jalan dan wisata

Ini Bukan Kalibiru…

Udah ngga asing lah ya dengan nama Kalibiru. Iya, kawasan yang terkenal dengan gardu pandang berupa rumah -rumah pohon yang diberi papan penjajak dan bisa dinaiki menggunakan tangga. Hasilnya, selain bisa berfoto dengan view Waduk Sermo, kita bisa menikmati pemandangan alam hutan menoreh yang mengelilingi waduk tersebut dengan bebas dari ketinggian.

Untuk bisa merasakan itu semua, kita ya kudu ke Jojga dulu, kemudian berkendara sekitar 2 jam menuju Kalibiru. Hmm, jauh ya…
Lanjutkan membaca “Ini Bukan Kalibiru…”

jalan dan wisata · lovely kids...and famz

We Have A Very Simple Way To Be Happy (part 3) 

“Pulang ya Ci, minggu nanti anak-anak mau berenang lagi ke Tigaras, Oiya belikan kue tart karna sekalian ulang tahun Sofi. Ga usah yang cantik-cantik, yang penting kebagian semua!” 

“Oke, mak!” 

Ceritanya, memenuhi janji mamak ke anak muridnya mengaji. 

“Kalo dapat juara, nenek bawa jalan-jalan ke Tigaras!” 

Jadilah pada rajin latihan. Yang ayat pendek, Azan, Marhaban dan Nasyid. Alhamdulillah Azan dapat juara 2 dan nasyid dapat juara 3. Artinya janji nenek guru harus ditepati. 

Semangatnya yang mau berenang. Berangkat jam 10 tapi jam 9 udah pada dateng. Nenek guru masi masak bekal dan cucu-cucunya pada riweh masing-masing. Mandi? Ya ngga, lah. Kan mandinya disana. Lumayan, hemat air 😀 



PANTAI JESIKA, TIGARAS
Danau sih sebenernya, tapi mungkin kebiasaan masyarakat, pokoknya kalau ada airnya dan mirip sama laut, ya sebut pantai sajalah ya, hehe. 

Disepanjang pinggiran Danau Toba, banyak terdapat tempat yang disebut pantai yang dikelola dengan baik oleh masyarakat setempat ataupun pengusaha. Seperti Pantai Paris, Pantai Garoga, Pantai Jesika dan masih banyak pantai lainnya. Bahkan sudah ada penginapan saking ramenya pengunjung dari luar daerah. Bukan semacamhotel mewah atau cottage. Cuma kamar sepetak. Kadang disewa pengunjung cuma untuk tiduran para balita, atau ibu menyusui, solat, atau sekedar merebahkan badan dikasur. Karna letaknya memang tepat di depan garis pantai. Ya, Danau Toba yang luas itu, memang bisa dinikmati dari segala arah. 


Kami pilih pantai langganan. Pantai Jesika namanya. Pantai baru yang letaknya tepat di sisi kanan pelabuhan. Alasannya karna sepi. Maklum bawa gerombolan anak muridnya nan lasak dan aktif, mamak harus ekstra waspada ngawasin satu persatu. Orang tuanya kan ngga pada ikut, sudah pasti jadi tanggung jawab guru dong kalau ada apa-apa sama anak murid. Lagian karena letaknya persis sebelah pelabuhan, anak-anak pada antusias kalau liat kapal lalu lalang, apalagi kapal yang gede buat angkut kendaraan roda 4. 


Pas banget mamak dapat lapak yang strategis. Di bawah pohon ceri yang tumbuh rendah tapi rindangnya bukan main. Adem jadinya. Gelar tikar yang disewa dari pengelola, mamak jadi leluasa ngawasin anak-anak. 

Berenang di danau sebenernya ngga lebih enak dari pantai. Selain kedalaman air yang ga bisa ditebak, banyak batu, licin, airnya juga amis. Ya liat dong sebelahnya ada apa? Ada keramba ikan! Haha. Tapi, bukan melulu soal berenang yang dicari anak-anak. Melainkan keseruan mereka bermain. Main bola yang sengaja di bawa dari rumah, menyusun batu-batu, pasir, rumput laut, lomba melempar batu yang paling jauh dan menangkap ikan-ikan kecil. Permainan kampung lah.


Capek, dingin dan lapar? Istirahat sebentar, berjemur sambil makan atau ngemil jajanan atau popmi sambil menggigil kedinginan. Lalu, lanjut lagi berenang-renang. Ya, begitu sih keseruan ala-ala kampung. Kalau udah ketemu alam, gedget mah lupa! Paling perlu untuk fotoan doang :D. Selebihnya game-game yang dari playstore? Sejenis apa, tuh? :p


Berhubung ini pantai baru, belum terkenal da fasilitas hiburan atau bermain juga masih minim. Belum ada penyewaan Banana Boat, Perahu bebek, Trus yang terbang-terbang itu apa sih namanya? Haha. Tapi kalau mau ya bisa juga kok, disewa dari pantai tetangga sebelah. Banana boat 350 ribu (kemaren sempet cek harga) 😀 


Itu sebab, saya sukanya ajak anak-anak main di alam. Mereka ngga jadi egois, ngga mikirin diri sendiri, lebih bersosialisasi, lebih terbuka pikiran, lebih kreatif, badan ngga manja dan  yang pasti lebih sehat. Memang sih, kulit jadi dekil, hitam, gosong dan penuh luka. Ngga usah jauh-jauhlah. Saya sendiri dulu juga begitu. Tapi, saya jadi punya banyak kisah yang bisa diceritakan pada kawan dan anak-anak kelak bagaimana serunya bermain di alam. Betapa bangganya tinggal di desa. Bermain di air, ladang, sawah, bukit dan hutan.



Acara Potong Kue
Seminggu sebelumnya, Sofi, salah satu ponakan saya berulang tahun. Itu sebab, saya bawain kue tart untuk dibagi-bagi ke temen-temennya. Ya itu-itu juga anak murid mengaji mamak. Maklum, anak murid mengaji mamak sih, kebanyakan ya cucu-cucunya juga. Hahaa… 

Setelah puas main air, dan sebelum pulang diadakan lah acara potong kue da tiup lilin serta pembagian sedikit jajan-jajanan murah meriah.
Selamat ulang tahun Sofi. Diiringi doa dan harapan semoga rezeki anak solehah semakin luas, pintar, cerdas dan sukses. Aamiin…

Udah, gitu aja anak-anak udah seneng kok. Ga perlu mahal dan jauh-jauh kalau mau piknik juga. Kebersamaan yang bikin kita bahagia. Yes? 

Halo kawan… dari kami anak kampung. We have a very simple way to be happy 🙂

jalan dan wisata · Kuliner · Review

Kulineran dan Narsis Lagi di Resto Berkonsep Alam Pedesaan Bertajuk Resto Budaya

Ngga butuh rencana atau wacana-wacanaan lah kalau mengunjungi tempat yang lokasinya ngga terlalu jauh dari Medan. Selama ada angkot, lets go kita kemon aja, haha. 20 menit doang dari rumah. Jalanan lancar jaya ngga pake maceeeet, tau-tau udah nyampe.

20170122_174214
Tanda2ny

Yang tau atau pernah ke Tahu Sumedang di Tanjung Morawa, nah, Resto ini berada tepat di seberangnya. Sekali mendayung 2 pulau terlewati. Sekali brangkat, 2 tempat ngehits tersinggahin. Begitulah kira-kira gambarannya

20170122_174247
Penampakan Tahu Sumedang yang tersohor, merah2 diujung

 

Resto Budaya

Jarak antara gerbang ke parkiran dan restonya lumayan jauh (kalau jalan kaki), maksudnya lokasi resto ini sangat luas. Mirip komplek yang gerbangnya dijaga satpam kemudian harus masuk lagi sekitar 100 meter menuju parkiran. Berhubung lokasinya tepat di sisi jalan raya lintas Sumatera, jadi, kita ngga akan bising atau pusing dengan pemandangan kendaaraan berbagai ukuran yang hilir mudik saat kita sedang makan. Ya karn itu, tempatnya cukup jauh ke dalam. Sudah tentu nyaman.

20170122_174226
Pintu masuk

20170122_174033

Sisi kanan menuju resto, ada kebun buah. Baru deh sisi kirinya tempat makan. Kalau biasanya di resto lain itu letak lesehannya di belakang. Resto ini justru menempatkan lesehan atau pondokannya di bagian depan. Diantara lesehan dan resto indoor, ada taman mini. Disinilah tempat pengunjung ber narsis ria. Ada kolam ikan, rerumputan, pohon kelapa, juga berbagai bunga dan lampu taman yang menambah cantik suasana dimalam hari.

20170122_1726411
pondokan

20170122_1617361

20170122_172824
kolam ikan

Seperti resto bertema desa kebanyakan, resto ini pun selalu memutar lagu-lagu Jawa. Bahkan saat kami kesana, lagu yang diputar adalah lagu Barat dengan instrumen Jawa, sangat unik dan enak didengar. Menu yang ditawarkan juga beragam. Tapi karna saat kesana, perut saya dalam keadaan masih kenyang, jadi saya pesan sate ayam dan es lemon. Teman saya pesan bebek cabe hijau dan air kelapa jeruk. Bumbu satenya enak dan gurih. Tapi, dagingnya alot. Sementara bebek cabe hijau, temen saya kasi nilai 8 dari 10. Lumayan laa…

20170122_163521
sate ayam bumbu kacang
20170122_163849
bebek cabe hijau

Pelayanan yang ramah, cepat dan tanggap, menjadi nilai plus restoran ini. Seragam mereka juga cantik.

Karena kami kesana di suasana akhir pekan, sudah pasti padat pengunjung, datang silih berganti. Bahkan kami ngga kebagian duduk di lesehan. Tapi, makan di ruangan dalam juga ngga kalah seru kok. Cantik dengan desain klasik. Langit-langit yang tinggi serta beberapa lampu hias menjuntai membuat suasana lebih romantis. Kita tetap bisa memandang ke arah luar juga tetap bisa merasakan angin sepoi-sepoi.

Anak-anak juga bisa bermain di playground mini, yang ada di samping kanan ruang makan bagian dalam. Kalau kita berjalan ke arah kiri, ternyata masih ada ruangan lain yang dibatasi dinding tinggi, kemudian ada pintu yang diukir mirip ukiran Bali. Menuju kesana, ternyata masih ada area lainnya, area makan dan juga sepertinya arena bermain skuter. Sekitar 200 meter sih. Agak males harus jalan kesana juga 😀

20170122_172622
playground mini

Kalau bosen di kota yang pengap, sumpek dan macet, bolehlah agak menjauh sedikit kita ya…

jalan dan wisata · lovely kids...and famz

We Have A Very Simple Way To Be Happy (Part 2)

Saya lebih suka liburan yang di alam2. Ke mall, kalau bukan karna diminta nemenin, nonton atau ada yang dicari, ya paling sesekali bawa anak mandi bola. Kalau anak2 sih, pasti sukanya yang jenis playground ala2 mall gitu lah, ya. Yang ada perosotan, ayunan dll. Jadi, supaya anak2 saya ngga jadi manja apalagi kuper, sebisa mungkin saya biasakan mereka untuk main di alam.

Akhir pekan adalah saat yang paling saya tunggu. Apalagi kalau Jumat atau Senin ada angka merah di kalender, huaaaa bakalan libur panjang dan berlama2 di kampung. Hihii, kasian amat nasib karyawan.
Nah, momen liburan yang singkat itu sebisa mungkin saya manfaatkan untuk main sama anak2. Kapan lagi, kan ya? Untungnya lagi saya punya Mamak dan Bapak yang juga suka jalan. Diajak kemana2 jawabnya langsung, ayok! Apalagi Bapak, selalu siaga jadi supir, hihii. Makasi ya kakeek ❤
Kesempatan ini, kami diajak Bapak masih ke daerah puncak2. Gapapa ya nak, liburannya belum bisa ke Paris, hihi. Nanti aja Caca sama Cahyo ke Paris, pas kuliah aja dapet beasiswa ya, aamiin!
Puncak Penatapen Pintu Angin
Setelah bersiap, memakaikan anak2 jaket, penutup kepala, kaos kaki dan sepatu. Kemudian sekedar bawa cemilan, air putih di botol dan tak lupa kamera. Kami siap berangkat pukul 10 pagi. Cuaca masih adem, enak motor2an. Menyusuri areal perkebunan teh, kemudian persawahan dan kebun sayuran, diakhiri dengan panorama Danau Toba yang di sisi kanan dan kiri dipagari rumput ilalang. Sekitar 45 menit tiba di daerah Penatepen Pintu Angin. Jalanan menanjak dan licin, membuat saya hawatir di boncengan. Saya lebih memilih berjalan kaki, seperti biasa Caca selalu ingin ikut mamanya.
20161120_112752
Pemandangan Danau Toba Sepanjang Perjalanan
20161120_113622
Papan selamat datang sekaligus penunjuk arah sangat serderhana menuju Penatapan Pintu Angin
20161120_113544
Akses menuju Puncak

Mendapati sepetak hutan pinus, saya tak kalah girang. Saya kan, penggemar pohon pinus. tapi kami sempatkan dahulu memandang sepuasnya hamparan air nan luas dan tenang. Menghirup sedalam2nya udara sejuk yang sangat jarang saya dapatkan kalau di kota. Tak lupa berfoto. Angin kencang membuat saya menggigil. Sebaliknya anak2 sudah terbiasa dengan hawa sejuk, nyantai. Saya sampai hampir tak stabil berdiri dihembus angin kencang, haha. Dasar kurus! Bahkan memegang kamera pun, saya sempat limbung. Beberapa kali saya harus ambil foto berulang, karena hasilnya ngeblur.

