jalan dan wisata

JPO Senen, Menyeberang di Atas Piano

JPO Senen, Menyeberang di Atas Piano – Beberapa tahun lalu, seingat saya Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Jakarta semuanya masih identik dengan pijakannya yang bolong-bolong, bau pesing, rawan copet dan sesak dengan pedagang ngemper. Kalau diajak nyeberang disitu saya selalu ogah. Selain gamang dengan ketinggian, bukan nyaman dan aman malah lebih besar rasa takutnya.

Namun dua tahun belakangan, beberapa JPO disulap jadi ikon yang lebih menarik di Ibukota. Meski belum seluruhnya, tapi yang sudah diperbarui di beberapa titik terutama di daerah-daerah ramai malah sudah populer mengalahkan tempat viral lainnya. Beberapa Travel Blogger Jakarta sering sekali membagikan hasil foto di beberapa JPO terbaru ke akun Instagram pribadinya dengan memberikan tagar yang berkaitan. Begitu juga anak-anak muda lainnya. Menandakan JPO-JPO ini sudah semakin multifungsi ke arah yang positif.

JPO Kapal Pinisi di Sudirman misalnya, paling sering lewat di beranda medsos saya. Sekarang fungsinya bukan lagi sebagai sarana penyeberangan semata, namun sudah bertambah perannya sebagai tempat singgah. Hal ini karena tampilannya yang ngga biasa. Lebih estetik dengan area terbuka tanpa atap dan bentuknya yang unik, didesain menyerupai kapal Pinisi. Ditambah pula sebuah anjungan untuk tempat memandang sebagian kota Jakarta beserta gedung-gedung megahnya. Semakin merasa betapa bangganya punya Ibukota yang megah dan modern, kan. Sekaligus bangga jadi warga dari sebuah negara yang wonderful.

Selagi menyeberang, bisa stop sejenak untuk sekedar menikmati betapa menawannya wajah Ibukota atau untuk berswafoto. Mungkin sebagian malah sengaja datang bukan untuk menyeberang, tapi tujuan utamanya untuk mengagumi suasana kota dan mengabadikannya dalam kamera dari JPO Pinisi. Salah satunya saya. Sebelum balik ke Medan, punya waktu sebentar untuk jalan di Ibukota dan berencana mengunjungi JPO Pinisi. Ternyata, hotel saya letaknya lumayan jauh dan saat itu waktunya juga terbatas. Akhirnya rencana harus dihapus, deh.

JPO Pinisi – cnnindonesia.com

Malam – malam Ke JPO Senen, Ternyata Cakep Juga

Satu waktu, sepulangnya dari Bogor, ada satu barang yang harus saya cari sekalian mau nonton juga. Ceki-ceki bioskop dan mall yang paling dekat dengan hotel, ketemu dah tuh Atrium Plaza. Dan nonton Ngeri-Ngeri Sedap untuk yang kedua kalinya.

Related Post:

Review Film Ngeri-Ngeri Sedap

Rekomendasi Film Berdasarkan Kisah Nyata

Oiya sedikit cerita soal nonton, nih. Karena orang Medan, ya saya nonton di Medan juga, dong. Yang kedua kali, nontonnya di Jakarta. Kan film Ngeri-Ngeri Sedap ini banyak tawa dan tangisnya, tuh. Jadi saya sempet perhatiin ya bedanya penonton Medan dan Jakarta. Bedanya kalau di Medan, dapet adegan lucu, ya ketawanya ngakak banget, dapet adegan sedih ya terisak-isaknya dalem banget juga. Nah, kalo orang Jakarta pada saat itu ketawanya Biasa aja, sedihnya juga Biasa aja. Padahal saya nonton udah dua kali, ketawa dan nangisnya tetep masih seperti saat nonton pertama kalinya.

