Kuliner · Serba Serbi

Kolak Ungu Antimainstream 

Kemaren dirumah ada pisang dan ubi jalar (rambat) ungu. Mau dibikin gorengan, pisangnya belum terlalu mateng. Jadinya kepikiran bikin kolak. Berhubung Medan saat itu dilanda cuaca panas, bayanginnya ini kolak bakalan dimakan pake es batu. 

Jadilah malam itu utek-utek di dapur. Catet ya, malem 😀. Bahannya ya sama seperti kolak pada umumnya. Bedanya, ini ngga pake gula merah. Karna memang mau ambil warna ungunya. Ini pula yang paling penting. Kan biar unyu-unyu 😌. Kalo kolak warna coklat udah biasa ya kan. 

Bahan-bahan:
Lanjutkan membaca “Kolak Ungu Antimainstream “

Friends · jalan dan wisata

Ngebolang Sibolga Part 1. Menyebrangi Lautan Cuma Pakai Sampan? Siapa Takut! 

Kali pertama saya mengunjungi kota Sibolga sekitar tahun 2004. Berlima sama temen se-geng, haha. 

Jadi ini cerita pengalaman teramat jadul sebenernya 😅

Perjalanan dari Medan jam 8 malam menggunakan bus Bintang Utara (loketnya di Amplas). Memakan waktu sekitar 9 jam. Jadi tiba di Sibolga sekitar jam 5 atau jam 6 pagi gitulah. Waktu itu ongkosnya masi 45rebu. 

Momen yang paling saya sukai sepanjang perjalanan adalah ketika memasuki kota Tarutung. Sepertiga malam saat melewati persawahan yang belum ditanami padi namun sudah diarin. Jadi, antara gelap malam, sinar fajar sudah mulai muncul dari selah pepohonan kelapa dengan warna khas jingga keemasan (persis senja) dan cahayanya memantul ke air membentuk bayangan yang sama. Saya bahkan tak mampu mengungkapkan keindahannya, namun masih sangat jelas terekam dalam ingatan seperti apa lukisan pagi itu. Mungkin saja saat itu saya sengaja dibangunkan Allah untuk menyaksikan keindahan fajar dan benar saja saya terpaku kagum dari balik jendela bus, subhanallaah…
Lanjutkan membaca “Ngebolang Sibolga Part 1. Menyebrangi Lautan Cuma Pakai Sampan? Siapa Takut! “

Kuliner · Serba Serbi

Nasi Bancaan (Among among)

Kalo di kampung, ntah itu abis lahiran atau ulang tahun atau selametan misal baru sembuh dsb. Biasanya diadakan acara syukuran kecil kecilan dulu. Among among namanya. Yang diundang juga kebanyakan anak anak. 

Yang istimewa dari kegiatan among among ini adalah makanannya. Jadi, pertama kali nasi beserta lauk pauknya itu disusun dalam sebuah wadah (tampah) dialasin daun pisang dan diletakkan di tengah peserta among among. Kan biasanya duduknya melingkar. Kemudian kalo udah selesai acara among amongnya, nasi itu dibagikan ke anak anak dengan memindahkan ke bungkusan yang baru. 
Among-Among 

Among among merupakan tradisi budaya Jawa. Saya ngga tau arti katanya itu apa. Kemudian perhitungan hari hari dalam adat Jawa itu seperti apa. Maklum, saya dari lahir dan besar di daerah Sumatera Utara (alesaaan!). Tapi, di kampung saya budaya among among ini masi sering dilakukan. Yang saya perhatikan tradisi ini selalu dilakukan setelah ada yang baru lahiran (sebelum akikah). Ya, bentuk syukurlah. 
Lanjutkan membaca “Nasi Bancaan (Among among)”