20161120_112724
Hutan Pinus sedikit mendaki
 Puncak Penatapen Pintu Angin, salah satu objek wisata yang baru di daerah ini. Belum ada fasilitas apapun. Pengelolaan juga masih seadanya. Warga setempat yang mematok “uang masuk” sebesar 5ribu rupiah. Kebetulan saya hanya pegang pecahan 20rb, si adek tak punya kembalian. Ambil saja dek, gapapa. Tak saya persoalkan soal tarif ini, tak ada harganya dibandingkan pemandangan eksotis Danau Toba dari ketinggian, yang belum tentu bisa kita nikmati kalau saja tempat ini tak dikelola oleh mereka. Ada bangunan yang belum rampung dikerjakan. Kelihatannya mau dijadikan restoran. Tapi sayang, seperti terbengkalai pengerjaannya. Kalau ingin berlama2 disini, disarankan bawa bekal makanan dan minuman karena ngga ada penjualnya. Benar2 belum dikelola dengan maksimal, masih fresh!
20161120_110201
Candid (kakak beradik lagi akur)
20161120_113049
Bangunan Belum Rampung
Puas berfoto berlatar Danau Toba, saya menggiring anak2 ke sepetak hutan pinus. Sedikit mendaki untuk bisa sampai di hutan pinus. Itu berarti kami semakin berada di puncak. Semakin ke puncak, maka pemandangan semakin indah. Tak ada yang bisa diucapkan selain rasa syukur dan kagum atas ciptaan Allah. Bapak, selalu setia menunggu, santai makan kacang kulit, sambil mendengarkan musik dari hp nya.
20161120_111530
latar belakang Danau Toba
20161120_111746
Ndeprok di rumput
Bahagia tak terkira melihat anak2 berlari di alam bebas. Menangkap kupu2, tertawa dan bercanda serta bernyanyi. Saya sibuk merekam dan mengabadikan setiap momen. Lagi-lagi mereka menjadi kreatif dan ingin tahu banyak hal. Bertanya segala macam yang mereka lihat, seperti rumput jenis apa? Binatang apa? Kenapa lautnya besar sekali, Kenapa kapalnya menjadi kecil, Kenapa airnya berwarna biru, kenapa lautnya mirip seperti langit dsb. Saya kewalahan? Tentu tidak, tidak salah lagi! Haha. Jawab aja apa adanya yang penting nyambung dan mereka bisa paham.
20161120_111324
latar belakang Danau Toba
20161120_111709
gitu doong…akur! 🙂 (kelihatan gardu pandang yang letaknya paling puncak)

Sebenernya masih ada lagi gardu pandang yang letaknya lebih memuncak, mendaki lah sedikit lagi, tapi saat itu lagi ada beberapa orang laki2 sedang merokok dan suasana kurang nyaman. Cukuplah sampai di sepetak hutan pinus.

Merasa puas, kami segera beranjak pindah ke lokasi selanjutnya. Seperginya kami, menyusul beberapa rombongan mobil baru tiba. Semoga ini langkah awal memajukan wisata daerah Simalungun, khususnya Sidamanik.
20161120_113015
akses menuju puncak dan halaman parkir lebih mendaki (terlihat deretan mobil yang baru tiba)
Puncak Simarjarunjung
Selanjutnya, Bapak membawa kami menyusuri jalanan berpanorama Danau Toba kembali menuju puncak bernama Simarjarunjung. Yang ini sih, uda bolak balik anak2 dibawa kakek neneknya kesini. Tapi tetap saja beda rasanya kalau jalan sama mama. Kalau sama nenek lebih santun dan banyak duduk. Ya, maklum nenek2 gimana gitu kemampuan berpetualangnya. Kalau sama mama? Ah, payah bilang lah, haha.
Sebelum tiba di Simarjarunjung, kita akan melewati semacam rest area. Di kawasan ini, tidak ada gardu pandang, Restoran apalagi hotel. Tempat ini murni untuk persinggahan sementara. Tempat pengunjung berhenti sebentar sekedar untuk beristirahat, memandang hamparan air danau atau berfoto. Hanya pedagang jagung rebus, kacang dan bakso bakar yang sifatnya berpindah2 mencari keramaian karena dagangnya pakai motor. Oiya, tetap dipungut biaya parkir, loh. Tak masalah lah, ya. Mereka sudah bersusah payah menyediakan lahan kecil, serta bangku2 sederhana untuk kita dudukin. Semuanya terhitung murah bila dibandingkan dengan kepuasan menikmati alam yang maha gratis dari Pencipta.
20161120_114326
pengunjung singgah di “rest area”
20161120_114145
Latar belakang Danau Toba di “rest area”
20161120_114459
Adek Cahyo
20161120_115345
blusukan di perkebunan warga yang ada bangkunya

Ngga jauh beda dengan Puncak Penatapen, Simarjarunjung juga tempatnya untuk kita menikmati panorama sepuasnya Danau Toba dari ketinggian. Tentu saja dengan sudut pandang yang berbeda lagi. Simarjarunjung ini, sudah lebih dahulu dikelola. Sudah tersedia hotel beserta restoran. Di Simarjarunjung, kita bisa lebih leluasa menikmati alam. Hamparan rumput hijau yang bersih menjadi tempat beristirahat yang nyaman bagi pengunjung. Dibebaskan membawa makanan dan tikar, membuat kawasan ini menjadi tempat wisata murah bagi keluarga. Anak2 juga lebih leluasa bermain tanpa alas kaki. Bahkan bisa lompat sambil berguling dengan bebasnya. Memanjat batang pohon pinus yang tumbuh agak mendatar dan menjorok ke tanah, letaknya di tengah padang rumput pula. Mamak setiap kesini pasti tertidur, hehe. Ngga bisa dipungkirin karna selain hawa sejuk bikin ngantuk ditambah klo kita memang bawa perlengkapan untuk tidur. Lagipula kondisinya sangat nyaman untuk beristirahat. Doanya cuma satu, jangan hujan! 😀

20161120_115738
Hotel sekaligus restoran di Puncak Simarjarunjung
20161120_120024
Banyak Main
20161120_115459
Danau Toba dari Puncak Simarjarunjung

Sayangnya, ngga ada transportasi umum menuju kawasan puncak ini. lagipula masing2 daerah sangat jauh dari pemukiman penduduk. Hanya dekat dengan ladang2 dan kebun, membuat lokasi ini sebelumnya masih terbilang jarang disentuh. Geliat wisata yang diharapkan mampu mendongkrak popularitas kawasan2 ini.

Ngga sampe 3 jam untuk bisa puas bermain. Kalau mau dilanjut sih, ya bisa banget. Hanya saja saya harus mengejar waktu balik ke Medan. Kami harus pulang segera. Di perjalanan anak2 kelelahan dan tertidur. Liburan lagi, kita pasti lanjutkan bermain ya, nak. Semoga kakek dan nenek sehat selalu dan mama cari uang lagi… 🙂
jalan dan wisata · lovely kids...and famz

We Have A Very Simple Way To Be Happy (part 1)

Waktu menunjukkan pukul 10 pagi saat kami tiba di wilayah Tanjung Unta. Kawasan wisata di Simalungun yang sangat, bahkan paling tenar di jaman-nya, sekitar tahun 90-an. Sementara saat ini sudah seperti tak berpenghuni, sepi. Kalah tenar dengan objek wisata tetangga sebelah. Hanya sesekali kendaraan melewati kami. Sudah pasti dengan tatapan aneh. Mungkin bertanya-tanya kenapa kami ada disitu. Duduk bertiga di pinggiran aspal. Istirahat sambil meluruskan kaki yang sudah lelah berjalan jauh, menurun dan mendaki, karena motor tak memungkinkan untuk dinaiki. Saya memperhatikan kakak beradik bermain rumput, mengejar kupu-kupu, makan roti, tertawa, dan berfoto tentunya.

20161212_1107451
capek ya nak…
20161212_1115151
selonjoran dulu…

Caca dan Cahyo, kalau dibawa jalan dan main, Alhamdulillah kompak. Tapi, kalau di rumah, akurnya cuma 5 menit. Sementara 55 menit yang lain diisi dengan peperangan. Bahkan tidur pun tak mau bersebelahan :D.
Kegiatan tersebut kami lakukan untuk membuang waktu selama menunggu Kakek (Bapak saya) mencari bengkel yang kami sendiri ngga tau berada dimana dan akan memakan waktu berapa lama.

20161212_1133591
kompak dulu klo mau difoto

Sebenarnya merasa hawatir karena kami berada di kawasan sepi. Penduduk sekitar terutama yang lewat dengan berpenampilan khas orang bermarga membuat nyali saya semakin ciut. Tapi, tak ada pilihan lain, saya harus bersikap seolah berani supaya anak-anak tak tertular ketakutan dan tetap bermain dengan gembira.

Saya sedikit kesal dengan Bapak karena dari awal sebenarnya Bapak sudah mengetahui ban motor dalam keadaan kempes tapi tidak ditindak lanjutin padahal sudah saya ingatkan. Ditambah lagi Bapak ntah kenapa harus lewat jalan yang tidak biasa. Sempit, sepi dan berbatu. Apa yang terjadi? Sudah pasti ban motor semakin kempes dan tidak mungkin membawa beban berat. Penduduk pun tak ada yang bisa dipinjam pompanya. Ntah memang tak punya atau memang tak mau membantu. Kalau mau daerahnya maju, sikap begini jangan ditiru nih.

Saya dan Caca terpaksa berjalan kaki sementara Bapak mengendarai motor dalam keadaan pelan bersama Cahyo. Tak lama Cahyo pun minta ikut serta berjalan kaki. Jadi deh, kami berjalan bertiga dalam keadaan riang gembira. Caca dan Cahyo tak berhenti bernyanyi padahal udah ngos-ngosan. Ya mau gimana lagi? Masa nangis sambil garuk aspal? hihi. Ya untungnya lagi, jalanan sebagian besar sudah beraspal. Coba kalo masi berlumpur, alamak!
Tak terasa sampe juga di Tanjung Unta.

20161212_1102501
trekking diaspal..
20161212_1103171
Jalanan aspal
20161212_1103351
Panorama Danau Toba di sisi jalan

Sekitar 1 jam menunggu, akhirnya Bapak datang juga. Rencana awal berenang di danau terpaksa ditunda mengingat hari sudah semakin siang dan saya pula mengejar waktu untuk kembali ke Medan hari itu juga.

 

Pelabuhan Tigaras

Bapak membawa kami ke kawasan tempat menaik turunkan penumpang kapal. Pelabuhan Tigaras namanya. Cahyo sangat antusias dan langsung turun mendekati salah satu kapal yang sedang berlabuh. Sementara saya sibuk teriak manggil-manggil karna hawatir itu anak kecebur. Maklum la ya, faktor U. Lagipula antara pinggiran / bibir pelabuhan itu dengan air danau, sama sekali tak ada pagar pembatas.
Ngga lama Caca ikutan lari dan mereka mulai bermain kejar-kejaran. Saya semakin hawatir 😀

20161212_1227521
Gerbang masuk pelabuhan

Antusiasnya mereka menyaksikan bagaimana petugas mengangkat motor2 dari bibir pelabuhan ke kapal feri, kemudian menyusunnya dengan rapi di setiap sisi kapal agar bisa menampung banyak muatan.

Kapal feri ini akan membawa penumpang menyebrangi danau terluas di Asia Tenggara ini, menuju Pulau Samosir dengan berbagai tujuan disana. Jarak tempuh sekitar 45 menit.
Kalau mau bawa mobil bole juga dengan menggunakan kapal yang lebih besar. Dan kapal2 ini mempunyai jadwal masing2. Jadi, mobil yag datang belum tentu langsung bisa diberangkatkan. Harus menunggu jadwal dan mengantri di area pelabuhan.

Kekesalan dan lelah tadi seketika hilang setelah melihat kakak beradik ini dengan riangnya bermain di pelabuhan. Ya, cuma pelabuhan kecil ala kampung. Bukan soal mewah atau tidaknya kondisi tempat berlibur, tapi kebahagiaan yang didapat dari berlibur adalah hal yang paling penting.

Banyak manfaat dari berlibur, khususnya untuk anak2. Selain kondisi psikologis, kedekatan satu sama lain, keceriaan anak2 itu hal yang sangat sederhana bisa kita dapatkan. Bukan hanya orang dewasa saja kan yang mengalami stres, anak2 juga rentan dengan stres. Saya sih, bukan pakar parenting. Tapi, kalau ngeliat anak saya moodnya jelek, atau senyumnya kian mahal, atau ngambek terus, saya pikir mereka sedang stres. Maka, setiap jadwal saya pulang, sebisa mungkin keduanya saya bawa berjalan2 ke alam bebas. Kenapa ke alam2? Walaupun saat ini banyak sekali arena bermain anak yang diletakkan dalam ruangan seperti di mall, lebih meriah, lebih cantik warna warni da lebih adem. Saya lebih seneng bawa mereka main ke alam bebas. Sudah taulah ya bedanya kena udara bebas dengan AC? 🙂

Tak apalah, sesekali main mandi bola di mall. Kalau keseringan kok kayak ngga kreatif amat emaknya :D. Walaupun sebagian besar anak2 lebih menyukai playground yang warna warni di mall itu. Alangkah lebih bagus lagi kalau playground nya diletakkan di alam bebas. Lagian masih banyak kegiatan lain yang bisa dilakukan anak2 kalau bermain di alam bebas. Pepohonan, rumput, bebatuan, pasir dsb bisa membuat anak2 lebih kreatif loh. Emaknya juga ikutan kreatif, 🙂

Salah satu manfaat psikologi yang paling saya rasakan adalah, anak2 lebih bisa menerima moment2 dimana kami harus berpisah kembali. Ngga ada drama queen tangis2an lagi kalau saya harus balik lagi ke Medan. Itu karena sudah diawali dengan kedekatan, sehingga tak merasa kekurangan waktu kebersamaan. Ayo, jauhkan anak2 dari bahaya kurang piknik 🙂

Tunggu cerita kami selanjutnya ya… 😀

jalan dan wisata

Santai di Penatapen

Cuaca Medan memang lagi nano nano dan ngga bisa ditebak. Sempat beberapa bulan lalu kalau malam selalu hujan badai dan akhir-akhir ini hujan turun malah kalau pagi. Tapi pagi itu, Medan sangat cerah campur angin sepoi-sepoi. Saya yang lagi sarapan dapet ajakan temen untuk jalan-jalan ke Berastagi. Yah, manalah saya mampu menolak ya kan haha. Cocok lah, udah selesai beres-beres, baru mandi pula dan langsung bersiap go…

Kalau ke Berastagi, saya sukanya perginya pagi-pagi. Karena selain udara masih segar, juga semangat masih cetar, matahari juga belum terlalu terik. Apalagi kalau udah nyampe daerah Sibolangit, kaca mobil enaknya dibuka aja. Ngga usah pake AC lagi. Menghirup udara sejuk pegunungan itu semacam terapi bagi saya. Rasanya saat saya manarik nafas dalam-dalam sambil mata terpejam, ada banyak udara menelusup dari pori masuk ke rongga paling terdalam. Begitu saya buka mata, kok spontan bibir menyungging senyum. Ntahlah apakah udara pagi itu mampu mengusir segala galau yang ada dalam raga. Haha. Udara yang langka di kota Medan.

