Drama SPMB 2026 Berbuah Manis

Drama SPMB 2026 Berbuah Manis

Drama SPMB 2026 Berbuah Manis – Zaman saya SMP-SMA, tes masuk perguruan tinggi itu istilahnya UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Lalu zaman saya yang ujian udah ganti nama jadi SMPB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Setelah itu ngga tau lagi istilahnya apaan. Tahun 2025/2026, SPMB kembali dipakai tapi bukan untuk seleksi kuliah, melainkan masuk sekolah.

SPMB (Sistem Penerimaan Murid Baru)

Apalah arti sebuah nama? Hmmm bagi saya yang pelupa ini sangat berarti apalagi menyangkut 2 gen-Z yang ada di rumah. Beda istilah sedikit aja obrolan udah ngga nyambung dan saya bakalan dibuli dengan istilah “mama ngga seru”. Medsos saya kalau dibuka katanya isinya ngga seru. Lah iya lah, udah beda zaman. Saya masih suka pake lagu-lagu tahun 80-2000an untuk bekson reels. Sementara mereka udah K-pop dan lagu-lagu terbaru.

Saat anak-anak sekolah sekarang menyebut kelas mereka 7-12 aja saya mesti diem dulu sebentar. Mencerna sekaligus menghitung kalau kelas 7, berarti kelas 1 SMP (istilah zaman emaknya) dan seterusnya, Hahaa.

Related Post: Cuma Nama, kan??

Ketika saya mendaftarkan anak-anak ke SMP sekitar 2 atau 3 tahun lalu saja istilahnya masih PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru). Tahun 2025/2026 istilahnya sudah kembali berubah jadi SPMB (Sistem Penerimaan Murid Baru)

Ngomongin SPMB, kalian pada ngeliat ngga di medsos berbagai konten tentang drama-drama SPMB 2026 berseliweran di beranda? Khusunya yang anaknya mau masuk jenjang baru, pasti FYPnya kebanyakan tentang drama SPMB 2026 nih. Yang mau masuk negeri jalurnya berliku-liku, sementara kalau swatsa lurus aja dll dsb.

Saya loh, baru beberapa minggu lalu juga lagi ngalamin yang sama. Semuanya yang ada di konten emak-emak itu relate…

Drama Pencarian Sekolah

Bagi kaum menengah, pencarian sekolah ini sungguh sangat tricky. Tentu saja its all about the money. Punya uang banyak ga usah pusing-pusing ikutin drama SMPB sekolah negeri, tinggal pilih swasta yang paling bagus, daftar, lalu nunggu masuk sekolah.

Di Medan, salah satu sekolah swasta kedinasan dengan uang pangkal 50jutaan sudah ada yang booking untuk 3 tahun ke depan. Artinya, anak kelas 1 SMP (kelas 7) udah daftar ke SMA swasta itu.

Sementara untuk saya yang ngga punya dana lebih untuk masuk ke sekolah swasta terbaik yaa otomatis ngejar di sekolah negeri. Negeri pun, kalau bisa ya pilih sekolah yang terbaik, kan. Banyaak kok sekolah negeri yang bagus. Masalahnya sekolah negeri juga banyak yang ngincer, to?. Bukan hanya dari keluarga kaum menengah, bahkan orang kaya (biasanya anak pejabat) juga banyak yang ngincer sekolah negeri terbaik, meski harus mengeluarkan cuan untuk permulusan urusan dengan berbagai istilah, salah satunya “uang bangku” atau “anak titipan”

Nah, jalur titipan inilah yang merusak tatanan kuota. Yang harusnya udah penuh terisi sama siswa eligible, jadi harus mengorbankan satu bahkan puluhan eligible lainnya demi memberi bangku untuk si anak-anak titipan itu. Zalim ya? 🙁

So sad, KKN bahkan udah dimulai sejak bangku sekolah…

Drama SPMB 2026

Itu masih satu drama SPMB 2026, tapi itu pula yang bikin siswa dan orang tuanya dag dig dug ngga karuan. Sebab, menyingkirkan siswa eligible untuk diganti dengan siswa titipan ini parameternya apa. Apakah siswa dengan nilai terendah, atau yang jarak rumahnya paling jauh atau sistem cabut nyawa?

