Uncategorized

Review Buku Ngelencer Yuk!! Jelajah Destinasi Wisata Nusantara

Review Buku Ngelencer Yuk!! Jelajah Destinasi Wisata Nusantara – Apa jadinya kalau 13 orang penulis, travel blogger dan reviewer kondang berkolaborasi membuat sebuah buku? Bikin penasaran pastinya. Mendengar judulnya, melihat covernya, membaca deretan nama penulisnya bikin saya tanpa ragu tuntaskan membaca buku Ngelencer Yuk!! sampai selesai dihari itu juga.

Ngelencer Yuk!!

Saya langsung googling ketika membaca judul buku antologi karya 13 penulis keren yang tergabung dalam sebuah komunitas Blogger dan penulis Indonesia bernama Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI).

Ngelencer adalah sebuah kosakata yang baru saya dengar saat buku ini ada di tangan saya. Dengan satu judul saja jadi bisa menambah perbendaharaan kata, kan.

Menurut beberapa sumber, kata Ngelencer mempunyai makna kegiatan piknik, berwisata, jalan-jalan, berpesiar.

Nglencer adalah jalan-jalan untuk “ngenggar-enggar penggalih” (refreshing) setelah jenuh dalam kesibukan sehari-hari (kompasiana)

Ya, intinya adalah berwisata. Bagi saya yang menyukai kegiatan wisata, jalan-jalan, berpetualang, dolan pokoknya kegiatan tamasya akan selalu penasaran dengan informasi tertulis baik itu pada media cetak ataupun elektronik. Buku dengan genre wisata adalah paforit saya. Makanya ketika mendapati nama Bu Annie Nugraha, seorang Travel Blogger panutan saya ada dalam deretan penulis, masa saya abaikan?

Judul Buku : Ngelencer Yuk! (Rangkaian Kisah Perjalanan Menjelajah Nusantara)

Tebal Buku : 171 Halaman

Penulis : Annie Nugraha, Raihana Mahmud, Nanik Nara, Dian Raditia, De Laras, Ida Tahmidah, Nunu Oeng, Dudi Iskandar, Tanti Amelia, Ari Dianing Ratri, O’ik Moehadie, Indah Wibowo dan Putu Sukartini.

Penerbit : Stiletto Book

Bahasa : Indonesia

Traveller Wajib Punya Buku Ngelencer Yuk!!

Siapa sih yang ngga suka jalan-jalan? Rasanya hanya 1 dari 100 orang yang tidak menyukai kegiatan wisata ini. 99 lainnya tentu saja punya gairah yang sama perihal wisata. Hanya beda di minat. Itu sebab, kegiatan wisata juga punya beragam jenis. Ada wisata alam, budaya, sejarah, religi, kuliner dan juga wisata minat khusus.

Dalam buku Nglencer Yuk!!, meski fokus pada objek wisata tapi rasanya hampir semua segmen dibabat habis. Tak salah kalau dijadikan referensi untuk traveller yang butuh rekomendasi tempat wisata, akomodasi, informasi budaya, kuliner sampai sejarah yang ada pada sebuah destinasi.

“Sulit rasanya menemukan seorang yang tidak menyukai kegiatan jalan-jalan. Sesibuk apa pun itu, sesempit apa pun waktu yang ada, kita pasti menyempatkan diri untuk rehat sejenak dan mengisi waktu dengan berbagai aktivitas yang menyenangkan hati. Healing istilah kekiniannya.

Gak perlu jauh-jauh. Cukup di tanah air, negeri kita sendiri. Bumi nusantara menyimpan banyak sekali tempat, budaya dan kuliner yang lebih dari patut bahkan sangat indah untuk dikunjungi, dipotret, disimak dan dituliskan”.

Setuju, ngga perlu jauh dan mahal untuk bisa ngelencer. Saya sendiri merasakannya. Pada intinya, berwisata adalah menciptakan hati yang bahagia. Bahagia ketika merencanakan, bahagia ketika melaksanakannya dan bahagia pula ketika kembali ke rumah.

What you see is what you get

Semakin banyak berjalan, semakin banyak yang dilihat, semakin banyak pula yang didapat. Dapat pengalaman, dapat kisah perjalanan, dapat informasi, pengetahuan dan dapat kepuasan hati.

