jalan dan wisata

Pengalaman Pertama naik MRT Jakarta

Ada yang berbeda dari kunjungan saya ke Jakarta kali ini. Ngga ngerasa kejebak macet! Padahal lagi ngga lebaran dan ngga ada ritual mudik. Ntah, apa karna saya berada di pusat kota yang lalu lintasnya lebih teratur. Atau pengaruh PPKM juga. Tapi dari Bandara ke Gambir pake Damri juga lancar jaya, kok. Malah nyampenya jauh lebih cepat dari perkiraan. Baru naik bus, mandangin kota Jakarta dari jalan layang. motoin gedung bertingkat. Eh, tau-tau udah sampe monas. Lebih lama nunggu bus di bandara daripada di perjalanannya, hehe. Seingat saya 2017 saya naik Damri dari Bandara ke Gambir malah sempet ketiduran pules di bus, dibangunin kernet pas udah nyampe Gambir.

Related post: Senja Antara Gambir dan Monas

view dari bus
view dari bus

Naik KRL, MRT dan Busway memang udah ada dalam rencana begitu tau mau ke Jakarta. Saya menginap di daerah Thamrin, Jakarta Pusat yang kebetulan dekat dengan halte busway dan stasiun MRT. Cukup jalan kaki ke halte dan stasiun bahkan nonton bioskop di Djakarta Theater XXI pun jalan kaki. Tapi karna faktor lelah, film baru tayang setengah jalan saya udah tidur pules. Padahal nonton Eternal, loh yang banyak berantem-berantemnya, berisik dan jauh dari melow-melow. Akhirnya film belum selesai kami udah pamit. Kena angin malam seger lagi, tambah makan sate depan hotel makin seger. Oiya makan di street food Jalan Sabang juga jalan kaki. Ke bundarah HI pun jalan kaki, kok. Iya jalan pagi soalnya. Meski belum sempet ngerasain megang air kolam dan foto disana udah keburu diusir polisi. Padahal mau bilang “pak, saya jauh-jauh dari Medan mau pegang air kolam, paaaak”…

Related post: Pilihan lokasi Jalan Pagi, Jalan Pagi ke Gedung Sate

Bundaran HI dipagi hari

Oiya, setelah naik KRL yang bener-bener diniatin sampe Bogor, trus naik Busway ke Kota Tua. Hari terakhir di Jakarta giliran disempetin naik MRT. Selesai jalan pagi di sekitaran Kota Tua, kami balik ke hotel untuk beres-beres barang, mandi dan bergegas ke stasiun MRT. Bundaran HI adalah stasiun bawah tanah yang terdekat dari lokasi kami. Jalan kaki maning, lalu setibanya di stasiun disambut ramah oleh petugas dan dipersilahkan masuk. Oiya di Jakarta, mau masuk ke ruang publik baik itu stasiun, halte, mall dan bioskop itu wajib scan barcode di aplikasi peduli lindungi. Jadi orang Jakarta khususnya pengguna layanan kereta atau busway dipastikan riwayat chek-in nya penuh, deh 😀

Related post: Kota Tua, Setengah Hatiku Kutitipkan di Bogor 

MRT yang diberi nama Ratangga ini baru selesai di fase 1 dengan jalur dari stasiun Bundaran HI sampe Lebak Bulus Grab. Sedangkan fase 2 dan 3 masih dalam pengerjaan. Semoga lancar dan lekas rampung, ya.

Stasiun Bawah Tanah yang Megah dan Modern

Berhubung ini merupakan MRT pertama di Indonesia sekaligus pengalaman pertama saya naik MRT, ada rasa minder tapi juga bangga pas masuk dan menyaksikan kemegahan stasiun. Takut gaptek dan ngga ngerti prosedur, wkkwkwk. Ngga nyangka aja gitu di bawah tanah tempat kita jalan ternyata ada stasiun megah yang ngga kalah modern dari luar negeri sanah. Meski belum pernah ke luar negeri, sih dan ngga bisa bandingin juga, setidaknya kan bisa liat dari foto-fotonya 😀

stasiun Bundaran HI

Kami pilih naik lift, sebab betis saya masih sakit karena 3 hari di Jakarta kebanyakan jalan dan naik turun tangga kayaknya. Maklum, di Medan ngga ada yang begini. Meski lift diutamakan untuk kaum prioritas, tapi pada saat itu memang lagi sepi. Lift nya aja pake model begini, nih. Kalo ini paham, lah ya. Keterangannya cukup jelas. Yang pasti injek MRT. Hahahaa