Medan – Berastagi, kalau berjalan santai hanya memakan waktu sekitar 2 jam. Enaknya sih jalan santai ya, kan ngga ada yang diburu. Sebelum sampai ke Berastagi, akan ada banyak tempat seru yang bisa disinggahi. Diantaranya Hill Park / Green Hill Sibolangit. Ini tempatnya wahana permainan. Anak-anak pasti suka. Nanti bakalan bawa Caca dan Cahyo kesini,  karna kebetulan Cahyo belum pernah. Bisa juga kita anggap semacam rest area karena ada banyak tempat untuk bersantai atau beristirahat seperti tempat makan dan taman -taman. Selain juga pemandangan yang cantik bisa dibikin latar berfoto. Sekitaran 300 meter ada sebuah resort bernama The Hill juga bisa disinggahin. Ngga perlu menginap karna tempat ini bebas didatangin pengunjung untuk sekedar melihat-lihat. Ada banyak burung flamingo, dan aliran sungai sekitar resort. Penataan yang indah tentu saja ingin kita abadikan dalam sebuah foto. Foto lagi foto lagi :D. Mau ke ala-ala pagoda di Thailand sana? Di Sibolangit ada kok. Taman Lumbini namanya. Dulu, masih awal-awal ini dibangun, saya foto disitu dikira temen saya, saya udah nyampe Thailand aja haha lumayaan. Ada lagi Mickey Holiday. Lokasinya dipuncak jadi bisa memandang hampir seluruh daerah Tanah Karo dari ketinggian. Disini selain ada hotel berbintang, juga ada wahana permainan di satu tempat yang sama. Jadi pengunjung bisa nginap sekaligus bermain. Agenda juga nih untuk Caca dan Cahyo. Kalau pingin yang lebih tenang lagi, ada Vihara namanya Vihara Budi Shanti letaknya di Peceren. Wah suara gentian anginnya juga bisa dibikin semacam terapi. Dan memang pada saat itu mereka menyediakan aroma terapi yang bisa dibeli pengunjung. Ngga tau ya sekarang masih bebas masuk atau ngga.

Akan ada banyak sekali wisata pemandian alam dan sungai yang akan kita lewati. Seperti Sembahe, Pantai Tirta, juga pemandian air panas SiDebuk-Debuk dan sungai-sungai lainnya yang tak bisa saya sebutkan semua. Karena saya ngga tau tentunya :D. Ya abis gimana kan masa muda jaman blusukan udah berlalu haha. Sekarang tempat wisata alam sudah menjamur dan lokasinya juga di pedesaan yang susah dijangkau. Tapi yang begitu pula yang mantap.

Bagi saya yang awam ini, ke Berastagi ya taunya cuma Penatapan, Gundaling, Bukit Kubu, Tongging dan Sipiso-piso atau Taman Simalem. Dan beberapa tempat-tempat lainnya. Saya memang suka ke Berastagi. Bisa dibilang ini tempat pavorit saya di Sumut. Sempat waktu itu pas keluarga masih komplit, ke Berastagi jadi agenda setiap weekend. Lah wong dalam waktu setengah hari juga bisa kok PP, dan ngga perlu biaya yang besar. Berastagi, tempatnya menenangkan dan udaranya itu bikin kita segar kembali. Selain itu saya suka tempat yang ngga terlalu ramai. Kalau lagi suntuk bisalah datang ke sini.

img-20161023-wa0004.jpg
Latar Belakang Gunung Sibayak
img-20161023-wa0015.jpg
Latar belakang gunung Sinabung yang tak lagi hijau. Tertutup abu vulkanik…

Tak lengkap rasanya kalau ngga singgah ke Penatapen. Ini juga salah satu rest area yang wajib bagi pengunjung kalau mau ke Berastagi. Apa ya istimewanya? Ngga ada sih, ngga ada taman, kolam renang, atau kebun-kebun. Hanya karna mungkin letaknya di ketinggian sudah pasti hanya pemandangan hijau Hutan Bukit Barisan terhampar luas. Memandang sampai titik terjauh itu bikin saya tenang. Pupil mata seolah-olah ikut melebar. Ditambah monyet-monyet liar bergelantungan dan terkadang tingkahnya bikin lucu sekaligus menegangkan. Pengalaman kami waktu itu beli jagung bakar, eh dicolong monyet. Dan, alih-alih pemilik warung mau ganti rugi yang ada kita yang bayar jatah si monyet haha. Ya bener juga sih, monyet itu kan ngga mereka yang piara. Lagian kan sebenernya kita yang numpang singgah dihabitatnya. Anggap sajalah kompensasi, piiiss ya nyeet :D. Pokoknya jangan sampai kita ceroboh dengan meletakkan makanan dimeja, atau akan dirampoknya kecuali kita memang udah rela. Dan, kedatangannya pun disaat-saat yang tak terduga. Kadang bikin kaget, tau tau nongol di depan kita dang bilang ciluuuuk baaa! Hehe ngga deng. Seakan ia sudah mengintip lebih dulu dan tau kelalaian kita Haha. Hewan yang cerdik. Tapi jangan memandang ke arah bawah ya, karena pemandangan akan dirusak oleh tumpukan sampah. Mulut saya yang jabir ini pingiin aja negur kalau liat orang buang sampah asal lempar aja sembarangan. Bagi saya sendiri kok rasanya ngga tega buang sampah sembarangan. Apalagi tempat seindah itu.

20161022_135244
Monyet sedang beraksi

Di Penatapen, jangan harap ada makanan semacam spageti, burger ato ayam bakar, jus dan sebagainya. Hanya ada makanan jenis indomi dan jagung serta snack lain. Minuman teh, kopi dan bandrek. Udah itu aja. Dulu saya sempet pernah kepo ke pemilik warung, kok ngga ada makanan lain? ternyata karena memang ngga dibolehin. Semacam udah kode etik mereka sih ngga boleh jual macem-macem selain indomi dan jagung. Makanya, mereka menawarkan kenyamanan yang paling utama. Karena dengan berjejer warung-warung, dan menyuguhkan pemandangan yang sama sudah tentu pemilik harus lebih kreatif untuk bisa menarik banyak pengunjung ke lapaknya.

20161022_140023
Indomi + teh hangat… View Hutan Pegunungan Bukit Barisan

Warung Pak Kaban
Jalan-jalan lalu saya ajak teman saya singgah disalah satu warung disana. Letaknya paling ujung dan didominasi warna pink. Ngga ada plank nama. Ada sih tapi rubuh kata kakak pelayan itu. Namanya juga ribet dan susah disebutin. Dari ngobrol-ngobrol kami kemarin, warung itu milik Pak Kaban (Kaban adalah salah satu marga suku Karo). Jadi warungnya lebih dikenal dengan warung Pak Kaban. Warung paling cantik diantara yang lain menurut saya. Keuntungannya karena letaknya paling ujung dan lebih luas. Yang paling bikin betah ada pemandangan air terjun yang lebih dikenal dengan Air Terjun Sikulikap dan sungainya mengalir jernih disisi hutan. Dan itu bisa kita nikmati dari ketinggian tanpa halangan apapun dari warung ini. Udara segar dapat kita hirup, begitu juga matahari dapat kita rasakan secara langsung tanpa dihalangi oleh bangunan warung lain atau pohon-pohon.

img-20161023-wa0001
Sungai dari Air Terjun Sikulikap

Pemilik warung juga sangat pintar berkreasi dengan membuat semacam gardu pandang diujung bangunan. Dipagar batu dicat pink. Ada banyak coretan oleh pengunjung yang menuliskan nama-nama mereka. Di satu sisi memang ngga baik, tapi, kalau dipandang kok jadi berseni sih menurut saya hehe. Di sisi kiri yang lain mereka membuat tempat duduk dan meja dari semen juga di cat pink beratapkan pohon cemara yang ngga terlalu tinggi tapi cukup rimbun. Sangat asiklah untuk ngobrol-ngbrol santai dan bercengkrama. Apalagi diterpa angin kencang tapi sepoi-sepoi dan dinginnya menusuk-nusuk. eh ini gimana sih haha. Dibagian belakang, ada pondok beratap seng, lengkap meja dan bangkunya. Disini bagi mereka yang takut masuk angin kali. Ya yang ngga tahan sama angin kencang atau pada saat hujan tempat ini pasti diserbu. Dan bagian ini terdiri dari dua lantai. Sementara disisi kanan, mereka menyediakan kamar-kamar bilamana ada pengunjung yang ingin menginap. Kata kakak itu tarifnya sekitar 100 atau 150rb kalau ngga salah. Tapi dinginnya bikin keki. Ada permainan anak seperti jungkat jungkit dan ayunan jadi anak-anak ngga begitu bosen kita bawa kesini. Area parkir yang sangat luas juga jadi salah satu keunggulan warung ini. pokoknya warung paling ujung berwarna pink, nah itu lah dia.

Bagi saya, kalau ngga ada agenda lain, ya singgah ke Penatapen aja sudah cukup bikin rileks otak. Tetaplah jaga kebersihan ya, kita menikmati alam sudah seharusnya menjaga alam. Buang sampah ditempat yang sudah disediakan. Kalau ngga ada tempat sampah, ya kumpulin dalam satu wadah plastik sampai ketemu tong sampah.
Bawa baju hangat karna sewaktu-waktu pasti diperlukan. Payung kecil juga diperhitungkan dimusim hujan begini. Dan, pastikan batre kamera full yaa, hehe

Begitulah wisata alternatif murah meriah. Kalau orang Medan pastilah ngga asing lagi dengan Penatapen. Setujukan kalau ke Berastagi ngga lengkap kalau ngga singgah kesini? 🙂

jalan dan wisata

Pemandian Alam Aek Manik, Wisata Murah Akhir Pekan

Sabtu kemarin jadwalnya saya pulang kampung dan minggu paginya sebelum balik ke Medan saya ngajak anak2 serta para ponakan main2 di pemandian alam Aek Manik. Awalnya sebagian menolak, karna mereka lebih suka ke Bah Dam. Karna selain memang udah dikolam2in, mereka udah parno duluan dengan pengalaman ketemu banyak ular di kolam Aek Manik. Jadi menurut mereka yang didengar dari si penjaga kolam, ular2 itu ngga jahat. Mereka hanya “penunggu” yang ngga bakalan nggigit pengunjung, asal kitanya baik2 disitu. Ngga berkata kotor, ngga berbuat yang tidak senonoh dan hal buruk lainnya. Dan satu lagi, kalau kebetulan ular itu keluar kita ngga boleh sebut namanya sebagai ular melainkan sebut saja “tali”. Soal ini saya ngga tau ceritanya dan belum sempat cari tau. Tapi kalau ular tiba2 nongol apa ya sempet kita mikir mau nyebut tali ya? Udah pasti kesebut ular. Jarang2 ada yang sempet2 mikir, namanya juga spontan dan kaget. Singkatnya, karna saya yang bayar tiket otomatis harus ikut itenarary saya dong haha.

20161016_094757
Anak tangga akses menuju kolam
c360_2016-10-16-11-44-57-994
Pemandangan kolam dari salah satu anak tangga
20161016_104509
Ikan mas di kolam bawah jembatan
20161016_104313
Caca diantara Pondokan2 dikiri dan jembatan penyebrangan

Dianter kakak dan sepupu saya pake motor jadilah kami pagi itu menuju lokasi. Sengaja dateng pagi2 supaya ga terlalu ramai dan belum terlalu panas. Eh, ngga taunya sampe TKP udah banyak motor dan mobil berjejer. Masih jam 9 padahal.

Ngga ada semacam gerbang atau gapura atau pintu masuk atau sejenisnya. Terkadang orang pada nyasar jalan ke arah yang lain. Jadi tandanya cuma petugas jaga aja yang ngutip iuran masuk yang cuma 2ribu perak per orang. murah ya.. 🙂

Kita harus terlebih dahulu menuruni puluhan anak tangga untuk bisa sampe ke kolamnya. Dan benar saja udah rame yang berenang2. Ngga pakai lama ponakan saya langsung nyebur lengkap dengan kacamata renangnya. Maklum.. kemaruk baru bisa berenang :D. Saya yang masih bingung cari2 pondokan karna yang di bawah sudah penuh akhirnya memilih pondokan agak ke atas. Setelah meletakkan tas2 dan sandal, saya dan anak2pun segera turun karna saya udah pingin nyebur. Sayang Caca dan Cahyo ngga seheboh mamanya. Pada takut air kayaknya. Jadi keduanya cuma duduk2 di bebatuan nontonin kami bermain air. Ditambah Caca pada saat berdiri di bebatuan ngeliat ular itu muncul dan lewat dari sisi kakinya. Saya sempet cuek pada saat dia menjerit2 nangis ketakutan karna saya pikir cengengnya keluar. Nah pada saat saya liat ular itu meluncur ke air nyebrang ke arah pancuran baru saya ngeh. Ya ampuun, anakku udah kebingungan mau ngelak kemana dan udah hampir nyemplung ke air. Untung ada abang2 yang nolongin Caca dan menggendongnya ke tepian. Makasih ya om… langsung saya peluk Caca nenangin, padahal saya sendiri pun sempet panik pas liat ular itu lewat di depan saya. Untung ularnya ngga nggigit dsb, cuma numpang lewat. Iseng banget ya. Dan kejadian itu otomatis bikin anak2 dan ponakan makin parno. Syukurnya saya lumayan bisa yakinin kalau ngga akan ada ular2 berikutnya.

Aek Manik, konon dulunya adalah tempat mandi para Raja Damanik. Dan selalu ada petuah ngga boleh berkelakuan aneh2 kalau lagi main disini. Termasuklah para ular2 adalah bagian dari kisah itu.

Aek Manik terletak di desa Huta Lama Manik Maraja Sarimatondang, Kecamatan Sidamanik. Sekutar 4 jam dari Medan. Kalau baru pertama kali kesini memang agak sulit menemukan lokasinya. Harus sering2 bertanya pada warga setempat. Barulah kira2 500 meter ada petunjuk jalan sangat sederhana. Lokasi ini mulai kembali dikelola sekitar 2 tahun belakangan. Seiring hebohnya wisata2 alam yang terekspos di beberapa media sosial, maka Aek Manik pun ikut ambil bagian. Mengekor pada popularitas Kebun Teh yang sudah lebih dulu ngetop.

Sudah banyak pengunjung baik masyarakat setempat, atau perantau bahkan orang2 dari luar daerah yang sengaja datang untuk melihat jernih dan merasakan sejuknya air kolam.
Sebenarnya ini adalah sungai yang airnya berasal dari mata air. Namun karna tidak seperti sungai2 kebanyakan yang berarus deras. Sungai ini sangat tenang nyaris tidak terasa arusnya. Makanya terlihat seperti kolam. Airnya jernih tembus pandang sampai ke dasar. Dan memang bisa dikatakan dangkal. Paling dalam sedada saya. Tapi biar bagaimanapun anak2 tetap harus dalam pengawasan ya. Serunya lagi kalau main air disini ga terlalu takut kulit gosong karena ada atap alami dari pohon2 besar hampir menutupi seluruh kolam air. Sangat rindang dan teduh. Nah pohon2 besar inilah konon katanya tempat ular2 itu ngumpul. Hii serem juga kalau dipikir2.

