jalan dan wisata

Stasiun Itu Kini Bernama Lawang Sewu

Lawang Sewu Semarang – Sebagai orang awam dan tinggal di seberang Pulau Jawa, Kota Semarang yang saya ketahui selalu identik dengan Lawang Sewu dan Stasiun Tawang. Itupun karena pernah dengar sebuah lagu Jawa yang sebagian liriknya begini “Yen ing Tawang Ono Lintang, Cah Ayu”. Meski bersuku Jawa, yang saya paham artinya cuma Cah Ayu-nya saja. Kalau Lawang Sewu taunya dari acara uji nyali di TV, hehe

Selain kedua ikon tersebut, Wingko Babad Cap Kereta Api adalah satu-satunya makanan yang saya tau berasal dari Semarang. Pernah atasan saya bawa panganan itu sebagai oleh-oleh. Gigitan pertama, saya langsung doyan. Saking doyannya, wingko itu terbayang-bayang dan bikin saya sampe pernah pingin sekali makan wingko.

Karena ngga punya teman dekat di Semarang dan ngga mungkin juga minta atasan saya untuk kirim wingko Cap Kereta Api itu ke Medan (berani bener nyuruh atasan ngirim makanan, hahaa), temen saya yang tinggal di Jawa bagian lain, inisiatif kirim wingko merk yang lain. Sayangnya saya kurang suka sebab rasa dan teksturnya sangat jauh berbeda dari Cap Kereta Api. (Tolong Wingko Babad Cap Kereta Api, endorse saya, hahahaa)

Wellcome Semarang

Kesan Pertama di Kota Semarang

Lepas subuh saya bertolak menuju loket shuttel yang akan mengantarkan saya menuju kota Semarang. Jadwal keberangkatan pukul 5 pagi bikin saya sudah pesan ojek online pukul 4:30. Ada sedikit rasa was-was berada di jalanan sepagi itu. Berasa di Medan, parno sama begal :(.

Tujuh menit setelahnya saya sudah berada di sebuah ruang tunggu. Setelah melakukan registrasi ulang lalu diberi sebotol air mineral dan sebungkus biskuit, saya duduk di depan TV menunggu penumpang lainnya sambil blog walking ke tulisan-tulisan Editor Freelance, salah satu rekan bloger saya yang sudah banyak menghasilkan karya tulisan.

Dalam sebuah armada HIACE, kami ber -9 diantarkan oleh seorang supir bernama Mas Budi. Shuttle di Jawa ini, pelayanannya bisa dikasi jempol, deh. Petugas ramah-ramah, berangkat tepat waktu, sebelum berangkat ada sesi absensi sesuai nama dan nomor bangku, perkenalan supir dan berdoa, selanjutnya selama perjalanan disetirin dengan nyaman. Saya yang biasanya mabuk, kali itu bisa tidur dengan kondisi perut sehat, no mual-mual.

Melaju dengan kecepatan sedang di sepanjang jalan tol, saya terbangun ketika merasakan hangatnya sinar mentari yang menembus jendela kaca. Sudah pukul 6 pagi. Persawahan dengan latar belakang bukit, bikin mata saya melek selebar-lebarnya. Mau bikin dokumentasi tapi urung sebab sadar, kegiatan main hp di kendaraan bisa bikin saya mabuk. Akhirnya, pemandangan indah itu saya nikmati sambil ngunyah biskuit.

Ngga terlalu jauh dari pintu keluar tol, melewati sebuah bundaran dengan tugu di tengahnya, saya disuguhkan dengan penampakan bangunan tua yang besar. Tebakan saya itu adalah bangunan Cagar Budaya yang jadi tujuan utama saya hari itu. Pukul delapan pagi, kaki saya secara resmi berpijak di tanah kota Semarang untuk pertama kalinya. Di trotoar, saya melemparkan pandangan mencari warung sarapan dan memutuskan mencarinya sambil berjalan kaki menuju bangunan Cagar Budaya yang menjadi ikon kota Semarang itu. Tapi, nihil. Sepanjang pedestrian itu ternyata steril dari pedagang kali lima. Sepertinya ini kawasan perkantoran. Seingat saya hanya ada beberapa bangunan kantor, beberapa bank dan beberapa hotel saja.