Bahkan tahun ini katanya sudah benar-benar bersih dari praktek jual beli kursi? Hanya pihak terkait dan Tuhan yang tau…

Oke kembali ke drama SPMB

Jadi tahun ini si sulung waktunya masuk jenjang SMA. Sedari awal dia memang udah niat masuk negeri jalur prestasi. Kebetulan dia punya sertifikat akademik dan non akademik. Salah satunya sertifikat olimpade yang eligible untuk mendaftar jalur prestasi.

Masuk negeri mana? Ngga nanggung-nanggung, incerannya SMA Negri terbaik pertama di Medan. Yes, SMAN 1 Medan atau biasa disebut Smansa. Selain terkenal dengan sekolah negeri terbaik dengan nilai tertinggi, alumni yang populer, juga terkenal dengan banyaknya jalur titipan dan didominasi anak-anak orang kaya.

Saya mendengarnya merinding, haha. Trauma dengan drama PPDB waktu masuk SMP (btw, saya ditawarin bayar 8 juta waktu itu) :). Karena pakai jalur afirmasi ngga bisa (karena ngga punya kartu bantuan), pakai jalur zonasi rumahnya terlalu jauh maka pakai jalur prestasi adalah jalan satu-satunya. Ternyata masi belum rezeki sekolah di SMP Negeri. Daripada keluar 8 juta, selain ngga ada uangnya, haha, juga ngga worth it dan ngga sesuai hati nurani, yess! Maka sekolahlah dia di SMP Swasta.

Tiga tahun berlalu (kalau kata orang ngga terasa ya), tapi emaknya yang tiap hari bangun sebelum subuh untuk masakin bekal, antar jemput, kadang gojek dan bayarin SPP ya terasa bangeet, haha.

Giliran masuk SMA, dimulai lagi drama SPMBnya.

Untungnya di MAN (Madrasah Aliyah Negeri), pendaftaranya itu lebih dulu dibanding sekolah negeri umum. Jadi sebagai antisipasi, saya daftarin dulu anaknya ke MAN. FYI, MAN ini kan di bawah Kementrian Agama, jadi mereka ngga pakai sistem zonasi. Semua siswa dari berbagai daerah diperbolehkan mendaftar dan melalui tahap seleksi (ujian).

Menunggu pengumuman di MAN, SPMB di sekolah negeri umum tahap 1 pun mulai dibuka.

Jadi ada 2 tahap SPMB di sekolah negeri di Medan

  1. Tahap 1 adalah jalur Afirmasi (keluarga kurang mampu), Domisili (Wilayah-wilayah yang sudah ditentukan) dan Mutasi (Perpindahan tugas orang tua khusus PNS dan angkatan, juga untuk anak-anak disabilitas dan korban bencana alam)
  2. Tahap 2 adalah jalur Prestasi Akademik dan Non Akademik

Keuntungannya, siswa diperbolehkan mendaftar dikedua tahap. Jadi apabila belum lolos di tahap 1, untuk kemudian masih bisa mencoba mendaftar tahap 2 (jalur prestasi).

Kebetulan di SMP, anak-anak saya dapat bantuan KIP, saya inisiatif mendaftarkan melalui jalur afirmasi di SMAN 1 Medan. Selang 3 hari setelah mendaftar, saya mendapat pesan whatsup dari salah satu guru/petugas pendaftaran yang menyatakan bahwa data si anak ngga ada dalam daftar penerima bantuan. Padahal bantuannya baru aja diterima akhir tahun lalu.

Saya diminta datang ke sekolah dengan membawa KIP fisik dan KK. Sekalian aja saya bawa buku tabungan dan surat pendukung lainnya. Sampai sekolah, berkas diperiksa dan petugas ybs melakukan diskusi dengan petugas lainnya. Alhamdulillah berkas dinyatakan diterima. Oiya, sebelum nyampe sekolah, saya minta anak saya untuk merekam semua percakapan kami, saking parnonya, hehe.

Menunggu pengumuman hasil ujian tahap 1, saya hanya bisa pasrah dan berdoa semoga ngga ada “syarat lain” yang diminta demi memuluskan proses ini.

Dihari lain, pengumuman di MAN akhirnya keluar dan alhamdulillah si anak dinyatakan lulus. Tapi yang jadi masalah adalah, beberapa siswa baru (termasuk anak saya), belajarnya ditempatkan di gedung dua, yang mana lokasinya sangat jauh dari rumah.