Ini bagi saya masih misteri, hahaa. Kenapa bisa beda? Padahal waktu itu banyak orang Batak juga kok yang nonton. Sebaris kursi saya malah Batak semua. Cuma saya dan teman saya yang Jawa. Kira-kira alasannya apakah karena mereka udah pernah nonton, atau memang selera humornya yang kurang, atau orang Jakarta tingkat stresnya terlalu tinggi kah, atau jenis humornya kurang masuk? Temen saya nonton juga jarang ketawa, sih dia, malah kayanya ngantuk. Tapi memang dia orang Jawa, sih. Tau dah ah!!! πŸ˜€

Jadi singkat cerita, selesai nonton rencananya mau balik ke hotel naik transjakarta. Eh, ngga taunya dekat Atrium Plaza itu ada JPO hasil revitalisasi dong! Hanya jalan kaki beberapa langkah aja. Kurang bahagia apa, saya? Disaat udah pasrah ngga bisa ke JPO Pinisi, diganti sama yang ngga kalah cakep.

Desain Menyerupai Tuts Piano

Senangnya dengan fasilitas publik Ibukota ini hampir semuanya dilengkapi dengan fasilitas penunjang yang menyempurnakan fungsi utamanya. Selain tangga manual yang layak, ada juga lift untuk memudahkan kaum disabilitas. Tapi karena lagi sepi, saya menggunakan lift ini untuk naik. Lumayan untuk mengistirahatkan kaki yang sudah lelah keliling Kebun Raya Bogor siang harinya.

Related Post:

Kesan pertama untuk JPO ini adalah bersih dan hangat. Karena terkoneksi dengan halte transjakarta, hampir setengah dari jembatan diberi sekat kaca setinggi orang dewasa di tengah-tengahnya. Satu sisi untuk penyeberangan, sisi lain akses menuju Halte Senen.

Saya langsung masuk dari lift dan ngga sempat lihat seperti apa penampakan dari luar. Tapi saat mencoba jalan di dalam jembatan, itu berasa seperti ada pada sebuah lorong bercahaya temaram dengan kilatan lampu warna warni silih berganti menerobos melalui dinding yang dibiarkan bercelah-celah.

Kalau siang, penampilan juga pasti berbeda. Cahaya alami matahari bebas masuk melalui celah dan membentuk bayang-bayang pada lantainya. Bedanya cahayanya pasti ngga berwarna seperti malam hari.

Penasaran dengan penampakan luarnya, saya turun kembali menggunakan lift dan dengan bebasnya memandang gagahnya JPO Senen dari sisi jalan raya meski sedikit terhalang halte. Rupanya kilatan cahaya warna warni itu berasal dari lampu LED pada bagian dindingnya. Desainnya menyerupai tuts piano dengan barisan balok-balok. Pada balok balok ini lah cahaya lampu berubah warna secara bergantian layaknya tuts piano yang sedang dimainkan. Keren sekali…

Kalau ditambah dengan alunan musik, mungkin akan lebih indah, deh.

Selain menawarkan kenyamanan pada penggunanya, ternyata pengadaan lampu-lampu ini bertujuan untuk merubah kesan kawasan Senen yang dulunya identik dengan kumuh serta rawan kriminal menjadi lebih indah dan memberikan rasa aman. Oiya dengan lampu warna warni yang mencolok begini bikin fasadnya dimalam hari semakin nampak jelas jelitanya. Kalau diibaratkan pada bunga, maka dia ini seperti bunga Queen of Night atau Ratu Malam alias wijaya kesuma yang akan mekar dimalam hari. Perumpamaan macam apa ini? haha

Dirasa puas, saya sudahi dengan kembali menaiki lift menuju halte untuk menunggu bus tujuan harmoni yang akan segera menjemput. Dan ternyataaaaaa, di halte ini penampakan JPO justru lebih jelas saudara saudaraaaaa, wkwkw.

Sebagian fasad JPO Senen dari halte
JPO Senen dari halte

Dengan demikian, perjalanan hari itu diakhiri dengan pertunjukan lampu warna warni yang spektakuler dari sebuah JPO Senen. Saya yakin, ini hanya salah satu dari sekian JPO hasil revitalisasi lainnya yang tak kalah cantik, indah dan gagah atau malah perpaduan dari ketiganya. Dengan demikian JPO itu diharapkan bukan hanya memenuhi fungsinya saja, tapi ada nilai tambahnya sendiri. Sebagai tempat rekreasi baru di tengah kota misalnya. Selain Pinisi dan Senen, JPO lainnya yang sudah berubah adalah Atrium Senen (ini ngga tau dibagian mananya Senen), Tapal Kuda, Pasar Minggu, Daan Mogot, Bundaran Senayan dll. Masa gara-gara JPO, saya mendadak pingin pindah jadi warga Jakarta, sih πŸ˜€

Related Post:

Cuma Sehari di Medan, Bisa Kemana aja?