Itu sebab, saat melakukan kegiatan wisata, saya pribadi menikmati betul-betul momen yang ada. Saya menggunakan gadget hanya untuk mengabadikan dan merekam jejak. Abaikan sejenak dunia sosial media yang biasanya hanya akan merusak intisari dari sebuah perjalanan sebab akan sibuk sendiri dengan gawai.

Pastinya begitu pula yang dilakukan ke-13 kontributor buku ini. Kalau tidak karena menikmati perjalanan dengan fokus, saya yakin mereka juga ngga akan bisa membagikan kisah dan informasi lengkap perihal apapun yang disaksikan dan dirasakan.

Sebab, foto dan rekaman video hanyalah alat bantu untuk mengingat detail perjalanan yang telah lewat. Apa yang membekas dalam hati dan ingatan adalah sebaik-baiknya memori dan review jujur sebagai pengantar apa yang hendak kita tuliskan dan bagikan pada sebuah jurnal perjalanan.

Related Post: Mom, Lets Go

Rangkuman Tulisan Dalam Buku Ngelencer Yuk!!

Annie Nugraha

Bukan Bu Annie orangnya kalau tidak bisa secara detail mendeskripsikan segala hal dengan kosakata yang beragam pada setiap tulisannya. Tak pernah bosan membaca sepanjang apapun yang aksaranya. Sosok yang dikenal sebagai Hotel dan Resto Reviewer handal ini memang pantas saya jadikan panutan dan blogger idola.

Sebatas warung sarapan sederhana, pun, mampu beliau jabarkan secara detail tanpa ada sedikitpun rasa jenuh untuk melahap tulisannya.

Dalam buku ini, Bu Annie menyumbangkan dua tulisan. Kepiawaiannya dalam mengambil gambar mampu membuat visualnya jauh lebih berwarna dan bikin pembaca betah.

Kita diajak untuk sama-sama belajar sejarah kain tenun asli asal Tidore bernama Puta Dino. Diajak mengetahui kerasanya seorang Anitawati dalam usahanya melestarikan tenun tanah kelahirannya hingga bisa dikenal dan menjadi satu-satunya wastra asli Tidore yang bisa dijadikan buah tangan penuh memori bagi wisatawan.

Kemudian menyebrang ke pulau Kalsel untuk bertandang ke wilayah Banjarbaru. Turut menyaksikan acara tahunan Baayun Maulid di Museum Lambung Mangkurat. Bukan hanya berbagi kisah tentang acara Baayun Maulid, sebaliknya, Bu Annie juga memberikan bonus informasi tentang Museum Lambung Mangkurat itu sendiri.

Ari Dianing Ratri

Siapa sih yang ngga tau desa Panglipuran? Yup, salah satu desa terbersih di dunia ada di Pulau Bali. Sebatas itu yang saya ketahui. Namun, dari tulisan Mbak Ari, pengetahuan saya bertambah tentang Desa Panglipuran. Tentang larangan-larangan yang berlaku di desa, Filosofi dari bentuk bangunan disana, kuliner asli dan juga ritual yang sedang berlangsung pada saat itu.

Melaui tulisan ini, saya semakin yakin menyematkan Desa Panglipuan dalam bucket list yang harus ditunaikan. Semoga bisa bercerita dalam sebuah pengalaman yang berbeda.

De Laras

Satu kebanggaan mengetahui tanah kelahiran saya, Sumatera Utara masuk dalam salah satu tulisan disini. Yes, Danau Toba, kebanggaan orang Sumut. Meski di Danau, tetap ada pantai, hehe. jangan kaget, orang Medan memang menyebut kebanyakan perairan dengan sebutan pantai/pante.

Related Post: Pantai Arofan Simalungun, Berasa di Private Beach

Jangan salah, Pantai Pasir Putih Parbaba di Samosir ini memang seperti yang digambarkan Mbak Laras. Bersuamikan warga setempat, mungkin bikin Mbak Laras ikut jatuh hati sama tanah kelahiran sang suami. Pasir putih yang mengkilat diterpa sinar surya, birunya air danau dengan latar belakang perbukitan hijau adalah pemandangan spektakuler pantai ini. Ajakan berwisata ke Pantai Parbaba bukan tanpa alasan. Siapapun akan jatuh hati dengan megah sekaligus magisnya Danau Toba.

Dian Radiata

Sumba, salah satu daerah yang ada dalam bucket-list saya. Beruntung Mbak Dian mampu sedikit mengobati rasa penasaran saya lewat kisahnya dalam cerita Kampung Adat Ratenggaro. Ditambah foto luar biasa menakjubkan dari bangunan khas sana.

