jalan dan wisata

River Tubing, Bermain Dengan Gajah dan Syuting Ala Adu Rayu di Tangkahan

Berangkat rame-rame dengan budget minim memang selalu membuat drama. Terutama dibagian pemilihan penginapan. Ada yang maunya penginapan murah aja gapapa yang penting bisa tidur, ada juga yang maunya mahal asal nyaman. Sampe-sampe ada sidang khusus untuk bahas ini doang. meski akhirnya sepakat cari penginapan yang murah saja.

Berangkat menuju Tangkahan dimulai pukul 8:30 malam, ngaret satu jam dari kesepakatan. Biasalah, ya…

Itupun harus berjalan santai karena terjebak kemacetan di beberapa titik menuju kota Binjai. “Salam dari Binjai!”. Agak sedikit lancar saat memasuki kota Satabat. Kembali melambat saat memasuki kawasan hutan dan perkebunan sawit dengan penerangan minim. Malah lebih banyak ngga ada lampunya sama sekali. Lebih tepatnya hati – hati, sebab hampir 2/3 rute disuguhi jalanan rusak dan berbatu. Belum lagi hujan malam itu semakin bikin jalanan becek dan berlumpur, malah sebagian ada yang terendam banjir. Ditambah lagi harus meraba-raba jalan karena memang tak seorangpun dari kami yang sudah pernah kesana. Di beberapa titik sampe harus berebutan dengan kawanan sapi yang menghadang jalan. Kami menyebutnya penguasa jalanan. Google Map pun terpaksa harus putus nyambung mengikuti keberadaan sinyal. Selebihnya mengandalkan feeling. Baru sekitar sisa kurang lebih 10KM nampak penunjuk jalan berupa tiang-tiang dengan ujung tanda panah. Itupun kelihatan karena ada sorot lampu mobil dan memang harus awas melihatnya. Kelewatan sedikit, nyasar deh.

Jarak Medan ke Tangkahan sekitar kurang lebih 100KM yang secara normal bisa ditempuh dalam waktu 2,5-3 Jam, harus diperpanjang menjadi 4 jam dan bisa jadi lebih lama karena kondisi jalanan yang kurang mendukung. Beda cerita mungkin kalau pakai Double Cabin dan sejenisnya yang bisa tebas disegala kondisi jalan.

Memasuki desa, sepanjang jalan itu udah sangat sepi sekali. Rumah-rumah bahkan warung sudah pada tutup. Kami sepenuhnya mengandalkan lampu mobil dibantu lampu-lampu teras rumah penduduk yang temaram. Akhirnya pukul 12 lebih 15 menit dini hari, tiba jua di penginapan. Sampai di kamar, selesai isya, kami makan bekal yang dibawa dari rumah sebelum akhirnya tidur pukul 2 malam dan bangun subuh untuk solat dan mandi. Penginapan murah, kamar mandinya di luar, cinn…. hahaa. Jadi sebelum tamu yang lain bangun, kami harus menguasai kamar mandi terlebih dahulu. Oiya, Jangan harap bisa komunikasi lancar disana karena cuma operator Telkomsel yang sinyalnya lumayan ada. Itupuuun jarang sekali munculnya.

Serba Serbi Penginapan di Tangkahan

Selama masa pencarian di OTA ataupun googling, yang saya ingat hanya muncul 5 penginapan di Tangkahan ini. Mereka adalah Green Lodge, penginapan pertama yang paling dekat dengan Desa, selanjutnya Dream Land, Mountain View, Mega Inn dan Jungle Lodge. Mega Inn, merupakan penginapan paling ujung dari desa. Mountain View adalah penginapan pilihan kami. Semuanya tersusun berjejer gitu kaya jadi tetanggaan. Kecuali Jungle Lodge yang letaknya di kawasan komplek CRU (Conservation Response Unit). Tarif kamar bervariasi antara 100k-300K kecuali Family room (semacam vila) sekitar 600K-900K. Kesepakatan sih tiap kamar ada maksimal orangnya. Tapi sampe sana kebanyakan satu kamar diisi sekampung, haha. Sebagai info penting, meski semua penginapan itu sudah terdafar di OTA, ada baiknya untuk memesan kamar langsung melalui sambungan telepon. Jangan terkecoh dengan harga murah melalui aplikasi karena itu LEBIH SERING ngga berlaku setelah berada di lokasi. Bagaimana mau nerima pesanan lewat aplikasi, sinyal internet aja susah. Jadi harap maklum kalau pas telpon, suara mereka juga terputus-putus.

