Review

Belajar Menjadi Orang Tua Bijaksana dari Film Ngeri-Ngeri Sedap

Sejujurnya ini bukanlah film yang saya tunggu-tunggu. Malah baru tau ada film ini tuh dari media sosial setelah tayang perdananya. Karena sebagian besar memberikan review positif, bikin saya penasaran untuk cari tau. Ternyata film ini ceritanya tentang orang Batak dan syutingnya juga di Danau Toba.

Meski bukan orang Batak, saya cenderung tertarik dengan film yang bercerita tentang suku ini. Mungkin karena saya lahir dan besar di daerah orang Batak dan mayoritas tetangga di kampung serta teman kecil saya juga suku Batak, saya jadi punya kemistri sendiri dengan suku ini. Malah saya pinteran bahasa Batak dibanding bahasa Jawa, bahasa suku saya sendiri.

Kembali ke film ini yang proses syutingnya diambil langsung di tanah Batak. Ngeri-Ngeri sedap ini adalah film ke-2 bercerita tentang suku Batak yang saya tonton setelah Toba Dream yang dibintangi Vino Bastian dan istrinya sekitar tahun 2015 lalu. Sama-sama syuting di Danau Toba.

Siapa sih yang ngga penasaran menyaksikan Danau kebanggaan orang Sumut yang selama ini mungkin hanya tayang melalui film-film dokumenter, akhirnya kembali masuk layar lebar melalui film komersil yang tayang di bioskop seluruh Indonesia. Tau sendiri kan, orang Batak itu kaya rumput yang gampang beradaptasi dan tumbuh dimana-mana. Bayangin aja, satu hari tayang, tiket sudah terjual lebih dari 50ribu lembar. Siapa lagi yang nonton kalau bukan perantau – perantau asal Sumatera Utara tapi ngga menutup kemungkinan orang selain Batak juga ikut meramaikan bioskop karena film ini.

Related Post: Toba Village Inn Tuk Tuk

Sebagai penggemar acara dan cerita lucu yang menghibur, saya ngga mau melewatkan tontonan ini. Yakin, film ini sarat akan humor karena hampir seluruh pemainnya adalah komedian tanah air yang acaranya hampir selalu saya tonton. Sore, sepulang kantor adek saya langsung berburu tiket. Kagetnya ternyata selepas magrib sampai di jam 8 malam, itu bioskop Medan penuh semua. Mau ngga mau ambil di CGV Focal Point di jam 21:35 yang masih lumayan kosong dan bisa milih nomor kursi melalui booking online. Tiba di CGV, antrian cetak tiket dan pembelian snack masih terlihat normal. Beberapa menit setelah itu penonton smakin ramai berdatangan. Saya sempat lihat, penayangan film ini ada di 3 studio sekaligus. Studio 3 dimana kami nonton pun akhirnya penuh juga. Film seperti apakah gerangan yang bikin bioskop Medan penuh dibikin orang Batak?

Sinopsis Film Ngeri-Ngeri Sedap

Film yang rilis tanggal 2 Juni ini bercerita tentang pasangan suami istri dengan empat orang anak. 3 laki-laki sudah merantau ke Pulau Jawa dan seorang perempuan yang menetap di kampung bersama kedua orang tuanya. Namun ketiga anak perantaunya enggan untuk pulang kampung karena malas bertemu bapaknya yang berwatak keras dan selalu memaksakan kehendaknya sendiri. Ibu mereka hanya bisa merindukan siang malam karena tak pernah berdaya membujuk ketiga anaknya untuk pulang.

Sampai suatu hari si opung (ibu dari Pak Domu) berencana mengadakan Sulang-Sulang Pahompu, (pahompu = cucu), sebuah tradisi upacara melunasi adat orang Batak . Karena upacara ini diadakan khusus untuk cucu-cucu opung, otomatis mengharuskan 3 anak perantaunya untuk pulang. Agar tak malu pada ibu dan warga kampung, segala cara dilakukan Pak Domu dan istrinya agar ketiga anaknya mau pulang termasuk dengan berbohong.