Saya memang memimpikan untuk bisa menjelajah desa-desa yang masih alami di seluruh tanah air. Menyelami hidup bersama penduduk, belajar adat budaya dan kehidupan setempat, sejarah, filosofi, dsb. Begitulah cara asyik menikmati suatu tempat seperti yang digambarkan penulis dalam kisahnya selama berada di Sumba, mengenal Ratenggaro. Dengan demikian, meninggalkan tempat impian dengan rasa rindu yang membuncah dan ingin kembali suatu saat nanti.

Dudi Iskandar

Yogyakarta mendapat giliran lewat tulisan Kang Dudi. Begitu teman-teman Blogger menyapanya. Lewat Tradisi Patehan yaitu tradisi menyiapkan minuman khususnya teh dan segala perlengkapan untuk keperluan Keraton Yogyakarta.

Hanya minum teh, yang saat ini sudah menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat. Tapi istimewanya, ini adalah budaya yang dilakukan dengan berbagai prosesi adat khusus yang tentu saja tidak boleh sembarangan dilakukan. Jadi minum teh tidak sesederhana itu kalau dilakukan di lingkungan Keraton. Berharap tradisi ini akan selalu ada meski harus dilakukan oleh generasi muda. Duh, jadi kangen Jogya, kan…

Ida Tahmidah

Lagi-lagi destinasi impian saya jadi bagian dalam buku ini. Labuan Bajo, siapa sih yang ngga kepingin kesini? Mana yang berpetualang Mbak Ida bersama dua emak tangguh lainnya jauh-jauh dari Bandung. Membaca keseruannya, gairah petualang saya semakin melonjak-lonjak, deh.

Melihat Komodo dari jarak dekat, Snorkeling di berbagai pulau dan berakhir di Pantai Namong. Digambarkan sebuah pantai dengan pasirnya yang halus lembut berwarna merah muda. Sampai-sampai Mbak Ida menyebutnya sebuah kepingan tanah surga membuatnya “lupa diri” saking asyiknya bermain di pantai layaknya anak kecil. Mbak Ida, dirimu ngga sendiri. Saya yang kadang anti sama pantai (karena takut kulit yang udah udah gosong tambah gosong) jadi ikut lupa diri main kaya anak kecil saat ketemu air dan pasir pantai.

Indah Wibowo

Mbak Indah sengaja berangkat mruput ke kota Temanggung demi menikmati jajanan di Pasar Papringan. Berjarak 80KM dari rumahnya di Semarang. Di Deli Serdang juga ada pasar serupa yang hanya buka di weekend. Bedanya saya dengan mbak Indah apa coba? Saya banyak magernya, huhu. Padahal jaraknya ngga sampe 80 KM pun sampe saat ini tak kunjung didatangin. Hmmm…

Melihat gigihnya beliau, berangkat lepas subuh melawan rasa malas untuk bisa merasakan sensasi bertransaksi dalam sebuah pasar yang suasananya tenteram, tenang dan damai. Ramainya tidak seperti pasar pada umumnya. Suara gamelan, gelak tawa dan sapa ramah penjual dan alat tukar berupa bilah bambu menjadi pembeda yang sulit diungkapkan.

Pasar hasil kolaborasi masyarakat dengan Spedagi (sepeda pagi) bertujuan untuk mencapai desa yang mandiri dan lestari yang mereka sebut sebagai Gerakan Revitalisasi Desa. Tentu saja banyak manfaatnya bagi warga setempat terutama untuk bangkitnya perekonomian.

Nanik Nara

Membaca kisah perjalanan Mbak Nanik naik ke puncak Gunung Kelimutu bikin saya rindu treking kembali ke Gunung. Melawan dingin dan kaki pegal adalah makanan seorang pendaki. 40 menit mendaki ,ternyata ada kejutan di puncak. Langit menghadiahkan semburat oranye tanda matahari akan hadir memberi kehangatan. Beruntungnya Mbak Nanik kala itu.

Puncak Kelimutu ternyata punya kejutan lainnnya. Keberadaan danau menjadi latar belakang pemandangan sebagai pelengkap indahnya Kelimutu. Bernama sama, Danau Kelimutu berlokasi masih di kawasan Taman Nasional Kelimutu. Segala keindahan berikut legendanya secara lengkap diceritakan mbak Nanik. Senang sekali beliau telah menginjakkan kaki pada danau yang pernah menghiasi lembaran mata uang rupiah.