Kalau dibanding dengan hotel di kota, kondisinya ya sangat jauh berbeda. Disini lebih mirip hotel melati, sebagian malah kayak kos-kosan. Di kota, dengan tarif 250K kita udah bisa dapat hotel bintang 3. Tapi kembali lagi ke kondisi daerah pedalaman. Dengan pilihan penginapan yang terbatas apalagi di hari libur sangat wajar kalau mereka menentukan tarif segitu, sih. Mereka kan lebih menjual atraksi wisata dan pemandangan alam dibandingkan harus mendekorasi kamar untuk terlihat seperti hotel berbintang. Itu sebabnya setiap penginapan punya guide dan paket wisata masing-masing untuk ditawarkan pada tamu yang menginap. Jadi di restorannya, kalau pagi atau mungkin malam, banyak tamu yang bertanya perihal paket atraksi wisata. Nah, disitu pasti sudah ada guide yang duduk menunggu alias standby. Jadi ada baiknya kalau melakukan tawar menawar harga itu sehari sebelum atau malam harinya karena proses tawar menawar juga makan waktu apalagi menyatukan suara orang banyak ini rada pelik, haha, dan juga keterbatasan guide tentunya. Jadi bukan cuma kamarnya yang kita book, tapi juga sekalian guidenya. Cara ini mengingatkan saya ketika berkunjung ke Bukit Lawang. Sama persis.

Kalau ngga punya kontak, boleh juga mencari info di Tangkahan Center sesampainya disana.

Emang harus pake guide, ya?

Tergantung paket wisata. Kalau cuma jalan-jalan sekitar penginapan dan main air di sungai ya ngga harus. Tapi kalau udah menyangkut susur sungai atau treking hutan, wajib lah hukumnya pakai guide.

Oiya, sampe lupa. Disana ada juga kok satu penginapan kelas hotel berbintang. Tapi untuk wisatawan budget ya ngga akan melirik kesana, karena tarifnya muahaaal. Pasti pada tau aktor Nicholas Saputra, kan? Yup, dese yang punya hotel. Namanya Terario.

Kok bisa dia punya penginapan disana? Jangan skip, yaa baca terus tulisan saya, hehee…

Related Post: Imlek Ceria di Bukit Lawang

Salah satu sudut restoran di Mountain View Inn
Mountain View Inn dipagi hari

Ekowisata Tangkahan

Kalau mendengar Bukit Lawang, yang terlintas dalam benak kita adalah Orang Utan. Nah, kalau mendengar kawasan Tangkahan biasanya yang terlintas di benak kita adalah Gajah atau kalau googling soal Tangkahan biasanya gambar yang muncul adalah gajah. Sebabnya, kedua kawasan ini memang resmi sebagai tempat konservasi kedua satwa tersebut. Orang Utan dan Gajah (Elephant Sanctuary).

Tangkahan sendiri letaknya di Desa Namo Sialang, Kecamatan Batang Serangan Kabupaten Langkat. Kalau dari Medan, harus melewati kota Binjai dan Stabat. Berada pada kawasan hutan tropis seluas 17ribu Hektar yang membentang sampai kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Jadi Tangkahan ini berbatasan dengan Bukit Lawang dan Aceh. Kalo kata guidenya kemaren, treking ke Bukit lawang butuh waktu 3 hari, kalo ke Aceh butuh waktu seminggu melewati hutan rimba yang masih terjaga kemurniannya. Berminat?

Banyak turis asing datang ke kedua kawasan konservasi ini. Karena memang kebanyakan mereka lebih menyukai wisata alam yang lingkungannya masih alami seperti ini, terlebih mereka yang menyukai dunia hewan dan tumbuhan pasti akan selalu datang dengan terjadwal. Tapi memang ada musim-musimnya mereka datang. Biasanya di musim libur dan musim dingin di negaranya.

Selain karena menyukai wisata alam, para turis asing ini banyak yang tergabung di NGO (Non Governmental Organization) yang berkonsentrasi pada konservasi flora dan fauna.

Setidaknya ada 2 organisasi yang turut berpartisipasi dalam pelestarian alam dan satwa di Tangkahan. Mereka adalah FFI (Flora Fauna International) & WWF (World Wide Foundation) dan Global Eco Tourism. Ada juga organisasi asing yang bergerak dibidang lainnya seperti Tangkahan Effect yang berkonsentrasi di dunia pendidikan. Mereka mendirikan pusat pelatihan Bahasa Inggris dengan nama Tangkahan English Club (TEC).