Pagi itu sungguh cerah sekali. Entah memang Semarang ini kota dengan iklim yang panas atau memang sedang musim panas. Delapan menit, beberapa kali saya usap keringat, padahal saya berjalan santai. Belum lagi dapat warung makan, saya sudah ada di depan gedung besar itu. Sempat ragu, apakah harus terus cari makan dulu atau langsung masuk gedung saja. Menimbang terbatasnya waktu, apa boleh buat saya harus masuk tanpa sarapan.

Bekas Stasiun Kereta Api

Lawang Sewu

Beberapa tahun lalu (engga tau sekarang masih ada apa, ngga), di salah satu TV swasta ada program acara uji nyali yang setingnya ada di Kota Semarang ini, tepatnya pada sebuah gedung tua peninggalan Belanda. Tak seperti drama FTV yang tentu saja saya tonton sampai selesai, program uji nyali ini tak pernah sekalipun saya selesaikan. Jangan tanya kenapa? Tentu saja karena saya penakut. Tapi berkat acara ini pula saya jadi tau ada gedung berpintu seribu di Indonesia tapi tentu saja dengan image horor dan berhantu. Kalau tidak, pasti ngga masuk program uji nyali, kan?

“Sudah buka, ya, Mas?” Tanyaku pada petugas kemanan yanng berjaga di depan gerbang.

“Sudah, mbak. Silahkan lewat pintu samping”. Saya diarahkan menuju pintu dari sisi yang lain..

Beberapa orang tua dengan dresscode putih dan kerudung pink yang tergabung dalam rombongan sudah antri di depan gerbang. Ternyata untuk masuk ke sini, masih diberlakukan check-in aplikasi peduli lindungi.

“Dek, bagaimana, ya, caranya, ini punya istri saya kok ndak muncul kotaknya?” tanya seorang bapak setengah baya pada saya yang saat itu juga sedang membuka aplikasi yang laris manis pada masa pandemi lalu.

Disela-sela membantu pasutri itu, kami asyik bercerita. Ternyata mereka pernah delapan tahun tinggal di Medan. Satu hal yang paling saya suka saat berpergian jauh adalah ketemu orang sekampung atau pernah tinggal di daerah yang sama. Selesai urusan aplikasi, mendadak saya berasa jadi selebriti, entah sebagai ucapan terima kasih sudah membantu atau karena excited ketemu temen sekampung, mereka minta foto bareng saya. Harusnya kan saya yang excited, ya? hahaa. Sayang, saya lupa minta kirim fotonya.

Berbekal sebuah tiket yang ditebus seharga 20ribu, saya mengkuti rombongan itu untuk masuk ke dalam area sambil memegang tiket. Selain check-in aplikasi peduli lindungi tadi, antrian kedua adalah scan tiket pada sebuah gate untuk bisa masuk ke area gedung. Canggih, ya. Di Medan setahu saya belum ada masuk cagar budaya menggunakan gate begitu.

Beberapa lelaki berbeskap lengkap menawarkan jasanya untuk memandu, tapi saya memang ngga berencana pakai guide, sebab waktu saya di sini hanya sampai siang hari saja. Sementara setelah ini masih ada beberapa tempat yang ingin saya datangin. Main cepat, aja!

Saya ikuti rambu, dan mengambil beberapa foto gedung bagian samping. Kondisi hari masih pagi membuat area ini masih sepi dari pengunjung dan leluasa ambil gambar. Di beberapa spot, saya berjumpa dengan pengunjung lain dan itu membuat hati saya tenang. You know, lah ya, hahaa, si penakut ini suka parno dengan kesendirian. Malah di beberapa ruangan sengaja saya ikuti rombongan atau pengunjung lain saat menuju spot yang gelap dan sepi. Padahal, sih sebenernya ngga ada apa-apa yang perlu ditakutkan (itu kata temen saya).

