Review

Review Film Avatar The Way Of Water, 3 Jam yang…

Review Avatar The Way Of Water – Saya sampe nonton ulang Avatar 1 demi bisa mengingat dan menyambungkan kembali jalan ceritanya. Ya ampuuun ternyata jarak sekuelnya aja 13 tahun. Dua tahun lebih tua dari usia anak saya yang pertama. BTW, mohon maaf untuk penggemar setia Avatar, review saya kali ini mungkin jauh berbeda dari penilaian kalian.

Judul Film : Avatar, The Way of Water

Launching : 14 Desember 2022

Sutradara : James Cameron

Pemain : Sam Worthington, Zoe Saldañ, Stephen Lang, Kate Winslet, Sigourney Weaver dll

Durasi : 3 jam 12 menit

3 Jam yang Sedikit Membosankan

Saya tau Avatar ini banyak penggemar dan penunggunya. Maksudnya menunggu sekuel demi sekuelnya. Avatar 2 ini pun tak kalah mendapat respon positif. Terlebih durasi yang cukup panjang, bikin fansnya semakin penasaran. Makanya sekali lagi mohon maaf atas review jujur saya yang bilang film kedua ini sedikit membosankan dan bikin saya tertidur pulas selama setengah jam dan kebangun karena satu suara. Kalau tidak, mungkin bablas sampe film selesai.

Ajakan adek saya membuat saya ikut menginjakkan kaki di bioskop 3D akhir pekan lalu. Dia salah satu penggemar avatar. Berbekal sebungkus popcorn dan sebuah tumbler biru yang lucu bercorak avatar serta sebotol air mineral yang dijual secara bundling seharga 150ribu berhasil menarik minatnya. Abang tukang tiketpun tersenyum bahagia sebab berhasil closing di siang hari yang mendung itu. Makanan dan minuman itu sejatinya berguna sebagai amunisi barangkali dilanda lapar dan haus sepanjang 3 jam bersama Avatar. Tapi malah sebaliknya kami dilanda beser, hahaa. Minuman pun tak tersentuh dan jagung goreng itu nyaris ludes di perut saya sendiri.

Avatar 2 ini rasanya lebih fokus ke visual jadi seolah-olah lupa sama inti ceritanya. Plotnya lambat sekali, pantes aja durasinya bisa lama. Ceritanya soal balas dendam muluuu, kapan berakhirnya? Tambah dengan kejutan lain, kek. Saking ceritanya yang udah biasa itu, kematian salah satu tokoh ngga lagi menyedihkan. Karena ya udah kayak ketebak aja gitu, hasil balas dendam ya pasti ada korban. Endingnya, aktor utama ngga jadi mati, ketolong sama orang yang masih punya hati nurani. Bisa ditebak, sekuel berikutnya ya ajang balas dendam kembali. Begitu aja terus…

Sinopsis Avatar The Way of Water

Meneruskan dari avatar sebelumnya (2009) saat Jack Sully (Sam Worthington) bertahan hidup dan betah sampai tahap jatuh cinta pada Planet Pandora kemudian menikah dengan Neytiri (Zoe Saldana) dan membentuk sebuah keluarga dengan ke -4 anaknya masing-masing namanya Neteyam, Lo’ak, Tuk, dan Kiri. Sementara Spider si anak manusia ikut tinggal bersama mereka dan diasuh sejak bayi. Sepanjang hidupnya di Planet Pandora, Spider harus menggunakan penutup muka supaya bisa bernafas. Sementara Spider yang kalau arti awamnya laba-laba, di Pandora punya panggilan sayang si anak monyet oleh saudara-saudaranya.