Keindahan alamnya, keasrian lingkungannya, kesegaran udaranya, keanekaragaman hayatinya, keramah-tamahan penduduknya membuat Tangkahan mendapat julukan sebagai “The Hidden Paradise of Sumatera Utara”. Aku sih, yes!

Dikutip dari web resmi gunungleuser.or.id

Antara tahun 1980 hingga tahun 1990-an, masyarakat di sekitar Tangkahan dulunya giat membalak kayu hutan yang berasal dari Taman Nasional Gunung Leuser. Namun seiring dengan waktu, masyarakat kemudian sadar akan kerusakan dan kesalahan yang telah mereka lakukan sehingga atas kesepakatan bersama masyarakat di Tangkahan kemudian memutuskan untuk menghentikan pembalakan kayu illegal dari Taman Nasional Gunung Leuser dan mengembangkan kawasan Tangkahan daerah ekowisata. Pada tahun 2001, masyarakat Tangkahan berkumpul dan menyepakati peraturan desa (perdes) yang melarang segala aktifitas yang mengeksploitasi hutan secara illegal dan mendirikan Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT).

Pada bulan April 2002, LPT membuat nota kesepahaman (MoU) dengan pihak pengelola Taman Nasional Gunung Leuser untuk mengelola Tangkahan sebagai tujuan wisata. LPT juga mendirikan Community Tour Operator (CTO) yang berfungsi memfasilitasi penyediaan akomodasi, interpreter bagi pengunjung dan paket-paket wisata yang menarik. Selain untuk trekking di hutan Taman Nasional Gunung Leuser yang mempesona, Tangkahan juga merupakan tempat kegiatan Conservation Response Unit (CRU) yang terdiri dari beberapa gajah bekas peliharaan (ex-captive) dan sekelompok mahout (pelatih gajah) yang secara teratur berpatroli untuk melindungi kawasan Taman Nasional Gunung Leuser dari aktifitas perambahan kawasan

Alhamdulillah, masyarakatnya cepat menyadari kesalahan dan akibat fatal dalam aktivitas pembalakan liar. Coba kalau masih diteruskan, mungkin ngga akan ada surga tersembunyi ini, kan?

Atrakasi Wisata di Tangkahan

Akan sangat membosankan kalau hanya tidur-tiduran atau berdiam diri di penginapan. Karena penginapannya juga kurang menarik dari sisi kamar ataupun viewnya. Tangkahan menjual banyak sekali atraksi wisata dengan sistem paket. Dari mulai paket lengkap tapi bisa juga sesuai permintaan.

Paket lengkap biasanya sudah termasuk harga tiket masuk, makan siang, snack (biasanya buah), mengunjungi konservasi gajah, singgah di beberapa air terjun, dan sumber air panas (berendam), menyebrangi beberapa jembatan gantung, treking ke hutan sekaligus pengenalan tentang tumbuhan yang ada disana dan permit TNGL (kalau beruntung akan bertemu satwa liar), susur goa, river tubing, antar jemput jeep serta dokumantasi. Untuk paket lengkap ini harus meluangkan waktu seharian dari pagi sampe sore.

Harga yang ditawarkan juga bervariasi, antara 250K-350K. Tergantung kelengkapan paket. Kalau harga nawar biasanya ada beberapa item yang dikurangi, sesuai permintaan sampai ketemu kecocokan harga. Sesuaikan juga dengan waktu yang kita punya.

Berkunjung ke Konservasi Gajah

Ini yang paling banyak peminatnya. Paket yang ditawarkan ada 3 jenis. Memandikan gajah dengan tarif 150K, memberi makan gajah seharga 50K dan foto bersama gajah seharga 25K. Tapi kalau ikut paket, biasanya tarif ini sudah termasuk di dalamnya.

Memandikan gajah

Untuk masuk ke kawasan ini, kita harus daftar dulu di Tangkahan Center. Kemudian menyebrang sungai melalui jembatan gantung yang lumayan panjang. Jadi masuk kesini tuh ngga bebas.