Dari “ngekor” rombongan, saya jadi tau kalau gedung ini dulunya adalah bangunan Belanda sebagai gedung administratif pengelolaan kereta api pada masa itu. Perusahaan itu adalah Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Perusahaan swasta pertama yang mengoperasikan kereta api di Hindia Belanda, dibangun pada tahun 1904. Merekalah yang pertama kali membangun jalur kereta api di Indonesia yang menghubungkan kota Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta.

Related Post: Pengalaman Pertama naik MRT Jakarta

Desain berpintu banyak ini pun ternyata ada yang melatarbelakanginya. Sebab di jaman itu belum ada AC, sang arsitek Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Queendag mendesain dengan banyak pintu berdaun lebar dan tinggi seperti itu agar tetap sejuk meski tanpa alat pendingin udara. Fakta lain yang berhasil saya curi dengar adalah pada kenyataannya jumlah pintu di gedung ini hanyalah sebanyak 429 buah saja, dengan jumlah daun pintu lebih dari 1.200. Meski ngga sampe seribu tapi dengan jumlah segitu ya tetap saja banyak, ya. Maka disebutlah sebagai Gedung Seribu Pintu bahasa Jawanya Lawang Sewu. Stasiun itu kini bernama Lawang Sewu.

Ruang – ruang Kotak Sebagai Museum

Meski sedikit spooky, spot pavorit saya adalah sebuah tangga besar menuju lantai 2 dengan kaca patri bercorak warna warni pada dindingnya yang tinggi. Kaca itu bergambar dua orang None Belanda dengan warna berbeda, merah dan biru. Kaca itu seakan-akan bercerita pada setiap orang yang memandangnya. Bagi saya itu salah satu spot instragamable meski ngga berani berlama-lama disana seorang diri. Apalagi sebelumnya saya sempet baca sebuah artikel milik rekan saya yang juga seorang Penulis Buku tentang museum yang saat itu ada suara tangisan, hiiiiiii…

Puas berada di ruangan bagian dalam ini, saya memisahkan diri dari rombongan itu dan mencari spot lain yang lebih terang. Sepanjang gedung, berjejer ruangan berkotak-kotak yang di dalamnya terdapat foto-foto sejarah dari jaman penjajahan yang tergantung rapi pada dinding ataupun pada sebuah benda mirip partisi.

Disi sisi lain, ruangan kotak-kota ini juga berisi miniatur-miniatur kereta api, lokomotif dan gedung-gedung pada masa itu yang diletakkan pada sebuah kotak kaca di atas meja-meja kecil. Pada dinding-dindingnya, terdapat keterangan sejarah perkereta-apian Indonesia.

Lawang Sewu
Lawang Sewu
Lawang Sewu
Lawang Sewu

Pada sisi yang lain, ruangan kotak-kotak ini dimanfaatkan untuk venue penjualan aneka sovenir dan penyewaan baju daerah dan baju belanda serta stand foto berbayar. Selain waktu yang terbatas, alasan lain saya ngga nyobain foto dengan busana khusus adalah, tarifnya lumayan mahal, hihii

Venue Sovenir dan booth foto
Aneka Sovenir
Aneka Sovenir

Kisah Ruang Bawah Tanah

Menuju ke area sovenir ini, saya sempat melewati sebuah ruangan kecil yang di bawahnya ada tangga menuju sebuah ruangan gelap. Yup, ruang bawah tanah.

