Jelajah Pasar Nusantara, Menelusuri Jejak dan Memori
Pasar tradisional bukan hanya sekadar tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk bertransaksi kebutuhan pokok. Bagi masyarakat Indonesia, pasar adalah jantung kehidupan, sebuah ruang publik yang jujur, dan museum hidup bagi kebudayaan lokal yang terus berdenyut. Hal inilah yang coba ditangkap dengan apik dalam buku antologi terbaru terbitan Annie Nugraha Mediatama berjudul “Jelajah Pasar Nusantara”
Buku ini merupakan hasil rekaman ingatan dari 21 kontributor dengan latar belakang yang beragam. sebagian besar adalah perempuan dengan status ibu rumah tangga yang memiliki ikatan emosional kuat dengan pasar di daerahnya masing-masing atau juga yang pernah dikunjungi dan punya kenangan khusus tentangnya. Membaca buku ini seperti diajak berkeliling Indonesia tanpa perlu beranjak. Seolah turut menghirup aroma rempah yang tajam, dan membayangkan kita sedang menyaksikan riuh rendah tawar-menawar dalam berbagai dialek yang unik.
Nostalgia di Antara Ragam Aroma
Membuka halaman demi halaman buku ini, saya langsung disambut oleh tulisan-tulisan yang kental dengan nuansa nostalgia. Tulisan pertama malah langsung menceritakan tentang sayur lilin, nama sayuran yang baru pertama kali saya dengar dari tulisan ini. Meski penasaran, saya lanjutkan membaca tanpa mencari tahu lebih dahulu seperti apa wujud sayur lilin, manatau dari penjelasan singkatnya kebayang jenis sayurannya. Kali aja di Medan ada, tapi beda nama, kan?
Tapi bahkan setelah saya baca tuntas, yang kebayang malah batang sereh. Sereh yang biasanya hanya sebagai bumbu pelengkap, masa iya ini disayur? Aah, googling aja lah, ketemu gambar sayur lilin dan emang ngga ada sih keknya di Medan. Atau mungkin sayur ini hanya populer di Tidore. Pantesan Bu Annie, jauh-jauh terbang dini hari salah satunya demi menuntaskan rindunya akan sayuran khas ini…
Salah satu kontributor lainnya menceritakan pengalamannya saat remaja, menemani mamak membeli cabai, kentang dan sayuran hijau lainnya di Pasar Aceh. Ada sebuah cerita hidup yang jujur dan menyentuh dalam ceritanya. Kak Raihana Mahmud menggambarkan pasar tradisional Aceh masa lalu memang bukan tempat yang mewah, melainkan hanya bangunan dua tingkat yang sesekali bertemu lantai becek, aroma amis ikan, namun penuh dengan kehangatan manusiawi. Sebelum akhirnya dipugar menjadi pasar yang semakin layak.
Hingga akhirnya musibah Tsunami meluluhlantakkan semua kehidupan, termasuk Pasar Aceh. Tentu saja butuh waktu yang ngga singkat untuk Aceh kembali bangkit hingga akhirnya kembali dihantam badai tahun 2025 lalu. Aceh, kuat-kuat ya…
Pengalaman pribadi ini sangat related dengan saya. Saya jadi teringat bagaimana dulu, pergi ke pasar (di Medan, pasar disebut Pajak) adalah kewajiban setiap Jumat sepulang sekolah untuk bantu mamak bawain barang dagangan ke rumah. Imbalannya sederhana, jajan lupis atau cenil warna-warni yang dibungkus daun pisang dengan siraman gula merah jadi makanan kesukaan saya.
Dalam buku antologi ini, pasar tradisional masa lalu digambarkan seperti layaknya pusat informasi. Sebelum era media sosial marak seperti sekarang, pasar adalah tempat berita menyebar. Mulai dari obrolan soal harga bahan pokok, tempat menyebarkan undangan hajatan, hingga isu politik yang diperdebatkan di warung-warung kopi.