Mempertimbangkan banyak hal, termasuk biaya transportasi, uang jajan, biaya tak terduga, keselamatan (Medan kan lagi rawan kejahatan), fisik dan psikologi anak, kami memutuskan untuk mundur dari MAN. Dari segi biaya yang dikeluarkan setiap hari bisa setara dengan biaya sekolah swsta yang ada di sekitaran rumah.

Beberapa hari berikutnya, pengumuman tahap 1 di sekolah negeri umum akhirnya keluar dan unlucky, nama si anak ngga muncul, padahal semua nama pendaftar harusnya muncul baik yang lulus maupun tidak lulus. Dari beberapa saran, saya diminta untuk protes / melapor. Tapi ntah kenapa ngga saya lakukan. Alasannya, dari jarak rumah saja kami sudah kalah, lalu saya ngga memantau progres pendaftaran jadi ngga tahu nilai anak saya eligible atau tidak dll dsb.

BTW, emak-emak pada setuju ngga kalau saya bilang lebih berat membesarkan hati anak yang gagal? Beraat banget ituu. Di bibirnya sih bilang “its ok” tapi raut wajah dan kekecewaannya ngga bisa diumpetin.

Harapan satu-satunya untuk bisa masuk negeri adalah menunggu jadwal daftar tahap 2 melalui jalur prestasi. Sementara menunggu, saya jadi kembali survey sekolah swasta yang terjangkau, terdekat dan punya akreditasi baik.

Singkat cerita, tibalah waktunya jadwal daftar tahap 2. Kami memilih jalur prestasi akademik. Perhitungannya adalah berdasarkan:

50% nilai rapor + 20% nilai TKA + 30% bobot sertifikat akademik (olimpiade) = nilai akhir

Bahkan untuk sertifikat harus yang sudah dikurasi oleh pihak berwenang. Nilainyapun dibedakan antara juara 1 s/d 3, olimpiade berjenjang, individu atau beregu. Semakin tinggi jenjangnya maka semakin tinggi pula bobot nilainya dst. Sofar cukup fair…

Bismillah, semua berkas terupload dengan lengkap. Selang 3 hari, data baru tervalidasi dan namanya muncul di web. Setiap hari kami pantau untuk memastikan nilai si anak masih masuk kuota atau malah sudah tersingkir.

Kita singkat ceritakan aja yaa, hihii. Akhirnya tangal 26 Juni pukul 18:00 WIB, dikeluarkan pengumuman melalui web resmi disdiksumut. Pukul 8 malam, web baru berhasil kami buka dan Alhamdulillaah…

Langsung besoknya daftar ulang, beli baju seragam (yang “diharuskan” beli dari vendornya), sepatu, tas, buku tulisnya dll dsb. Kalau kata lirik lagunya Alm. Gusti Wibowo “Aaaaaaah, hari yang mantaap!” Langsung habis gaji emaknya hahaha. Habis tapi lega…

Gapapa, emang itu tugas orang tua, kan? Anaknya belajar, orang tua mengusahakan. Cita-citanya masuk UI (Aamiin). Dia bilang “kan mama yang nyuruh kami kuliah jauh-jauh”. Iya juga, berarti dia ingat saya pernah bilang “kuliahlah kalian yang jauh, merantau, kalau bisa ke luar negeri, ke negara yang makmur” (tapi dalam hati “asal pakai beasiswa ya” hihi)

Duh perjalanan masih sangat panjaang dan beraat bangeet. Allah pasti mampukan, Aaamin. Inhale Exhale, Bismillah…

Related Post: 5 Ide Kegiatan Mengisi Liburan Sekolah

Tips Lulus SPMB di Sekolah Negeri

  • Intinya, nilai rapor harus tinggi. Jadi usahakan untuk mengejar nilai rapor yang bagus sejak tahun 1 sekolah. Mau itu melalui jalur afirmasi, domisili apalagi prestasi, diminta mencantumkan nilai rapor 5 semester. Bobot nilai rapor ini paling besar soalnya.
  • Bangun portofolio dengan mengumpulkan sertifikat juara, baik akademik maupun non akademik. Lebih diutamakan yang juara 1, jenjang tinggi dan individu
  • Nilai TKA (Tes Kemampuan Akademik) juga harus tinggi
  • Jalur langit yang maha dahsyat. Masyaallah banget sih ini, Alhamdulillah Allahummabarik…
  • Oiya, pantau terus perkembangan / progres pendaftaran. Skrinshut hasilnya setiap hari. Catat nama anak sudah dirangking / urutan keberapa setiap harinya. Untuk jaga-jaga kalau ada indikasi kecurangan paling tidak kita punya pegangan sebagai bukti pendukung