Kuliner · Serba Serbi

Wajik

Pesenan Wajik Nanas dan Wajik Bandung

Kata mamakku ini makanan Jawa. Kami menyebutnya wajik. Ntah di Jawa sana sebutannya atau nama aslinya apa. Ya maklum, dari mulai saya dan generasi jauh sebelum saya adalah orang Jawa asli yang udah bebuyutan tinggal di Sumatera Utara. Udah banyak terkontaminasi sama budaya lokal Sumatera Utara. Saya suku Jawa, tapi jangan coba coba tanya Jawa mana ya, ngga bakalan tau. Kami udah kehilangan asal usul 😂. Pernah saya tanya Alm mbah, beliau sendiri lupa antara Kutoarjo atau Kutaraja. Pokoknya ada arjo arjonya. Mboh lah…haha 
Lanjutkan membaca “Wajik”

Friends · Kuliner

Mencicipi Crispy Chicken, Taiwan Street Snack Ala Shihlin Snack Sun Plaza


Selepas jenguk kerabat yang sakit, kami pingin nge-mol. Berhubung jarak mol dan rumah sakit cuma selemparan batu, ya ngga ada alasan untuk katakan tidak. Tujuan utama tidak lain cuma mau beli jajanan ala Taiwan. Bahasa lain yang lebih gaul lagi, Taiwan Street Snack. Kalo kata temen saya, ini jajanan yang biasa ada di pinggir-pinggir pantai atau taman yang sering ada di drama korea itu. Macam pernah aja dia liat saat mereka syuting ya, kan :D. Penggemar drakor sejati, sampe-sampe apa yang mereka makan, pun dia ikut menggemari. Snack Taiwan ala Medan pun jadilaah, haha


Saya ikut penasaran, dong! Penasaran bentuknya aja kayak apa. Kalo nyicip sih saya ngga berminat. Saya kan bukan penggemar kuliner. Bagi saya makanan aneh itu ngga enak, haha.
Nama warungnya “Shihlin Snack” . Iya bener sih, dari kalimat-kalimat yang terpampang di meja-meja menyatakan ini adalah Taiwan Street Snack. Awalnya agak ragu karna yang ngolah dan yang jajan disitu kebanyakan orang kulit putih. Ada beberapa yang berkerudung kayak kami juga. Saya sempet colek-colek temen saya, dia langsung ngeh, dan tunjukin logo Halal standar MUI terpampang jelas di depan etalase nya. Syukurlah! 
Lanjutkan membaca “Mencicipi Crispy Chicken, Taiwan Street Snack Ala Shihlin Snack Sun Plaza”

jalan dan wisata · Kuliner · Review

Kulineran dan Narsis Lagi di Resto Berkonsep Alam Pedesaan Bertajuk Resto Budaya

Ngga butuh rencana atau wacana-wacanaan lah kalau mengunjungi tempat yang lokasinya ngga terlalu jauh dari Medan. Selama ada angkot, lets go kita kemon aja, haha. 20 menit doang dari rumah. Jalanan lancar jaya ngga pake maceeeet, tau-tau udah nyampe.

20170122_174214
Tanda2ny

Yang tau atau pernah ke Tahu Sumedang di Tanjung Morawa, nah, Resto ini berada tepat di seberangnya. Sekali mendayung 2 pulau terlewati. Sekali brangkat, 2 tempat ngehits tersinggahin. Begitulah kira-kira gambarannya

20170122_174247
Penampakan Tahu Sumedang yang tersohor, merah2 diujung

 

Resto Budaya

Jarak antara gerbang ke parkiran dan restonya lumayan jauh (kalau jalan kaki), maksudnya lokasi resto ini sangat luas. Mirip komplek yang gerbangnya dijaga satpam kemudian harus masuk lagi sekitar 100 meter menuju parkiran. Berhubung lokasinya tepat di sisi jalan raya lintas Sumatera, jadi, kita ngga akan bising atau pusing dengan pemandangan kendaaraan berbagai ukuran yang hilir mudik saat kita sedang makan. Ya karn itu, tempatnya cukup jauh ke dalam. Sudah tentu nyaman.

20170122_174226
Pintu masuk

20170122_174033

Sisi kanan menuju resto, ada kebun buah. Baru deh sisi kirinya tempat makan. Kalau biasanya di resto lain itu letak lesehannya di belakang. Resto ini justru menempatkan lesehan atau pondokannya di bagian depan. Diantara lesehan dan resto indoor, ada taman mini. Disinilah tempat pengunjung ber narsis ria. Ada kolam ikan, rerumputan, pohon kelapa, juga berbagai bunga dan lampu taman yang menambah cantik suasana dimalam hari.

