lovely kids...and famz

Belajar Dari Anak Kecil

Ini kali kedua anak-anak kehilangan hp. Saya tau mereka ngga sengaja ngilangin karna banyak tangan yang megang. Ya, kami memang ajarkan mereka untuk berbagi apapun yang dipunya termasuk minjemin gadget untuk dipake bersama. Namanya barang udah raib ya mau gimana lagi. Kali ini saya ngga mau cerewet dengan memberikan pertanyaan menginterogasi, memojokkan apalagi menyalahkan bahkan nasehatpun ngga. Cukup saya kasi pilihan beli hp baru pake uang celengan atau mama beliin lagi tapi nunggu SMA. Saya pikir mereka akan nangis, sedih, ngambek sebulan atau milih beli hp baru pake uang tabungan. Ternyata ngga kedua-duanya. Jawabannya justru di luar dugaan dan melebihi ekspektasi saya.

“Uang celengan kan mama bilang untuk qurban, yaudah kami nanti punya hp nya nunggu udah SMA aja, ma”

Mekipun melalui telepon, tapi saya bisa ngerasa dari nada bicara dan suaranya ngga ada rasa sedih yang berlebihan. Malah ceria-ceria saja kaya ngga ada kejadian apa-apa. Padahal saya tau mereka pasti sedih ngga akan bisa lagi main hp. Padahal mereka lagi maruk-maruknya belajar Bahasa Inggris pake aplikasi Duolingo dan perkembangannya cukup bagus. Kosakata inggrisnya udah mulai banyak. Diajak komunikasi pake bahasa inggris udah mulai nyambung.

Uang tabungan mereka yang sebelumnya selama beberapa tahun memang rencana untuk qurban tahun lalu, ternyata masih kurang dikit untuk beli 2 kambing karna untuk masing-masing anak. Maklum nabungnya receh seribu duaribu. Saya tunda untuk qurban tahun berikutnya (2020) supaya bisa barengan. Terkadang bahkan sering mereka ngga jajan di sekolah karna neneknya rajin bawain roti, nah uang jajannya kemudian dimasukin celengen. Karna udah terbiasa bahkan tanpa diperintah setiap mereka dapet uang biasanya langsung dimasukin celengan. Begitu selalu, alhamdulillah.

Selain sering dibawain neneknya roti, saya pernah nasehatin anak-anak untuk ngga sering jajan sembarangan di sekolah. Syukurnya mereka nurut meski kadang agak nakal mungkin karena kepingin juga liat temen-temennya jajan. Saya ngga marah-marah, karna memang dikasi uang jajan ya tujuannya untuk jajan. Tapi mereka ngga latah jajan tiap hari. Itu sebab celengannya membukit meskipun butuh waktu bertahun-tahun. Hahaha… tetep alhamdulillaah.

Beberapa hari lalu anaknya telpon lagi ngabarin kalo celengan ayamnya hilang satu, hikss! “Celengan punya kakak, ma, mungkin karna punya kakak lebih berat dari punya Cahyo”. Begitu katanya. Dan saya ngga mau banyak komentar. Dengar ketegaran mereka merelakan barangnya hilang bertubi-tubi aja udah bikin hati adem. Ya Allaah, nak…

“Kakak ikhlas, ga celengannya ilang?”

“Ikhlas, ma. Kata nenek kalo ikhlas diganti sama Allah yang lebih banyak. Oiya ma, nanti kalo pulang belikan kakak krayon ya, yang lama udah pada pendek. Krayonnya dibawa pas ulang tahun kakak ya ma, untuk kadonya”.

Mau nangis ga tuh dengernya??

Bagi mereka krayon yang nota bene kebutuhan sekolah malah dianggap barang berharga yang pantas dijadikan sebagai kado ulang tahun.

Tapi memang begitu harusnya, ya. Karna setiap ulang tahun kado yang didapat justru melebihi ekspektasi sederhananya itu.