Pelan2 Nginjeknya…

Trus kalo belum punya kartu boleh beli di loket. Oya, kebetulan saya pegang kartu KRL dan kata si mbaknya bisa dipake. Tapi di gate khusus. Kalo pake kartu e-money gatenya bebas. Ngga berlaku uang tunai, ya. Kecuali untuk beli tiketnya…

Kartu KRL hanya bisa di gate paling kanan

Dari sini harus turun satu lantai lagi menuju peron. Kali ini turunnya lewat tangga manual. Daaan, disana rangkaian kereta sudah menunggu jadwal berangkat dengan gagahnya. Pintu kereta dalam keadaan terbuka lebar. Nampaklah situasi dalam kereta dari arah luar.

Saat itu dari stasiun Bundaran HI, kereta dalam keadaan lengang. Penumpangnya hanya beberapa orang. Duduk juga berjarak antara satu bangku ke bangku berikutnya. Malah saya sempet foto di dalam kereta. Oiya saya kena tegur petugas sebab saya sempet buka masker sebentar pas fotoan, dan fotonya disuruh hapus dari galeri. Hihihi. Bisa dimaklumi sih kalo beliau marah… salah saya juga. Kalo sempet keposting kan jadi contoh yang ngga baik karna di ruang publik ngga pake masker. Bisa-bisa beliau kena tegur sebab abai dalam pengawasan. Maaf, ya, pak…

Pokoknya dari masuk stasiun sampe ke dalam kereta saya sempetin ambil minimal 1 foto. Gapapa deh dibilang norak. Maklum orang daerah bakalan jarang ngerasain MRT. Harus ada dokumentasi, dong 😀

Suasana dalam kereta itu terang benderang, adem dan bersih dengan interior didominasi warna abu-abu pada badan kereta dan biru muda pada kursi yang terbuat dari fiber. Ngerasa sedikit Lebih formal dari KRL mungkin karena sepi, penumpangnya juga sebagian besar para pekerja atau orang dewasa yang pada saat diperjalanan lebih fokus diam atau main hp. Lagipula ada larangan untuk komunikasi dua arah demi menghindari penyebaran virus. Mungkin suasana jauh berbeda di awal-awal MRT ini beroperasi. Pastinya saat itu belum ada virus, masyarakat masih antusias dan jauh lebih ramai. Saat itu ngga ada anak-anak dan terbawa suasana stasiun yang lebih modern juga. Tapi kursinya lebih empuk di KRL, hehee. Begitu kereta mulai jalan, ayunannya ngga begitu terasa. Malah tarikannya langsung kenceng. Tapi pas ngelewatin rel bawah tanah saya merasa pusing. Mungkin karena kereta berlari begitu cepat dan ngga ada pemandangan apa-apa yang bisa dilihat kecuali dinding hitam yang berkelebat secepat kilat. Beneran saya pusing. Dasar tukang mabok juga iya. Begitu keluar dari rel bawah tanah dan ketemu pemandangan kota Jakarta dari atas, langsung lega, berasa keluar dari perangkap gitu…

Alur perjalanan kereta meliputi stasiun berikut.

Stasiun Bundaran HI-Stasiun Dukuh Atas BNI-Stasiun Setiabudi Astra-Stasiun Bendungan Hilir-Stasiun Istora Mandiri-Stasiun Senayan-Stasiun Asean-Stasiun Blok M-Stasiun Blok A-Stasiun Haji Nawi-Stasiun Cipete Raya-Stasiun Fatmawati-Stasiun Lebak Bulus Grab

Dari 13 stasiun, 6 diantaranya adalah stasiun bawah tanah (underground) dan 7 lainnya stasiun layang (elevated).

Kami pilih Blok M sebagai stasiun pemberhentian. Blok M termasuk stasiun layang. Dari sini bisa mandangin kota Jakarta dan menyaksikan rangkaian kereta yang sedang melaju. Selain memang ngga ada tujuan lainnya, ya karna di Blog M ada pusat perbelanjaan juga. Bisa sekalian mampir kali aja ada yang bisa dibeli buat oleh-oleh ke Medan. Oiya ada lift juga yang keluarnya bisa langsung mengarah ke pelataran Blok M. Tapi apa daya, sampe sana ternyata belum pada buka. Padahal udah jam 10. Jadinya cuma minum es cendol, deh. Tepat di bawah terminal Blok M itu ada foodcourt kecil.

