jalan dan wisata · Kuliner · Sponsor Post

Cuma Sehari di Medan, Bisa Kemana aja?

Kepulangan saya dari Bandung bulan lalu, di pesawat saya duduk di sebelah seorang perempuan muda dan seorang lagi paruh baya. Saya bisa tebak keduanya adalah ibu dan anak. Saat itu saya duduk di aisle seat (lorong) dan merhatiin mereka yang nampak kerepotan dengan barang bawaan yang kecil-kecil tapi jumlahnya banyak. Melihat kursi sisi kanan kosong, saya inisiatif pindah. Lumayan, jadi sama-sama lega dan saya pada akhirnya dapet window seat.

Dua jam di udara menuju Medan yang kebetulan minim turbulensi, dan sisa ngantuk semalam, ngga bisa bikin saya tidur di pesawat. So, adakah tips khusus supaya bisa tidur di pesawat, please? Jadi selama 2 jam itu saya melakukan berbagai kegiatan random. Dengerin musik, main game, baca novel, baca buku panduan di pesawat, lihat-lihat foto dan terakhir tiba-tiba kebayang bakso yang semalam ngga kesampean makan waktu di Lembang. Jadinya saya punya rencana kalau nanti mendarat, satu hal yang mau saya makan adalah bakso.

Related Post: Bukit Vipassana di Lembang

Karena tipe bekpeker turis, saya hampir ngga pernah ada barang di bagasi. Jadi begitu turun dari pesawat ya bisa langsung menuju ke area stasiun bus, orang pertama yang duduk di bus adalah saya. Karena masih menunggu penumpang lain, saya iseng makan bakso dulu di salah satu tenant yang ada di area stasiun railink. Toh, biasanya nunggu bus sampe penuh itu butuh waktu satu jam juga.

Selesai makan bakso, loh kok busnya masih kosong? Ternyata yang tadi udah berangkat. Duh, alamat nunggu pesawat mendarat lagi, kan.

Di kursi tunggu, saya lihat ibu dan anak yang satu pesawat dengan saya tadi masih duduk di sana. Si anak senyum ke arah saya, yang akhirnya bikin saya mendekat dan melibatkan diri dalam obrolan mereka. Akhirnya saya tau si ibu baru saja menjemput anaknya yang kuliah di Bandung supaya bisa menghabiskan bulan ramadhan yang tinggal seminggu lagi dan merayakan lebaran di kampung halaman mereka di Aceh. Ya, mereka akan melanjutkan perjalanan ke Aceh.

Cuma, pagi menjelang siang itu mereka kebingungan karena jadwal bus ke Aceh yang ngga sesuai dengan waktu tiba disana. Masalahnya mereka harus nyambung angkutan lagi menuju desanya. I feel them, lah, karena sebelas duabelas dengan kampung saya yang harus nyambung beberapa kali angkutan dan diakhiri dengan naik ojek pengkolan menuju rumah.

Akhirnya, karena mereka minta pendapat, saya sarankan untuk menginap satu malam di Medan dan mereka mau. Kasian juga dengan si ibu yang udah nampak sangat kelelahan. Ngga tau tiba-tiba saya dan anaknya udah tukeran nomor telepon, dong. Saya simpan kontaknya dengan nama Cut Sarah

Destinasi Wisata dan Kulineran di Medan

Malamnya, ada pesan whatsapp dari Sarah. “Kak, kami nanti jadinya dijemput ayah, jadi mungkin menginap satu malam lagi di Medan”. Intinya Sarah dan ibunya bosan kalau harus di kamar aja. Pingin jalan-jalan dan makan enak, katanya. Sarah minta rekomendasi rental mobil dan tempat-tempat yang enak dikunjungi di dalam kota Medan. Sayangnya esoknya masih hari kerja, dan saya terpaksa menolak ajakan mereka untuk ikut menemani jalan-jalan di kota Medan.

Jadi begitulah, Medan sebagai kota besar sekaligus kota transit memang menjadi tujuan utama pendatang untuk sekedar menghabiskan waktu ataupun menginap sembari menunggu jadwal keberangkatan ke kota tujuan selanjutnya.