20170122_1726411
pondokan

20170122_1617361

20170122_172824
kolam ikan

Seperti resto bertema desa kebanyakan, resto ini pun selalu memutar lagu-lagu Jawa. Bahkan saat kami kesana, lagu yang diputar adalah lagu Barat dengan instrumen Jawa, sangat unik dan enak didengar. Menu yang ditawarkan juga beragam. Tapi karna saat kesana, perut saya dalam keadaan masih kenyang, jadi saya pesan sate ayam dan es lemon. Teman saya pesan bebek cabe hijau dan air kelapa jeruk. Bumbu satenya enak dan gurih. Tapi, dagingnya alot. Sementara bebek cabe hijau, temen saya kasi nilai 8 dari 10. Lumayan laa…

20170122_163521
sate ayam bumbu kacang
20170122_163849
bebek cabe hijau

Pelayanan yang ramah, cepat dan tanggap, menjadi nilai plus restoran ini. Seragam mereka juga cantik.

Karena kami kesana di suasana akhir pekan, sudah pasti padat pengunjung, datang silih berganti. Bahkan kami ngga kebagian duduk di lesehan. Tapi, makan di ruangan dalam juga ngga kalah seru kok. Cantik dengan desain klasik. Langit-langit yang tinggi serta beberapa lampu hias menjuntai membuat suasana lebih romantis. Kita tetap bisa memandang ke arah luar juga tetap bisa merasakan angin sepoi-sepoi.

Anak-anak juga bisa bermain di playground mini, yang ada di samping kanan ruang makan bagian dalam. Kalau kita berjalan ke arah kiri, ternyata masih ada ruangan lain yang dibatasi dinding tinggi, kemudian ada pintu yang diukir mirip ukiran Bali. Menuju kesana, ternyata masih ada area lainnya, area makan dan juga sepertinya arena bermain skuter. Sekitar 200 meter sih. Agak males harus jalan kesana juga 😀

20170122_172622
playground mini

Kalau bosen di kota yang pengap, sumpek dan macet, bolehlah agak menjauh sedikit kita ya…

Friends · Kuliner · Review · Serba Serbi

Reuni Mini Kami, di Kafe Rumah Pohon

Berawal dari grup WA alumni SMP yang ngerencanain reuni akbar yang masih tetap dan sepertinya masih akan tetap jadi rencana. *tragis amat!

Jadi kami2 yang sok serius ini mau realisasikan dalam bentuk reuni kecil2an lah, yang domisili di Medan dan sekitarnya. Nah, ini yang kecil2an aja nentuin jadwalnya aja sampe harus cari wangsit di bawah pohon jeruk purut. Naasnya, dari sekian puluh orang (lebay) yang sekian persen fix ikutan, akhirnya di hari H mundur satu persatu dengan alasan yang harap dimaklumin. Begitulah tinggal kami berlima yang memaksa2kan hadir demi kesetiakawanan dan ketidak ada kerjaan di rumah, malam minggu pula. Bah! (??)

Untungnya lagi, reuninya ngga jadi ke Pondok Telaga Ikan yang letaknya nun jauh di luar kota sonoh. Janji ketemu di dalam kota aja kami harus nunggu ketiga temen kami yang cantik jelita ini molor hampir 2 jam. Catat, nyaris 2 jam! Dari hari terang sampe remang2. Alhamdulillaah ya, 🙂

Untung berikutnya, mereka ini masi ada rasa peri-kebidadarian, diteror ke grup ngga juga dikomen (ya kan kita bingung, ini orang2 jadi dateng ngga sih? Ngga ada kabar berita). Setelah diancam, 5 meniiit aja ngga nongol, yuk dada babailaaah, baru deh komen. “Tunggu, kami ondewei udah mau nyampe!” Apa ngga naik sasak konde Hayati?