stasiun Blok M
Stasiun Blok M

Waktu ditanya, baliknya mau naik MRT lagi apa Busway? Berhubung males ngerasain pusing lagi, saya milih naik busway :D. Saya kalo udah pusing atau mabok kendaraan biasanya dampaknya akan berlangsung lama. Karena sorenya harus balik ke Medan, saya ngga mau ambil resiko merasakan pusing yang berkepanjangan. Kalo inget ngga mau perjalanan panjang mugkin saya masih pingin naik MRT lagi. Pas pula di sebelah akses bus, ada akses khusus menuju busway. Naik busway lagi, deh…

Fasilitas di Stasiun

Seperti fasilitas umum lainnya, Stasiun MRT ngga boleh kalah lengkap dong pastinya. Selain fasilitas penting seperti toilet yang juga tersedia khusus untuk pengguna kursi roda dan musolah juga didukung dengan fasilitas pelengkap seperti lift, eskalator, tangga manual, gate khusus untuk pengguna kursi roda, troli bayi dan koper, Mesin tiket otomatis dan loket isi ulang, ruang menyusui, papan informasi dan peta yang tersebar, jalur khusus untuk tuna netra juga ada tempat duduk untuk menunggu dan gerai-gerai dagangan.

Dengan fasilitas yang begitu lengkap dan stasiun yang nyaman harusnya ngga ada alasan lagi untuk males naik angkutan umum. Dengan begitu masalah kemacetan juga bisa dikurangin, kan…

Lagipula selama di Jakarta saya lebih banyak jalan kaki. Saya pikir orang Jakarta itu pastinya sehat-sehat loh. Sebab untuk naik angkutan umum seperti KRL, Busway dan MRT ini memang harus banyak berjalan. Dari loket ke peron aja harus jalan kaki yang lumayan jauh belum lagi naik turun tangganya.

Kesan naik MRT

Saya sebagai orang Indonesia pada umumnya ikut bangga pada perkembangan transportasi ibukota. Apalah lagi penduduk Jakarta itu sendiri. Akhirnya bisa ngerasain naik MRT ngga harus ke luar negeri dulu. Bisa jadi karena PPKM dan dijam kerja, suasana di stasiun dan kereta pada saat itu cenderung lengang dan teratur, jadi terasa sangat nyaman. Kalo rame atau krodit mungkin akan beda lagi suasananya.

Kota sebesar Jakarta dengan padat penduduk dan mobilitas yang tinggi memang sudah selayaknya punya transportasi seperti MRT ini. Jadi pada saat proses pembangunannya menimbulkan kemacetan ya harap bersabar karena memang butuh proses lama. Tapi hasilnya pasti akan berdampak baik untuk semuanya.

Sama seperti KRL, kita ngga perlu khawatir lupa stasiun apalagi untuk orang luar Jakarta kaya saya yang ngga hapal seluk beluk Jakarta, sebab selalu ada pengumuman stasiun pemberhentian saat itu dan selanjutnya. Lagipula ada informasinya berupa text di atas setiap pintu kereta. Pokoknya rajin baca dan bila perlu bertanya pada petugas.

Jadi kalo dulu kata orang naik MRT harus ke luar negeri dulu. Sekarang ngga begitu. Cukup ke ibukota udah bisa ngerasain sensasi stasiun dan kereta cepat bawah tanah di Jakarta. Untung kemaren disempetin naik MRT…

Oiya untuk fasilitas sebagus ini baiknya dijaga bersama-sama. Tahan diri untuk buang sampah sembarangan, coret-coret apalagi meludah. Tetap taat sama prokes, ya. Jangan coba-coba buka masker kalo ngga mau ditegur, hehe

36 tanggapan untuk “Pengalaman Pertama naik MRT Jakarta

  1. naik MRT?sepertinya saya belum, meski sering kegiatan di Jakarta klo ada pelatihan. Waktu berkunjung terakhir waktu diundang podcast ke Jakarta Pusat juga belum naik MRT. Semoga suatu saat bisa naik moda transportasi ini. Aamiin.

  2. Pengen banget nyobain transportasi di setiap daerah kayak gini, tapi memang kalau bawa anak-anak balita, agak rempong ya 😀
    Jakarta memang ketat banget ya untuk masalah masker, abisnya diserang mulu sih pimpinannya, jadinya lebih ketat.
    tapi salut banget deh kalau petugasnya beneran ketat ngawasinnya, jangan sampai kendor dan kebobolan penularan covid lagi 🙂

    1. iya mbk, enaknya dijkt itu banyak moda transportasi. Klo sekedar pingin nyobain ya bisa banget Krn utk jarak Deket pun bisa naik kereta. Top deh …

