jalan dan wisata · lomba

Jagalah Bumi, Maka Bumi Akan Menjagamu

Jagalah Bumi, Maka Bumi Akan Menjagamu – “Jam 6:30 kita sudah mulai ya, dek”, begitu pesan Bang Siahaan, Kepala TWA Sibolangit sekaligus ranger kami hari itu melalui sambungan telepon. Kami pikir kenapa harus sepagi itu? Dimana kami nginap? Kalau tak menginap, harus jam berapa kami berangkat? Apa berani jalan dengan langit yang masih gelap? Kan Medan banyak begal…

Akhirnya, bagda Subuh, dengan mengendarai motor dan berjaket tebal, kami memecah kedinginan pagi menuju kawasan TWA (Taman Wisata Alam) Sibolangit. Sekitar satu jam perjalanan dari Medan. Meski masih sedikit gelap, namun jalanan sudah ramai dengan lalu lalang para pemburu rezeki. Alhamdulillaah ngga terlalu menakutkan, mengingat kota Medan sedang darurat keamanan.

Hampir pukul 7, kami tiba di lokasi. Belum ada tanda-tanda aktivitas apapun di kawasan TWA tersebut. Dengan pagar yang sedikit terbuka, kami mencoba masuk. Saat memarkirkan motor, seorang pria tampak keluar dari sebuah bangunan. Mengetahui kehadiran kami, beliau turun dan menyapa. Meski belum pernah berjumpa, saya bisa tebak kalau beliau adalah Bang Siahaan.

Menunggu beliau bersiap, kami sengaja dilepas untuk melakukan treking mandiri. Berbekal sedikit panduannya dan merekam dalam ingatan denah yang terpampang di pintu masuk hutan, kami memulai perjalanan menyusuri kawasan TWA Sibolangit. Sebelumnya, tak lupa mengaktifkan aplikasi pengukur jarak tempuh yang sudah terunduh di ponsel.

TWA Sibolangit

Harmoni Alam Dipagi Hari

Begitu langkah kaki memasuki hutan, sambutan sekumpulan pepohonan besar menaungi jalan setapak yang terbentuk dari susunan paving blok. Sebagian besar dari pohon-pohon besar itu, dipeluk oleh tumbuhan merambat dan menjuntai serta dikelilingi dengan berbagai macam tumbuhan kecil, perdu dan semak belukar. Tarzan pun akan senang berada di sini.

TWA Sibolangit

Sejuknya angin mengibas lembut wajah, sesaat setelah saya lepaskan masker. Redup sinar surya yang terhalang rindangnya dedaunan, tak membuat nyali kami ciut. Justru sebaliknya, kami tertantang untuk terus melakukan penjelajahan. Penasaran dengan apa yang disembunyikan alam di tengah-tengah belantara sana. Tak peduli dengan jalur paving blok yang semakin lama semakin hilang dan menyamarkan rute, kaki kami terus saja menapaki tanah lembab yang dipenuhi daun-daun kering.

Sepanjang perjalanan, kicauan burung-burung kecil dan teriakan lantang burung Rangkong, si penghuni hutan Sibolangit seolah menemani kami bertukar cerita di pagi itu. Kolaborasi vokal dari bermacam jenis serangga pun bersahut-sahutan. Dengan iringan lagu ayunan daun-daun dan ranting yang saling bergesekan. Kami merasa disambut dengan suka cita oleh si tuan rumah. Baru kami sadari, kenapa Bang Siahaan menyarankan kami datang sangat pagi. Ternyata supaya kami masih sempat #DengarAlamBernyanyi yang tak akan bisa didapatkan di waktu-waktu yang lain. MasyaAllaah…

TWA Sibolangit

Sesekali cahaya matahari mengintip dari balik dedaunan menghangatkan raga. Tak terasa sampailah kami di puncak gardu pandang yang menyajikan pemandangan alam sungguh menakjubkan. Gelaran hijau hutan laksana permadani alam terhampar luas sejauh mata memandang. Kabut pagi menyelimuti sebagian ujung pepohonan menyatu dengan ujung langit membentuk cakrawala langit, serasa kami berada dalam satu negeri di atas awan.

