jalan dan wisata · Serba Serbi

One Day Touring Tanah Karo

Simpang Selayang tepatnya di swalayan bahagia, menjadi tempat titik kumpul kami pagi itu. Waktu Indonesia bagian kami memang ngga afdol rasanya kalo ngga molor. Janji berangkat jam 7 pagi pada kenyataannya baru jalan jam 8.30. Tapi ini perjalanan luar biasa karna tanpa rencana yang matang, tau-tau yang ikut rame juga. Padahal jam 7 waktu ditelpon masi ada yang tega bobok-bobok cantik. Sungguh terlalu!

Diawali dengan Bismillah dan cuaca cerah, secara beriringan sebanyak 9 motor kami bertolak menuju Berastagi. Sempat pesimis saat bertemu kemacetan pertama dearah Laucih sampe Pancur Batu. Dalam hati ya ampuuun libur kejepit sehari aja kok ya pada mau liburan juga. Tapi Alhamdulillah setelahnya lancar jaya. Eh ngga ding, ada kemacetan lainnya di beberapa titik. Penyebabnya karna ketidaksabaran beberapa pengendara yang nyerobot jalur ditambah jalan yang aduhaai bolong-bolongnya. Jadi jalannya juga musti selow sungguh selow tetap selow… santaiiii santaiiii jodoh tak kan kemana…

Karna sebagian ada yang bawa anak-anak kecil, jadi kami harus sering-sering berhenti untuk sekedar istirahat sekaligus nungguin yang ketinggalan. Pemberhentian pertama adalah rest area GreenHill. HTM nya berapa, sih? Ngga tau, ngga masuk karna numpang ngaso aja, haha.

Setelah tenaga dan personil ngumpul, perjalanan dilanjutkan menuju Taman Alam Lumbuni.

img-20190308-wa0125869298814.jpg
Rest Area Greenhill

 

Taman Alam Lumbini

Belum masuk tengah hari tapi panasnya ya ampuun. Sampe situ trus foto-foto, duduk-duduk lalu perjalanan lanjut. Lagian lapar melanda. Mau jalan-jalan ke taman belakang Lumbini, selain panasnya luar biasa, kabarnya jembatan atau Titi Lumbini yang jadi ikon Pagoda Lumbini ini putus jadi ngga bisa untuk foto-foto.

Oiya jadi ini kali kedua saya ke Taman Alam Lumbini. Waktu itu cuma baru ada kak Caca yang usianya setahun dan masih diperbolehkan masuk ke dalam vihara. Sekarang kabarnya ngga boleh lagi, khusus untuk sembahyang.

Ini saya kasi foto lama waktu masi diperbolehkan masuk

 

 

screenshot_2019-03-11-15-08-16-95869298814.png

Taman Alam Lumbini ini semacam vihara untuk sembahyang umat Budha yang letaknya di Barus Jahe tepatnya di Desa Dolat Rayat, Berastagi. Patokannya adalah Tahura dan tugu jeruk atau yang biasa disebut Simpang Tongkoh. Tugu ini ada dipertigaan letaknya disebelah kiri bila menuju kota Berastagi. Nah belokannya ya ditugu jeruk itu. Masuk ke dalam sekitar 1Km. Tapi sayang kondisi jalan ngga mulus. Berbatu dan berdebu. Untungnya di sisi kanan dan kiri dimanjakan sama kebun stroberi, jeruk, cabe dan sayur mayur.

 

 

img20190307103146869298814.jpg

Meskipun saya belum pernah ke luar negeri dan menyaksikan vihara-vihara disana, tapi saya bisa menduga kalau Vihara atau yang biasa orang Sumut sebut sebagai Pagoda yang diresmikan Oktober tahun 2010 ini adalah yang termegah dan termewah. Setidaknya dari seluruh vihara yang pernah saya baca dan saya lihat fotonya. Didukung dengan bangunan yang seluruhnya diselimuti warna emas sangat kontras warnanya disiang hari nan terik.