A simply mom.. About live, life, love and laugh...
Pos dibuat 442

6 tanggapan pada “Drama SPMB 2026 Berbuah Manis

  1. Hem, saya ingat, sebelum umptn itu istilahnya sipenmaru. Haha, ketahuan banget saya angkatan jaman mana ya…. Gak pasti juga sih soalnya hanya kakak kakak saya itu yg ngalamin sipenmaru, terus jaman saya baru umptn.
    Kesini makin gak tau secara saya merantau ke luar negeri dan juga gak kuliah.
    Tapi diperkirakan bakalan pusing kalau saya ngapalin nya. Haha buat apa juga ya… Hanya ganti ganti istilah. Maksud dan tujuannya sama aja seleksi atau penerimaan murid atau mahasiswa baru
    Entahlah di negara kita tuh banyak sekali style tapi kualitas belum tau…

  2. Baca tulisan ini bikin ikut senyum lega sekaligus terharu .. Jujur aja kemaren si bontot nih yang terkahir drama hehhehehe… semoga ke depan semua udah pada kuliah udah beda lagi mindsetnya.

    Proses SPMB memang sering jadi fase yang penuh drama—deg-degan, overthinking, campur doa yang nggak putus-putus. Makanya saat akhirnya berbuah manis, rasanya bukan cuma soal hasil akhir, tapi juga tentang perjuangan, kesabaran, dan energi besar yang sudah dicurahkan sepanjang proses. Jadi berasa roller coaster emosinya ngga sih, Suci?

    Tulisan ini juga jadi pengingat manis bahwa di balik setiap proses yang bikin cemas, sering kali ada hasil terbaik yang sedang Tuhan siapkan pada waktunya.. big hugs Suciiii

  3. Jangankan nama dan singkatan Ci, dunia pendidikan tuh asek kali ganti-ganti program. Tiap ganti mentri ganti pulak programnya. Efeknya sampe ke buku dan peningkatan/ilmu bagi para pengajar. Di jaman saya, buku tuh nyaris gak pernah ganti-ganti. Bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Jadi biaya pendidikan tidak serumit dan semahal sekarang. Seragam sekolah juga praktis. Tak macam-macam. Sekolah begitu sederhana untuk dibahas dan tak bikin repot orang tua. Apalagi kudu daftar ulang dan terjebak dalam persaingan kek di jaman sekarang.

    Eh btw, jenis font yang ini jauh lebih bagus Ci. Lebih readable dibandingkan yang lama.

  4. Iya ya bener banget tulisan mba Suci tentang portofolio. Ini juga yg lagi dilakukan anak saya. Dia punya incaran kampus negeri yang dia idamkan. Sekarang sedang coba rutin ikut lomba demi bangun portofolio.

    Liat dia semangat, kita orang tua pastinya mendukung.

  5. MasyaAllah! Allahumma baarik. Selamat, ya. Semoga semakin semangat sekolahnya dan terus berprestasi. InsyaAllah tercapai keinginan kuliah di UI.

    Sistem peneriman murid baru berubah-ubah melulu, ya. Istilahnya juga gonta-ganti. Makanya saya lega banget ketika anak-anak saya sekarang udah kuliah semua. Udah gak lagi merasakan drama penerimaan siswa baru hihihi

  6. Saya baru tadi siang melihat postingan fotonya di IG, dan membaca ceritannya di sini. Alhamdulilah. selamat Cariss lolos di sekolah favorit yang diinginkan.
    dan memang masuk sekolah zaman now penuh drama ya, Mbak. Beda zaman dulu. daftar, NEM sesuai, lolos atau tidak sudah. Saya malah dulu daftar sendiri. Sekarang orang tua jadi ikut deg-degan juga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas
error: Content is protected !!