16-12-17-16-18-52-871_deco
Saat menunggu makanan
c360_2016-12-17-16-33-21-394
Masih menunggu para bidadari

Tapi syukurlah, rasa sesak di dasar hati diam tak mau pergi ini seketika mencair dengan kelucuan dan lawakan ke empat temen saya ini. Bayangin, belasan tahun ngga ketemu kan pangling. Abisnya yang dulunya pada unyu imut2 macam marmut, sekarang kok jadi amit2 hehe. Ributnya minta ampuun, logat batak ngga ilang2. Seru kali lah. Aka pelawak do sude! Hehe. Ini mulut sampe pegel ketawa terus. Kirain brani ngelucunya cuma di grup, eh, ketemu malah ternyata lebih lucu.
Tapi tetep aja ya, jaman sekarang ini ngobrolnya 15 menit, yuk kembali ke henpon masing2. Balik maniing ngobrol di grup (Ngapain reuni ya? haha) kemudian poto2, ketawa2, balik lagi pegang hp dan pamer2 ke grup, ketawa ketiwi di grup. (reuni selanjutnya harus ada juru sita hp nih :D)
Begitu seterusnya sampe kami lelah dan memutuskan untuk berpisah.

fb_img_1481997359673
Here we are 🙂

Tapi, selalu ada positip di semua kejadian. Siapa sangka sih, temen SMP ketemunya di grup dan direalisasikan dalam bentuk reuni mini. Pasti anggota grup yang lain pada ngiri. Ngaku lah!
Makanya siap2in waktu dan tenaga untuk ketawa di reuni nanti ya temen2 🙂

#Kafe Rumah Pohon
Ceritanya ngga puas cuma liatin IGnya. Semuanya foto narsis pengunjung. Penasaran kan sama detail tempatnya. Jadi, pertama saya bayangin ya itu, tempat makannya dibikin di atas pohon2 besar gitu. Trus kita harus manjat tangga dulu baru bisa duduk dan makan. Dan sempet2nya saya bayangin gimana itu pelayan bawa gelas isi teh manis dingin atau pecel di atas nampan naik tangga yang terbuat dari tali atau berayun2. (Kan ceritanya rumah pohon ala2 tarzan gitu).

c360_2016-12-17-16-32-50-450
Ada batang pohon besar di dalam rumah itu

Tapi itu ngga semuanya bener alias hayalan2 doang. Karna kenyataanya pohon yang gede cuma sebiji dan rumah yang kita bayangin itu bukan nangkring di atas pohon gitu. Melainkan batangnya yang gede itu berada di dalam kafe berbentuk rumah yang berdiri tepat di atas tanah. Gitu aja sih.

c360_2016-12-17-16-35-43-711
Suasana outdoor

Lumayan lah, walaupun ngga semenakjubkan yang dibayangin, paling tidak suasananya adem karna banyak pohon rindang menaungi. Saya suka yang adem2, rindang, sepoi dan syahdu gitu. Boleh pilih duduk dalam ruangan ber-AC atau di luar ruangan yang sepoi2 itu. Klo ujan ya tanggung sendiri karna ngga ada payung2 ala kafe gitu, jadi hujan dan panas hanya pohon rindang yang memayungi. Ato pas lagi angin kenceng, dedaunan pada rontok dan mendarat mulus di makanan kita, sukur2 ngga ada ulet bulu nya. Haha. Nah, klo pas lagi rame tiba2 ujan turunnya dadakan, takutnya ngga muat kalo semunya ngungsi dalam ruangan. Gimana dong?