Dengan keterbatasan waktu, kita ngga perlu khawatir merasa bosan saat-saat berada di kota Medan meski hanya satu hari. Karena disini cukup banyak ikon atau tempat-tempat yang bisa dikunjungi baik untuk berwisata ataupun kulineran.

Destinasi Wisata Kota Medan

Setidaknya di pusat kota saja ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi bahkan dengan berjalan kaki. Karena kebetulan mereka menginap di daerah Balai kota, saya bikinin itin sederhana untuk mereka, bermula dari yang terdekat dengan hotel dimana mereka menginap.

Mesjid Raya Medan

Ikon kota Medan yang satu ini memang wajib direkomendasikan pada wisatawan muslim yang datang ke Medan. Meski di Aceh mereka punya masjid yang lebih megah tapi pastinya masing-masing punya ciri khas, sejarah dan kemistrinya sendiri.

Mesjid kebanggaan warga muslim Medan ini bergelar Masjid Raya Al Mashun berdiri tahun 1909 oleh Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah seorang pemimpin kesultanan Melayu pada masa itu. Terletak di Jl. Sisingamangaraja no. 61, Medan. Masjid ini berbentuk segi delapan dan memiliki sayap di empat arah mata angin. Bagian dalam masjid, terdapat delapan pilar utama yang menjulang tinggi untuk menyangga kubah utama pada bagian tengah. Mihrabnya terbuat dari marmer dengan atap kubah yang runcing. Gerbang masjid ini berbentuk bujur sangkar dan beratap datar. Sedangkan menara masjid berhias paduan antara Mesir, Iran, dan Arab. Sebuah perpaduan arsitektur yang indah.

Ke mesjid ngga harus di waktu solat wajib, kan? Pagi hari bisa dhuha atau solat sunat lainnya. Menghabiskan pagi atau sore di pelataran masjid ini begitu nyaman. Ngga tau kenapa meski dicuaca panas terik, tapi kalau berada di komplek masjid, tuh auranya selalu terasa sejuk, ya. Merasakan udara pagi atau menunggu senja di pelataran masjid ini juga jadi aktivitas menarik, kok. Saya juga seneng mengunjungi masjid di daerah yang saya datangin. Oiya masuk ke Masjid Raya kita wajib pakai kerudung, ya… 🙂

Related Post: Masjid Istiqlal Jakarta

sumber: detik.com

Istana Maimun Medan

Komplek istana ini awalnya menyatu dengan area Masjid Raya Medan karena memiliki keterkaitan erat dengan Kesultanan Melayu Deli. Kesultanan ini mencapai puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah, sang pendiri Istana tahun 1888 sekaligus sang pendiri Masjid Raya 18 tahun kemudian. Luas istana ini sekitar 2.770 M2 dan memiliki 30 ruangan yang ada di 2 lantai. Kebayang, kan besarnya?

Istana ini memang masuk sebagai salah satu destinasi wisata karena memang sarat akan sejarah. Sebagai bukti cinta, nama Maimun diambil dari nama permaisuri Sultan yang bernama asli Siti Maimunah. Dalam bahasa Arab, Maimun bermakna berkah. Berkah untuk sang permaisuri punya suami romantis, ya…

Istana Maimun didominasi warna kuning, yang menjadi warna ciri khas Melayu. Meski dibuka untuk umum sebagai destinasi wisata, tapi ngga semua ruangan diperbolehkan untuk dikunjungi. Pada bagian sayap kanan dan kiri digunakan untuk acara adat saja. Sementara bagian utama Istana Maimun dibuka untuk umum sebagai destinasi wisata sejarah di kota Medan.

Disini kita bisa menyewa baju adat Melayu dan berfoto laksana keluarga Kesultanan di singgasana. Selain itu secara berkala ada pertunjukan musik Melayu oleh musisi lokal. HTM kesini cukup terjangkau. Tak lebih dari 10ribu rupiah sudah bisa merasakan aura Kesultanan Deli. Lokasi wisata ini ada di Jl. Brigjend Katamso No. 66, Medan. Sekitar kurang lebih 500M dari Masjid Raya. Bisa sekalian jalan santai, kan…

sumber: 99.co

Tjong A Fie Mansion

Beralamat di Jl. Jend. Ahmad Yani No. 105, Kesawan, Medan. Hanya sekitar 5-10 menit berkendara dari komplek Istana Maimun. Tjong A Fie Mansion ini merupakan sebuah rumah milik saudagar kaya nan murah hati keturunan Tionghoa yang berdiri tahun 1921. Kini, rumah peninggalan beliau masih dihuni kerabat, tapi beberapa sisi bangunannya diizinkan untuk dikunjungi.