 

LUMBINI 2
Foto Lama 😀

Sebelum memasuki area Pagoda, kita wajib isi buku tamu dan ada pemeriksaan isi tas oleh petugas. Ngga pake HTM ke Taman Lumbini ini. Hanya tersedia kotak untuk sumbangan seiklasnya. Tidak diperbolehkan membawa makanan dan minuman dan beberapa larangan lainnya seperti di rumah ibadah pada umumnya.

img20190307103131869298814.jpg

Setelah puas kepanasan, ngga pake lama kami lanjutkan perjalanan menuju destinasi selanjutnya yang belum ditentukan mau kemana. Ya, kami berangkat tanpa tau mau kemana aja. Hebatnya karna rasa persaudaraan yang kuat, semua merasa harus ikut liburan singkat ini bersama-sama. Akhirnya ngikut motor pertama kemana roda menggelinding menuju Peternakan Sapi.

Peternakan Sapi PT. PIMS

Peternakan sapi, begitu orang awam menyebutnya letaknya di Desa Jaranguda, simpang jalannya itu persis disebelah hotel Sibayak Jalan Djamin Ginting Peceren, Berastagi.

Untuk memasuki area PT. PIMS, nama perusahaan yang mengelola susu segar ini kita ikuti jalanan menurun yang teduh dengan pepohonan rindang. Kemudian parkiran disisi kiri dengan kondisi gersang tambah debu kemarau, jauh bereda dengan jalanan masuk yang teduh tadi. Agak naik ke atas, terdapat dua kandang besar tempat sapi bernaung. halaah bernaung….

img20190307115702869298814.jpg

Pengunjung awam memang ngga diperbolehkan mendekat kesapi secara langsung. Tapi mungkin untuk tujuan belajar atau wisata edukasi boleh mengajukan ke perusaahaan dengan memenuhi syarat-syarat tertentu.

Oiya, konon katanya sapi-sapi ini didatangkan dari Australia dan terbiasa dipedengarkan (ini nulisnya bener, ngga?) musik klasik. Jadi, saat tiba waktunya mau diperah susunya, cukup diputar musik klasik maka seluruh sapi akan berdiri dan keluar kandang dengan sendirinya tanpa harus ada pengembala. Seru ya…

Jam 4 sore merupakan waktu untuk proses pemerasan sapi. Sayangnya, tengah hari yang terik dalam kondisi lapar kami udah disana dan kadar lapar smakin bertambah setelah liat antrian susu yang panjang mengular. Boro-boro ngantri beli susu, antrian es krim aja panjangnya ngga mau kalah. Sehingga kami putuskan untuk beranjak dari peternakan sapi sesegera mungkin dan melanjutkan perjalanan. Tak lain tak bukan mencari warung makan.

Dari lokasi peternakan sapi kemudian belok kiri mengikuti jalan beraspal yang lumayan sempit dan sedikit berkelok (mengingatkan saya pada jalanan dari kota Malang menuju perkebunan apel di kota Batu. Waktu jalan di kota Batu inget Berastagi. Abis memang mirip) ternyata berujung di Desa Gundaling yang mana berjarak 100 meter aja udah ketemu pasar buah tradisional Berastagi.

Kemudian muter-muter nyari rumah makan padang. Alhamdulillaah, kenyang…

Setelah berembuk, akhirnya kita mutusin akan berkunjung ke Peternakan Lebah atau Kebun Bunga Madu Effi

img-20190308-wa0043869298814.jpg

Kebun Madu Effi

Kenapa ya kita jauh-jauh ke Berastagi kok senengnya liat peternakan mlulu? Haha

Perjalanan kesini itu lumayan banyam drama-drama lucu. Setelah singgah ke Mesjid Agung Kabanjahe, akibat ngga ada yang tau jalan menuju kesana, akhirnya masing-masing pada jalan santai. Nyodorin duluan apa ya bahasa jawanya “udur-uduran”. Ntah kenapa ngga ada yang kepikiran buka gugel mep.