  3. Halo mbak Tri 🙂 AKu sukaaa deh sama tulisan mbak yang natural begini 🙂 Asli, ga norak kok. Ini menunjukkan kebanggaan kita dengan kehadiran transportasi umum yang semakin canggih dan keren fasilitasnya. AKu aja baru 2x naik MRT loh dan itu karena dadakan aja tau2 jadi sendirian hahaha 🙂 Yang penting ga usah malu bertanya, petugas2nya baik dan ramah kok.:)

    1. Aku blm pernah ke luar negeri jadi ngga bisa bandingin. Tapi liat MRT ini sih udh bagus banget. Pengaruh PPKM kayanya, mas. Jadi sepi …

  4. naik MRT memang nyaman dan sangat efisien yaa mba kalo untuk menuju ke area Selatan jakarta tuh, asli cepet banget sih menurutku tuh, ada MRT jadi nambah pilihan transportasi kita

        1. Wah iyaa, kalo jarak deket daripada smakin lama krna macet mending naik MRT… Tapi kalo lagi rame ya ngga tau juga seperti apa situasinya, hehe

  5. Yah Mbak Uchi. Saya loh lagi arrange waktu untuk eksplore Jakarta. Termasuk salah satunya pengalaman naik MRT. Meski tinggal di pinggiran Jakarta, saya belum sekalipun nyobain sarana transportasi umum ini. Udah keburu pandemi dan tidak berani keluar rumah. Aaahh coba kalo ngabarin, bisa saya temenin dan sekalian jalan bareng.

    Yang pasti, seperti yang Mbak Uchi rasakan, saya juga bangga bahwa Jakarta sudah memiliki jaringan transportasi berskala dunia. Mudah-mudahan jalurnya nanti ditambah dan bisa menjangkau pinggiran Jakarta. Supaya orang-orang yg bekerja di Jakarta tapi rumahnya di pinggiran bisa bertransportasi dengan lebih nyaman. Sekaligus juga bisa mengurangi kemacetan.

    1. Waktunya sedkit mbk, sebab dalam rangka dinas ini pun disempetin naik MRT meski jarak dekat yang penting pernah dulu, hehee.
      Lain waktu kalau panjang umur dan rezeki kesana lagi aku kabarin yaa mbk, 🙂

  6. ahh transportasi umum di Jakarta makin kece ya mbak
    sayangnya aku kemarin pas ke Jakarta belum pernah ngerasain naik MRT ini
    semoga someday pas ke Jakarta lagi bisa nyobain naik MRT

    1. Iya mbk, cobain jarak deket aja dulu hehee…
      Semoga fase berikut nya setelah rampung bisa ngerasain lagi kereta cepat bawah tanah Jakarta, aamiin

  7. Lengkap ya mbak ulasannya. Sangat mewakili kami² yang belum pernah naik MRT. Kurang lebihnya jadi ada gambaran. Dan memang benar ya, tugas kita menjaga bersama dg fasilitas yang benar² memadai ini ….

  8. Udah setahun di Bekasi tapi masih belum nyobain MRT di Jakarta. Padahal udah punya Jack Card. Belum dapat momennya. Hehehe. Bayi masih belum boleh dibawa naik kereta dan MRT. Harus sabarrrrrr.

  9. Karena semua rute kegiatan keseharianku tidak dilalui jalur MRT jadi aku sekeluarga yg tinggal di Jakarta mewajibkan diri naik MRT setiap kali pulang shalat Iedul adha atau Iedul fitri. Wkwkw… dari lebak bulus sampe mentok di bunderan HI.

  10. keren ya stasiun maupun keretanya.
    Saya bolak-balik ke jakarta malah belum pernah naik MRT. Biasanya dari bandara ke hotel naik taksi, sampai hotel nggak ke mana-mana lagi. Sepertinya asyik juga naik MRT ini, apalagi jalurnya di atas ya. Bisa menikmati suasana Jakarta dari ketinggian

    1. Betul mbk, Klo pas di rel layang jadi asyik mandangin kota Jkt. Aku jg karna jarang2 ke sana makanya dissmpetin naik transport ibukota mbk hehee

  11. Saya belum pernah sih naik MRT Mba. Emang pengen juga sih, tapi di kotaku belum ada. MRT, LRT ini kemajuan transportasi di negara Kita. Bangga juga sih kalau transportasinya udah lebih baik dan nyaman buat pemakainya.

    1. Dikotaku jg ngga ada mbk, kudu ke Jkrt dl baru bs naik kereta begini hehee…
      makanya pas ke jkt disempetin naik transportasi segala jenis 😁

Tinggalkan Balasan