Tak henti-henti berdecak kagum dan mengucap syukur. Berkali-kali menarik nafas sedalam-dalamnya untuk menghirup udara segar dan perawan itu untuk disimpan dalam paru-paru. Bahkan untuk berkedip pun, rasanya tak rela. Tak rela kehilangan sedetik kebahagiaan yang dihadirkan alam untuk manusia kota yang fakir akan ketenangan dan kedamaian dari alam. #UntukmuBumiku, tetaplah menghijau, tetaplah tumbuh dan tetaplah indah seperti ini.

TWA Sibolangit
Pohon Raja di TWA Sibolangit

Hutan Indonesia Paru-Paru Dunia

#IndonesiaBikinBangga karena menjadi salah satu negara yang paling dikaruniai hutan tropis terluas dengan beragam hayati di dalamnya. Berjuta penduduknya bergantung pada hutan untuk kelangsungan hidup. Pun menjadi rumah ternyaman bagi aneka flora dan fauna asli nusantara. Kekayaan alam ini membuat banyak negara lain merasa iri bahkan sampai ada yang berusaha untuk memiliki.

Sebanyak 18.000 pulau di Indonesia memiliki potensi hutan masing-masing. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada tahun 2020, luas kawasan hutan Indonesia sebesar 125,82 juta Hektar. Jumlah itu tak berubah dari tahun sebelumnya. Secara rinci, seluas 29,58 juta hektar hutan Indonesia merupakan kawasan hutan lindung. Kemudian, 27,41 juta hektar adalah kawasan suaka alam dan pelestarian alam. Sebanyak 26,77 juta hektar merupakan hutan produksi terbatas. Hutan produksi tetap seluas 29,22 juta hektar. Sedangkan, hutan produksi yang dapat dikonversi sebanyak 12,84 juta hektar.

Artinya, luas hutannya saja mencapai setengah dari luas daratan Indonesia. Begitu juga dengan lautan yang luas membentang dari ujung pulau ke ujung pulau lainnya. Betapa Indonesia adalah pemilik harta yang paling berharga. Paru-paru dunia akan baik-baik saja karena hutan mampu menyerap karbon dioksida, menyaring polutan melalui daunnya dan menghasilkan oksigen yang sangat berguna bagi kehidupan seluruh makhluk hidup di dalamnya. Kita harus akui bahwa #HutanKitaSultan

TWA Sibolangit

Hutan Hilang, Ancaman Bagi Generasi Mendatang

Deforestasi menjadi istilah yang sempat trending baru-baru ini sejak Ibu Menteri mengeluarkan pernyataan kontroversialnya.

“Pembangunan besar-besaran tidak boleh berhenti atas nama emisi karbon atau atas nama deforestasi” 

Namun akhirnya diklarifikasi bahwasanya makna deforestasi di Indonesia tidak bisa disamakan dengan di Eropa. Kalau di Eropa, menebang sebatang pohon di belakang rumah sudah masuk kategori deforestasi. Pantas saja rumah-rumah di sana itu pekarangannya saja dijaga sampai dipenuhi pepohonan besar, ya.

Di Indonesia, 64juta Hektar hutan telah ditebang selama 50 tahun terakhir. Dengan hilangnya hutan, maka kita ikut kehilangan keanekaragaman hayati, pasokan kayu, dan pendapatan. Dampak deforestasi ini tidak hanya akan dirasakan oleh manusia, tapi juga flora dan fauna serta seluruh penghuni bumi. Perubahan iklim akan sering terjadi dan berakibat banjir. Sebab hutan punya pengaruh besar terhadap pola curah hujan, kualitas tanah sebagai pencegah banjir, pohonnya mampu menyerap CO2.

Penebangan hutan untuk tujuan pembangunan yang berskala besar meski demi alasan kepentingan dan kesejahteraan rakyat, jika tanpa memikirkan aspek lingkungan tentu akan sangat berbahaya. Yang terancam adalah generasi yang akan datang. Tidak ada pembenaran ekonomi maupun etika untuk membiarkan lahan seluas itu lagi hilang selama 50 tahun ke depan.

econusa.id

Yuk, Saatnya Kita Jaga Hutan Agar Hutan Menjaga Kita

Sesekali, bermainlah ke alam. Resapi setiap hembusan anginnya, balas kicauan burungnya, ajak bicara pepohonannya dan melangkahlah sampai ke puncaknya. Itu semua bukanlah sebuah tandingan saat kita berada di tengah kota, di bawah gedung-gedung tinggi dengan desing mesin yang bersahut-sahutan dan asap yang dikeluarkannya.