Hari gini ngandalin “GPS” (gunakan masyarakat setempat). Wanita pertama waktu ditanya ngasi jawaban klasik “aku bukan orang sini”. Yasudah cari wanita lainnya. Begitu seterusnya.

Tau-tau salah satu dari kita tiba-tiba tancap gas yang ternyata mereka udah pede karna pake gugel mep. Kok ngga daritadi ya?

Saking kencangnya itu bedua ngga terkejar. Akhirnya ngilang dan mencar-mencar.

Kami ikutan pake mep yang alhamdulillaah nyasar belokannya yang menuju Sidikalang. 1 motor lainnya menyusul. Setelah curiga dan ngga enak perasaan, kita pake “GPS” lagi dan benarrrr nyasarr!!

Sebelum muter balik, satu motor diutus untuk nyusul kami. Oke, puter balik. Saking dia balapnya bawa motor akhirnya ngilang lagi. Kami? Bingung dong. Inisiatif belok kiri sesuai anjuran nande-nande yang barusan kami tanya. Tapi salah lagi.

Trus utusan balik lagi buat nyusul kami, haha gitu-gitu aja terus. Sampe di pertigaan, yang lain udah pada ilang dan ternyata pindah lapak. Pake “GPS” lagi akhirnya nemu. Nemu madu effi? Bukaan!! Nemu rombongan…

Perjalanan menuju Kebun Madu Effi ternyata masi panjang. Tadinya sempet cemas nyasar lagi karna lokasi tujuan tak kunjung nampak tanda-tandanya. Tapi ntah kenapa ngga ada yang mau balik.

Walaupun sempit, jalanan menuju lokasi ini jempol mulus dan pemandangannya. Jalan raya Medan Berastagi mah kalah sama jalanan Siosar ini. Perjalanan ngga begitu melelahkan karna kondisi jalan yang bagus. Mirip sekali dengan jalan daerah Simarjarunjung  di Simalungun. Butuh kurleb 1 jam juga sampe akhirnya ketemu plang nama Madu Effi di sebelah kanan. Nama tempatnya Desa Kacinambun,  Siosar, Tanah Karo.

cerita yang sama:

Kingkong di Simarjarunjung

Bukit Indah Simarjarunjung

Danau Toba

Jalanan berbatu dan menanjak menjadi awal memasuki lokasi Kebun Effi. Dibandrol 5ribu rupiah perkepala sebagai uang masuknya.

Sesuai dengan namanya, disini ada peternakan lebah yang dikelola oleh pemiliknya yang bernama Felix yang pernah 11 tahun tinggal di New Zealand. Katanya peternakan lebah ini terinspirasi dari industri madu yang sukses disana.

Kebun Effi ini sangat luas, 28 hektar loh. Selain banyak kebun bunga (macem-macem bunga) yang dihias dengan pagar-pagar lucu. Ada juga arena terbaru yaitu arena camping. Bukan sekedar areanya saja, tapi udah sekaligus tenda yang ditutup pake semacam gubuk beratap jerami. Pasti seru camping di ketinggian dengan pemandangan bunga-bunga nan indah, kebun jeruk dan kebun stroberi. Selain itu juga ada peternakan kuda. Semuanya ditata cantik sehingga sangat instagenic instagramable atau semacam itulah.

img20190307145632869298814.jpg
Sebagian Camping Area
img20190307151011869298814.jpg
Mulai mendung

Tiba-tiba mendung dan awan menghitam. Ngga lama ujan rintik-rintik kemudian deras dan seluruh pengunjung berlarian menuju pondokan. Yang namanya pegunungan ya memang harus turun ujan baru sah, hehe.