Walaupun dingin, tapi bermain disini bikin betah. Menggigil kalau kitanya malah berada di luar air, mungkin karna ada hembusan anginnya juga. Tapi kalau udah nyemplung ngga terasa dinginnya. Ada semacam rakit ala2 yang bisa dijadikan mainan serta dua buah ban yang bebas digunakan. Dan air mancurnya bisa dibikin terapi. Banyak pengunjung terutama nenek dan kakek2 yang memanfaatkan air terjun untuk pijatan di punggungnya. Saking jernihnya air bahkan banyak yang foto sambil nyelam. Dan saya yakin kebanyakan pengunjung muda mudi tujuan utamanya adalah foto kekinian seperti itu dan langsung posting ke medsos. Ayo ngaku! Hahaha

Ngga lama nenek anak2 datang bawain bekal. Pas banget udahkelaperan. Bagi yang tidak bawa bekal, tidak usah hawatir kelaparan karna memang pasti akan lapar kalau udah main air apalagi udara cukup dingin. Ada beberapa warung yang8menyediakan makanan hangat seperti miso, bakso, mi goreng, popmi dll, juga berbagai minuman. Pondokan juga tersedia, baik di bawah dengan tarif 25rb sepuasnya maupun pondokan agak ke atas dengan tarif 20rb sepuasnya. Kami juga sempat pindah pondokan ke bawah. Selain gampang ambil barang atau istirahat, karna kalau di atas susah diawasin. Walau masih banyak kekurangan seperti toilet kurang layak. Atau malah tidak cocok disebut toilet. Belum ada ruang ganti pakaian dan Musolah yang layak. Jadi kalau ganti pakaian dimana? Kalau males ke toilet ya pake sarung aja ganti di pondokan sambil merem supaya ga keliatan orang2 haha. Dan tarif parkir yang lumayan mahal kalau menurut saya. Untuk motor dipatok 5rb rupiah. Wah, kalau segitu harusnya udah bisa pakai karcis dong. Berapa lagi kalau mobil ya

20161016_103907
Kura2 dalam ember

Bagi yang tidak ingin main air, ada beberapa kegiatan lain yang bisa dilakukan seperti memotret, melihat2 ikan mas yang berada di kolam agak ke bawah. Anehnya ikan2 ini ngga mau berenang ke arah atas (tempat orang2 main air). Betah aja gitu, serasa di kolam pribadi yang dikerangkeng. Atau bisa juga liat kura2 walaupun cuma 4 ekor diletakkan dalam sebuah ember. Atau ya sekedar jalan2 barangkali tau2 udah nyampe aja ke Aek Simatahuting. Salah satu kolam pemandian yang letaknya bersebelahan dengan Aek Manik yang memang kalau jalan dari arah belakang melewati parit2 dan rawa2 dan melewati duah buah batang pohon dipacak di sisi kanan dan kiri. Semacam batasan kali ya, dan ini disebut pintu haha. Nah Aek Simatahuting ini pun ga kalah ngetop dengan si Aek Manik. Terkenal akan airnya yang jernih dan dingin. Atau tau2 nyampe ke Bahdam. Pemandian yang udah dikolam2in. Anak2 lebih suka disini dan memang lebih cocok disini Karna ada 3 kolam dengan kedalaman berbeda2.

Semua kolam2 itu airnya berasal dari sumber mata air yang sama.
Nah begitulah wisata murah meriah milik orang Sidamanik. Saking sohornya bahkan sudah ada beberapa travel yang membuat tour wisata Sidamanik Simalungun yang memasukkan ketiga kolam itu sebagai destinasi selain kebun teh dan air terjun Bahbeak.

Bagaimanapun yang namanya alam pasti ada aja binatang2 yang bersembunyi dan memang disitulah habitanya. Dan keberadaan ular itu sudah sangat wajar apalagi berada di sungai. Jadi tak perlulah terlalu hawatir. Sekali lagi yang penting jaga sikap dan berkelakuanlah yang baik2 tak harus di sungai atau hutan tetapi dimanapun kita berada. Dan tetap jaga alam, kita menikmatinya sudah sewajarnya kita jaga kelestariannya sebagai timbal balik terima kasih kita pada alam dan penciptanya

Hyuuuk.. main ke Sidamanik 🙂

jalan dan wisata

Gudeg Wijilan Yu Djum

Pertama kali saya makan gudeg tahun 2005 juga pertama kali ke Jogja. Fasilitas makan malam dari hotel sebenernya. Wiiiih, baru masuk mulut udah saya lepeh. Ga doyan, terlalu manis, terlalu lembek dan kayak sayuran yang udah diangetin tujuh kali. Akhirnya Ilfil lah saya dengan yang namanya gudeg. Orang Jawa macam apa yah ini ga doyan makanan sendiri 😀

Nah malam terakhir di Jogja, temen-temen pada ngajak makan gudeg. Saya sih ikut aja tapi bertekad nanti pesen makanan selain gudeg lah. Iya sih bener juga kata mereka belum sah ke Jogja kalau belum makan gudeg. Yowes monggo…

Kami menuju daerah Wijilan, tapi sebelumnya muter-muter dulu di alun-alun. Berhubung malam minggu, rame lah lapangan itu dengan kumpulan manusia. Pingin ngerasain naik odong-odong tapi ga dapet parkiran, yang ada kami pun ikut berputar-putar nyari jalan keluar yang ga nemu-nemu. Ya masa cuma nyari pintu kluar aja pake google map? 😀

Singkat cerita, kami menuju daerah Wijilan melalui jalanan yang terbilang sepi tapi sangat bersih dan rindang. Saya belum nemu jalanan yang berlubang selama muterin Jogja, ntah karna kebetulan lagi beruntung atau memang seluruh jalanan Jojga sangat mulus.

Nah daerah Wijilan ini tampaknya memang sentranya para gudegers :D.  Karena sepanjang jalan hampir semuanya Jualan gudeg. Bingunglah milihnya. Tapi ada satu yang kata orang seniornya tukang gudeg hehee, yang namanya adalah gudeg Yu Djum. Di warung pertama kami sempet dicuekin loh dan terusir dengan sendirinya. Disebabkan tempat itu sudah direservasi oleh sebuah kantor dan setelah duduk nganggur sekian lama mereka baru bilang “gudeg nya ga dijual”, hiks sedih nian. Akhirnya kami pindah dan nemu lagi warung Yu Djum yang lebih gede dan petugasnya lebih ramah tamah. Alhamdulillah, masih banyak tempat kosong dan kami pesan makanan.

Ntah kenapa kok saya tiba-tiba pingin nyicip dan akhirnya saya pesan juga satu porsi yang paling sederhana. Eh, dirasa-rasa ga seburuk kesan pertama saya makan gudeg. Kali ini manisnya pas, pedesnya pas dan porsinya juga pas ditambah satu gelas teh di malam yang mendung dan berangin, nikmat sekali rasanya gudeg kali ini😀. Apa karna makan di warung dedengkotnya gudeg yang sudah tak diragukan lagi kelezatannya? Atau karena lapar? hehehe 

Selesai makan kami sempatkan cari oleh-oleh kayak ikan bandeng, dan macam-macam makanan lainnya. Lanjut balik ke hotel tapi bukan untuk tidur melainkan hanya mengembalikan mobil sewaan dan kembali berjalan-jalan ke Malioboro. Kebetulan hotel kami berada di kawasan Malioboro jadi cukup berjalan kaki untuk menikmati kembali Calung sebelum besok harus balik ke Medan. Pasti akan dirindukan. Seperti biasa saya menonton sendiri dan teman-teman yang lain berbelanja…

See u again Jogja

jalan dan wisata

Menikmati Malam di Malioboro

Makan malam kami kali ini masih di angkringan sekitaran stasiun Jogja. Tapi lupa apa nama dan lupa juga berfoto-foto. Tapi selalu sempat ambil jepretan di depan pintu gerbang stasiun kebanggaan warga Jogja ini. Barulah lanjut ke Malioboro.

Satu hal yang paling saya suka kalau lagi jalan di Malioboro pas malem hari adalah hiburan calung. Itu loh pentas musik jalanan semi profesional, hehehe. Ada gendangnya juga, dan yang paling mempesona adalah angklung beserta pemainnya. Kalau sudah belanja atau dapet apa yang dicari, atau kalau sudah dapet antrian berfoto di bawah plank “jl. Malioboro” hehe. Saya sampai takjub menyaksikan antrian yang panjang hanya untuk berfoto di bawah tiang bertuliskan “Jl. Malioboro”. Jadi rasanya belum sah ke Jogja kalau belum ke Malioboro dan berfoto di bawah tiang keramat itu. termasuklah kami ini, hahaha.

Disaat temen-temen saya pada naik delman, ada yang makan di lesehan, ada juga yang belanja dan daripada berjalan-jalan saya lebih memilih nonton musikal jalanan itu berlama-lama. Bagi saya ga bosenin. Ga kalah lah sama nonton orkestra haha *macam pernah aja! Dan yang paling penting, grateeess.
eiits tapi saya selalu kasi saweran loh 😀

Dan hiburan calung ini memang tidak konser tiap malem. Kalau ga salah cuma kamis malam sampe minggu malam. Jadi saya merasa beruntung ketika berada di Jogja hampir tiap malam bisa menyaksikan calung-calung ini. Ada beberapa kelompok calung yang mengadakan konser di sepanjang jalan Malioboro. Tapi yang menarik hati saya cuma kelompok Calung yang satu ini. Selain pemainnya berpenampilan rapi juga sedikit lebih ahli memainkan alat musik dibanding kelompok yang lain.

Itulah kenapa banyak yang kangen sama Jogja ya. Kota budaya nan anggun ini memang menghipnotis. Keramah-tamahan, santun dan kelembutan warganya juga jadi salah satu daya tarik tersendiri. Ketika berada di Malioboro kita akan bebaur dengan pengunjung dari segala penjuru daerah. Namun aura budaya Jawa yang kental tetap terasa. Kusir delman mengunakan pakaian khas Jawa bahkan pak polisi pun pakai blangkon (Nulisnya bener ga tuh?). Supir taksi dan becakpun mengenakan pakaian batik. Dan mereka menawarkan jasa dengan  cara yang sangat santun sekali. Di kota saya? Ah sudahlah 😀

Namun pada saat kesana, suasana masih semrawut. Masih ada lahan parkir dan juga kendaraan lalu lalang. Kalau sekarang kabarnya sudah steril ya?? Ah, smoga bisa dimudahkan berkunjung lagi ke kota kenangan Jogja.

jalan dan wisata

Terpesona Syahdunya Kalibiru

Pukul 8 pagi, selepas sarapan kami langsung bersiap menuju lokasi selanjutnya. Kali ini ke kawasan Desa Wisata Puncak Kalibiru. Kenapa memilih pagi hari? Untuk mengantisipasi saja karena selain kami sama sekali buta dengan jalur juga tanpa bantuan guide. Kami hanya mengandalkan google map. Siapa tau gambaran google map dengan kondisi yang sebenarnya kurang singkrong, atau bisa saja di tengah jalan ada satu hal yang menjadi halangan dsb sehingga kami masi punya cukup waktu untuk tetap bisa berkunjung ke Kalibiru.

Pagi itu cuaca begitu mendung, membuat kami hampir pesimis karena hari sebelumnya sempat gagal berkunjung ke Kaliurang karena dipertengahan jalan dilanda hujan deras nan mencekam. Kabarnya kawasan yang akan kami datangi sebagian besar adalah kawasan perbukitan yang menurut kami sendiri sih adalah rawan longsor dan banjir. Semoga ini cuma prasangka kami saja, bukan maksud menakut-nakuti pembaca loh ya. Baiklah lanjut, perjalanan kali ini sempat juga di dijatuhi gerimis namun Alhamdulillah tak sampai deras dan tak membuat kami mundur. masa jauh-jauh ke Jogja malah mau mundur dua kali gara2 ujan doang? huuuuuu….

Kawasan wisata ini berada di sebelah Barat Jogja. Sehingga kami berangkat dari Jogja melewati sisi stasiun Jogja kemudian melewati gerbang masuk Malioboro kemudian ke kanan menuju arah Purworejo. Sesekali kami berhenti untuk membuka google map memastikan arah perjalanan kami selalu benar. Tidak terlalu sulit ketika masih berada dikawasan Jogja, cukup mengikuti arah jalan menuju terminal Wates. Untungnya selalu tersedia penunjuk arah, sehingga memudahkan para pegunjung khususnya seperti kami yang baru pertama kalinya menuju kesana. Nah sesampainya di Wates, terus saja lagi menuju daerah Waduk Sermo. Sampai disana baru deh mulai keluarkan jurus terakhir yaitu banyak bertanya :D. Karena sudah tak ditemukan tanda-tanda sinyal dihp. Menuju Waduk Sermo, sepanjang jalan relatif sepi. Dikelilingi hutan di sisi kiri dan kanan jalan. Hanya sesekali berpapasan dengan pengendara lain. Sempet merinding juga siih.. tapi sejauh perjalanan syukurnya lancar-lancar saja. Hanya saya saja yang sesekali ragu, habisnya perjalanan serasa sangat jauh tak ada tanda-tanda mendekati kawasan yang dituju. maklum pinggang sudah pegal-pegal diboncengan.

Setelah melewati jalan berliku dan hutan-hutan tsb, akhirnya kami melihat penampakan baliho besar bertuliskan Kawasan Wisata Kalibiru. Saya spontan teriak kegirangan. Sudah ada seorang penjaga yang mengutip retribusi, murah saja kok hanya 3000 rupiah saja. Sekitar 100 meter melewati pintu masuk kami disambut dengan panorama danau. Inilah yang disebut dengan si Waduk Sermo itu. Indah memang, jadi sebelum dapat kawasan Kalibiru, terlebih dahulu melewati kawasan Waduk Sermo ini. Saya baru kali ini melihat waduk sebesar itu, dan memang kabarnya waduk inilah yang terbesar dikawasan kabupaten Kulonprogo. Hilanglah seketika rasa hawatir dan pegal-pegal setelah melihat baliho dan menikmati keindahan Waduk Sermo. Kamipun menurunkan kecepatan dan berjalan santai menyusuri jalan sambil memandangan hamparan waduk. Tak lama, sampai juga kami ke kawasan hutan lindung menuju Kalibiru. perjalanan masih butuh tenaga extra karena semakin berliku-liku dan akan semakin menanjak. Masih sepi tentunya. Jalanan yang sempit juga menjadi perhatian pengendara karena harus lebih berhati-hati di tikungan.