Karena tak lagi “mengekor” rombongan, saya penasaran dan sempat sebentar membaca kisahnya di internet dan menemukan sebuah tulisan singkat tentang sejarah ruang bawah tanah ini. Jadi singkatnya, pada saat pendudukan Jepang, ruangan bawah tanah ini digunakan sebagai ruangan penyekapan para tahanan tentara Jepang. Ruangan bawah tanah ini dibagi menjadi tiga ruangan penjara bawah tanah. Ruangan pertama berjejer penjara berdiri yang berukuran kecil selebar 1×1 Meter. Biasanya penjara ini digunakan untuk 6 sampai 7 orang tahanan. Ruangan kedua terdapat penjara jongkok yang berukuran kurang lebih 1,5 Meter dan tinggi 1 meter. Ruangan bawah yang terakhir adalah berbentuk petak persegi empat. Ruangan ini digunakan sebagai tempat penyiksaan bagi para tahanan tentara Jepang.

Ruang Bawah Tanah
Lawang Sewu

Ngga terbayangkan, ya, dipenjara di ruang bawah tanah itu. Mungkin tanpa penyiksaan fisik pun, berada pada sebuah ruang sempit dan gelap sudah merupakan penyiksaan bagi mental tahanan. Lama-lama tewas sendiri. Mirip dengan kisah penjara bawah tanah di Kota Tua, Jakarta.

Related Post: Sejarah Batavia Ada di Kota Tua

Setelah proklamasi kemerdekaan RI, Lawang Sewu menjadi saksi ketika berlangsungnya peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang yaitu tanggal 14 sampai 19 Oktober 1945 antara Pemuda Angkatan Kereta Api (AMKA) melawan Kemptai dan Kidobutai dari Tentara Jepang.

Mengetahui beberapa sejarah kelam itu, tak mengherankan bila bangunan ini terkenal angker dan memiliki seribu cerita dengan unsur mistis. Mulai dari penggunaan penjara bawah tanah sebagai ruang penyiksaan tahanan sampai mati, hingga pertempuran antara pejuang dan penjajah Jepang yang menewaskan banyak korban jiwa.

Tapi kini, seiring berbenahnya bangunan menjadi lebih apik, rapih dan terawat, Lawang Sewu ternyata tak semenyeramkan itu. Tapi entah kalau malam hari ya, hehee.

Lawang Sewu

Bangunan yang terletak di Jalan Pemuda No. 160 Semarang ini diputuskan menjadi salah satu dari 102 bangunan kuno bersejarah wajib dilindungi yang ada di Kota Semarang. Selain itu pula ditetapkan sebagai Ikon atau Landmark Kota Semarang. Di depannya terdapat sebuah Tugu bernama Tugu Muda yang menjadi pelengkap ikon wisatanya.

Meski image horor, andai ada kesempatan lain mengunjungi Semarang, saya pastikan kembali mendatangi Lawang Sewu. Soalnya belum ada foto sendirian, hahaaa

1,5 jam saya berada di Lawang Sewu. Ngga tau juga apakah sudah seluruh bangunan itu saya datangi. Kayaknya, sih belum. Bersih dan terawat serta harga tiket yang terjangkau adalah kesan saya untuk Cagar Budaya ini. Saking luas dan banyaknya ruangan, saya seperti berjalan di labirin dan sempet muter-muter kesitu-situ saja, hahaa. Sayang, disana saya ngga nemu ada kantin atau warung makan, deh. Kaki saya gemetar bukan karena ketemu sesuatu yang menyeramkan, tapi karena lapar melanda. Saya putuskan menyudahi kunjungan ke gedung cantik ini, dan selanjutnya mencari toko wingko babad Cap Kereta Api di daerah Kota Lama dan tentu saja mencari sarapan. Selanjutnya akan saya ceritakan 🙂

Lawang Sewu
Lawang Sewu
Lawang Sewu
Lawang Sewu
Eh….