Related Post: Pasar Buah Berastagi, Kebanggaan Warga Tanah Karo

Jelajah Pasar Nusantara dari Sabang sampai Merauke
Kekuatan utama buku ini terletak pada keberagaman lokasinya. Ke-21 kontributor membawa kita mengunjungi pasar-pasar ikonik dari berbagai daerah yang masing-masing memiliki karakter dan ciri khas yang kuat:
-
Pasar Sarimalaha, Tidore, Pasar Tradisional Cimahi dan Pasar Rawa Belong adalah tiga tulisan dari Kontributor pertama. Saya memanggil perempuan bersahaja ini dengan sebutan “Ibu”. Bu Annie Nugraha dengan gaya menulisnya yang khas penuh dengan kosakata menarik membawa saya mengenal sayur lilin, meski saya pesimis bisa mencicipi secara langsung. Lalu dibawa pulang kampung ke Cimahi mencicip serabi dan kupat kemudian berakhir dengan bayangan aneka bunga warna-warni di Pasar Rawa Belong. Di pasar ini dalam benak saya keknya pasar paling wangi, alih-alih aroma amis atau rempah, ya, kan?
-
Pasar Cawang Kavling adalah tulisan dari kontributor ke-2 di buku ini. Adalah Mas Teguh Sudarisman sang empunya. Kalau dengar namanya, sudah pasti saya ngga akan melewatkan isi tulisannya. Ceritanya seperti hidup meski hanya mendeskripsikan sebuah pasar kecil yang menyempil di pemukiman. Meksi begitu, gambaran lengkap aneka jajanan dan makanan berat hingga gambaran warung-warung kelontong yang mengelilinginya serta keadaan pasar bagian dalam yang menjual bahan masakan mentah ini sempat luput dari perhatiannya hingga akhirnya beliau tersadar betapa indahnya hidup di dekat pasar, haha. Berarti Mas Teguh kurang pengalaman main ke pasar waktu kecil nih keknya…
-
Pasar Gerendeng, Karawaci mendapat tempat sebagai tulisan ke-tiga yang disetor si jagoan doodle, Bu Tanti Amelia. Tentang sate manis dan otak-otak Gerendeng yang pastinya kuliner lawas tapi masih tetap lekat dihati penggemarnya. Buktinya pedagangnya aja sudah sampe generasi ke-3
-
Pasar Legi, Kotagede diceritakan dengan sangat detail bikin saya rindu main ke Jogja dan main ke pasar tradisional. Dari tulisan Mas Salmanbiroe ini saya jadi tau asal muasal nama kue Kipo (Iki opo?). Bisa jadi kata “Kepo” berasal dari turunan kata iki opo juga kali, ya? haha, ngarang!
- Gambaran Pasar Aceh dari bangunan 2 lantai hingga menjadi Shopping Center yang lebih modern kemudian hancur lebur dihantam badai Tsunami, syahdan kembali dibangun dan berganti nama menjadi Pasar Aceh Baru, tergambar jelas melalui narasi yang diceritakan Kak Raihana Mahmud.
- Pasar Modern Santa, Jakarta berawal dari pasar tradisional kemudian bertransformasi menjadi pasar modern dengan fasilitas lengkap. Saking modernnya bahkan jadi tempat nongkrong anak-anak muda. Mbak Lala Rahman berpesan, jangan lupa sempatkan main ke Pasar Modern Santa kalo main ke Jakarta. Okes, siap!
- Pasar Beringharjo, pasar legendaris di Jogjakarta sudah pernah saya kunjungi kali pertama ke Jogja puluhan tahun lalu. Tentu saja sebagai pelancong, tujuan saya berburu batik murah untuk oleh-oleh. Waktu itu kulineran bukan bagian dari tujuan karena saya taunya Jogja ya cuma Gudeg doang. Tapi penuturan Mbak Ari Dian, ternyata aneka kudapan tradisional patut diperhitungan. Ada sate koyor, mie lethek, bakmi pentil, krasikan, dan sebagainya bikin saya bertekat kalau ke Jogja (lagi) mau nyobain krasikan.
- Pasar Buah Berstagi ditulis oleh saya sendiri, hehe. Jujurly, saya baru dua kali masuk pasar ini, tapi cukup berkesan karena memang saya suka blusukan ke pasar. Ciri khas pasar ini adalah susunan buah dan sayuran yang estetik dan menarik serta lokasinya berada di pusat kota wisata Berastagi menjadikan pasar ini bukan hanya sekedar pasar, tapi juga jadi tujuan wisata.
- Sajian Dawet dari Pasar Gede Hardjonagoro, Surakarta. Hani Widiatmoko bahkan memberikan sekilas ilmu bahwasanya es dawet ini merupakan minuman kesukaan Ki Ageng Pemanahan, pendiri Kerajaan Mataram Islam. Bahkan bagi masyarakat Jawa, minuman dawet menjadi bagian dari ritual upacara pernikahan. Kalo di kampung saya, seringnya ada di acara 7 bulanan.