Kami hampir selalu berdoa-doa dan  mengucapkan salam ketika memasuki tikungan, selain untuk keselamatan juga karena sedikit seram dan ada kesan mistis yang kami rasain. Kami terlihat norak yah, hahaha. Ntah ditikungan keberapa barulah kami temukan petugas yang berjaga lengkap dengan rompi hijaunya. Mengantisipasi agar kendaraan, khusunya mobil tidak bersinggungan. Setelah berkendara sekitar 500 meter, kami temukan lagi petunjuk arah menuju Kalibiru. Setelah diikuti tak seberapa jauh akhirnya kami tiba pukul 10. Sesampainya disana cuaca panas menyengat. Kami istirahat sejenak sebelum memulai pendakian manual alias mendaki tanjakan dengan berjalan kaki. Tak disangka sudah ramai saja di Kalibiru jam segitu, sudah terlebih dahulu orang-orang tiba disana. Ternyata… menuju kawasan Kalibiru ada dua arah berbeda. Dan kami melalui jarak yang sepi. Pantesan lah ya terasa horor… hahaha

Pendakian belum selesai wahai saudara, untuk memasuki kawasan Kalibiru kita harus treking menanjak lagi loh. Sekitar 100 meter berjalan kaki. Nah saking menanjaknya, sampai ada jasa ojek segala. Bisa dibayangkan kira2 derajat kemiringannya?? Hahaha. Dan lagi2 saya merengek minta istirahat karena ga tahan, apalagi saya pakai alas kaki semi sepatu sejenis wedges yang walaupun ga tinggi tapi tidak cukup nyaman dipakai mendaki. Kamipun istirahat diteras homestay yang ada di sisi jalur treking tsb. Sempat ada adegan yang bikin kami terbahak2 saat jasa ojek pas lagi dipuncak tanjakan tiba2 ga narik, mungkin karena CC nya kurang besar ditambah sang penumpang berbadan sangat tambun. Sudah bisa ditebak akhirnya dipenumpang dipaksa turun dan mendorong motor sampai ke puncak. alih-alih bersantai dengan ojek, ini malah mendorong, hehe kasiaaaan. Ga tau deh tuh bayar ongkos apa ngga ya? Tapi kasian juga sih kalau sampai motor tiba-tiba mati dan meluncur ke bawah.

Ga mau berlama-lama kami lanjutkan lagi perjalanan menuju loket. Dipungut retribusi lagi ya, cuma 10ribu aja kok per orang. Sangat terjangkau. Iseng-iseng melihat denah dan bertanya pada petugas loket daaaan… masih sekitar 100an meter lagi menuju spot utamanya yaitu menara pandang. Apa boleh buat untuk menuju puncak keindahan memang diperlukan usaha yang kadang harus jatuh bangun. Eaaaaa 😀

Setibanya dipuncak sudah ratusan orang lebih dulu tiba disana. Panas semakin menyengat, untung saja udara disana sangat sejuk dan angin semilir tak berhenti berhembus, dan Danau yang menjadi objek utama pemandangan dari ketinggian itu adalah Danau Sermo (Waduk Sermo) yang tadi kami lewatin. Oiya sebelum berangkat, saya sudah diberikan tugas oleh teman saya untuk mencari tempat wisata yang bagus untuk dikunjungi. Saya langsung buka instagram dan mencari tagar explorejogja. Yang pertama kali saya lihat adalah foto seseorang yang sedang duduk di semacam rumah pohon yang sedang menatap danau dikelilingi hutan. Dari situlah saya mendapatkan referensi tentang Kalibiru. Benar saja  yang saya lihat persis seperti foto di instagram.

Untuk bisa berfoto di menara pandang tsb, kita harus rela mengantri dengan para pengunjung lainnya. Maklum saja karena memang itulah yang menjadi satu-satunya daya tarik pengunjung khususnya kawula muda yaitu berpose di menara pandang. Mengingat antusias pengunjung yang ingin berfoto disana, maka oleh pengelola disediakanlah kalau ga salah 5 menara pandang dengan lokasi dan tentunya sudut pandang yang berbeda pula. Namun tetap dengan latar belakang Waduk Sermo dan Hutan Menoreh tentunya.

Disetiap menara, ada jasa potografi. Kita bayar 10ribu untuk bisa mendapatkan nomor antrian, dan 5ribu untuk satu foto (yang nantinya akan diberikan berupa soft copy). Di menara pertama kami sempat menanyakan antrain, ternyata sudah antrian ke 42, dan kami memutuskan treking lagi dan mendapatkan antrian paling sedikit yaitu antrian no 17 di menara 4. Demi foto ya kakaaa, dan ini sangat penting, hahaha. Lamanya mengantri tergantung para model. Semakin rame dan semakin banyak variasi gaya maka semakin lama lah durasinya. Saya sebenernya takut dengan ketinggian, tapi untuk hal ini saya berhasil melawan. Selain memang pengelola mengutamakan keselamatan, jadi kita akan dipandu dan diawasi selama berada di menara. Dipakaikan pengaman berupa tali dan pengait yang diikatkan dipinggang. Seperti layaknya pemanjat tebing, juga sangat disayangkan kalau sudah jauh-jauh ke Kalibiru tak menikmati sensasi berfoto dan menikmati keindahan alamnya dari puncak menara pandang (pohon foto).

Pada saat saya berada dipuncak menara, seketika hilang rasa takut akan ketinggian. Malah sebaliknya saya terkesima dengan keeksotikan alamnya. Saya sampai mati gaya pada saat akan difoto. bingung mau pose seperti apa akhirnya saya minta diarahin sama tukang fotonya :D. Benar2 terpesona pada keagungan Tuhan, hanya perpaduan Waduk dan Hutan serta kreasi warga mampu menciptakan sebuah pemandangan yang menakjubkan. Ingin rasanya berlama-lama duduk (apalagi berduaan 😉 ), dipuncak keindahan alam itu. Kalau tidak ingat antrian dibelakang mungkin saya betah sampai sore bertapa disana hehehe.

Konon katanya kalau cuaca cerah dan sedang beruntung kita bisa melihat sebaris putih bersinar yang mana itu adalah deretan ombak Pantai Selatan. Dan lebih indah lagi kalau bisa menyaksikan senja menutup hari dengan sempurna. Tapi kalau untuk itu kita mungkin disarankan untuk menginap. Ada beberapa homestay kok yang bisa disewakan disini dan fasilitas lain yang lengkap seperti tempat makan yang beragam, mushola, aula pertemuan, toilet juga fasilitas permainan outbond seperti flying fox, hig rope game, titi kayu dsb.

sedikit tips dari saya apabila ingin mengujungi Kalibiru
1. Pastikan kendaraan dalam keadaan sehat dan kalau ada lebih baik yang berCC besar. Karena kondisi jalan yang menanjak tajam dan sudah pasti pulangnya adalah menurun jadi rem juga jadi perhatian khusus.
2. Pastikan bahan bakar kendaraan terjamin ketersediaannya. Berhubung yang kita lewati adalah pedesaan, jadi penuhkan tangki atau untuk mobil yang boros bahan bakar bisa bawa persediaan bahan bakar di wadah. Atau untuk sepeda motor jangan ragu untuk isi tangki dipenjual bensin eceran karena tidak akan ditemukan pom bensin
3. Datanglah pagi atau sore hari, karena suasana akan lebih dapet romantisnya dan sudah pasti tidak banyak berkeringat karena sengatan matahari.

Tidak ada salahnya kalau ke Jogja menyempatkan diri mengunjungi Kalibiru. Saya sendiri pingin balik lagi…

jalan dan wisata

Angkringan Gareng Petruk

Kota Jogja dengan segenap karyanya yang mampu menghipnotis siapapun termasuk saya. Mulai dari kentalnya budaya, suasana kota yang arif, keramahan warga, romantisme serta keragaman kulinernya. Sepertinya akan ada 8 dari 10 pengunjung yang mengatakan akan rindu kembali mengunjungi Jogja. Apalagi jika sempat meninggalkan sebentuk kenangan manis, hmmm…

Bicara soal kuliner, tak lengkap rasanya ke Jogja bila tak merasakan Gudeg dan Angkringan. Kali ini saya mau cerita soal angkringan dulu ya. Walaupun ini pengalaman pertama saya “nangkring”, tapi setidaknya saya membenarkan perkataan orang-orang lah untuk menyempurnakan agenda kunjungan ke Jogja ya kudu nangkring dulu.

Salah satu angkringan yang kami kunjungi adalah yang letaknya seputaran Tugu Jogja karena sebelum makan kami ingin berfoto-foto dulu di Tugu, tetep :D. Selesai berfoto-foto, menuju angkringannya kami sempet nyasar-nyasar dulu, seputeran keliling Jogja kok ga nemu-nemu. Akhirnya harus mengeluarkan jurus jitu Dora, google map, si peta mengarahkan kami balik lagi ke Tugu dan baru menyadari ternyata lokasi angkringan cuma sesebrangan dari Tugu. Paling sekitar 200an meter doang, Hahaha, maklum dalam kondisi sudah lafar mampu mengurangi konsentrasi.

Sebelah Selatan Tugu, bernama jalan Mangkubumi. Akan ada beberapa angkringan berderet, seinget saya di depan ruko perkantoran Harian Kedaulatan Rakyat. Dan kami melihat salah satu gerobak angkring yang rada heboh dan ramai. Heboh dari segi nama maupun tampilan gerobak dan para perkerjanya.Diberi nama Angkringan Gareng Petruk. Setelah memarkirkan kendaraan, kalau ngga salah kami sempet antri deh karena lesehannya yang penuh. Makanya saya sempet fotoin gerobak angkringannya, beserta menu makanannya. Yang membuat angkringan ini lebih menarik dari tetangganya adalah warna yang ditampilkan paling mencolok. Para pekerja dengan atribut tradisional pakaian khas Jawa berwarna merah cerah dilengkapi belangkon, senada dengan warna terpal alas duduk pelanggannya yang juga berwarna merah menyala juga gerobak mereka lebih mirip penjual es dawet. Tak berlama-lama kami segera memilih menu. Cukup membuat saya bingung selain lapar perut juga lapar mata. Nasi kucingnya saja ada berbagai macam rasa. orek-orek tempe, orek-orek teri, telur dsb. Sementara menu lauknya pun tak kalah beragam. Aneka sate, gorengan, juga aneka telur. sementara saya memilih menu dengan nasi orek tempe, dua tusuk sate ayam, dua tusuk sate kerang, bakwan udang dan kesukaan saya 2 buah ceker dan minuman air mineral. Kalau untuk orang Medan, segitu sih sudah cukup tapi dengan catatan nambah sebanyak 2 kali, atau 2 jam mendatang perut sudah lapar kembali hahaha. Setelah membayar kami segera mencari lapak. Untung saja masih ada sedikit tempat kosong dan segera kami isi.

Tak salah memang kenapa banyak orang-orang selalu menyempatkan mencicipi sensasi makan di angkringan. Semua kalangan berbaur menyatu dalam suasana yang berbeda. Mulai dari anak muda (seperti kami :D), orang tua, pasangan, keluarga, sekelompok muda mudi dengan berbagai pembahasan tentunya. Coba, kalau di Medan saya tak akan jumpai warung jenis ini. Walaupun duduk setikar, kadang pakai terpal, pinggir jalan, di trotoar, tak ada meja dan empel-empelan pula. Tapi hal itu lah yang bikin angkringan ini diserbu. Yang saya rasakan mungkin cara penghidangan serta sensasi kebingunan memilih menu yang serba imut-imut itu :D, juga suasana berbaurnya. Jadi jangan ngbrolin sesuatu yang rahasia ya diangkringan karena dijamin akan terdengar oleh tetangga. Bukan disengaja nguping tapi melihat kondisi duduk yang mirip pengajian ya mau ga mau memang segala obrolan akan terdengar. Mau bisik-bisik lebih ga mungkin lagi akan menghabiskan tenaga saja.

Soal harga cukup bisa dibilang murah untuk makanan yang bisa dipilih beragam menu untuk dinikmati sekali makan. Ya bisa jadi mahal juga kalau lapar mata semua diicip. Mengenai harga sih relatif lah ya, tergantung dari dalam, dalam dompet maksudnya.

Menyemarakkan suasana akan ada berbagai jenis pengamen jalanan yang akan mencoba menghibur. Mulai dari sekelompok pengamen dengan berbagai jenis alat musik dan lagu serta suara yang memang merdu, ada juga pengamen ala kadarnya yang bawa gitar doang nyanyi sekarepe dewe. Lalu yang paling dinanti adalah pengamen berwajah terlalu cantik dengan make up tebal bibir merah merona dan dada membusung menantang membuat bergidik, siapa lagi kalau bukan waria, hahaha.

Begitulah pengalaman pertama dan sensasi yang saya rasakan ketika menikmati makan malam diangkringan. Setiap orang pastinya akan punya kesan sendiri bagaimana menikmati suasana makan malam diangkringan. Tanpa terasa waktu berputar semakin larut, kami segera beranjak. Selain harus beristirahat mengumpulkan tenaga untuk petualangan esok hari, disamping itu ada seorang pengunjung yang sudah pasang pacak kaki menandakan tempat kami akan segera mereka gantikan. Hahaha.. begitulaah untuk menikmati sensasi angkringan pun harus mengantri

oya tips dari saya, sebelum nangkring bagi sebagian yang tak suka dengan asap rokok, disini kita harus tahan emosi, tahan nafas dan tahan banting yaa. Maklum dari berbagai kalangan berbaur termasuklah perokok berat. Jadi, kalau memang sangat ingin nangkring, bawalah masker atau sapu tangan atau apalah yang bisa menutup hidung kalian. Kalau mau makan ya terpaksa jalur buka tutup, hahaha ngerepotin yaa. Kemudian berhubung di angkringan tersebut tidak disediakan kobokan, jadi disarankan bawa tisu. Sebaiknya tisu basah. ada sih disediakan sendok, tapi masa iya makan ceker pake sendok? :D. Atau pesan air mineral deh khusus untuk cuci tangan juga boleh..

Teman-teman sensasi apa nih yg dirasain ketika makan di angkringan?

jalan dan wisata

Kaliurang tinggal Khayalan, Borobudur tetap Terkenang 

Hari II
Manusia hanya bisa berencana, namun Allah jua yang menentukan. Setidaknya ini pas sekali dengan perjalanan kami di hari kedua. Mungkin sekitar beberapa menit lagi sampai di kawasan pegunungan Kaliurang, tiba-tiba hujan deras mengguyur. Sampai banjir-banjir. Ntah kenapa nyali kami semua menciut tak berani melanjutkan perjalanan. Kami berhenti di sebuah warung sampai hujan sedikit mereda. Setelah berunding kami memutuskan untuk urung berkunjung ke Kaliurang. Yah, alasan takut longsor lah, atau banjir atau udara dingin mengingat Kaliurang adalah kawasan pegunungan. Tak apalah mengikuti kata hati selama berada dikota orang. Akhirnya kami putar balik menuju Candi Borobudur. Kawasan berikutnya.

Teman saya yang bertugas sebagai supir sangat pintar sekali membaca peta atau menganalisa jalan-jalan pintas. Hanya bermodalkan penunjuk jalan dan bermain logika saja kira-kira kalau lewat sini berarti tembusnya ke sini dan sebagainya. Eh beneran nyampe ga pake lama. Beneran cocok jadi supir 😀

Memasuki kawasan magelang sudah masuk pukul dua siang. Lagi-lagi hujan turun. Kamipun singgah di sebuah pondokan di tengah-tengah sawah untuk makan siang dan menumpang solat sambil menunggu hujan reda. Cukup lama juga turun hujan. Tapi tak apa karena pemandangan sekeliling tak kalah indah. Saya juga suka sama sawah-sawah.