31 tanggapan untuk “Stasiun Itu Kini Bernama Lawang Sewu

  1. Kangen Semarang ih, dulu tuh nggak sengaja nyasar ke Semarang, terus kami ke Lawang Sewu deh, trus pas di bagian yang ada kaca warna warni itu, berasa kayak merinding aja gitu, padahal siang hari hehehe.
    Tapi nggak kapok sih pengen main ke sana lagi

  2. wah harus cari wingko babat cap kereta api nih
    Karena selama ini leumpeung aja, gak bisa bedain wingko yang enak atau enggak

    Sayang saya ke Lawang sewu sewaktu hari udah malam
    Jadi gak banyak yang bisa dipotret
    Walau sensasinya lebih wow! 😀

  3. Salah satu destinasi wisata dan pendidikan yang patut diacungi jempol tuh adalah Lawang Sewu. Tempatnya terawat, informatif, bersih dan gampang terjangkau. Intinya menyenangkan banget.

    Saya pernah kesini dan menuliskannya di blog. Banyak sudut-sudut istagenic untuk berfoto dan rangkaian sejarah yang memorable. Terutama untuk sejarah per-kereta api-an. Karena waktu itu datang sendirian, saya bersengaja menyewa tour guide. Puas banget dengar cerita beliau. Apalagi terus bisa bantu foto-foto. Seneng banget.

  4. Jadi ingat kenangan masuk penjara bawah tanah saat hamil usia kandungan enam bulan. Saat itu kami berangkat dengan instansi dan diperbolehkan ke bawah. Pakaian sepatu bot karena basah kena saluran air juga. Setiap orang dikasih senter. Seram tapi Alhamdulillah meski sedang hamil saya bik baik saja.

  5. Daku nonton sepertinya uji nyali di Tivi yang kak Suci maksud, tapi nontonnya barengan sama kakak dan Abangku wkwkwk jadinya berani.
    Kalau datang ke sana belum pernah. Meski siang fotonya hawa sesuatunya terasa ya. Yang penting tetap berdoa, dan semoga Lawang Sewu tetap terjaga kelestariannya

    1. Hihii uji nyali pertama dan terakhir yang saya tonton mbk. Kok ya kebetulan pas di Lawang Sewu, ya.
      Iya, bangunan cantik ini harus tetap dilestarikan

  6. Engga coba jalan2 pake bus wisata mba? Ada yang gratis loh. Hehe.

    Kalo cuaca semarang emang panas banget. Meski di daerah semarang atas pun masih tetap terasa panas. Hehe.

    Lawang sewu nih terkenal angker, tapi katanya sih hantu2nya udah cuek bebek sama kedatangan pengunjung. Jadi ga akan digangguin. Kecuali yang sensitif sama begituan. Heehe

    1. Hahahaaa ada gitu hantu cuek ya mbk. Tapi baguslah untuk penakut kaya saya bagus dicuekin, wkkkww.

      Saya ngga tau ada bus wisata, klo tau pasti tak sempetin coba naik mbk

  7. Jika suatu saat saya bisa berkunjung ke semarang, salah satu tempat yang pasti saya kunjungi adalah lawang sewu ini. tmenurutku, empatnya itu mistis namun bikin penasaran

  8. Di balik kemegahan bangunan Lawang Sewu terdapat sejarah kelam juga ya..
    Dan mengenai penjara jongkok ini, aku bener-bener amazing karena ternyata gak hanya terjadi di Indonesia, tapi di banyak negara yang pernah menjadi negara jajahan.

    Jadi benar adanya bahwa anak sekarang jangan sekali-kali melupakan sejarah.

  9. Langsung kebayang lezatnya wingko babat. Eh mbak berani banget ke ruang bawah tanah sendiri, apa nggak gelap? Horor?

      1. Yups, kak denger ruang bawah tanah untuk menyiksa tahanan tempo doloe aja serem ya dengernya, bikin uji mental dan bisa trauma/stress tuh yang ada di situ…

        Enggak kebayang deh,,,kalo kita mungkin dah shock..

Tinggalkan Balasan