Judul ngeri-ngeri sedap diadaptasi dari sebuah novel karangan Bene Dion Rajaguguk yang sekaligus menjadi sutradara dalam film ini. Bene merupakan seorang lulusan TRI SUCI (Stand Up Comedy Indonesia) tahun 2003. Begitu juga pemeran dalam film ini yang sebagian besar adalah alumni SUCI. Konon katanya butuh waktu 8 tahun hingga akhirnya film ini hadir di bioskop.

Judul Film: Ngeri-Ngeri Sedap

Sutradara: Bene Dion Rajagukguk

Penulis: Bene Dion Rajagukguk

Produser: Dipa Andika

Musik: Viky Sianipar

Durasi: 114 menit

Pemeran Ngeri-Ngeri Sedap

Film Ngeri-ngeri sedap menghadirkan 6 pemeran utama. Mereka adalah satu keluarga terdiri dari Bapak (Pak Domu), ibu (Mak Domu) dan keempat anaknya, Domu, Gabe, Sarma dan Sahat.

Yuk, kita kenalan dengan pemeran utamanya (Kayak yang benerrr aja kenalan) 😀

Pak Domo (Arswendy Bening Swara Nasution)

Berperan menjadi seorang kepala keluarga yang menjunjung tinggi adat istiadat namun berwatak keras dan tegas. Menghendaki segala inginnya agar dipatuhi oleh istri dan keturuannya, menjadikannya dijauhi oleh ketiga anak laki-lakinya. Tipikal bapak-bapak bataklah…

Sebagai penonton, saya bebas menilai dong? Menurut saya beliau kurang pas memerankan sosok seorang bapak-bapak Batak yang identik dengan sangar, dan kejam. Selain logat Bataknya kurang fasih, mukanya juga terlalu manis dan lembut, malah lebih ke muka orang Jawa. Selain itu dari sisi make up, wajahnya terlalu bersih dan cerah untuk muka-muka laki-laki Batak, petani yang tinggal di kampung. Kebanting sama muka Mak Domu yang cenderung dibikin natural.

Tapi, akting beliau saat-saat sendiri dan merenung karena ditinggalkan anak dan istrinya, sukses bikin satu studio nangis untuk kesekian kalinya.

Mak Domu (Tika Panggabean)

Berperan sebagai mamak (ibu) yang lebih sering sedihnya daripada bahagianya. Sedih karena harus ikut nurunkan egonya demi nurut suami sekaligus menahan rindu menahun pada ketiga anaknya.

Kesehariannya sebagai penyanyi dan juga komedian rasanya Tika sukses memerankan sosok mamak yang harus mampu mengimbangi peran sebagai istri sekaligus ibu untuk 4 anak dengan karakter yang berbeda.

Dalam film ini, saya suka dengan make up dan kostum yang dibikin benar-benar terlihat natural. Muka mamak-mamak kampung yang jauh dari glowing dan pakaiannya yang terlihat lusuh dihari-hari biasa tapi cetar membahana kalau mau ke pesta. Ciri khas mamak-mamak Batak, banget. Liat aja pas adegan upacara adat disini.

Domu (Boris “Bokir” Thomson Manullang)

Sebagai anak pertama laki-laki yang memiliki peran penting dalam silsilah orang Batak, Domu, namanya akan selalu tersemat di belakang Bapaknya. Orang Batak menyebutnya Panggoaran (nama panggilan). Itu sebabnya bapaknya dipanggil Pak Domu. Jadi sampe nanti Domu punya anak, maka gelar pak Domu akan berganti menjadi nama cucu (misal anak si domu bernama Ucok) maka panggilan Pak Domu akan berganti menjadi Opung si Ucok.

Makanya Pak Domu menentang keras keinginan anaknya ini untuk menikah dengan orang Sunda, dengan alasan selain tak mengerti adat, juga khawatir ngga ada yang meneruskan marga mereka.