Namanya juga ajang balas dendam, tentu saja hidup damai ngga bisa selamanya dirasakan. Pasutri bahagia itu saat sedang asik-asiknya bersantai, kemudian mendapati cahaya di langit dan tersadar bahwa telah tiba waktunya perang. Musuh lama, Kolonel Miles (Stephen Lang) adalah salah satu yang berhasil diimplan jadi klona, dimana di kepalanya disimpan sebuah Quaritch, fungsinya agar bisa mengingat masa lalu. Maka misi balas dendamnya pada Jack Sully harus segera ia tuntaskan.

Merasa terancam, maka Jack Sully memboyong keluarganya untuk hijrah ke klan lain, dimana makhluk air berwarna hijau berdiam yaitu negeri laut bernama Metkayina yang ada di sisi Timur Pandora. Selama disana mereka sempat mendapatkan penolakan sebab bangsa laut merasa bahwa bangsa hutan tak layak tinggal bersama mereka. Berkat kemampuan Jack Sully bernegosiasi, mereka akhirnya diterima. Selama hidup menumpang di Metkayina, Jack Sully sekeluarga harus mampu beradaptasi, menjaga hati agar mahluk hijau tidak tersinggung dan tetap waspada dari ancaman Kolonel Miles. Duh, saya pernah baca tulisan Blogger Cianjur tentang buronan, jadi sedikit banyak jadi tau deh rasanya. Dilanda cemas tak berkesudahan.

Lalu apakah akhirnya bangsa hutan mampu beradaptasi dan mendapatkan perlakuan baik dari bangsa laut? Apakah Kolonel Miles berhasil balas dendam atau malah mati sia-sia? Meski ada sedikit spoilernya di atas, tapi kalau penasaran ya harus nonton laah, hehee

Saya coba nonton di 3D yang konon katanya ada sensasi ikut terbang-terbang, ikut berenang-renang, ikut ketembak, ikut terpanah dan ikut tercolok rumput laut itu ngga begitu terasa di saya. Malah awal-awal mata saya ngerasa ngga nyaman. Sempet mau nonton tanpa kacamata tapi malah gambar dan textnya berbayang. Apa harus 4D, ya? Kemudian selesainya film, mencoba selfie berdua pakai kacamata, wkwkw.

Kesimpulan

Mungkin lagi-lagi akan ada sedikit spoiler di kesimpulan kali ini. Tapi tenang aja, ngga diceritakan secara detail, kok. Penggemar avatar khususnya animasi pasti wajib nonton langsung, lah.

Visual dan Sinematografi Spektakuler

Kalau ini saya setuju 100 persen. Saya mulai bisa ngga ngantuk ya sejak disuguhkan pemandangan negeri laut yang aduhaiii itu. Bahkan di medsos yang penuh filter dan tipu daya atau lukisan sekalipun, rasanya saya belum pernah lihat dalamnya laut yang begitu memanjakan mata seperti di Metkayina. Ah, susah menggambarkan rasanya mata dimanja saat menonton aneka mahluk laut yang selalu ada ikan-ikan mungil bercahaya berenang dengan berkonvoi seolah menari-nari. Pemandangan biasa bawah laut tapi jadi luar biasa berkat kompisisi gambarnya sempurna.

Paling suka dengan gaya rumah-rumah mereka yang eksotis. Berdinding-dinding tebing yang sebagian sengaja dibiarkan terbuka serta berlantai rangkaian tali temali. Saya tebak, abis ini akan banyak tempat wisata yang meniru konsep pantai Metkayina ini. Keren abis, lah. Ditambah pemandangan bawah laut yang kalau itu beneran, Masyaallah cantiknya. Andaikan ada pengusaha ikan yang mungkin nangkap ikan pake pukat harimau atau wisatawan yang hobi nyampah dan kebetulan mereka nonton ini, semoga diberi hidayah supaya menghentikan perburuan satwa laut agar laut Indonesia bisa secantik dan sebersih Metkayina.