Tiket masuk

Atraksi ini hanya ada 2 tahap. Pagi hari pukul 8:30 – 9:30 dan sore hari pukul 15:00-17:00. Iya kali makan dan mandi sepanjang hari, hehee. Infonya, meskipun hujan, gajah-gajah tetap mandi. Jadi ada antrian untuk bisa mendekati gajah-gajah ini. Kalau terlalu ramai mereka juga bisa tantrum, kan ya.

Ada 9 ekor gajah menghuni penangkaran ini, dari mulai yang besar dan yang kecil. Yang paling menggemaskan sih anaknya. Namanya Boni dan yang bapaknya yang paling besar namaya Teo.

Atraksi yang paling seru saat para mahout memerintahkan gajah untuk menyemprotkan air dari belalainya ke pengunjung. Gajah-gajah ini penurut banget, loh. Disuruh maju atau mundur merapikan barisan langsung nurut. Kadang mereka iseng julurin belalainya ke kita. Padahal bulu-bulu tipis yang ada di belalainya itu tajam, jadi kalo mereka lagi iseng pas kita mau fotoan, itu bulu sampe tembus ke baju dan kena kulit lengan. Lucu sih, mereka.

Atraksi oleh Theo

Kunjungan ke konservasi gajah ini diliburkan setiap hari Jumat. Sebab mereka akan dibawa oleh mohout ke hutan untuk melakukan patroli. Biar pembalak liar itu diseruduh Theo…

Boni rada sombong
Jungle Treking

Jalan di hutan yang masih alami, dikenalkan dengan tumbuhan yang mungkin kita ngga pernah lihat sebelumnya dan kalau beruntung ketemu satwa liar seperti orang utan, siamang dan primata lainnya dan juga jenis-jenis burung liar adalah atraksi yang menjadi andalan kawasan ekowisata ini.

Salah satu tumbuhan langka adalah pohon. Katanya bunganya bisa dijadikan sampo alami yang bisa bikin rambut kuat sekaligus halus dan lembut.

Oiya, mereka juga menawarkan atraksi naik gajah saat menyusuri hutan, loh. Hanya saja tarif untuk ini tuh beda lagi. Mahal… 😀

Kalau untuk treking hutan, yang paling diperhatikan adalah outfit yang kita pakai. Harus nyaman dan cocok digunakan di hutan tropis.

Bunga ini katanya bisa dijadikan sampo. Hasilnya rambut lebih kuat dan lembut
River Tubing

Kegiatan ini hampir sama dengan arung jeram. Sama-sama mengikuti arus sungai. Bedanya perahu yang dipakai ini terbuat dari beberapa ban besar yang dirangkai menggunakan tali tebal sampai berbentuk mirip perahu. Untuk dudukannya, tali-tali itu dirakit menyerupai jaring laba-laba. Jumlah ban bervariasi tergantung keperluan dan jumlah peserta.

perahu ban

Ini ngga kalah seru, kok dibanding arung jeram. Sebelum arung jeram, mungkin bisa latihan pake ban seperti ini, hehee. Arus sungai yang ngga terlalu deras, sedikit jeram ternyata aman-aman aja meski ngga pakai pelampung. Meski awalnya rada khawatir. Malah sesekali ngantuk karena diayun-ayun riak-riak kecil air sungai.

Sepanjang perjalanan mengarungi sungai, kita akan dihadiahkan sama pemandangan yang begitu indah. Ada tebing-tebing, air terjun, hutan dan juga jembatan gantung. Kadang kadang ketemu sama kawanan monyet.

Related Post: Pasar Unik di Sungai Landak Bukit Lawang

Untuk menghilangkan rasa bosan, sesekali guide akan mengarahkan perahu menuju jeram yang masih kategori aman. Jadi adrenalin juga terpacu otomatis kita semua teriak. Hilang dah tuh ngantuknya.

Lets go!
Berkunjung ke Air Terjun dan Berandam Air Hangat

Ini salah satu yang wajib disinggahin kalau ikut river tubing. Air terjun Garut, ada di salah satu pinggiran sungai. Untuk bisa kesini, kita kudu turun dari perahu dan nyeberang sungai dengan jalan kaki secara manual. Meski dalamnya cuma sepinggang, tapi arus di bawah lumayan deras. Kalo suka oleng, ada baiknya berpegangan tangan.

nyeberang sungai

Eh alah, mau ngerasain pijatan air terjun ini juga kudu ngantri tuh sama yang lain. Ya gimana semua tamu sudah pasti diarahkan kesini, sih, ya. Hahaa…

menuju air terjun garut
Ngantri
Cerukan di bawah air terjun itu ternyata dalam

Abis dari air terjun, disarankan ngerasain berendam air panas belerang. Menuju kesini, harus treking dulu sekitar 100M. Tapi kali ini sungainya sedikit dalam dan arusnya lumayan deras. kalau pinter renang dan ada nyali, silahkan nyebrang manual dengan cara berenang. Tapi kami yang cewe-cewe disebrangin pake ban. Meski cuma beberapa ban aja. Duduknya sharing satu ban untuk berdua. Yang lain pada renang atau berpegangan pada ban.