Tapi, positifnya, makanan yang kami pesan semuanya lumayan enak. Banyak paket yang ditawarkan. Contoh saya pesen 1 paket (lupa namanya). Isinya ada tahu goreng + es campur seharga 30K. Temen saya, Fitri, pesen paket (lupa juga namanya) :D, konon ini menu andalannya, isinya ayam arsik + daun ubi tumbuk dan air parutan timun seharga 35K. Kok menu andalan? Ceritanya kan di Medan yang biasa diarsik tuh sejenis ikan mas atau mujair. Nah ini bedanya, disini yang diarsik adalah ayam, katanya lagi arsik ayam tuh cuma ada di kafe ini. Katanya Fitri sih enak. Sore itu, kami terpaksa makan berat. Selain karna memang udah lapar, temen saya Fitri ini memang penganut anti makan malam. Kecuali udah ngga makan selama 2 hari. Tentu saja dengan alasan klasik, diet!
Ngga lama, 4 orang temen kami nyusul dan pesen paket ayam arsik juga. Sepakat semua bilang enak. Jadi, kesan pertama kami soal makanan bisa dibilang ngga mengecewakan lah. Hanya saja kakak dan abang pelayan yang sebagian sedikit kurang ramah saat meladeni. Kurang sopan dan oiya, masa bawa makanan dicampur dalam satu nampan dengan piring kotor? Ngga etis kan ya?

Bukan hanya itu, mereka juga menawarkan menu makanan lainnya seperti sate (kalau ngga salah ada sate daging rusa), macem2 es krim dan kopi yang diracik oleh para barista.

Pertama kalinya saya kesini yang saya liat rata2 pengunjung bukan hanya yang pasangan2, tapi, ada juga yang lagi ngadain arisan, ada yang mit’ap dan reuni macam kami. Tapi kok banyakan ibu2. Yang paling saya suka disini banyak banget ornamen2 antik untuk pepotoan. Kayak nampan2 berbahan seng norak bunga2 jadul, klo di rumah saya udah di gudang ditumpuk dan berdebu (ngga kreatip amat), disini, digantung atau ditempelin di dinding jadi hiasan cantik. Mangkok atau cangkir2 dari kayu dibikin jadi aksesoris di meja atau dinding yang bikin suasana makin antik. Saya suka, saya suka…

c360_2016-12-17-19-49-15-008
Salah satu sudut indoor

Setiap weekend ada konser mini. Saking mininya ya biola doang, hehe. Bagi penggemar biola mungkin akan betah, apalagi ditambah hujan rintik2, bisa menambah kesan dramatis atau jadi romantis. Tapi bagi saya yang lebih menyukai gitar, mendengar alunan biola yang mendayu2 kok jadi horor 😀

Saya perhatiin, mereka yang mau pulang pasti foto dulu di depan rumah pohon. Jadi saya simpulin, ngga sah kalau nggak poto dengan latar belakang rumah pohon. Kami pun ikutan dong, ah!

Kuliner

Pondok Telaga Ikan, Restoran Berkonsep Alam di Pinggiran Kota Medan

Jadi ceritanya liburan kemarin mau pulang kampung ke Sidamanik, berangkatlah menuju bandara KNO. Paten kali kan? Ke Sidamanik naik pesawat. Haha

Bukan loh, karna kalau libur panjang gini kan bus dan segala macam armada angkutan darat pasti rame. Bisa-bisa saya dapet bus yang udah antrian ke berapa gitu. Bahkan bisa ngga dapet tiket. Makanya atas saran temen, saya naik Paradep yang dari bandara aja. Kalaupun rame, dipastikan ngga sampe lumutan nunggu antrian. Kemudian memang sebelumnya ada acara sih dekat situ. Jadi karna serba udah kesiangan pas dijalan perut pun kriuk-kriuk minta disubsidi. Inget-inget arah bandara ada restoran keren namanya Pondok Telaga Ikan, maka mampirlah kami.

img-20161213-wa0014
Halaman sekaligus parkiran

Tiba di TKP, wow, udah rame aja. Keliatan dari banyaknya mobil dan motor terparkir di halaman. Iyalah pas jamnya makan siang pula. Di pintu masuk, kita akan disambut oleh dua patung mirip patung budha dengan nuansa Bali. Ciri khasnya payung kuning dan sarung kotak-kotak hitam putih. Disapa oleh kakak-kakak berseragam batik merah yang ramah. Kita diikutin sampe ke tempat duduk.