Rumah megah bergaya Melayu dan Cina ini meski berusia matang, tapi segala ruang dan perabotannya masih sangat terawat tampak bersih. Banyak ruangan instagramable yang bisa dijadikan spot berfoto. Karena sosoknya yang supel, beliau punya ruangan khusus untuk menyambut tamu dan kolega-koleganya. Ada ruang yang bergaya Cina ada juga Eropa.

Sepanjang ruangan, selain barang-barang antik nan mewah, kita akan dimanjakan dengan deretan foto-foto beliau semasa muda, keluarga dan kerabat sampai foto kolega dari seluruh penjuru dunia. Beliau memang terkenal dengan kebaikan dan sifat kedermawanannya. Masjid Raya Medan adalah salah satu bangunan yang sebagian sumber dananya berasal dari sumbangan Tjong A Fie

Berdiri di area seluas 8000M2, rumah ini termasuk salah satu bagian bangunan lawas yang ada di deretan daerah Kesawan dan wajib dikunjungi. Pintu gerbang rumah itu terbuka untuk umum antara pukul 09.00-17.00. HTM sebesar 35K

Tak jauh dari sini, berjalan kaki sejauh 50M saja banyak deretan bangunan tua yang biasa dipakai warga atau pengunjung untuk berfoto. Utamanya di depan gedung London Sumatera (Lonsum) yang memang sangat instagramable sekali.

Sumber: tjongafiemansion.org

Taman Buaya Asam Kumbang

Sudah puas dengan wisata budaya, silahkan bergeser sedikit sejauh kurang lebih 7KM untuk melihat peternakan buaya terbesar se-Asia Tenggara. Yup, peternakan reptil seluas 2 Hektar ini ada di Medan, tepatnya di Jl. Bunga Raya, Asam Kumbang, Medan.

Dengan membayar HTM sebesar 10K saja, kita bisa menyaksikan ribuan buaya dengan berbagai usia dan ukuran disini. Selain atraksi oleh pawang buaya, atraksi lainnya oleh pengunjung yang secara langsung memberi makan buaya. Caranya dengan melemparkan seekor ayam atau bebek hidup ke kolam buaya. Dengan begitu buaya-buaya itu akan melompat dan berebut unggas yang kadang kala masih sempat berlari-lari di atas kepala buaya sampe akhirnya masuk ke dalam mulut buaya yang beruntung. Menghibur sekaligus kasihan…

Tentu saja, ayam dan bebek dijual disana, ya… 😀

Adalah seorang Tionghoa bernama Koh Loh Tham Muk yang hobi beternak reptil ini. Tahun 80an, beliau pernah menerima turis dari kapal pesiar Colombus yang mendarat di Pelabuhan Belawan, dan ditahun yang sama Dinas Pariwisata Medan menyarankannya untuk membuka peternakan buaya. Berdirilah sampe dengan saat ini dan menjadi destinasi wajib untuk City Tour di Medan.

Beberapa kolam dibangun untuk mengelompokkan buaya sesuai dengan umurnya. Kolam yang paling besar diisi buaya-buaya senior dan berukuran besar. Kalau buaya darat segala usia dan segala ilmu, boleh juga gabung disini, hehee…

Sumber: Detiktravel

Berburu Kuliner dan Oleh-Oleh Medan

Bukan hanya tempat-tempat ikonik saja yang kota Medan sediakan untuk memanjakan wisatawannya. Kulinernya pun ngga kalah lezat dan bikin nagih.