Sumber air panasnya ternyata cuma sebatas goa kecil yang hanya bisa dimasukin 3 orang aja. Dan untuk masuk kesana, berupa aliran air kecil diapit tebing pendek yang hanya muat untuk satu orang.

Yah, setidaknya hilang rasa penasaran…

Berendam air hangat

Related Post: Pasar Unik di Sungai Landak Bukit Lawang

Fasilitas Jeep

Selesai river tubing, kita sampai di titik akhir yang jaraknya udah pasti jauh dari titik awal. Untuk kembali ke penginapan, kita harus diantar pakai jeep. Kami yang jumlahnya 11 orang harus rela berbagi ruang. Sebagian di dalam, sebagian di atas dan sebagian lagi di bak terbuka di belakang. Dengan diantarnya pakai jeep, menandai selesai sudah kegiatan alam di Tangkahan.

Sepanjang jalan, kita melewati pedesaan dan perkebunan milik warga. Ada kebun sawit, kebun karet, kebun durian, kebun rambutan juga ada kebun jengkol.

Nginepnya di mountain view, jeepnya punya mega inn
Seru!!

Melewati Jembatan Jodoh.

Pernah dengar lagu Adu Rayu milik Glen Fredly Feat Tulus dan Yovi? Salah satu lagu kesukaan saya juga.

Syutingnya itu ya disini. Di Tangkahan dan jembatan jodoh ini masuk dalam salah satu scene disitu.

Modelnya siapa?

Duet Velove Vexia daaaaaaaaan si abang ganteng Nicolas Saputra.

Kalau dilihat-lihat feed IGnya, beliau punya ketertarikan dengan ekowisata. mungkin itu sebab dia berminat untuk berinvestasi di daerah Tangkahan berupa sebuah hotel. Jadi udah dapat jawaban kah, kenapa dia bisa punya penginapan disini? Begitulah sedikit info, hihii

Nah, sejak itu Tangkahan semakin banyak didatengin wisatawan lokal sekedar untuk ikut merasakan lewat jembatan ini. Jembatan ini satu-satunya akses resmi pengunjung menuju konservasi gajah.

Kenapa dikasi nama Jembatan Jodoh?

Versi pertama sih katanya siapa yang lewat sini ngga lama bisa dapat jodoh. Versi kedua ya berupa filosofi aja. Jodoh ini maknanya manusia yang ngga bisa lepas dari alam, layaknya jodoh yang harus dijaga, dilestarikan dan dibanggakan.

Saya, sih setuju dengan versi kedua. Tapi ngga lupa meng-Aamiin-kan versi pertamanya juga 😀