TWA Sibolangit

Sesungguhnya dari alam pula kita dapatkan nyawa kehidupan yang layak. Oksigen terbanyak diberikan alam untuk manusia. Menghabisi hutan, sama halnya dengan membunuh diri sendiri secara perlahan serta mewariskan ancaman bagi generasi yang akan datang. Apabila hutan semakin terkikis, iklim mengalami perubahan, bencana alam mengancam serta hewan-hewan merangsak masuk ke pemukiman mencari hunian baru.

Duh, jangan sampai anak cucu kita kelak yang akan menuai hasilnya. Yuk, sama-sama kita jaga alam agar tetap subur lestari. Sumbangsih kecil kita sebagai manusia berakal sangatlah penting demi kelangsungan hidup sekarang dan yang akan datang.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga alam:

Mulai dari Diri Sendiri

Tumbuhkan di hati rasa sayang pada alam, untuk kemudian akan ada rasa memiliki yang pada akhirnya akan ada kemauan untuk menjaga.

Selalu bayangkan ancaman yang terjadi di masa yang akan dan dampaknya pada generasi dengan rusaknya alam. Pasti tidak ada yang rela bila anak cucu yang kita sayangi harus menanggung akibatnya, kan?

Ajarkan Anak Menyayangi Alam

Jangan mencintai alam sendiri. Tularkan kebiasaan baik kita pada manusia lain terutama pada orang-orang terdekat. Ajarkan anak-anak sejak dini untuk menjaga dan menyayangi alam. Sertakan mereka saat berkegiatan di alam. Kenalkan mereka pada tumbuhan, hewan dan apapun yang ada di alam. Berikan motivasi anak-anak untuk jadi pahlawan hutan dan beri pengertian tentang manfaatnya dimasa yang akan datang.

Tidak Membuang Sampah Sembarangan

Contoh kecil sekali adalah puntung rokok yang kerap menjadi penyebab utama kebakaran hutan. Selain menghabiskan hutan, asap yang ditimbulkan akan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari serta menyebabkan penyakit pernafasan. Kemudian sampah plastik yang dibuang sembarangan menghambat proses penyerapan air dalam tanah menyebabkan longsor bahkan banjir.

Mengurangi Penggunaan Plastik dan Kertas

Saya sudah membiasakan untuk membawa kantong belanja sebelum ke pasar. Menolak diberi wadah plastik kresek jika belanja banyak barang di toko yang sama. Hal sederhana seperti ini sangat berdampak mengurangi sampah plastik di rumah.

Selain plastik, mulailah juga menghemat kertas. Saat masih bisa dipakai secara bolak-balik, ya pakai saja kertas yang sama. Begitu juga dengan penggunaan tisu yang berlebihan, akan semakin menambah daftar pohon yang ditebang. Oiya, hindari juga penggunaan styrofoam sebagai wadah makanan.

Berkegiatan di Alam

Ada banyak kegiatan yang berhubungan dengan alam, seperti jalan pagi atau sore hari dan mencari tempat – tempat teduh seperti taman kota atau lokasi kampus biasanya banyak hutan-hutan mini.

Kegiatan lain yang seru dan memicu adrenalin seperti treking ke kawasan cagar alam atau TWA Sibolangit seperti yang baru-baru ini kami lakukan, hash, susur sungai, susur goa, mendaki gunung dll. Baik sungai atau goa biasanya berdampingan dengan hutan. Kegiatan-kegiatan tersebut mampu menumbuhkan rasa cinta kita pada alam dan isinya.

Berkebun bisa jadi salah satu kegiatan reboisasi sederhana yang dilakukan di lingkungan rumah. Menurut penelitian, berkebun juga bisa menghilangkan stres, loh…

Selain menyenangkan, berkegiatan di alam sudah pasti akan dapat banyak pengalaman serta bisa mengenal spesies baru yang sering kali kita temukan di tengah perjalanan.