Begitu reda ngga pake lama semua menuju parkiran bersiap meninggalkan kawasan Madu Effi. Ada yang pulang ada juga yang menuju lokasi berikutnya. Seperti kami memutuskan tak langsung pulang melainkan ke Pemandian Alam Sidebuk-debuk.

img_20190311_134635869298814.jpg
Nunggu Ujan Reda

Lau Debuk-Debuk

Perjalanan pulang kami sore itu masih dihujani gerimis. Tapi syukurnya setengah perjalanan cuaca kembali cerah. Bajupun kering di badan :D. Dari lokasi Madu Effi menuju kota Kabanjahe relatif lancar. Tapi dari Pasar buah mulai menujukkan tanda-tanda kemacetan. Selain karena menyambut hari jadi Kabupaten Karo yang ditandai dengan deretan stan-stan dagangan dari berbagai instansi di sisi kanan dan kiri jalan, kami berinisiatif mencari jalan potong memasuki pemukiman warga. Ntah siapa pembawanya pokoknya beruntung ngga jadi bulan-bulanan warga karna geberan 9 motor memecah kesunyian dijalanan sempit. Bujur yaa biik, bulang…

Memasuki desa Peceren, Kemacetan Arus balik semakin menjadi-jadi. Setelah berkumpul disebuah pom bensin, kami berembuk kembali untuk mastiin beneran jadi ke Debuk-debuk atau lanjut pulang. Melihat ciri-ciri kemacetan, kami putuskan tetap singgah ke pemandian air panas.

Lau Debuk-debuk memang terkenal dengan sumber mata air panasnya. Letaknya di Desa Daulu, Berastagi. Sekitar 1KM dari lokasi rest area Penatapen. Terdapat banyak sekali kolam pemandian yang sebagian besar dikelola oleh warga setempat. Berendam di air hangat mampu meredakan stress dan penat di badan tentunya. Sangat cocok untuk persinggahan terakhir karna semakin malam semakin bagus untuk berendam. Dijamin badan kembali segar dan bau kentut, haha. Bau belerang maksudnya…

Menuju kolam-kolam ini masih butuh perjuangan karna selain jalanan yang sempit, kurang penerangan ditambah kondisi jalan yang rusak parah. Penuh batu dan banyak lubang. Ngga seimbang dengan volume kendaraan yang masuk. Pemerintah setempat mana nih?

Salah satu kolam pemandian yang banyak direkomendasikan karna menyajikan pemandangan indah adalah kolam Pariban. Letaknya paling ujung melewati Pembangkit listrik.

Makan indomi bersama teh panas ditengah udara sejuk pegunungan sambil berendam kaki di air hangat sekolam. Wahhh nikmat mana lagi yang mau didustakan, coba?

screenshot_2019-03-11-14-49-28-43869298814.png

Jam 9.30 malam kami besiap balik ke Medan. Kemacetan ternyata belum berkurang. Sampe di Desa Tiang Layar, hujan turun kemudian belum sempat berteduh, eh cerah. Ngga lama rintik-rintik trus berhenti dan cerah lagi. Akhirnya masuk desa Pancur Batu kami mengalah dengan hujan yang deras dan berteduh sambil pake jas hujan. Kemudian tepat di kawasan lapangan Pancur Batu cuaca cerah kembali. Alam ngajak bercanda. Tapi ngga papa, karna bahagia bisa bercanda dan bermain dengan alam seharian…

Jam 11 malam lewat sedikit baru nyampe rumah. Solat isya langsung tepaar…

It’s such a lucky for having you guys. New family…

Susah move on dari drama-drama lucu. Pokoknya harus diulang, harus!! 😎

 

img-20190310-wa0010869298814.jpg

9 tanggapan untuk “One Day Touring Tanah Karo

  1. Wah, sebagai orang Desa, saya bangga. Dari tulisan keren ini, banyak desa-desa di Tanah Karo yang kian mempercantik diri untuk destinasi travelling. Semoga desa ku juga segera beranjak menjadi desa yang mampu mempercantik diri…

    Salam dari desa…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.