Baca juga: Simple Way

Kembali ke cerita kehilangan. Alih-alih marah atau menyalahkan. Saya justru kasihan dan ngga tega kalo lagi-lagi harus dihadapkan pada kenyataan bahwa anak-anak lagi-lagi harus kehilangan angan-angan sederhana mereka. Tapi dari sini saya jadi belajar dan paham satu hal bahwa berikan anak kepercayaan dan jauh dari menghakimi atau menyalahkan anak kalau mereka berbuat satu kesalahan. Agar kedepannya mereka berani mengaku salah dan mau jujur tentang berbagai hal. Bagi saya itu paling penting

Kita orang dewasa aja kalau dapat penghakiman, atau melulu disalahkan atau diungkit akan jadi jengah, kan? Ngga mau lagi untuk terbuka dan bercerita terus terang tentang perasaan. Begitu juga halnya dengan anak. Sebaliknya beri penghiburan supaya hatinya tenang dan mudah mengikhlaskan segala sesuatunya.

Baca juga : Dear Kids

jalan dan wisata · lovely kids...and famz

Main Sore-sore di Taman Hewan Mini USU

Ya, Universitas Sumatera Utara punya taman hewan mini dengan dominasi hewan rusa di dalamnya. Klo di Bogor ada Istana Bogor tempatnya. Kalo di Medan, ya di USU. Ntah sejak kapan saya ngga main ke kampus ini. Terakhir tahun kapan ya, lebaran haji 4 atau 5 tahun lalu kayanya, dimana semua mesjid kota Medan penuh dengan hewan qurban jadinya kami melipir ke USU cuma mau numpang solat Ashar. Ya, itung-itung nostalgia, saya ajak temen ke musolah almamater saya di Fakultas Seni Budaya yang jaman saya namanya Fakultas Sastra. Yang pasti banyak sekali perubahan. Gedung maupun lingkungannya semakin rapih dan cantik. Kampus USU ini letaknya di Jl. Dr. Mansyur, Medan.

Baca juga: Rindu Bogor

Akhir Desember 2019 giliran anak-anak yang saya ajakin jalan-jalan sore ke USU.

“Mau liat kampus mama, ga?”

Ngga ada yang jawab..

“Mau jajan bakso bakar sambil ngasi makan rusa, ga?”

Baru pada jawab… “Mauuuuu!”

Yang kayak di Bogor ya, ma? Nanti ketemu Oma ngga, ma? tanya Cahyo.

Udahlaah ikut aja…

Baca juga: Bogor

Lanjutkan membaca “Main Sore-sore di Taman Hewan Mini USU”
lovely kids...and famz · Serba Serbi

Surga Seorang Istri

Pasti udah pada liat video istri menghajar suaminya yang stroke dengan pukulan menggunakan tongkat? Suami yang udah ngga berdaya hanya bisa menjerit-jerit tanda kesakitan dan minta pengampunan. Sungguh sedih melihatnya…

Keinget saat Alm Bapak sakit. Mamaklah yang dengan setia mendampingi. Mulai menyuapi makan, membersihkan badan sampe membersihkan kotoran. Siapa lagi kalau bukan mamak, istrinya sendiri. Mamak bahkan ngga mau tugasnya digantikan oleh siapapun. Lelah sudah pasti. Sesekali terlihat raut letih di wajah mamak. Tapi tak ada keputusasaan dalam dirinya. Kata orang-orang pakai ramuan ini itu, mamak langsung sigap membuatnya. Beli obat ini itu, mamak langsung cepat membelinya. Uang simpanan habis beserta emas satu-satunya direlakan demi kesembuhan Bapak. Maklum Bapak bukan seorang pensiunan dan ngga pake asuransi apapun, jadi ngga punya tanggungan apapun untuk biaya perobatan.

Sampai sekarang, 5 bulan sudah Bapak dipanggil Allah, sesekali mamak bergumam semoga saat merawat Alm Bapak, ngga ada keinginan Alm yang belum terpenuhi. Atau ada kekurangan saat merawat Alm Bapak. Kami anak-anaknya yang menyaksikannya rasanya Mamak udah melakukan tugasnya dengan sangat baik dan penuh kesabaran. Bahkan pesan-pesan terakhir Alm, tersampaikan pada kami anak-anaknya tanpa terlupa, Insyaallah.

Baca juga: Kenangan Tentang Bapak

Lanjutkan membaca “Surga Seorang Istri”