Velove Vexia versi medan wkwkkwww
Jembatan Jodoh
Jembatan jodoh

Tips Berwisata ke Tangkahan

  • Kalau ngga menginap, ada baiknya atur jadwal keberangkatan dan sesuaikan dengan kegiatan selama di objek wisata. Perkirakan juga kondisi jalan dan kondisi cuaca yang pasti mempengaruhi lamanya perjalanan.
  • Kalau naik motor, penting untuk bawa jas hujan, helm yang safety, jaket dan sarung tangan serta masker untuk menutup hidung dan mulut dari debu jalanan. Ngga semua jalanan beraspal. Di daerah perkebunan sawit yang jalannya pasir sangat rawan debu, terlebih posisi kita berada di belakang mobil/truk.
  • Pastikan kondisi kendaraan. Harus benar-benar sehat dan perhatikan ketersediaan bensin. Memasuki kawasan kebun, ngga ada SPBU. Eceran sih ada, tapi jarang sekali. Tapi untuk mobil kayanya ngga disarankan. Lebih baik isi full sejak dari Medan.
  • Kalau menginap, usahakan booking kamar sebelum kedatangan. Apalagi dihari libur, kamar biasanya selalu penuh. Tamu yang datang ngga sebanding dengan jumlah kamar. Kalau mendadak, bisa-bisa kita terlantar.
  • Begitu juga dengan jasa guide. Sebelumnya harus udah survey harga dan kegiatan supaya bisa melakukan tawar menawar dengan harga yang ngga terjun-terjun amat.
  • Pintar-pintar menawar harga penginapan dan jasa guide. Meski mereka menetapkan tarif, tapi ngga ada salahnya untuk menawar. Seringnya deal, kok.
  • Nawar jangan sadis-sadis amat, ya, kasian sama guidenya. Mereka itu kerja keras pas bawa tamu. Jadi nawar yang masih sewajarnya.
  • Ngga ada larangan bawa makanan, pemanas air dan alat masak nasi. Jadi untuk menghemat biaya boleh dibawa supaya bisa masak sendiri disana. Asal jangan bawa kulkas aja. Tapi ini mungkin ngga berlaku di penginapan lain. Jadi ada baiknya bertanya dulu.
  • Bawa handuk dan perlengkapan mandi sendiri.
  • Bawa sendal gunung atau sepatu yang nyaman. Yang paling penting bahannya ngga licin pas lagi treking atau river tubing karena banyak adegan nyebrang sungai manual. Kalau treking ada baiknya pakai sepatu karena di hutan rimba begitu pasti banyak binatang kecil yang tajam kaya semut rangrang atau pacet. Temen saya jempol kakinya tersengat sesuatu ngga tau apakah itu serangga atau serpihan kayu. Itu karena dia lepas sepatu saat menyusuri sungai karena salah bawa sepatu. Tuh, kan…
  • Kalau mau outfit berbeda saat berfoto atau “syuting” di jembatan jodoh dengan outfit saat river tubing ada baiknya bawa baju ganti. Untuk perempuan boleh langsung pakai dobel karena ngga ada ruang untuk ganti baju.
  • Bawa alat pembungkus hp kalau mau dokumentasi aktivitas di air. Barang-barang lain nanti dikumpulin disatu wadah plastik yang mereka sediakan. Tapi ada baiknya bawa yang penting-penting saja, sih.
  • Siapkan batre dan memori yang full sebab pingin semuanya direkam. Oya untuk menghemat batre, ada baiknya lebih sering matikan data. Toh sinyalnya juga lebih sering hilangnya. Mencari sinyal itu memakan banyak daya batre hp.
  • Jaga sikap dan tutur kata saat berkunjung ke daerah-daerah pelosok ya.
  • Jaga kebersihan. Jangan buang sampah di hutan atau sungai. Sedihnya saat ada wadah popmi hanyut di sungai.
  • Pakai sunscreen/sunblock biar kulit ngga terbakar sinar matahari.

Oke, sementara segitu dulu info dan tipsnya. Selamat berpetualang kawan-kawan…

Behind the scene
Restoran mountain view dengn view hutan
Nunggu perahu
Theo bawa makanan
Theo ngisengin mahout
Boni
Jembatan Adu Rayu (Jembatan jodoh)

42 tanggapan untuk “River Tubing, Bermain Dengan Gajah dan Syuting Ala Adu Rayu di Tangkahan

  1. Saya pernah tinggal di pangkalan Brandan di tahun 2002-2007, sepertinya ini belum rame ya saat itu, kalau bukit Lawang saya tahu…Jadi pengin nostalgia ke Langkat sekalian ke Tangkahan biar bisa river tubing dan lainnya. Detil sekali infonya, makasih ya kak

    1. Oh iya mbk, dah deket banget tuh Pangkalan Brandan kesini.
      Kalo dibanding Bukit Lawang emang jauh lebih rame Bukit Lawang. Mungkin faktor jarak dan kondisi jalan juga.

  2. auto nyari Tangkahan, karena saya orang udik yang gak pernah kemana mana
    Ternyata di Sumatera ya?
    Dan gak jauh dari Medan, maksudnya ke Medan dulu baru ke Tangkahan
    huhuhu bikin ngiriiiii, sebagi orang udik saya gak pernah kemana mana

  3. Benar banget tuh, seringnya penginapan di kota besar jaub lebih murah meriah, karena banyak pilihannya, kalau di tempat wisata apalagi wisata alam, biasanya lebih terbatas, jadi harganya ya menyesuaikan.