Boris, selain asli batak yang meski dari kecil sudah menetap di tanah Jawa, tapi kesehariannya Ia memang selalu menampilkan sisi Bataknya terlebih kalau tampil di TV. Jadi logatnya masih terasa kental. Perawakannya juga ga bisa bohong kalau dia orang Batak. Dalam film Toba Dream, Boris juga dapat peran, loh…

Gabe (Nugroho “Lolok” Achmad)

Baru saya tau ternyata pelawak satu ini keturuan Nias. Salah satu suku di Sumatera Utara. Bahkan beliau lulusan USU, artinya Ia tumbuh besar di Sumatera Utara.

Lolok berperan sebagai anak kedua laki-laki yang berprofesi sebagai pelawak. Padahal di film ini, dia lulusan dari fakultas hukum. Itulah kenapa bapaknya kurang setuju kalau Lolok jadi pelawak. Bapaknya ingin Gabe jadi hakim/jaksa sesuai dengan pendidikan yang sudah ditamatkannya.

Meski logat Bataknya ngga terlalu kentara, tapi Lolok masih punya logat Medan yang kental.

Sarma (Gita “Bhebhita” Anggita Butar-butar)

Menjadi anak ketiga dan perempuan satu-satunya, Sarma punya beban morilnya sendiri. Ia harus rela mengorbankan cinta dan cita-citanya demi memenuhi keinginan orang tuanya. Diantara ketiga saudara laki-lakinya, Sarma lah yang paling penurut.

Sebagai seorang yang lahir dan besar di Medan, Gita ngga terlalu sulit memerankan sosok orang Batak. Logatnya Medannya juga masih kental.

Sahat (Indra “Jegel” Gunawan)

Pemeran Sahat ini juga ternyata lahir dan besar di Medan. Lulusan UMSU (satu almamater sama kakak saya) ini berperan menjadi anak laki-laki terakhir (siapudan) yang diharapkan menjadi penjaga orang tuanya di kampung halaman. Dalam adat Batak, anak terakhir laki-laki akan menjadi penerima warisan tetapi harus tetap tinggal di kampung halaman.

Tapi Sahat memilih tinggal di Jogja bersama laki-laki yang sama sekali bukan keluarganya.Dan keputusannya ini membuat Pak Domu semakin marah.

Saya suka akting Indra disini. Awalnya saya pikir dia bukan orang medan sampe takjub kok pinter memerankan orang Batak. Pantesan logatnya masih fasih.

Sinematografi

Sebagai orang awam, saya menilai keseluruhan pengambilan gambar dari film ini nyaris sempurna.

Saya suka setting rumah masa kecil mereka yang masih dihuni Pak Domu, istri dan Sarma. Menggambarkan rumah sederhana di perairan Danau Toba pada umumnya. Berada di pinggir danau dengan properti serba natural, lantai semen, cahaya remang-remang, tumpukan karung pada salah satu sudut, jagung kering yang tergantung, padi yang dijemur di halaman dan sampe mobil kijang jadul yang mengingatkan kita pada kampung keluarga jaman dulu.

Kira-kira setelah film ini, itu rumah bakalan rame ngga ya? Jadi pingin main kesana, kan.

Belum lagi scene pada acara upacara adat, masyarakat bergotong royong memasak, bikin tenda, menyembelih babi juga acara mergondang (musik gendang khas batak) yang meriah lengkap dengan pakaian adat beserta ulosnya.

Bagi perantau yang rindu kampung halaman, akan semakin dibikin menggebu-gebu saat dihadirkan landscape Danau Toba, apalagi bolak balik dihadirkan sajian Mi Gomak, spageti khas Sumtarea Utara.

Related Post: Mi Gomak : Spaghetti Khas Medan

Juaranya adalah pada saat ditampilkan landscape Danau Toba menyambut kepulangan ketiga jagoan Pak Domu. Di scene ini, penonton serentak bergemuruh satu studio mengagumi keindahan kampung halaman sendiri. Ditambah pemandangan perbukitan tempat mereka berdiskusi perihal permasalahan orang tuanya.