Ngomong-ngomong, restoran ini nyaman banget untuk istirahat. Selain tempatnya berada di tengah sawah. Eh ga di tengah juga ding ya, di pinggir jalan, namun di sisi kiri, kanan dan belakang terhampar persawahan. Nah, untuk menikmati masakan ikan, pengunjung bisa dengan bebas memilih ikan yang akan dia makan. Karena kolam nya ada disekitar pondokan-pondokan. Mereka membudidayakan berbagai macam ikan langsung di sekitaran restoran. Sudah disediakan jaringnya, jadi tinggal tangkap sendiri. Seru kan ya? Jadi sambil nunggu-nunggu hujan reda bisa sambil memandangan persawahan bisa juga sambil lihat-lihat dan kasi makan para ikan di kolam.

Pukul tiga kami melanjutkan perjalanan menuju Borobudur. Tak sampai satu jam, kami pun tiba. Beruntung juga mengunjungi Borobudur disore hari, selain matahari tidak menyengat sudah pasti udara juga lebih sejuk dan ga terlalu ramai pengunjung. Dipungut biaya 30ribu per orang. Berbeda dengan wisatawan mancanegara. Hanya saja memasuki kawasan candi, kita harus “trekking” dulu nih kayaknya lebih dari 100 meter deh, belum apa-apa udah pegel. Kebetulan pas kita lagi kesana memang lagi banyak renovasi disana-sini. Sampai di candi pengunjungnya tinggal dikit. kami pun berkeliling dan berfoto. Sudah banyak perubahan semenjak bertahun-tahun yang lalu saya kesini. Niatnya mau nostalgia berfotoan di tanah lapang sebelah utara candi seperti bertahun lalu, eh udah ga ada lagi.

Dulu masih ada mitos kalau berhasil menggapai / memegang jari salah satu patung yang ada dalam stupa, maka segala doa bisa terkabul. Waktu itu saya sempet cobain, tp kali ini berminat juga ngga. Sudah insyaf, hahaha. Lebih tertarik berfotoan dan memandang alam nan indah. Apalagi ada penampakan pegunungan yang hijau, tak lelah mata memandang. Setelah puas (lebih tepatnya setelah capek) kami memutuskan pulang. Udah jam lima juga sih, dan semua pedagang juga udah menutup lapaknya. Suasana sudah mulai gelap dan kembali hujan rintik-rintik.

Tak banyak cerita dihari ke dua ini, karena perjalanan banyak yang tertunda karena hujan..

tips berkunjung ke Borobudur:
1. Sore hari waktu yang tepat untuk mengunjungi Borobudur. Selain matahari sudah meluncur, juga tidak terlalu ramai. Bebas berfoto kaan 😀
2. Pakai sepatu / sandal yang nyaman
3. Bawa payung kecil
4. Bawa minuman
5. Kamera full batre
6. Kalau bawa balita, jgn lupa juga kereta dorongnya

jalan dan wisata

Terpaku diteduhnya Hutan Pinus Mangunan 

Menuju kawasan Hutan Pinus Mangunan, tujuan kami selanjutnya. Sepanjang jalan kami harus melewati berbagai macam hutan lindung. Hutan kemiri, mahoni dan pohon jenis lainnya. Bahkan kami sempat ragu, karena tak kunjung melihat adanya kawasan hutan pinus. Namun, setengah jam kemudian kami melihat penampakan pepohonan pinus. Akhirnya tiba juga. Sudah ramai saja pengunjung disana. Padahal bukan weekend atau tanggal merah. Bahkan ada beberapa pasangan yang sedang foto praweding. Setelah memarkirkan kendaraan di sebuah lapangan yang terletak di seberang kawasan hutan pinus, siang itu terasa semakin sejuk ketika memasuki kawasan pepohonan pinus. Tidak dipungut biaya apapun, hanya ada satu kotak sumbangan sukarela pengunjung dan tarif parkir saja.

Suasana semakin terasa damai saat semilir angin memainkan jilbab kami, menyapu wajah serta suara gesekan dedaunan seolah membentuk sebuah simfoni alam. Kami langsung mengambil tempat masing-masing duduk di dahan pohon yang sudah ditebang. Ada yang bermain ayunan dan duduk di sebaris bambu yang menyatukan antara dua pohon pinus. Kami tak berminat berjalan-jalan. Kami hanya berfoto untuk mengabadikan setiap jejak yang kami lewati. Padahal katanya banyak spot keren untuk berselfi atau welfi. Hamok, mata air serta gardu pandang. Namun, selain karena lelah, kami juga terhipnotis untuk menikmati suasana udara pedesaan yang sudah sangat jarang kami dapat walaupun hanya sekedar duduk. Ketenangan itu mampu sedikit demi sedikit mengusir letih. Saya sempat membuka alas kaki karena hampir seluruh tanah dijatuhi dedaunan kering bagaikan permadani alam. semakin terasa sejuk serasa mata air menjalar ke seluruh tubuh.

Cahaya matahari yang mengintip dan menembus dari celah dedaunan mampu menghangatkan dan memperindah suasana seolah berada di sebuah pentas megah bertabur lampu hias. Tak kalah cantik dengan hutan pinus yang ada di film hollywood. Suara gelak tawa pengunjung menjadi melodi tersendiri di tengah ketenangan pepohonan. Konon, filosofi Korea menyebut pohon pinus berdahan lurus melambangkan sebuah kisah cinta yang begitupun banyak aral namun dapat dilalui dengan mulus, sementara daun hijau melambangkan kisah cinta yang selalu subur dan indah. Benarkah?? 🙂

Dari saya tak ada tips khusus berkunjung ke hutan pinus. Paling alas kaki jangan yang bertumit lancip karena tekstur tanah yang lembab bisa kerepotan kalau tumitnya nancep melulu :D. Oiya pastikan bawa kamera full batere aja sih supaya ga mati gaya karena setiap spot sangat instagramebel (kayak kata orang-orang jaman sekarang) Hehe

Dirasa cukup, (cukup lelah :D) kami segera beranjak kembali menuju kota Jogja. Ingin segera rasanya merebahkan diri di kasur. Meluruskan pinggang dan mengisitirahatkan fikiran sejenak. Karena besok akan memulai petulangan selanjutnya. 🙂

Yang sudah berkunjung, bagi ceritanya dong 🙂

jalan dan wisata

Ada Amazone di Bantul :)

Kebun Buah Mangunan letaknya di Jl. Mangunan, Kec Dlingo Kab Bantul. Butuh waktu satu jam lebih menuju Kebun buah Mangunan kalau dari Parangtritis. Untung saja sepanjang perjalanan kanan kiri nya dipenuhi pepohonan bikin suasana adem. Sedikit kerja keras lah untuk supir karena banyak tanjakan dan tikungan tajamnya. Harap berhati-hati ya..

Lagi-lagi setiba disana, masih suasana siang bolong. Hanya diminta lima ribu rupiah saja untuk bisa masuk ke ke kawasan Kebun Buah Mangunan. Kenapa disebut kebun buah, karena memang disana ditanami berbagai jenis buah-buahan. Saya sempet lupa ini tempat apaan ya? Padahal saya yang bertugas mencari objek wisata yang akan dikunjungi sebelum berangkat ke Jogja. Salah satunya yang saya dapat ya tempat ini. Dalam hati berkata cuma ngeliat pohon buah-buahan doang di kampungku juga banyak. Tapi kami terus menyusuri jalan setapak di tengah-tengah perkebunan buah yang memang dibuat oleh pengelola. Eits, dilarang keras memetik buahnya ya :D. Selain bermacam pohon buah, kita juga lewati arena outbond sederhana dan kolam pancing.

Sampai akhirnya di puncak dan sudah banyak motor terparkir. Baru mulai penasaran ada apa sih di puncaknya? Harus berjalan lagi kira-kira 50 meter menuju gardu pandang. Ah, saya baru ingat ternyata ini yang namanya Kebun Buah Mangunan yang lagi ngehits se instagram raya. Benar saja tak lama kemudian terlihatlah dari ketinggian sebaris pagar batu dan melirik ke bawah sepanjang sungai membelah perhutanan raya. Tapi kok, ga ada awan-awannya? Katanya negeri di atas awan? Ya iyalah… kita dateng di siang bolong eh panas terik pula, awan darimana neng? Yang ada keringetan. Haha. Belum rejeki nya orang Medan.

Tapi ga kalah indah kok walau tanpa awan mendung-mendung syahdu gitu. Angin sejuknya sepoi-sepoi tetap terasa, sejauh mata memandang masih hijau hamparan hutan pegununan Sewu tetap menyejukkan mata. Serta pemandangan Sungai Oyo yang mengular bak sungai Amazon. Makanya kalau yang lain bikin judul negeri di atas awan, berhubung pas kedatangan kami tak ada sang awan, jadi saya pakai judul Amazon aja. liat tuh penampakannya, persis kan kayak sungai Amazon. Ya walaupun saya juga ngeliat Amazon dari google. Smoga penilaian saya ga salah hehehe

Nah sejauh mata memandang akan terlihat samar segaris berwarna putih bergerak-gerak kecil. Sepintas mirip fatamorgana. Tapi konon itu katanya barisan pantai Parangtritis yang terlihat sampai ke Gardu Pandang Kebun Buah Mangunan. Ya, saya sempet lihat… tapi baru tau ceritanya setelah baca di google.

Sayangnya memang di hari pertama kami berpetualang ini, selain tak banyak persiapan (cemilan) juga dalam keadaan lelah. Untung saja ada bakso kuah. Kalau di Medan disebut bakso kojek :D. Sekalian kasi tips nih untuk temen-temen yang berniat kesini. Bawa minuman dan cemilan yang kalian suka, karena disini tak banyak penjual makanan. Tapi ingat buang sampah pada tempatnya. Dan yang paling penting datanglah pada waktu pagi atau sore hari. Selain bisa merasakan hangatnya matahari pagi, juga bisa manyaksikan senja dan kalau beruntung akan merasakan berada di negeri di atas awan. Sudah puas menikmati Amazone Bantul, kami lanjut lagi ke Hutan Pinus Mangunan.

Selamat berkunjung…:)

jalan dan wisata

Pengalaman Berpetualang

Jadi,ini jalan-jalannya kapan postingnya kapan? haha yasudahlah dan baiklah, kami yang dari Medan ini sengaja mendarat di Jakarta saja karena memang pingin naik kereta malam menuju Jogja. Maklum rombongan bekpeker kurang kerjaan, hahaha.

Setelah bermabuk-mabuk ria akibat turbulensi (turbulen paling serem) yang pernah saya rasain. Lima menit aja sih, dan ga bikin seisi pesawat porak poranda juga, tapi cukup bikin saya trauma kayaknya, hiks.

Tiba di Jakarta sekitar jam tiga sore. setelah solat zuhur yang sudah sangat telat, dan memutuskan untuk istirahat sambil menunggu waktu Ashar. Setelah itu kami lanjutkan menuju stasiun gambir dengan menumpang bus Damri. Menembus kemacetan kami perkirakan akan membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih dan kami sempatkan untuk tidur. Tepat pukul lima sore tibalah kami di stasiun Gambir. Berhubung jadwal kereta pukul delapan malam, kami jalan-jalan dulu lah keliling monas, duduk, jalan, foto-foto dan sebagian mengenang masa lalu, uhuk. Tak terasa sampai magrib juga :D.

Ba’da magrib dan Isya kami lanjut dengan makan malam dan duduk di ruang tunggu. Tak lama hujan turun dengan derasnya sampai-sampai menimbulkan cipratan air dan memancar ke sebagian ruang tunggu. Kami seperti duduk di bawah sebuah air terjun. Terasa sejuk karena memang seharian badan belum tersentuh air a.k.a belum mandi, hihi

15 menit sebelum berangkat kami sudah duduk manis di salah satu gerbong kereta Argo Lawu yang akan membawa kami ke kota Jogja. Kota tujuan petualangan kami. Bismillaah… delapan jam perjalanan kami gunakan untuk istirahat tidur. Karena tak akan ada yang bisa dipandang juga dalam kondisi gelap kan yaa…

Hari I

Pukul empat pagi kereta memasuki stasiun Jogja. Suasana masih sangat sepi dan udara dingin. Hanya ada seorang petugas, seorang porter itupun sedang tidur, dan beberapa penumpang yang sebagian langsung keluar stasiun, mungkin langsung pulang. Hanya kami yang duduk dan melanjutkan istirahat menunggu waktu Subuh. Bahkan seorang pedagang pun belum ada yang menggelar lapak. Kelaparan lah mereka… (mereka??)

Akhirnya azan subuh berkumandang seiring para pedagang berdatangan. Alhamdulillah, setelah solat kami langsung menyerbu penjual sarapan sambil menunggu rental mobil yang sudah kami pesan sebelumnya. Nikmat sekali rasanya, walaupun cuma dibasuh air wudhu tapi terasa segar (anggap aja sudah mandi) apalagi perut sudah terisi kembali.

Pukul 6.30 mobil sewaan datang dan kami siap memulai petualangan. Sengaja kami tak singgah dulu ke penginapan karena akan menghabiskan waktu saja, dan dihawatirkan nyampe kamar malah pingin tidur liat kasur. Sesuai itinerary, tujuan pertama kami adalah pantai Parangtritis, Kebun Buah Mangunan, Hutan Pinus Mangunan, Kaliurang, Borobudur, Kalibiru… dan pulang. Di bahas satu2 yaa… 😀

#Siang Bolong di Pantai Parangtritis

Perjalanan kami ini memang tidak didampingi oleh seorangpun pemandu. Kami hanya mengandalkan google map yang ada di android masing – masing. Berbekal peta itulah kami membelah kota Jogja menuju Pantai Parangtritis. Pukul tujuh pagi udara di kota Jogja masih sejuk-sejuknya. Pantai Parangtritis atau Pantai Paris kata orang Jogja, letaknya di Kec Kretek, kab Bantul sebelah Selatan Jogja. Sekitar 27Km dari pusat kota. Cukup mudah sebenarnya mencari alamat, itu kata temen-temen saya (bagi yang bisa baca peta). Kalau saya sih disuruh balik lagi Insyaallah nyasar, hahaha. Apalagi saya termasuk kurang mampu mengingat-ingat rute perjalanan. Saya bermodalkan semangat saja laah…:D.