Meski Aceh merupakan provinsi terdekat dari Medan, tapi Sarah belum pernah ke Medan khusus untuk jalan-jalan. Sama dong kaya saya yang belum pernah ke Aceh, hiks! Selain berbagai tempat tadi, saya juga rekomendasikan mereka untuk mencicipi kuliner Medan. Salah satunya rujak buah

Ya, sebagai penggemar rujak, tentu saja saya rekomendasikan makanan kesukaan saya dulu, dong. Eh, katanya mamaknya suka. Mereka senang, kita juga ikut senang, kan.

Rujak Kolam

Saya kasih beberapa kuliner yang harus dicoba dan kebetulan masih dekat dengan lokasi wisata kota.

Kuliner ini lokasinya dekat sekali dengan Masjid Raya Medan. Cukup berjalan kaki saja. Cita rasa yang khas dari rujak ini berasal dari pisang batu muda yang digiling kasar dengan bumbu utamanya. Bumbu yang melimpah dengan aneka potongan buah membuat hidangan ini segar disantap dicuaca panas.

Related Post: Rujak Buah Takana Juo

Restoran Tip Top

Kalau pingin ngerasain hidangan pencuci mulut dengan sajian klasik, bisa mencicipinya di restoran yang letaknya masih satu kawasan dengan Tjong A Fie Mansion. Tepatnya ada di seberang bangunannya.

Disini yang menjadi ciri khasnya adalah kue dan es krim yang masaknya masih menggunakan tungku tradisional. Oh iya, Pak Bondan pernah kesini meliput dan memberikan review bagus pada sajian es krimnya, loh. Jadi ngga ada ruginya untuk ikut mencicipi.

Sumber: Tiptop-medan.com

Rumah Makan Sipirok

Kalau mau merasakan makanan khas Sumatera Utara, silahkan datang ke rumah makan yang berada di Jl. Sunggal , Medan ini. Sipirok adalah nama sebuah daerh yang berada di Kabupaten Mandailing, Sumut. Menu andalannya adalah daun ubi tumbok (Daun Singkong Tumbuk) dipadukan dengan sambal teri kacang. Wah, Mandailing sekali menunya. Menu lainnya pun beragam seperti sup iga dan tulang sumsum, gulai kepala ikan, aneka sambal ikan dll.

Kalau jenuh dengan makanan modern, atau mungkin rindu kampung halaman, boleh menyambangi rumah makan Sipirok ini.

Related Post: Ketika Bosan dengan Makanan Kekinian

Sumber: detikfood

Berburu Oleh-Oleh

Teri Medan

Apa ya ada dalam benak kalian kalau mencari oleh-oleh khas dari Medan?

Saya yakin semua sepakat menjawab ‘Teri Medan”.

Yup, ikan teri medan memang punya ciri khasnya sendiri. Dari mulai kadar asin-nya, lalu teksturnya lebih padat tapi gurih dan warnanya lebih bersih. Makanya harganya juga ngga main-main. Perkilonya bisa mencapai ratusan ribu rupiah.

Teri memang salah satu jenis lauk yang paling banyak dicari. Selain rasanya enak, teri bisa diolah menjadi beragam jenis makanan. Yang paling banyak disukai ya sambal teri kacang atau biasa disingkat jadi “Sartika” tanpa Dewi di depannya. Selain sartika, teri juga enak dicampur tumisan sayuran.

Kalau mau bawa oleh-oleh dari Medan, jangan lupa sisipkan teri, ya…

Sumber: nonikhairani.com

Bolu Menara

Kurang lengkap rasanya pulang dari bepergian tanpa membawa oleh-oleh, kan?

Saya kenalin ke Sarah dan kalian oleh-oleh khas Medan yang tergolong pendatang baru. Biar begitu, penggemarnya jangan ditanya. Terbukti dengan menyebarnya mitra-mitra di berbagai penjuru kota Medan. Dengan kata lain, mau nyari barangnya ngga akan susah.

Yup, Bolu Menara

Mulai bergabung dalam dunia oleh-oleh Medan tahun 2021 berpusat di Jl. KH. Wahid Hasyim, Medan. Minggu lalu saya bersama kawan-kawan Blogger Medan lainnya berkesempatan untuk hadir diacara pembukaan cabang baru mereka di Jl. Karya Jaya, Medan. Dan tak lama lagi rencananya akan segera hadir cabang ketiga. Kita tunggu undangannya lagi, ya… hihii

Apa yang membedakan Bolu Menara dengan Bolu lainnya?