- Pasar Burung Sukahaji yang ada di Kota Bandung ini salah satu pasar yang unik. Saya bukan penyuka hewan peliharaan, tapi mendengar kicauan burung apalagi di pagi hari yang cerah bisa bikin suasana hati membaik. Nah bagi pecinta hewan burung, kata Hani Widiatmoko ini merupakan surganya.
- Pasar Baru atau Passer Baroe ternyata salah satu pasar tua di Jakarta yang sudah ada sejak 1820. Dari gapura yang tertera di foto, pasar ini nampak gagah sekali. Meski Pasar Baru ini tak lagi baru, mungkin tergerus adanya pasar online tapi kenangannya abadi dalam hati Christin Lim.
- Setelah keliling pasar Pulau Jawa, kita dibawa nyeberang ke wilayah Balikpapan. Selain oleh-oleh, Pasar Inpres Kebun Sayur juga banyak menjual herbal yang berkhasiat bagi tubuh yang punya nama unik-unik. Seperti Akar Pasak Bumi, Daun Sambung Nyawa dan Akar Bajakah. Diberi nama kebun sayur karena menurut cerita penulisnya Utami Isharyani Putri, dulunya kawasan ini merupakan pemukiman warga yang penuh dengan kebun kangkung.
- “Saya tidak mau anak-anak lupa bau pasar, lupa bau ikan. Itu sama seperti lupa bau tanah sendiri” ucap Mama Ester yang ditemui Dian Radiata di Pasar Ikan Ngrimase, Tanimbar. Saya suka sekali dengan kalimatnya. Sederhana tapi mendalam. Ibarat orang tua yang ngga mau anaknya lupa kampung halaman.
- Saskia Ichnati bercerita tentang sebuah pasar mini yang buka 24 jam berada dalam hunian vertikal di kawasan Kalibata City. Kehadiran pasar kecil ini memberi wajah kehidupan pada menara beton, mengingatkan bahkan kebutuhan sosial ngga bisa sepenuhnya digantikan dengan kenyamanan sistem.
- Ada rasa sedih ketika mendengar kisah dari para pedagang pasar yang mengeluh sepi, omset menurun, sering nombok tapi mau ngga mau harus terus berjalan demi dapur bisa selalu ngepul. Begitu juga yang terjadi di Pasar Rakyat Cipanas, meski begitu, pengelola pasar sudah membuat program-program bagus untuk kemajuan pasar. Terimakasi kak Rurisa Hartomo, sudah menampilkan potret transformasi Pasar Rakyat.

Pasar Tradisional di Era Modern: Beradaptasi atau Mati?
Hampir seluruh tulisan di buku Jelajah Pasar Nusantara menggambarkan peralihan pasar ke refleksi masa kini. Ada nada kecemasan namun juga harapan yang tersirat. Tantangan pasar tradisional saat ini sangat nyata, serbuan supermarket modern serta kemudahan aplikasi belanja online.
Salah satu kontributor menyoroti bagaimana pasar tradisional kini mulai “bersolek”. Program revitalisasi pasar yang dilakukan pemerintah di berbagai kota mulai mengubah wajah pasar yang dulunya kumuh menjadi lebih tertata dan bersih. Namun, muncul sebuah pertanyaan apakah dengan menjadi bersih, pasar tradisional akan kehilangan “nyawa” nya?
Pasar tradisional adalah satu-satunya tempat dimana ekonomi dan empati berjalan beiringan. Di Supermarket, harga adalah angka mati, sementara di pasar, harga adalah sebuah negosiasi, percakapan, irama, dan persaudaraan.
Related Post: Pasar Kamu Pantai Labu, Perjalanan 1,5 Jam dan Diguyur Hujan
Kenapa Harus Baca Buku Ini?
Antologi Jelajah Pasar Nusantara ini adalah kisah inspiratif yang selain kaya akan sebuah kenangan juga dokumentasi. Di tengah gempuran modernitas yang serba cepat, buku ini mengingatkan kita untuk sesekali melambat. Ia mengajak kita kembali ke akar, menghargai keringat petani, dan merayakan keramaian yang jujur.
Bagi pecinta sejarah, kuliner, atau sekadar penikmat cerita humanis, buku ini adalah kompas yang akan menuntun kita dalam menyelami kekayaan Indonesia yang paling murni. Pasar tradisional tidak boleh mati, dan melalui tulisan-tulisan seperti inilah, keberadaannya akan terus dirayakan dan dijaga dalam ingatan.