Kami melewati area utama dengan maksud mencari tempat duduk di pondokan di atas danau. Tapi ternyata udah penuh dan sebagian udah direserve. Kepalang tanggung ya sekalian aja keliling dulu sambil foto-foto. Eh ngga keliling ding, karena kalau digambarin bentuk restoran ini mirip huruf T yang terbalik. Jadi, area utama melebar ke samping. Disini ada lesehan sebalah kiri juga ada pilihan duduk di kursi. Sebelah kanan ada VIP area berdinding kaca. Kayaknya sih keistimewaanya lebih privat dan berAC. Depannya ada kolam ikan. Ditengah-tengah area utama ada akuarium besar, tinggi dan memanjang berisi ikan hias. Nah dari tengah ditarik garis lurus, ya, klo disini semacam lorong terbuka atau gang yang memisahkan sisi kiri dan kanan. Sisi kiri ada pondokan dengan tempat duduk pakai kursi. Sementara sisi kanan duduknya lesehan. Dan dibawahnya ada kolam yang berisi ratusan ikan yang bisa dipancing. Kayaknya pemiliknya doyan mancing atau ikan-ikanan nih. Dimana-mana kolam mulu :D. (Foto2 cakep nya dalam 1 folder kehapus Cahyo, hiks).

Diliat dari konsepnya yang alami dan ala-ala pedesaan sih ya wajar aja banyak yang suka ke sini. Secara belakangan ini alam sedang digemari. Setiap pondokan dikasi gorden putih transparan yang panjang menjuntai menambah kesan manis pemandangan. Apalagi dihembus angin sepoi-sepoi, jadi pingin bawa bantal, tidur deh. Sementara di sisi kiri dan kanan lorong ada banyak sangkar yang berisi berbagai macam jenis burung dan ayam. Bisa dibilang kebun binatang mini lah.

 

Nah, di kolam tengah atau nomor dua paling belakang, disediakan kayak perahu motor (kapal) yang bisa disewa per jam. ngeliat luas kolam yang tak seberapa sih saya bayanginnya mual naik kapalnya. Karna pasti akan muter-muter disitu-situ aja saking sempitnya. Eh, ya tergantung orangnya juga sih ya. Klo saya memang tukang mabok, konon lagi klo diputer-puter, haha. Tapi kalau bawa anak-anak bisa lah untuk mengusir kebosanan. Apalagi bisa sewa alat pancing kok disitu.

Soal menu, berhubung saya ga pinter icip-icip dan ga terlalu hobi kulineran. Bagi saya setiap makanan hanya ada dua rasa. Enak dan enak banget, haha. Ngga pinter kalau harus komentar kurang ini dan itu. Macem-macem makanan disediakan. Olahan ikan, ayam, seafood. Cemilan, jus dan bir juga ada. Lalu saya pesan apa? Ayam bakar dong! Menu andalan kemanapun dimanapun :D. Porsinya agak gede. Tapi sayang kurang mateng dikit lagi aja karna masih ada merah-merah di dalam dagingnya. Kalau soal harga masih sangat standar. Ada porsi sendiri, juga disediakan porsi besarnya. Jadi ngga masalah bagi yang jomblo. Ngga usah bingung klo dateng sendirian *eh.

Sejauh ini saya suka sama konsepnya. Sepertinya sih masih ada yang belum selesai pengerjaannya. Sepertinya loh, ya. Karna ada beberapa item yang seperti sengaja dibiarin belum indah. Ah ini gimana lagi sih bahasanya ya? Haha.

Kayak mushola kurang rapih. Trus kolam yang paling belakang banyak eceng gondok. Kemudian masih dari kolam bagian belakang, di area penyewaan kapal, airnya kurang jernih. Hijau pekat karna lumut.  Ntah ini sengaja atau belum diperbaiki, ya tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. Hehe

Akhirnya terpenuhi juga rasa penasaran akan restoran yang lagi hits seinstagram kota Medan. Bisa deh untuk rekomendasi reunian temen SMP ntar. Dan udah bisalah pulang kampung dengan tenang (udah kenyang sih) haha.

img-20161213-wa0011
Muka lapaar

Selamat libur panjang teman-teman 🙂
(Nasib karyawan jarang dapat libur)

Foto-foto pribadi alakadarnya. Yg lebih oke Intip aja IG nya @pondok telaga ikan

Jl Raya Batang Kuis (Menuju bandara KNO