Terkadang ada rasa bosan ya dengan sajian bolu yang itu-itu saja. Bolu Menara hadir dengan cita rasa khas Medan. Jadi meski nantinya ada yang menduplikasi seperti bolu-bolu lainnya, ciri khas Medan tetap terjaga.

Kemasan Bolu Menara terinspirasi dari Menara PDAM Tirtanadi, salah satu ikon kota Medan. Selain itu setiap pembelian akan dibungkus dalam wadah berupa tas yang bisa digunakan berulang kali (re-use) dan dengan berbagai keunggulan lainnya, seperti:

  • Memakai bahan baku pilihan, bekualitas baik dan halal.
  • Diproduksi langsung di kota Medan menggunakan teknolodi modern dari Jepang sehingga menghasilkan tekstur kue yang lembut dan lezat.
  • Standar higienis yang terjaga dari mulai produksi, proses pengantaran dari pabrik ke toko sampai tangan konsumen.
  • Kepuasan konsumen bagian dari prioritas, oleh sebab itu Bolu Menara dapat dipesan baik dari toko dan mitra yang tersebar hingga berbagai media sosial, telepon dan email.
  • Varian rasa yang mengutamakan produk ciri khas lokal seperti durian, pandan dan markisa sehingga sangat mudah dikenali konsumen.
  • Harga wajar dan terjangkau
  • Yang paling penting, semua produk bolu dan lapis stim sudah mendapatkan sertifikasi halal MUI. Dengan demikian tidak ada lagi hal yang membuat konsumen muslim untuk ragu.

Produk Bolu Menara

Bolu Stim dengan varian rasa Red Velvet, Markisa Keju, Pandan Durian dan Black Forest. Masing-masing dengan kemasan 600gr, daya tahan produk 6 hari dengan harga Rp. 45.000

Lapis Stim dengan varian rasa Keju, Kacang Teng-Teng, Pandan Srikaya dan Jeruk Medan. Masing-masing dengan kemasan 500gr dan daya tahan produk 4 hari suhu ruang dan 7 hari di lemari pendingin seharga Rp. 35.000

Semuanya diproduksi dengan bahan-bahan berkualitas premium disertai toping melimpah ruah. Varian rasa durian, pandan dan markisa adalah makanan yang sangat Medan sekali. Dengan harga terjangkau, kita bisa berbagi dengan kerabat sebagai Oleh-Oleh Khas Medan yang rasanya wajib dibawa.

Saran Penyimpanan:

  • Hindari suhu panas dan matahari langsung
  • Simpan di suhu ruang 25˚C atau lemari pendingin 5˚C
  • Jangan letakkan box secara miring / berdiri
  • Maksimal tumpukan 5 box

Toko Bolu Menara

Store Bolu Menara berpusat di Jl. K.H. Wahid Hasyim No.57/58 Babura, Medan. Minggu lalu cabang ke-2 telah dibuka beralamat di Jl. Karya Jaya No. 174C, Medan Johor.

Melayani konsumen setiap hari pada jam operasional 07.00 – 21.00

Grand Opening Bolu Menara Bersama Blogger Medan

Selain berbelanja toko kedua toko resmi tersebut, kita dipermudah menemukan produk mereka pada 17 mitra yang tersebar di Kota Medan, Binjai dan Deli Serdang. Jangan khawatir karena harga akan tetap sama dengan harga di toko resminya.

Selain beli secara langsung di toko resmi atau pun mitra, akan jauh lebih praktis dengan layanan online. Berikut media sosial dan store online yang pastinya akan sering-sering ada promo menariknya:

  • IG: @bolumenara
  • https://bolumenara.co.id
  • https://shopee.co.id/bolumenaramedan
  • https://tokopedia.com/bolumenaramedan
  • +62 8111 9115 005

Jadi kapan-kapan kalau kalian ngga sengaja terdampar di Medan seperti Sarah dan ibunya, udah ngga bingung lagi kan mau ngapain. Itu masih sebagian kecil dari “keajaiban” kota Medan yang bisa dinikmati.