Sedikit Humor

Nyawa dari sebuah film adalah humor, tapi ini sih menurut saya. Seserius apapun film, serumit apapun ceritanya harusnya disuguhkan humor supaya penonton ngga tegang sepanjang duduk di kursi teater apalagi durasinya sampe 3 jam. Yang saya ingat cuma ada 2 adegan lucu. Itupun kalau saya sebatas senyum lebar. Penonton lain ada sih yang ketawa sekian detik. Paling lucu saat si bungsu tertangkap untuk kedua kalinya dan dengan tangan terikat di tempat yang sama. Saya hanya ber he-he sekedarnya. Selebihnya datar saja. Dibilang tegang ya ngga juga, dibilang lucu yang ngga terlalu, dibilang seru ya biasa aja.

Alur Lambat dan Monoton

Dari awal tayang, film ini lebih banyak pamer visual. Menurut saya kok jadi kayak film dokumenter yang sedang kampanye penyelamatan bumi, penyelamatan hutan dan laut daripada sebuah film bioskop populer. Ini yang bikin alur ceritanya sangat lambat. Apa disengaja ya, karena sadar jalan ceritanya monoton jadi diganti dengan visual yang memanjakan mata. Kalau memang begitu, ya tujuannya berhasil, sih.

Jalan cerita dengan misi balas dendam, kisah pertemuan remaja beda klan yang menimbulkan konflik lalu ada pembelaan dari sesama kaum, pembulian yang aah itu sudah sangat biasa sekali. Kalau durasi pamer visualnya dikurangin, mungkin jam tayangnya bisa kepangkas seperempatnya sendiri. Kalau biasanya nonton film kita kecewa karena tau-tau selesai, kali ini bolak balik lihat jam karena ngerasa udah berapa menit tayang kok ceritanya masih disitu-situ aja. Tapi tau-tau emang ngga ada kejutan yang berarti. Kira-kira begitu rasanya.

Make Up dan Kostum Keren

Satu-satunya pemeran yang saya kenal baik perawakannya adalah Kate Winslet. Kalau bukan karena kebetulan baca info, saya bener-bener ngga nyangka kalau Ronal itu ternyata diperankan oleh gebetan si Jack dalam film Titanic.

Make up artisnya berhasil bikin semua cast terlihat keluar dari wujud aslinya. Pun begitu dengan kostum yang lagi-lagi menurut saya cocok dan sesuai dengan karekter masing-masing. Lagi-lagi meski sepanjang 3 jam disuguhi warna biru, berkat visual yang keren, ngga bikin sakit mata yang begitu berarti.

Ronal

Perang Kurang Epic

Yang saya heran, adegan perang antara keluarga Jack Sully melawan tentara bumi, lalu kaum Metkayina itu pada kemana? Meski awalnya memang sudah ada kesepakatan kalau yang Jack yang maju secara solo, ya masak saat sekeluarga itu lagi keteter mereka ngga ada yang bantuin? Padahal posisi awalnya udah siap perang.

Sepanjang pertarungan saya ngga merasa tegang yang gimana gitu. Pokoknya semua serba “biasa aja” di saya.

Pesan Perdamaian

Meski begitu, di balik cerita perang-perangan, misi balas dendam dan pembullyan selalu ada pesan tersemat di dalamnya. Bahwa semua itu yang ada hanya menyisakan huru-hara, kerusakan alam, pemusnahan manusia dan misi yang tak berkesudahan menimbulkan kekacauan. Dari Jack Sully kita semakin sadar bahwa kekuatan satu keluarga itu ngga gampang dipatahkan. Saling sayang, saling dukung dan saling melindungi terbukti mampu bikin keluarga tetap utuh.

Mungkin begitu kurang lebih yang dirasakan para korban perang dan bencana alam. Harus bisa berfikir jernih dikala cemas dan porak poranda. Jadi keinget rekan blogger saya di Cianjur. Semoga Teh Okti dan keluarga senantiasa diberi kekuatan ya, Aamiin…

Perjuangan seorang kepala keluarga yang harus rela berkorban demi melindungi keluarga serta kisah kasih seorang ibu yang harus bisa bersikap netral menghadapi suami yang tegas dan memberi pengertian ke anak-anaknya.