Hampir tak ada halangan diperjalanan kami. Setibanya disana, matahari sudah menanjak hampir di puncak-puncaknya. Waaah, salah skedul niih… ke pantai siang bolong dan ternyata lagi, di pantai itu tak ada pohon kelapa Seperti yang kami bayang-bayangkan. Alamaaak, mari menghitam, hahaha. Retribusi sekitar lima ribu untuk satu kendaraan. Pada saat yang sama banyak sekali rombongan anak sekolah SD dan SMP yang juga berkunjung ke Pantai Paris. Saya sempet heran juga kenapa sampai ada larangan ga bole renang, ya namanya pantai pasti serunya berenang kan ya? Setelah menyaksikan sendiri baru deh ngeh kalau ombaknya bener-bener besar. Bahkan jilatan ombak tak bisa saya hindari padahal saya sudah lari terbirit-birit tapi mereka tetap mengejar. Basah juga akhirnya. Beberapa temen saya hanya duduk-duduk di bawah pohon cemara atau apa ya namanya. Cuma pohonnya kecil dan pendek. Sebagian naik ATV. Maklum cuaca saat itu panas menyengat. Padahal baru pukul 10 lewat. Mungkin juga karena kelelahan jadi pada kurang semangat untuk main di Pantai. Sempet ada rasa menyesal mengunjungi Pantai Paris. Karena kesan yang kami dapatkan hanyalah gersang, panas dan tandus. Ah, ternyata kami yang salah. Selain punya legenda yang terkenal akan Ratu Pantai Selatan nya, Pantai ini ternyata akan jauh lebih seru kalau dikunjungi sampai senja. Ada sejenis delman yang bisa ditumpangin untuk menelusuri sepanjang garis pantai, juga bisa memandang keindahan pantai dari salah satu tebing. Lain kali bisa dikunjungi di sore hari. Sebelum meninggalkan kawasan pantai, kami sempatkan untuk menikmati air kelapa muda dan bertanya-tanya kepada beberapa orang arah menuju Mangunan. Sayang sekali mereka ga ada yang tau. Akhirnya kami lanjutkan perjalanan menuju Kebun Buah Mangunan (next) 🙂

tips berkunjung ke Pantai Parangtritis

1. Pakai Sunblock (mau berkunjungnya pagi, sore atau malem) tetep pakai krim. Udara pantai selalu bikin kulit kering dan gosong.

2. Bawa topi, apalagi kalau berkunjungnya di jam rawan matahari 😀

3. Pakai sendal/sepatu yang nyaman. Apalagi kalau siang hari pasirnya ikut memanas. Jangan sampai bertelanjang kaki bisa-bisa telapak kaki terpanggang.

4. Lebih baik berkunjung di pagi atau sore hari supaya lebih sejuk.

5. Tetap ikuti aturan

jalan dan wisata

Bila ke Malang, Harus ke Museum Angkut

Meskipun sudah banyak destinasi baru yang sepertinya juga sayang dilewatkan. Tapi bila waktu tak memadai, saya rela membuang satu destinasi baru itu demi memasukkan si Museum Angkut ini walaupun sudah pernah kesini.

Dari Malang saya jadi tau seperti apa rupa dari pohon apel, hehe. Dan tentu saja jadi tau megah dan spektakulernya Museum transportasi terbesar di Asia Tenggara yang selama ini hanya didengar dan dilihat dari media massa.

Lanjutkan membaca “Bila ke Malang, Harus ke Museum Angkut”

jalan dan wisata

Danau Toba Int Cottage Berastagi

20151031_123833

Restoran
Restoran

Niatnya sih mau cerita soal perjalanan kemaren sabtu wktu di Berastagi Tanah Karo. Tapi berhubung jalan jalannya cuma secuil banyakan mendep di seputaran hotel doang yasudah berbagi ceritanya soal tempat dimana saya nginep aja yaa

Jadi iseng2 aja ga sengaja cuma mw wikenan. Ini jalan2 dadakan sih tadinya ga ada plan ke Berastagi, lah baju anget aja ga bawa…makanya pilih seputaran hotel aja ga tahan klo hrs jalan2 malem tanpa sweater hiikkss.

Nympe Berastagi itu sekitar jam 12:30 berarti perjalanan kita tempuh hampir 2 jam (emang jalan nyantai). Berastagi Tanah Karo memang salahbsatu tempat pavorit saya kalau lagi bosen di kota. Selain pemandangannya indah, udaranya sih yang sejuk bikin fresh. Kalau dulu saya minimal seminggu sekali pasti selalu main je Berastagi. Apakah itu cuma singgah sebentar atau memang niat dari pagi udah berangkat dan nginep juga. Soalnya tempat ini ga bikin bosen sih. Berhubung supir tunggal dan mengingat udah capek juga jadi diputusin buat nginep deh. Survey penginapannya sambil lewat doang dan mentoknya di Danau Toba Int Cottage. Dan referensi dari saya waktu nginep di Parapat waktu lalu ya kurang lebih mungkin kwalitas samalah cuma beda lokasi doang jadi yakin yakin aja buat nginep disini.

Satu kesamaan yang paling mencolok dari Danau Toba Int Cottage baik yang di Danau Toba ataupun Berastagi adalah fasilitasnya yang udah pada uzur 😀 (selain satu owner). Tapi bagi saya pribadi sejauh lokasi baik kamar maupun pekarangan dan lokasi keseluruhan bersih dan nyaman ya so far so good… satu lagi jangan horor 😀 (kalau versi ibu saya sih yg penting ada kasur, hahaha). Dan memang utk Danau Toba Int Cottage yang saya tau mereka udah terkenal, ya… memang dedengkot perhotelan dari zaman doeloe di Sumatera Utara. Dari usaha Travel, perhotelan (hotel, resort dan cottage) yang udah modern maupun yang udah tua. Dan ini setau saya yang punya juga satu keluarga yg sama (cmiww).

Kembali ke Danau Toba Int Cottage Berastagi. Bedanya dengan hotel udh pasti dibentuk kamar ya. Maksudnya klo hotel kamarnya jejeran dipisahkan oleh gang dan indoor. Klo cottage kamarnya sendiri2 (mirip paviliun), ada teras dan biasanya lebih luas dan outdoor juga

Nah bener aja waktu survey kamarnya ini Masyaallaah…(lebay), ini kamar lbh cocok utk family room. Ada teras depan dan belakangnya loooh, masing2 menghadap view yang berbeda.

Untuk rate juga masi standar dan sangat wajar untuk ukuran kamar yg segede ini 400rb an. Dan kebetulan memang hotelnya lagi sepi pengunjung juga waktu itu. Fasilitas dalam kamar juga lengkap minus sedikit masih dalam batas wajar sih (cuma ga disediain sikat gigi sama sampo doang dsn sendal karena biasanya kan ada) dari mulai kasur, tv (termasuk saluran tv kabel), telepon, meja dan kursi santai, lemarinya gedee, deposit box dan kamar mandi ada air panas 24 jam juga shower dan sabun. Secara keseluruhan kamarnya bersih dan nyaman. Oya kolam renang outdor juga ada, tapi apa ada yang berani renang ya dingiiin begitu. Tarif 400rb itu udah termasuk sarapan pagi yaah, kebetulan karena tamu lagi sepi jadi makanannya dimasak pada saat kita “ngelapor” hehee… bagus juga karna makanan masi pada anget 😀 padahal kita sarapan udah jam 9.

Gunung Sibayak (abaikan modelnya) :D
Gunung Sibayak (abaikan modelnya) 😀

Lokasi cottage ini menurut saya juga strategis. Semua sisi pemandangan dapeet. Sebelah kiri view gunung Sinabung dan kanan gunung Sibayak. Bahkan bisa nyaksiin sunset dan sunrise sambil duduk diteras. Pemandangan kebun buah dan sayur yang hijau dan luas sejauh mata memandang indah banget karena memang cottage ini letaknya di ketinggian.

Kalau kita pengen jalan-jalan di luar cottage bisa juga kok ke pusat kotanya atau ke puncak Gundaling. Jarak

Tukang bunga adalah tempat pavorit saya kalo lagi di Berastagi. Bisa berjam2 muter disini doang
Tukang bunga adalah tempat pavorit saya kalo lagi di Berastagi. Bisa berjam2 muter disini doang
Halaman Danau Toba Int Cottage Berastagi
Halaman Danau Toba Int Cottage Berastagi

20151101_082151

Kolam renangnya bersih
Kolam renangnya bersih
Hamparan kebun sayur mayur
Hamparan kebun sayur mayur
Akhirnya ngeliat langit biru setelah sebulanan diselimuti kabut asap :)
Akhirnya ngeliat langit biru setelah sebulanan diselimuti kabut asap 🙂
Kasurnya bersih dan lemari gede di pojokan
Kasurnya bersih dan lemari gede di pojokan
Luas yaa...Bisa selonjoran :D
Luas yaa…Bisa selonjoran 😀
Kebun sayur bunga kol
Kebun sayur bunga kol

nya juga ga jauh jauh amat kurang lebih 500 Meter. Boleh pake kendaraan pribadi, angkot, jalan kaki juga bisa kalau rame sambil cerita dan menikmati pemandangan sepertinya jarak ga akan kerasa jauh :D. Di Puncak Gundaling kita bisa berkuda, naik delman atau cuma sekedar duduk di warung minum teh hangat dan makan jagung dihadapkan sama pemandangan kebun sayur, bawang atau strawberi. Yang ibu ibu pasti sukanya belanja nih, di pasar buah Berastagi bukan cuma buah yang ada, sayur mayur dan tanaman bunga juga tersedia loh. Semuanya masi seger langsung dari asalnya. Toko souvenir juga banyak jejeran tinggal milih. Kalau laper malem malem dan males pesen makanan hotel, ada juga pusat kuliner nya kok yang buka sampe pagi. Berbagai jenis makanan dari yang ringan sampe kelas berat, ada.

Kalau ke Berastagi yang paling penting harus dibawa adalah jaket dan kamera. Nah untuk yang dua biji ini saya kelupaan, hikkkssss.

jalan dan wisata

Suasana saat jenuh…

Penatapan Sibolangit... Masih berasap tapi...:(
Penatapan Sibolangit…
Masih berasap tapi…:(
Puncak Simarjarunjung
Puncak Simarjarunjung
Kampung saya niiih...Perkebunan teh Sidamanik :D
Kampung saya niiih…Perkebunan teh Sidamanik 😀

Rutinitas sehari-hari yang itu-itu aja kadang bikin kita ngerasa jenuh dan bosan. Ga jarang kan ya bikin kita jadi badmood dan ujung-ujungnya jadi orang yang ngeselin. Saya sendiri punya sifat jelek itu, kalau saya udah ngerasa jenuh saya pengennya marah-marah aja. Marah tanpa sebab sering banget kejadian dan berimbas sama orang-orang disekitar saya. Duuuh…maafkan saya ya, hikkkkss. Makanya kalau saya ngerasa jenuh dan udab mendekati badmood mendingan saya ngacir sendiri aja deh, cari kegiatan sendiri atau me time aja. Memilih menyendiri supaya ga jadi ngeselin.

Kalo udah jenuh ujung-ujungnya jadi suka ngerasa kesepian. Yang biasanya orang kesepian kebanyakan akan cari keramaian atau hiburan atau cari temen buat nongkrong-nongkrong. Ya kadang saya juga suka begitu tapi kalau keramaian seperti club atau konser hingar bingar gitu malah bikin saya tambah pusing. Saya juga bukan anak mall, bahkan saya sendiri kalau bukan karena mau nonton atau ada yang mau dicari ga akan pilih mall untuk jalan-jalan, atau ga enak nolak klo diajak temen atau permintaan anak-anak. Tapi kalau keramaian seperti pasar , oya saya suka loh dengan pasar tradisional. Ngeliat sayur mayur yang seger-seger atau buah bahkan ikan. Makanya saya lebih pilih belanja aja daripada memasak. Biar kata orang pasar itu bau tapi saya suka asal jangan dipasar khusus daging ya…saya ga suka daging dan ga tahan sama baunya. Bazar atau pameran-pameran sih saya juga suka.

Ada beberapa kegiata  yang saya suka ngayal pengen dilakuin kalau lagi ngerasa jenuh atau kesepian:

1. Bawa bacaan atau laptop dan cemilan trus duduk-duduk disebuah gubum di pertengahan sawah yang masih hijau dan disekitarnya ada sungai kecil yang airnya jernih banget. Suara gemericik airnya kayaknya bakal bisa menenangkan dan ada musik instrumen…kalau dikampung saya #Manikmaraja Sidamanik ada nih komplek persawahan atau perladangan sangat mudah dijumpai

2. Mengitari perkebunan teh, bisa dengan berjalan kaki atau bersepeda, berkuda atau delman sangat menarik sekali. Nah yang ini dikampung saya #Sidamanik juga ada. Tapi berkuda atau delman saat ini sih belum ada

3. Lapangan hijau atau padang rumput yang luas di pegunungan berhawa sejuk, duduk di atas tikar memandang permadani alam bikin mata juga semakin terasa melebar. Disekililingnya ada taman bunga warna warni dan ada beberapa keluarga yang juga ingin mencari ketenangan dengan kegiatan masing-masing. Anak-anak berkejaran atau bermain layangan. Untuk suasana ini bisa didapatkan di #Bukitkubu tanah karo dan #Puncak Simarjarunjung Simalungun

4. Berjalan-jalan atau hunting kaktus  bunga atau pohon hias dikebun bunga. Ngeliat taman bunga berbagai warna atau pilihan lain petik sendiri buah strawberi di kebun. Gitu aja bisa menenangkan saya dan membuat mood saya baik lagi. #berastagi banyak nih kebun bunga dan kebun strawberi

5. Atau cuma duduk-duduk dipondokan memandan hamparan hutan hijau dan lebat dari ketinggian. Makan jagung bakar atau rebus, mie, teh hangat atau bandrek bisa mengusir rasa dingin yang menusuk-nusuk. Ini bisa dilakukan di kawasan #penatapan sibolangit. Tap disini cenderung ramai oleh musik hingar bingar apalagi malam hari karena yang mampir kebanyakan anak muda untuk beristirahat

6. Duduk atau berjalan memandang luasnya danau toba dari berbagai sudut di sebuah taman berhawa sangat sejuk. Mendengarkan musik dari earphone dengan volume sedang atau hanya mendengar suara angin berhembus. Untuk suasana ini bisa dinikmati di #Taman Simalem resort tanah karo

7. Dudum di balkin sebuah villa yang bentuknya ala-ala rumah pedesaan di hutan pinus. Bangun pagi menghirup aroma khas pohon pinus, suasana hening dan hawa sejuk sambil memandang sungai jernih yang mengalir di depan. Untuk tempat seperti ini saya belum menemukan di Sumut. Kalau di Bandung atau dimana saya lupa tepatnya ada nih saya pernah baca artikelnya tapi saya lupa #payaah 😀