Kata Sarah, “Kak Suci, kapan Sarah ke Medan lagi atau kakak yang main ke Aceh atau Bandung lagi kabarin Sarah, ya, kita jalan bareng. Oiya bolu menaranya enak, sampe Aceh langsung habis. Sarah baru tau kalo ada bolu menara. Nanti Sarah mau bawa buat oleh-oleh kawan kos di Bandung. Terima kasih, kak”

Siap, sama-sama dek Sarah…

Kalian kapan main ke Medan dan cobain Bolu Menara? 🙂

22 tanggapan untuk “Cuma Sehari di Medan, Bisa Kemana aja?

  1. Duh kangen Medan…saya pernah ke Masjid dan Istana Maimun. Yang lain belum, semoga lain kali. Oleh-oleh Medan wajib banget dicatet, banyak yang mantaap. Bolu Menara misalnya
    Enaknya memang Bolu Menara bisa dipesan online dari Jakarta, langsung dikirim dari sana, saya pernah pesan. Jadi ga perlu nunggu ada yang ke Medan dan jastip
    Duh kebayang enaknyaaa

  2. Saya pernah nih dibawain teri medan, tapi pas ke Medan malah oleh-oleh yang di bawa tuh bika ambon hehehe….
    Wah ada pilihan bolu lain ya dari Medan, bolu menara namanya. Tampilannya sangat menggoda mbak.

  3. Ada bermacam-macam kuliner ya di Medan, sehari aja bakal ga cukup buat pesan semuanya. Hihihi

  4. Ah.. Saat liat bolu menara, aku jadi rindu makan bolu meranti. Entahlah. Aku nggak tahu apakah keduanya sama atau nggak. Yang jelas bentukannya sama.

    Dulu, pas kerja di Kalimantan. Aku punya teman kerja orang Medan. Jadi kalau dia mudik, suka bawa oleh-oleh. Teri Medan, Bolu Meranti, Bika Ambon.

    Nah khusus Bolu Meranti bentukannya sama dengan Bolu Menara. Mungkin mereka belinya di Bolu Menara kali ya.

  5. Kedua masjid yang disebutkan kak Suci ingin banget daku bisa ziarah ke sana.
    Soalnya suka mendengar nama masjidnya, apalagi waktu kecil sering lihat penceramah kondang tabligh Akbar di sana.
    Semoga suatu saat bisa berkunjung ke Medan

  6. wah terimakasih, termimpi-mimpi ingin ke Medan
    Mbak Suci ngasih tips destinasi wisata dan kulinernya
    Termasuk Bolu Menara yang pengen banget saya cicipi
    terutama kacang teng teng
    kebayang deh kelezatannya

  7. Ya ampun. Jadi pengen balik lagi ke Medan. Terutama untuk wisata kulinernya. Terakhir kesana tuh belum sempat explore banyak tempat untuk kuliner. Baru sempat ke Soto Udang yang di depan Tjong A Fie Mansion. Terus Tip Top lagi renovasi.

    Itu bolu Menara nya cantik kali ya Kak. Lihat fotonya aja menyelerakan sekali. Apalagi yang varian Jeruk Medan. Visualnya menggoda dengan perpaduan warna yang apik banget. Geregetan pengen motretnya. BTW, Rujak Kolam itu jempolan luar biasa. Biar mati kepedasan, tetap aja tak kapok makan rujak ini hahaha.

  8. Saya yang udah tinggal di Medan belasan tahun belum pernah ke taman buayanyaaa, jadi malu. Tapi teri medan sangat saya rekomendasikan karena rasanya beda aja gitu dari tempat lain dan pasti bolu menara ya mbak!

  9. Baru kali ini saya tahu ada peternakan buaya. Apakah ada informasi buaya-buaya itu diapakan kalau sudah terlalu banyak? Apakah dikirim ke kebun binatang, atau gimana?

    1. Infonya sih dikubur mbk, krn biasa mati krn usia. Belum ada info mati krn disembelih atau dikulitin…
      2ribuan ekor tuh ada disitu krn mmg lokasinya lumayan lebar. kolamnya saja mungkin isinya ribuan juga

Tinggalkan Balasan