Related Post: Treking Gunung Sibayak

Nunu Oeng

Pasar Terpaung adalah salah satu keunikan yang dimiliki Indonesia. sekaligus menandakan bahwa masyarakat kita sebenarnya bisa survive dimanapun berada. Mencari rezeki bahkan di atas perahu pada sebuah sungai besar. Ya, Lok Baintan di Tanah Borneo. Tentu saja ini pengalaman yang sangat berkesan bagi mbak Nunu, sebab dimana lagi bisa merasakan sensasi bergoyang-goyang di atas perahu berpacu dengan adrenalin sambil bertransaksi jual beli. Lebih-lebih pasar terapung ini pernah tenar saat saat salah satu stasiun TV swasta menampilkan sosok perempuan paruh baya sedang mengacungkan jempolnya. Ada yang ingat? RCTI Oke….

Kalau saya jadi Mbak Nunu pun akan melakukan hal yang sama. Meski takut dengan wisata air, tapi harus merasakan berada dalam perahu klotok walau sekali seumur hidup. You did it, mbak…

O’ik Moehadie

Kita diajak berwisata kuliner oleh Mbak Oik ke wilayah Pinarak Bojonegoro, Jawa Timur. Dari mulai Sego Pecel Beldex, Lontong Galak, Warung kikil “Mbah Su” Pacul, Warung Semok Iwak Gloso, Sambal Ale, Sego Buwuhan dan oleh-oleh Ledre yang keseluruhannya digambarkan dengan sangat detail. Membaca ini saya seperti orang yang sedang berpuasa dan menunggu di detik-detik waktu berbuka. Membayangkan keselurahan makananan yang diceritakan. Bentuknya, warnanya berikut rasanya yang bikin berulang kali menelan liur.

Putu Sukartini

Mbak Putu membawa kita keliling nusantara untuk berburu jejak warisan leluhur melalui wisata sejarah. Sama halnya dengan beliau, setiap menginjakkan kaki ke sebuah situs atau bangunan bersejarah, ada debaran hati, rasa haru memandang apalagi mangetahui kisah yang melatarbelakanginya.

Candi, museum, gedung tua, keraton dan monumen bersejarah adalah warisan yang sayang untuk diabaikan. Identitas suatu daerah bahkan bangsa Indonesia. Kalau kita ngga bisa membangun, minimal jangan merusak. Mbak Putu mengajak kita untuk sama-sama melangitkan mimpi , doa dan harapan agar peninggalan sejarah dimanapun tetap bediri kokoh selamanya. Aamiin…

Raihana Mahmud

Salah satu wilayah di Indonesia yang punya banyak pantai eksotis adalah Aceh. Meski pernah dihantam tsunami hebat tahun 2004 lalu, pantainya tetap saja indah. Mbak Raihana berhasil mengambarkan beberapa pantai yang terkenal disana seolah-olah saya turut serta bersamanya.

Pantai Lhok Nga dan Pantai Lampuuk yang menjadi salah satu spot surfing terbaik di dunia. Pantai Alue Naga tempat orang-orang memancing, Pantai Ujong Batee sebagai spot terbaik memandang Pulau Weh juga Pantai Pasir Putih Lhok Mee yang punya spot foto tercantik.

Selain pantai, tak luput beliau memberi informasi detail tentang destinasi lainnya serta kuliner yang menjadi ciri khas Serambi Mekah.

Tanti Amelia

Bener kan? Berwisata tak perlu jauh-jauh. Contohnya Mbak Tanti, sebagai warga Tangerang, beliau sengaja eskplor negeri Tirai Bambu lewat sebuah museum bernama Benteng Heritage Tangerang.

Tangerang dan kisah tentang Cina peranakan di Indonesia punya tempat tersendiri di hati Mbak Tanti. Ketertarikannya dengan sejarah Cina sampai bikin beliau menuliskan novel khusus. Memang, budaya mereka cukup unik, ornamennya semua serba cantik. Kalau kita berkunjung ke kelenteng, pasti bawannya pingin foto mulu.