Setelah saya mengetahui Kolonel Miles belum tewas, berharap semoga saja sang sutradara tengah menyimpan sesuatu yang lebih spektakuler untuk sekuel selanjutnya. Jangan ceritanya jadi main tunggal dengan aksi balas dendam mulu, dong ah. Tambah kek dengan alur lain yang lebih berbobot dan lebih greget dan yang paling penting ngga gampang ditebak.

Akhirnya, berkat visual yang sempurna ini, saya kasih skor 8/10 untuk Avatar: The Way of Water

16 tanggapan untuk “Review Film Avatar The Way Of Water, 3 Jam yang…

  1. Ada kelebihan ada juga kekurangannya ya. Tao buat saya pribadi yang tidak pernah nonton ini sangat bermanfaat. Nambah informasi tayangan kekinian jadinya

  2. Saya belum nonton mbak. Sebagai anak IT, tentu saja bakal seneng nonton beginian karena bisa mendapatkan visualisasi yang keren dengan memanfaatkan teknologi tinggi, apalagi durasinya 3 jam. Walau kalau dari jalan cerita jadi kayak monoton dan lamban

  3. Sebagai pecinta film, saya antusias banget waktu anak lanang ngajak nonton film ini. Keren banget visualnya. Sutradara nya totalitas dan perfect banget dalam menggarap film ini… Rating dari saya sih 9/10

  4. Persis seperti ulasan yang disampaikan teman saya setelah nonton Avatar sesi ke-2 ini. Secara visual digital yakin keren banget. Tapi alur ceritanya terlalu lambat. Makanya bisa 3 jam nontonnya. Dah setara dengan Bollywood hahaha.

    Kalau saya, jujur, kurang sreg dengan tipe-tipe film seperti ini Kak Suci. Mata saya kok mudah lelah. Jikapun harus memakan waktu yang panjang, saya lebih cenderung memilih film kolosal sekalian. Yang cinematography nya memunculkan keindahan alam dan sudut-sudut pengambilan gambar yang estetik.

  5. 3 jam nonton kalau filmnya genre thriller atau heist bakal asik aja sih, malah seru.
    Cuma kalau adegan perangnya gak sesuatu dan malah alurnya lambat ya gak gereget. Siip kak ulasannya, jadi punya gambaran

  6. Harus kuakui. Dari sekian banyak baca review orang-orang yang nonton film ini. Aku baca review yang begini.

    Awalnya aku pingin banget nonton. Tapi kok jadi meragu.

    Cuma memang sih hampir semuanya pada bilang bahwa animasinya keren banget.

    Malah ada yang bilang pesona lautnya tuh terinspirasi dari laut yang ada di Indonesia lho.

  7. Penggarapan film sekuel tuh selalu gak mudah ya…
    Karena sudah ada versi sebelumnya, jadi orang kerap membandingkan. Gak hanya itu, pengembangan ide dan eksekusinya yang bikin penonton berpikir extraordinary.

    Hehhe, memang kudunya film sekuel tuh selalu menjadi paling yang paling ditunggu, bahkan oleh penonton film seluruh dunia. Nama besar Avatar dan pemainnya yang luar biasa di season ke 2 kali ini, dilengkap dengan merchandise… Rasanya jadi sempurna di hati kak Suci.
    (Soalnya dikasih rating 8/10)

  8. Akhirnya nemu review yg beda. Gpp deh kena spoiler, toh baca2 di fandom karena kekepoan sendiri juga udah dapat spoiler hehe. Terima kasih reviewnya kak! Meski begitu, saya akan tetap nonton jika ada kesempatan (di kota saya sekarang gak ada bioskop, ckck, mungkin suatu hari masih ada kesempatan? Atau saya menunggu tayang di platform onlen walau gak bisa 3D?).

Tinggalkan Balasan