Jalan raya dari celah JPO
Lift berdinding kaca
Saat giliran lampu warna putih yang berjalan

34 tanggapan untuk “JPO Senen, Menyeberang di Atas Piano

  1. Ya ampun bagusnyaaa…..
    Kang Emil kalah nih, padahal selama ini menurut saya Kang Emil paling visioner dibanding pemimpin wilayah lainnya
    Ternyata Pak Anies lebih top markotop

  2. Senangnya JPO bisa dipercantik seperti itu. Jalan di situ jadi menyenangkan, engga kerasa kalau panjang. Kalau di Bandung lebar jalannya pendek, baru juga naik, jalan bentar selebar 2 jalur kendaraan, udah turun lagi deh…

  3. Lucuuu banget JPO nya, semoga di Surabaya juga ada kayak gini.
    Di sini bete deh, ada JPO, udahlah tinggi minta ampun, sepi banget pula, jadi was-was kalau nyebrang, takut dirampok orang.
    Lantainya dari besi pula, nggak ada estetik sama sekali hahaha

  4. Pak Anies emang keren ya?
    Banyak terobosan yang dilakukan selama masa pemerintahannya
    Citayam Fashion Week kan berlangsung di masa pemerintahan Pak Anies

    1. Betul, ambu.. diberkahilah pemimpin seprti ini yaa begitu juga masyarakat yang di bawah kepemimpinannya. Banyak terobosan yang bermanfaat bagi khalayak ramai

  5. Kak Suci loh jauh-jauh dari Medan sudah sampai sini. Saya yang tinggal berdampingan dengan Jakarta, sama sekali belum pernah melihat dan memotret di JPO Senen. Apalagi sejak area Senen direnovasi dan makan waktu bertahun-tahun. Lihat foto-fotonya jadi semangat pengen kesana. Dan bener, penampakan di malam hari tuh lebih indah ya. Konsep tuts piano nya lebih terlihat.

  6. Wuiiih, jadi keren ini JPOnya
    bikin orang justru tertarik pake JPO (sekalian update story, hihihi) dibandingkan nyebrang melanggar peraturan lalu lintas
    Cantik banget itu warna-warni kalau malam
    Aku menunggu di Bogor bisa gitu juga

  7. Wah aku belum kesampaian nih buat nyobain JPO yang kece buat bikin konten nih, instagramable banget yaa mba ternyata apalagi kalau malam makin kece sama lighting warna-warninya

  8. Daku belum pernah malam-malam ke sana.
    Malah tambah cakep banget ya suasananya, apalagi dengan cahaya lampunya juga.
    Sepertinya ke sana juga kudu siapin memori yang banyak, soalnya bisa banyak kali jepretan haha

  9. Waaah cantik. Beneran kayak tuls piano ya kalau dikasih lampu di malam hari. Bagus banget buat foto foto di sini. Keren nih

    1. Kalau potograper handal hasilnya lebih keliatan bentuk pianonya mbk…

      Yang ini potograper spesialis asal ada hahaa. Yang penting udah pernah aja, soalnya di Medan ngga ada beginian, hikss

  10. Rasanya Bandung kudu mencontoh JPO yang keren-keren begini nih..
    Soalnya aku suka rada khawatir menyeberang kalo ternyata besinya uda berkarat, sehingga terlihat bagian bawah pas mobil lewat gitu…bikin parno yaa..

  11. Cakep kali ya kak, apalagi efek lampu-lampunya buat betah lama-lama sambil foto-foto cantik.

    Beda jauh sama yang di kota medan ya, semoga medan juga punya suata saat nanti

Tinggalkan Balasan