    Btw asyik juga ya berwisata ke Tangkahan ini, bikin jiwa petualangan alam jadi terlatih di sini 🙂

  4. Tangkahan sangat mengasyikkan! Paket wisatanya lengkap banget. Kalau saja ada yang mengkoordinir mau banget deh main ke Tangkahan. Seru dan asyik ya

  5. Pernah Juga Aku mba Cobain run river gitu dulu d sungai elo.. di Tangkahan Lebih asik lagi ternyata bisa ketemuan sama binatang.. dah lama mau foto sama gajah🤦 tiket masuknya murah mba walaupun jauh dn jalnnya kurang bagus y

  6. Ini destinasi yang wajib aku kunjungi juga dek. Awak memang asal Medan keluarga ada masih ada juga di kampung Keling, Sei Ular tapi jarang awak pulang. Asik ya bisa memandikan gajah, ngeri-ngeri sedap ya, he…he…he

  7. Asyiiiiiik euy mbak🤩 aku galfok sama tangganya itu, kok estetik banget ya🤩, eh sama mandiin gajah malah lebih mahal dibanding foto sama gajah. Kan bapaknya dah dibantuin mandiin hewan besar itu kenapa malah mahal ya, * eeeh canda ya, mbak🤭

  8. Itu jembatannya kek nya kalau daku kudu buru-buru sampe deh, deg-degan wkwkwk.
    Lokasi yang asik sih nih buat liburan rame-rame apalagi kalau susur sungai dan treking ya

  9. Petualangan yang luar biasa ini sih. Seru mulai dari berangkat sampai foto-foto di atas jeep. Dan tambah berkesan justru saat perginya serombongan sirkus. Meski gak gampang menyatukan keinginan dan ide, tapi pergi berombongan seperti ini tuh serunya tak terkira. Tinggal kita pintar-pintar saling memahami dan berkomunikasi satu sama lain dengan baik ya Kak Suci.

    Konservasi gajah ini Tangkahan ini mengingatkan saya akan tempat yang sama di Lampung Timur. Tapi disana khusus gajah gak ada monyetnya. Itupun sudah rame sekali. Pengalaman yang tak akan didapatkan di banyak tempat lain.

    BTW, aku langsung browsing TERRARIO. Duh keren habis ya. Rumah panggung yang dikelilingi oleh hutan dengan sentuhan apik yang serba alam. Yang senang wisata seperti ini pasti betah banget.

    1. Kalau seneng petualang pasti betah, mbak. Tapi kalo takut kulit item atau luka-luka udh langsung ngajak cepet pulang, deh. Jadi penting memang bawa partner jalan yang seia sekata seirama setujuan, hehee

  10. Waduhh dekat tempat tinggalku nihh, udah lama juga nggak liburan bisa kali ya nyobain ngajak keluarga ke Tangkahan. Tiket masuknya murah juga ya mbakk.

  11. Baru tau babang Tamvan Nico punya hotel, sesuai dengan hobi traveling ya. Membaca ceritamu asik banget deh, bener-bener wisata dan healing yang memuaskan, gumushhh sama gajahnya

  12. Seru banget ini tripnya saya belum pernah river tubing , paling baru ke air terjun saja..btw lihat pemandangan hutan di Sumatra masih alami banget ya,..jadi pengen ke sana

  13. ngetrip memang sangat menyenagkan apalagi bareng keluarga tercinta, karena kemaren liburan lebaran seneng banget bisa kumpul bareng keluarga, sudah bebes bisa jalan-jalan lagi

    1. Iya dong,,, Sumut loh. Kesini doong ketemu gajah, hahaa

      Iya kah? Filmnya mau keluar ya?? Wih,,, mantaaap
      Tepi keknya di film itu ngga ada gajah, deh…

      1. Di situ gajahnya bisa maen bola gak kek di Way Kambas?…..😂.

        Iya deh Sumut masih juara perihal destinasi wisata. Kapan2 ke sana lagi deh ke daerah yg belum dikunjungi.

        Jurassic Park Vs Gajah…. Namanya juga imajinasi….Wkwkwkw.
        Gajah itu menurutku selalu identik dengan sisa-sisa hewan purba…..eh, salah ga sih….Mammoth kali ya yang purba bukan gajah…Ah, bener. Wkwkwk

          1. Oalah….Aku ndak ada kenalan travel agent di Jogja, teh….Maklum sering klayapan sendiri, jadi kurang faham, teh….Mau bantu dicariin apa?

Tinggalkan Balasan