Related Post: Gunung Sibayak

Hemat Air, Listrik dan Bahan Bakar

Mematikan lampu atau AC saat sedang tidak digunakan. Hemat penggunaan air, misal dengan menampung air hujan untuk menyiram tanaman atau mencuci peralatan. Berjalan kaki atau menggunakan sepeda untuk jarak yang dekat.

Mendukung Gerakan Lingkungan Dengan Berdonasi

Mendengarkan sebuah lagu, kita sudah bisa berdonasi, loh!

Dengarkan Alam Bernyanyi adalah sebuah lagu yang dibawakan oleh Laleilmanino berkolaboarsi dengan Chicco Jerikho, Hivi! dan Sheila Dara. Lagu ini berisikan lirik yang mendalam berupa pesan untuk manusia agar mulai kembali mengingat alam yang sudah mulai terlupa terganti dengan gawai.

Kalau diresapi, lirik lagu ini seolah-olah menyampaikan kerinduan seluruh habitat hutan akan sentuhan manusia. Memohon perlindungan manusia agar tak lagi menghabisi rumahnya. Mereka mengingatkan kita bahwa di sana ada kedamaian, kesejukan dan keindahan yang tak akan didapatkan lagi bila hutan dan isinya telah punah. Merinding bayanginnya…

Dengan mendengarkan lagu ini, kita turut berkontribusi untuk bumi. Sebagian royalti akan disumbangkan untuk konservasi dan restorasi hutan adat di Kalimantan sebagai pemilik hutan terbanyak sekaligus yang paling banyak dihabisi.

Yuk, kita dengarkan lagu ini beramai-ramai supaya jadi no 1 di seluruh platform streaming musik. Kamu bisa dengarkan lagunya di Spotify dan Apple Music. Semakin banyak yang mendengarkan sama dengan semakin banyak donasi yang akan terkumpul. Saatnya kita #TeamUpForImpact, karena sumbangsih kita sangatlah berarti untuk kelestarian alam beserta isinya.

Sumber: dataindonesia.id, lindungihutan.com

21 tanggapan untuk “Jagalah Bumi, Maka Bumi Akan Menjagamu

  1. Berkegiatan di alam itu seru banget, apalagi sama anak-anak ya, sekaligus mengajari anak-anak mencintai dan menjaga alam, agar alam akan selalu menjadi sahabat terbaik kita dan bernyanyi untuk kita, kayak lagunya 😀

  2. Jadi pingin ke TWA Sibolangit
    hehehe…padahal ke Tahura Bandung pun cuma sebentar
    belum pernah mengeksplorasi
    supaya selalu ingat, betapa kehilangannya akan membuat keseimbangan hidup kita terganggu

  3. Makjleb banget judulnya Kak Suci. Memang bener loh. Jika kita menjaga dan mencintai bumi, maka bumi akan menjaga dan mencintai lebih dari yang kita sadari. Apa sih kenyamanan hidup di alam semesta tidak bisa kita nikmati jika kita turut menjaga kelestariannya? Mulai dari udara, darat dan air akan bisa kita rasakan manfaatnya. Baik secara pribadi maupun dalam lingkup kehidupan yang lebih luas lagi.

  4. Hutan di Indonesia sekarang banyak yang ditebang mbak. Paru paru dunianya jadi berlobang dong. Sedih lihatnya. Jadi tanggung jawab kita buat jaga hutan yang ada. Biar hutan Indonesia gak habis

  5. Hutan Indonesia yang indah, namun kini semakin lama luasannya semakin berkurang.
    Semoga dengan adanya kerjasama yang baik dari kita semua, penghuni bumi yang masih mau peduli dengan alam, hutan Indonesia tetap lestari.

  6. Hutan ini memiliki kekayaan manfaat yang begitu menkjubkan ya, perannya yg begitu besar sebagai paru-paru dunia. Nggak bisa membayangkan bila hutan semakin punah, dada penuh dg sesak ketika udara segar tak bisa kita hirup lagi

  7. Lihat TWA Sibolangit, jadi pengen masuk ke dalam dan menjelajahinya. Apalagi udah lama nggak wisata alam nih. Doa yang sama, semoga hutan sebagai paru-paru dunia tetap terjaga kelestariannya. Aamiinn

Tinggalkan Balasan