Danau Toba is the best!!! Ia punya tempat tersendiri di hati para penonton

Viky Sianipar ngga usah diragukan lagilah kalau soal musik tradisional Batak ya. Dibikin modern tapi tetap meninggalkan pesan pada setiap petikan gitarnya, tiupan serulingnya dan gondang nadanya. Coba aja ketika lagu “Uju Ni Ngolungkon” muncul, lagi-lagi satu studio dibikin nangis. Sampe sekarang kalau dengar lagu ini saya masih sedih. Kalau kata orang lagunya Related abis.

Kesimpulan Pribadi

Kehadiran film Ngeri-Ngeri Sedap semacam oase. Menghadirkan jalan cerita berbeda diantara genre-genre yang sudah sering tayang di bisokop. Terutama perantau yang rindu kampung halaman.

Jalan cerita sih sebenernya umum, ya. Orang tua yang otoriter, memaksakan kehendak, dan lika liku perjalanan hidup yang dialami oleh banyak orang, permasalahan keluarga yang awam terutama yang menjunjung tinggi adat-istiadat. Bukan hanya terjadi pada suku Batak, tapi semua keluarga pada umumnya.

Hanya saja Batak yang notabene menganut sistem patrilineal memang lebih komplek peraturannya. Makanya yang terkenal paling tegas disini adalah sang ayah. Ayah sebagai pihak laki-laki harus benar-benar menjaga garis keturunan (marga) agar jangan sampai punah. Selain punya anak laki-laki, menikah dengan sesama orang Batak adalah cara lainnya untuk menjaga kelestarian marga.

Dalam adat batak terdahulu, keturunan laki-laki adalah anugerah dan diwajibkan bagi setiap pasangan suami istri. Adalah suatu aib bagi pasangan yang tak punya anak laki-laki. Tapi itu dulu….

Selain dikenalkan dengan budaya dan adat istiadat Batak, ada banyak pesan tersampaikan dari film ini terutama bagi kami para orang tua. Bagaimana menghadapi dan memahami perilaku anak yang berbeda-beda. Bagaimana membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak, mencari jalan tengah tanpa harus memaksakan kehendak.

Menjadi orang tua yang mengalah belum tentu kehilangan harga diri. Keras hati dan ego hanyalah akan mendatangkan masalah baru. Dengan melunakkan hati, menjalin kedekatan justru malah mendatangkan kebaikan.

Seperti pesan opung

Menjadi orang tua adalah pelajaran seumur hidup

Pesan untuk perantau, silahkan merantau sejauh mungkin, berkarir secemerlang mugkin, tapi jangan pernah lupa akan kampung halaman. Salah satu lirik dalam lagu berjudul “Anak Medan” sesungguhnya perlu dipraktekkan.

Biar kambing di kampung sendiri, tapi banteng di perantuan

Maknanya, di tanah rantau jadilah seorang yang bermental baja, ditakuti dan disegani karena prestasi dan kebaikan-kebaikan. Tak perlu takut akan apapun kecuali pada Tuhan. Tapi, tetap menjaga nama baik, adab, rendah hati dan sopan santun terutama pada keluarga dan tetua di kampung halaman.

Sekeras-kerasnya bapak-bapak Batak, tujuannya hanya satu. Ingin anak-anaknya berhasil kelak. Saya saksikan sendiri, orang-orang Batak di kampung saya, semuanya pekerja keras. Berladang, berternak pagi ke sore sampai-sampai anaknya yang masih balita ikut ke ladang, ibu-ibu tak sempat berdandan diri semata-mata agar anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya. Dan itu semua terbukti. Teman-teman kecil saya sekarang sukses di perantuan. Masyaallaah, ikut bangga…

Bagi orang Batak, punya keturunan lengkap laki-laki dan perempuan disebut “Gabe”. Kemudian jika punya materi yang berlebih disebut “Mamora” dan jika dianugerahi jabatan dan menjadi orang terpandang disebut “Hasangapon”. Itu sebabnya ada istilah Hagabeon, Hamoraon, Hasangapon maksudnya kalau bisa punya semuanya kenapa harus salah satu…

Film ini layak tonton untuk semua orang karena ngga ada adegan seksual ataupun kekerasan. Mau bawa anak-anak juga sangat bisa.

