paling tinggi posisinya. Di area ini banyak meja dan kursi panjang tersusun rapi. Disetiap tiang pagarnya, berdiri lampu hias dengan tiang kurus tinggi dan ujung tiang melengkung menghadap ke bawah.

Turun satu lantai melalui anak tangga setengah lingkaran, adalah area api unggun. Yup, meski sedang tidak berkemah, kita tetap bisa menyaksikan api unggun dengan tungku khusus yang sengaja diletakkan di tengah-tengah tempat duduk pengunjung. Tungku ini tentu saja sangat membantu menghangatkan tubuh sekaligus suasana.

Turun satu anak tangga adalah area tengah. Di sini dudukannyawarna warni ala-ala bali dengan meja rendah yang sejajar dengan kursi. Kedua area ini tanpa pagar pembatas. Hanya ditumbuhi beberapa batang tumbuhan sejenis pakis sarang burung. Hati-hati bawa anak-anak di area ini, harus bener-bener diawasi.

Sementara kalau turun melalui selasar kecil tanpa anak tangga atau sejajar dengan area tengah adalah area outdor bawah pada sayap kiri dengan pagar dan lampu hias yang sama dengan area atas. Bedanya di sini berlantai rumput sintetis hijau dan dudukan bean bag warna warni. Yang mau lesehan atau gegoleran boleh di sini. Area ini berbatasan langsung dengan hutan di bawahnya. Di sisian pagarnya ditanami ilalang merah yang kalau kena angin liukannya menenangkan.

Sayangnya, saya kesana dimusim hujan bikin saya ngga bisa eksplor area outdornya. Saya kembali ke area semi indor dan memilih duduk di depan dapur pizza. Benar saja, masih sebentar duduk, hujan turun semakin deras.

Area Indor dan semi outdor letaknya berseberangan. Indor pada ruangan yang ngga terlalu luas, tapi di dindingnya ada jendela kaca besar yang membuat ruangan tampak lega. Viewnya langsung ke area outdor dengan pemandangan hutan hijau. Terdapat masing-masing pintu pada kedua sisinya. Satu sisi menuju area semi indor, dan sisi lain menuju teras outdor yang juga berfungsi untuk duduk santai.

Sementara ada dua area semi outdor yang beratap fiber transparan dan diberikan serat seperti ijuk. Tergantung lampu hias di beberapa titiknya. Area pertama di sisi kiri pintu masuk utama. Ruangan ini cukup luas dengan banyak meja dan tempat duduk berhadapan dengan mini bar. Meskipun pencahayaannya temaram, tetapi ini pula yang bikin suasananya jadi hangat. Apalagi viewnya langsung perbukitan. Jadi keinget saya pernah baca artikel di blog mbak Dian Restu Agustina tentang cafe di Malang yang viewnya perbukitan juga. 

Dapur Pizza Terbuka

Di sebelahnya, area semi outdor lain yang di depannya ada dapur terbuka untuk mengolah pizza. Kita bebas menonton chef mulai dari membuat adonan sampe membakar pizza asli di depan mata. Konsep open kitchen ini memang bukan satu-satunya di sini, tapi saya baru kali ini menyaksikan langsung cara pembuatannya. Menarik sekali…

Related Post: Gundaling Farmstead Resto, Konsep Farm to Table

Tadinya niat kesini memang mau makan malam dan rencana mau makan ayam bakar yang tertunda karena ngga tersedia Sekar Ayu. Tapi karena masih sore dan masih kenyang, saya cuma pesan snack pisang keju dan kentang goreng wedges. Ngga disangka porsinya ternyata gede.

Kami masih menunda pulang berharap hujan reda sampai selesai isya. Ternyata hujannya malah makin lebat. Lagi asik ngobrol, kami disamperin seorang pria. Kepalang tanggung ajak gabung sekalian. Dari kenalan singkat, kami akhirnya tahu pria ini bernama Bang Aris sebagai pengelola Kafe Semesta Nusantara. Belum lama ngobrol, kembali seorang pria menghampiri. Bang Sahat, yang ternyata pengelola Kafe Sekar Ayu.

Dari mereka berdua pada akhirnya kami banyak tahu tentang kafe yang ada di sepanjang jalan Sikeben ini. Dugaan saya di awal berkunjung ke Sekar Ayu pun terjawab. Jadi benar, Nusantara Healing & Chill, Sekar Ayu Nusantara, Kala Mounth dan Semesta Nusantara berada dalam satu grup. Pantesan…

Dan masing-masing kafe ada segmennya sendiri, loh. Kalau Nusantara Healing & Chill khusus untuk penyuka aktifitas malam dengan musik jedag jedug, jadi bukanya sampe jam 4 pagi. Kalau Sekar Ayu, menawarkan hidangan jepang dengan view kebun bunga, sementara Kala Mount cocok untuk penggemar kopi karena disini ada kopi pasir, dan terakhir Semesta Nusantara dengan aura magisnya menawarkan ketenangan dan kenyamanan.

Salah satu yang berkesan adalah, mereka berdua selain ramah dengan pengunjung, juga sangat terbuka dengan kritik dan saran. Termasuk perihal nasi keras di Sekar Ayu yang ternyata ada sebab musababnya dan musolah yang terlalu sempit di Semesta. Sampai pengadaan camping ground / glamping dengan aktifitas jungle tracking dan berkuda yang sedang dalam rencana. Atraksi ATV udah ada, kalau ditambah jeep offroad atau sekalian VW Safari bisa bikin wisata All in One, nih. Semoga segera terealisasi supaya yang mager pulang kayak kami bisa ada opsi menginap, kan, hehe.

Related Post: Jeep Sikabung kabung, Sensasi Offroad di Hutan dan SungaiSekar Ayu Sibolangit, Cafe Jepang dengan View Bukit

Belum selesai, dengan kondisi perut yang penuh dan snack yang masih tersisa kami masih harus menunda kepulangan karena diminta untuk menyicip pizza, gratis! Masyaaallah…

Ngga pake lama, seloyang pizza mendarat dan siap disantap. Hidangan yang masih hangat jadi santapan disuasana hujan dan dingin itu luar biasa enaaaak…

Semakin lama, obrolan semakin seru sampe ngga sadar pengunjung udah ngga ada lagi. Sebelum pulang, kami diajak ke area outdor untuk menyaksikan langsung pemandangan lampu kota Medan yang terlihat jelas dari tempat kami berdiri. Cantik sekali…

Kalau begini kapan lagi mau nyobain ayam bakarnya? Ini sih emang disuruh balik lagi ke Semesta Nusantara Sibolangit…

 

 

 

 

 

 

A simply mom.. About live, life, love and laugh...
Pos dibuat 413

Tinggalkan Balasan

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas
error: Content is protected !!