Duh, membaca tuntas buku Ngelencer Yuk!!, bikin saya seolah ikut serta jadi bagian dari peserta tour. Memang benar buku adalah jendela dunia. Dengan membukanya, kita bisa melihat banyak hal dari sudut berbeda, mengetahui dan mengulik seluruh informasi hanya dengan membuka lembar demi lembarnya.

Harapannya agar gairah menulis selalu bergejolak dan minat membaca tetap menyala. Abadi selalu literasi Indonesia. Semoga selalu terbit buku-buku Ngelencer Yuk!! versi lainnya.

33 tanggapan untuk “Review Buku Ngelencer Yuk!! Jelajah Destinasi Wisata Nusantara

  1. MashaAllah. Terimakasih banyak untuk reviewnya Suci. Membaca rincian di atas kembali mengingatkan saya akan rangkaian proses yang saya dan PAPI lakukan dalam mempersiapkan buku Ngelencer Yuk!! ini.

    Semoga buku ini menjadi manfaat bagi banyak pihak serta mampu menyumbangkan makna bagi perkembangan literasi di tanah air.

    1. Segala proses sulit yang dilalui akan sangat indah diingat kalau hasilnya sudah jadi ya, Bu…

      Smoga PAPI bisa selalu konsisten menelurkan karya2 yang keren dari bersama kontributor2 teruji, Aamiin…

  2. Wah, ternyata Iyah sudah sering Ngelencer juga. Iyah suka baca buku-buku kompilasi begini, karena penulisnya rame, rasanya kayak melihat tulisan warna-warni didalamnya πŸ˜€

  3. Ini dia buku yang bisa jadi sumber gambaran betapa indah Nusantara kita yang tercinta. Jadi pengen baca-baca juga buku Ngelencer Yuk. Semoga sukses untuk semua kontributor.

  4. Iya setuju mbak Annie Nugraha cocok disematkan traveler blogger soalnya ulasan dia mengenai sebuah destinasi wisata itu lengkap banget, beruntungnya mbak dapat buku ituπŸ₯°

  5. Setuju deh kalau di tanah air kita juga masih banyak destinasi wisata yang sangat indah ya. Jadi sebelum ke luar negeri, ngelencer aja dulu di lokasi yg deket deket ya….

    Salam
    Okti

  6. Wah sebagian besar penulisnya aku kenal nih. Paling suka deh buku yang membahas tentang traveling, bisa menambah wawasan serta bisa menjadi obat rindu traveling hehe.
    Apalagi travelingan di lokal nusantara, karena sebenarnya di negeri banyak sekali destinasi wisata menarik, bahkan yang belum banyak dikenal orang.
    Problemnya cuma satu, kebijakan transportasinya kurang dukung, kyk harga pesawat yang gila2an, jdnya kadang bikin tujuan wisata lokal kurang dilirik.
    Semoga nanti kita bisa punya menteri perhubungan yang pinter mengatur kebijakan soal ini πŸ˜€

  7. Wah ada Mbak Anie Nugraha dan Mbak Tanti AMelia juga, pastinya tulisan dalam buku ngelencer yuk ini berisi banyak hal inspiratif saat traveling. Jadi penasaran buat baca nih buku

  8. Wah bakalan kayak jdi bagian yang ikut ngelencer juga nih pasca baca bukunya ya kak Suci.
    Apalagi ini ditulis oleh para blogger senior pula, yang tulisannya gereget dah

  9. Wah…nama-nama penulisnya aku tahu nih sebagai bloger. Sering baca juga artikel blognya. Yakin bukunya pasti keren, karena beliau-beliau ini kalau nulis perjalanan detail tapi engga kaku. Jadi engga bakalan bosen deh…
    Semoga laris bukunya…

  10. Sebagian penulisnya kenal (masih sesama blogger) ^_^
    Semua punya karakter tersendiri dalam gaya penulisan dan menyampaikan info lewat tulisan. Merangkum sudut pandang berebeda dlm eksplor wisata. Menarik antologi nya

  11. Buku Ngelencer yuk ini bener-bener bikin pembaca puas banget sama penggambaran tempat wisata di Indonesia yang divisualisasi menggunakan rangkaian kata yang indah.
    Semua penulisnya yang memang konsisten menuliskan travelling, bikin bukunya semakin gurih.

  12. Baca tulisan ini jadi tertarik pengen punya bukunya πŸ™‚ walaupun udah lama ga traveling, tpi ku rasa buku ini bisa menemani saat2 nunggu anak pulang sekolah hehee

Tinggalkan Balasan