Score Film Ngeri-Ngeri Sedap

Selama menonton film ini, emosi saya benar-benar dibikin naik turun. Awal pemutaran, ketawa tiada henti, lalu tiba-tiba harus nangis, ketawa lagi nangis lagi, air mata belum kering udah ketawa lagi begitu terus. Ngga kebayang sebelumnya akan ada cerita haru disini. Di luar ekspektasi.

Lucu ketika Sahat salah manggil perempuan batak, atau bapak angkat sahat yang salah saat menyebut kata Horas, sedih ketika rumah tangga Pak Domu akhirnya benar-benar hancur.

Pemeran yang dipilih betul-betul berdarah Batak dan Sumatera Utara. Bukan melulu pemeran yang bermodal wajah cantik dan tampan belaka. Tapi akting mereka diakui benar-benar mendalami dan menjiwai. Semuanya punya kemistri antara satu dengan yang lain. Pesan yang diperankan oleh masing-masing karakter tersampaikan dengan baik melului banyak hal baik itu logat, pembawaan, kostum dll.

Bandara Silangit, lapo tuak, bapak – bapak mabuk pulang malam, lagu-lagu Batak, mi gomak, bahasa batak yang sesekali muncul oleh para figuran adalah sisi lain yang melengkapi kesempurnaan sentuhan Batak pada film ini.

Pokoknya secara audio dan visual, Ngeri-ngeri sedap menghadirkan yang terbaik.

Tapi di akhir cerita memang agak kurang greget bagi saya. Kurang dapat klimaksnya. Meski berakhir happy ending rasanya akan lebih mantap kalau sekalian ada pesta pernikahan Domu misalnya. Ini sih minta durasi lebih namanya ya, hahaaa

Akhirnya score dari saya untuk film ini adalah 8,5/10

Btw, kenapa judulnya ngeri-ngeri sedap, ya? Yang udah nonton ketemu ngga hubungan antara ngeri-ngeri sedap dengan jalan ceritanya? Ini gimana ya? Ngerivew malah nanya balik? hahaa

Mumpung masih ada di bioskop ayo pada nonton. Di beberapa bioskop di Medan, kadang-kadang muncul para pemainnya, loh…

Hormas!!!

24 tanggapan untuk “Belajar Menjadi Orang Tua Bijaksana dari Film Ngeri-Ngeri Sedap

  1. Sungguh sangat nambah wawasan. Meski belum nonton langsung, saya sebagai orang Sunda jadi nambah pengetahuan bagaimana tradisional di Batak sana. Dan pastinya selain menghibur film ini juga memberikan banyak pelajaran hidup ya

  2. Nah kan, logat.
    Saya sering banget nih nonton, udah bagus aktingnya, tapi logatnya mengacaukan semuanya.
    Kayak logatnya pemain di film KKN, aktingnya bagus semua, tapi kok logatnya kaku banget hehehe.

    Mungkin bagi yang ga terbiasa dengan logat tersebut menganggap biasa aja, tapi kalau yang terbiasa, keliatan banget kan aktingnya 😀

    Btw film ini menarik ya, jadi pengen nonton juga deh 🙂

  3. wah harus nonton nih saya
    Padahal semula nampak gak banget nih film karena judulnya ngeri2 sedap
    Malesin kalo filmnya ala2 warkop DKI
    ternyata bagus ya?
    Apalagi ada Tika Panggabean, aktris idolaku

  4. wah bagus yaa filmnya sarat nilai-nilai moril kehidupan terutama tentang parenting dan makna pentingnya keluarga, jadi pengen nonton deh

  5. Sengeri apa sih filmnya? hehe, film yang seperti desa penari pun menurut saya biasa aja kok gak ada yang istimewa wkwkwkwk…

    Film ini bagus sepertinya, karena secara langsung memamerkan setting lokasinya di Danau Toba. Menarik sekali.

  6. Aktingnya kak Tika Panggabean bikin daku penasaran.
    Apalagi pas lihat cuplikan dan baca review kak Suci dan teman² lainnya makin deh mau banget nonton filmnya

Tinggalkan Balasan