8. Sebuah pantau dimana bukan pohon nyiur yang dominan melainkan pohon cemara atau pinus , ntah kenapa saya tergila-gila dengan dua pohon ini (selain kaktus tentunya hahah). Udara di pantai yang panas akan terabaikan dengan angin sepoi-sepoinya. Tidur-tiduran di kursi malas sambil membaca atau mendengarkan musik kesukaan. Kalau ini mungkin bisa dinikmati disepanjang garis pantai daerah Perbaungan. Sebut saja #Cemara kembar atau #romantic bay. Saya sendiri belum pernah mengunjungi kedua tempat ini. Mudah-mudahan ada waktu segera kesana…:D

9. Hunting bukh atau sekedar baca-baca adalah pilihan terakhir kalo urgen dan ga bisa ke tempat alami tersebut.

Kalau dulu saya masih SD ada seorang teman masa kecil bernama Wulan. Rumahnya sangat terpencil dan jauh dsri pemukiman. Tapi saya dan kakak saya sangat senang sekali bermain kesana hampir tiap hari sepulang sekolah. Kadang kita “angon” (mengembala) kambing miliknya dipadang rumput perbukitan belakang rumahnya, sambil manjat pohon kemiri dan bernyanyi-nyanyi lepas…sangat lepas, bebas. Atau “mengembara” tak lupa membawa para kambing ke satu tempat pavorit kita dulu. Tempatnya woooowww…saya belum menenukan lagi tempat seindah itu, tebing-tebing dan bebatuan yang menjulang tinggi. Waktu itu kita suka teriak-teriak karena suara kita akan menggema sampai kejauhan. Sekarang pun kalau diajak kesana lagi sya ga nolak. Atau mungkin kita ga ingat lagi jalan kesananya atau malah tempatnya udah ga seindah itu lagi…ahh semoga ga ada tangan-tangan jahil yang merusak alam. Kadang kita juga suka mengelilingi komplek persawahan dan ladang menyusuri saluran irigasi dan bisa dilalui (mirip jembatan) dan kita menyaksikan para petani yang bekerja dari ketinggian. Pernah juga kita manjat pohon jambu air dan memetik buahnya dan makan dipohon itu sambil nangkring, lagi asik-asiknya ehhh dateng karyawan sipemilik pohon jambu dan ngamuk-ngamuk dikira kita nyuri, padahal sebelumnya kita udah ijin sama yang punya kita panggilnya “opung” hehehheehe. Atau cuma sekedar duduk-duduk dikursi bambu dihalaman rumahnya di bawah pohon bambu dan bikin rujak ala kadarnya. Nenasnya diambil dari kebun sendiri dan bumbunya cuma cabe, gula dan kecap asin :D. Dan setiap sore sebelum saya dan kakak syaa pulanv ke rumah tak lupa bawa upeti untuk mamak yang suka ngomel karena kita suka pergi tanpa pamit…hehehe anak bandel yaa (yang ini mohon jangan ditiru). Sungguh masa kecil yang menyenangkan dan dipikir-pikir sepertinya saya merindukan masa-masa itu :D. Mungkin karena saya dibesarkan dari desa makanya sampai sekarang saya sukanya dengan alam.

Kalau teman-teman apa yang dibayangin kalau ingin menghilangkan jenuh???? 😉  Lanjutkan membaca “Suasana saat jenuh…”

jalan dan wisata

lagi2 seafood lautaan …

Lagi..dan lagi berkelana ke lautan lepas. Noo..noo…bukan ma berlayar ya bukan mau merantau tapiii cuma mau…makan #eehh :D. Itu juga duduk2 doang dipinggiran dkt dermaga. Iya…nongkrong di warung seafood. Klo kmrn2 udah ke percut (klo yg itu iya..pake nyebrang2an) nah yang ini cuma makan sambil mandangin lautan lepas. Eh ga lepas juga ding soalnya ketutup sama kapal2 yg bersandar hmm lebih tepatnya mogok kayaknya hehehehe. Ga jadi masalah juga krn ttp indah.

Kali ini dan tepatnya ini pertama kalinya je belawan cm cari makan doang. Untuk saya looooh…saya sih bukan ngejar makannya (itu poin 2 lah) tapii esensi jalan2nya itu. Secara klo yang perdana itu sesuatuuu aja utk dinikmati. Yaah itu yang namanya “jalan2” mmg kudu harus dinikmati supaya dapet happy dan fun nya. Bener ga yaa???

Cuma makan lalapan doang pun kalau suasananya nyaman, Ada angin sepoi2, dibawah pohon rindang udah enak aja ngerasanya. Walaupun saya sebenernya kurang suka sama suasana laut, udaranya tp bukan berarti saya anti.. tetep kalau untuk jalan2 saya ga bisa nolak. Hihihii *kedip2

Kemaren disempetin mampir makan siang ke salah satu rumah makan seafood di Belawan. Untuk masakannya sendiri bisa dibilang enak dan penyajiannya bagus. Utk harga…nah ini dia sayangnya ga bisa info krn lagi2 ini ditraktir hehehhee. Harusnya kmrn intip2 yaa 😀

Btw..jauh banget yaa cari makan siang aja sampe ke Belawan. Dan kaau dipikir2 kurang kerjaan banget hehehe. Ya itu kalau tukang jalan ketemu sama tulang jalan jadinya jalan2 hahahhaa. (Tp bukan berarti kita ngaspal jalananan yaa) :p. Tau gaaak…disana rame kok pengunjungnya. Malah wktu kita kesana ada satu keluarga yang ngerayain ultah Bapaknya. Dan kita pergi ada yang baru dateng. So…artinya kita bukan kurang kerjaan yaa, atau bukan cm kita yang kurang kerjaan…atau apa kira???

Oya selain makan seafoodnya, kalau kita suka yang antik2 ada nih disini guci2 antik. Ngeliat sekilas aja bikin pengen dateng liat2, pegang2. Kali dari harga ratusan sampe jutaan. Dari yang bbrp centi sampe yg lebih tinggi dari saya…ada!!

Makanya sini kemari..jangan males jalan2 yaa..disekitar kita ini indah teman2…:)

Ini dia warungnya. Namanya kyknya mmg ga ada deeh. Yg paling deket dermaga deeh
Ini dia warungnya. Namanya kyknya mmg ga ada deeh. Pokoknya Yg paling deket dermaga
Mumpung belum pada kosong piringnya dabadikan dl ya... Nafsuin gaaa???
Mumpung belum pada kosong piringnya dabadikan dl ya…
Nafsuin gaaa???
Ini dia warungnya. Namanya kyknya mmg ga ada deeh. Yg paling deket dermaga deeh
Ini dia warungnya. Namanya kyknya mmg ga ada deeh. Yg paling deket dermaga deeh
Makan dipinggiranlaut lepas begini... Cobain deeh biar tau rasanya :D
Makan dipinggiran laut lepas begini…
Cobain deeh biar tau rasanya 😀
jalan dan wisata

Ini tooh yang namanya Bagan Percut si “Restoran Terapung” itu…

Yang namanya wacana memang kadang udah direncanakan mateng2 malah bisa ga jadi2. Tapi klo dadakan selalu ada aja cerita yang menarik, dan memang ya klo yang namanya uda rejeki ga akan kemana ga usah ngoyo dikejar bakal dateng sendiri. Contohnya hari ini nih (Baca: Sabu Sept 2015) start jam 12 siang iseng2 jalan mengikuti arah kebetulanada keperluan yang mengharuskan keluar tol cemara (H.Anif) dan ngeliat arah, eeeh…klo belok ke kiri ngarahnya ke Percut. Lgsg keinget klo klo disana kan ada restoran terapung dan itu terkenal banget sampe2 klo googling ada diurutan pertama lengkap info dan petanya. Dan itu saking niatnya saking pengennya tuh ke restoran terapung sampe ikut googling2 segala :p. Wiiiiih klo deket aja psti udh lgsg cuuuuusss…and finally aku kesanaah…yeeeeeeyyy (hahahahha norak yaa) orang2 udah bosen kita masi perdana 😀 

Naah…karena edisi perdana jadi kita masi meraba2 arah kesananya. Mulai dr google map sampe niat mau GPS an segala tapi malah buat bingung bin pusing akhirnya kita putuskan ikuti jalan dan feeling. Alhamdulillahnya feeling sedang so good ya belok kanan kiri bener aja gitu ga pake nyasar2. Jadi ceritan sedikit soal perjalanannya yaa…koo arah2nya saya ga ngerti jelasinnya (lupa juga) 😀

Klo diliat dari volume kendaraan yang lewa disana, jalannya terlalu sempit. Mana kendaraan yang lewat adalah truk2 dan sejenisnya jadi klo selisihan jalan harus ada yang ngalah, ditambah lagi kondisi jalan yang jelek banyak lubangnya, gersang dan berdebu. Kalau masi pertama kali ke Percut agak susah sih nyari lokasinya karena ga ada petunjuk arahnya. Banyak kendaraan pribadi yang menurut feeling kita sih kyknya mau kesana juga nih, kerasa aja gt hawa2nya 😀 bedanya mereka pake ngebut dipastikan karena udah percaya diri udh sering dateng sementara kita slow but sure karena masi meraba2, eh tapi..untuk pemula rasanya uda oke tuh, muluuuusss ga pake nyasar ….cayoooooo utk kita 😉

Lanjut nih hampir nyampe ke lokasi uyk memastikan bener ga nya akhirnya kita tanya ke warga disitu dan trnyta bener dijelasin si ibu luruus aja sampe mentok..ga nyangka aja jalanannya ga begitu lebar soalnya mirip2 jalan perkampungan. Dan bener aja nym0e disana trnyta udah ruameee bingit. Kirain kita aja yang “norak” ternyata banyak temen hehee. Parkiranudh hampir penuh dan alhamulillahnya lagi rejeki dpt lokasi parkir yang bagus. Krn masi “buta” jadi kita ikut arahan salah satu seorg pemuda setempat ke pondokan2 nya setelah ngelewatin tempat penjualan ikan atau biasa disebut pelelangan ikan. Seperti pasar ikan kebanyakan lah amis , becek dan sumpek jadi belum kerasa suasana wisatanya. Sampe di pondokannya beneran udah rame pengunjung yang udah duluan dateng. Penasaran sama restoran terapung yang letaknya agak ke tengah2 lautan, yang kesananya udah pasti harus nyebrang plus ngeliat nya bikin pengen juga akhirnya kita putuskan ikutan nyebrang. Rasa penasaran mengalahkan ketakutan :D. Jadi untuk nyebrang kita harus sewa boat yang tarifnya Rp. 70.000/boat PP. Perjalanan kurang lbh 15-20 menitan. Dlm perjalanan sih seru dan indah sekaligus deg2an karena boatnya kadang pake miring2 ke kanan ke kanan ke kanan dan ke kiri ke kiri ke kiri manise….:D. Apalagi klo selisihan sama boat lain wiiih jadi menciptakan ombak2 kecil yang udah pasti bikin kapal makin oleng. Dikelilingi hutan kecil pohon2 air dan banyak burung2 berterbangan bikin suasana makin syahdu hehehe. Sayangnya airnya keruh dan banyak sampah. Ini beneran laut dibuat kayak tempat pembuangan akhir macem2 sampah ngambang dan suka nyangkut di baling2 kapal. Bikin serem kan klo gara2 banyak sampah nyangkut trus kapalnya mati mesin gt?? Harusnya pengunjung dan masyarakat setempat lebih sadar wisata krn klo bersih pasti lebih cantik deh…baiklah back to story akhirnya kita nyampe juga di restoran terapung. Sebenernya gada yang istimewa sih sama seperti tempat makan pada umumnya ada meja ada tpt duduk juga ada pondokan2 tinggal milih mau duduk dimana, dan memang lagi2 yang dijual adalah suasananya. Ada juga yang bawa pancing jadi kalo yang hobi mancing bolehlah recommended tempatnya. Kebetulan kita nyampenya di jam2nya makan siang jadi kita langsung pesen makanan. Sayangnya stok ikan tinggal 2 macem plus udang doang, jadi kita pilih ikan kakap dibakar. Dimasaknya sih alakadarnya cuma dibakar dan kyknya tanpa bumbu jadi masi kerasa amisnya tapi menangnya kita dapet ikan seger jadi rasanya masi manis bgt. Sambelnya pedess tp rasanya enak tambahan tumis kangkung jadi nikmat gt. Harganya juga standar utk kakap ukuran 1kg dibandrol 50rb. Jadi..disaranin klo kita datengnya rame2 pake rombongan baiknya kita beli aja ikan di pelelangan trus kita bawa ke restoran terapung tinggal bayar jasa masak aja plus nasi dan sambelnya. Oya bole juga tuh klo mau bawa bekal makanan ringan karena disana ga ada jual kue2 atau buah2 san jenis2 dessert lainnya dan jangan lupa bawaair mineral yang banyak karena berpotensi dehidrasi berat disebabkan udara pantai yang gerah. Trus klo mau balik lagi ke daratan gmn? Tinggal tlp lagi boat yang anter kita tadi dan mereka siap dtg menjemput. Mewah ya…pake anter jemput segala, ga pernah2nya gt pake nyewa boat serasa milik sendiri… amazing lah !!! Hehehheehe 

Udah kesampean nih makan di restoran terapung Percut, sekitar jam 2 kita balik ke Medan. Begitu nyampe parkiran, widiiiddddh makin padet deeet. Sampe2 susah mau keluar masuk kendaraan dan bener aja butuh waktu setengah jam juga utk bisa keluar parkiran. Sesuatu ya…parkir aja pake ngantri, siapa coba yang ga penasaran??? Ngeliat pengujungnya macem2 bahkan sempet ngeliat ada yang pake kabaya segala. Mungkin abis kondangan langsung ke TKP, hehe niat banget kan ya..yaaah begitulah pesona bagan percut bikin semua penasaran. Jadi…simpulannya udah terobatilah rasa penasaran ini…anyway thanks fot it ;). Besok2 klo diajak lagi eikeee ga nolak ya…hahahaha :p. Percut…see u again 😀

Next, niatnya bawa keluarga besar dimari sekali menikmati suasana yang beda. Biasa pegunungan sekali ini Lautan. Apalagi ada musik2nya jadi keinget keluargaku adalah keluarga penyanyi yang selalu heppi :D. Insyaallah kesampean, aamiin….

*Menulis adalah mengabadikan moment dengan cara berbeda 20150912_13035120150912_130254

Namanya pohon "berembang" salah satu pohon air dan seekor burung yang tertangkap kamera :D
Namanya pohon “berembang” salah satu pohon air dan seekor burung yang tertangkap kamera 😀

keliatan kan...sampah yang merusak pemandangan...:(

Ah...lupa difoto waktu masih utuh... akibat kalap :p
Ah…lupa difoto waktu masih utuh… akibat kalap :p
Usah merasa sendiri...tuh banyak temen2 yang sama2 penasaran kok :D
Usah merasa sendiri…tuh banyak temen2 yang sama2 penasaran kok 😀
Cantik ga???
Cantik ga???