Tak Berkategori

Kenangan di Kota Jakarta dan Bogor

Barusan ngeliat video mapping Monas dan kota Jakarta yang smakin cantik dibenah, saya jadi mendadak rindu dengan kota ini.

Biar dikata Jakarta sumpek, macet dan keras, saya punya begitu banyak kenangan diibu kota ini.


Pertama kali menginjakkan kaki dikota Jakarta tahun 2005, sepulang dari study tour Jawa Bali. Perpanjang tiket kemudian tinggal untuk beberapa hari di Jakarta. Waktu itu numpang di rumah salah satu kerabat teman di daerah Kalimalang. Yang paling diinget selain Monas adalah Halte Gudangseng dan jalan jalan ke pusat grosir terbesar waktu itu. ITC apa WTC gitu ya? Haha lupa. Trus pengalaman mengejar ngejar bus. Kopaja kalo ngga salah. “Disini kite yang ngejar busnya, neng” begitu kata seorang ibu penjual aqua di bawah flyover. Di Medan, bus / angkot berhenti untuk menaikkan penumpang, di Jakarta penumpang yang ngejar bus. Tapi itu dulu… Sekarang kurang tau. Saking capeknya ngejar bus temen saya Cristin mpe pucet nyaris pingsan di bus. Maaak i missyu.. Skrg dia udh stay di Jakarta.

Ke Jakarta untuk kedua kalinya tahun 2014. Jarak waktu yang cukup lama itu pasti udah banyak perubahan di Ibu Kota. Kali ini ngga ada acara naik bus karna ada mobil kantor papa Caca dan lebih banyak naik KRL. Tinggal beberapa hari di Jakarta dan main ke Monas. Sedikit yang dikunjungin karna kami datang bukan di hari libur. Jadi lebih banyak di rumah nungguin papa Caca pulang kerja. Paling malemnya jalan ke mol dan makan sate di kawasan stasiun Sawah Besar. Satenya enak! 😊

Selain main di Jakarta, 4 hari disana 2 kali berkunjung ke Bogor. Misi khususnya cuma sekedar bawa Caca naik kereta karna Caca suka sekali naik kereta api. Sekalian berupa kado untuk Caca karna saat itu dia lagi ulang tahun. Sampe di Bogor main ke taman topi, makan KiEfCi dan pulang ke Jakarta naik kereta terakhir.

Kunjungan ketiga kalinya di Jakarta ditahun yang sama di momen ulang tahun Cahyo sekaligus ujian saya tes PNS disana, hehe. Nyampe Jakarta siang langsung menuju ke Cijantung berkunjung ke rumah adik laki lakinya mertua (sekarang sudah Alm. Semoga tenang disana, om). Malemnya ke Bandung (bermalam dijalanan). Lebih dari 6 jam perjalanan karena papa Caca supir tunggal jadi banyak berhenti di rest area tol. Nyampe Bandung jam 5.30 pagi dikomp. Grand Sharon rumah adik perempuan mertua. Jam 9 dibawa jalan jalan ke Tangkuban Perahu. Makasi Oma.. Opa… 😊

Tangkuban Perahu
Tangkuban Perahu

Malemnya kembali ke Jakarta karna jam 8 pagi jadwal saya ujian. Ngga dianterin papa Caca karna beliau kerja. Disitu pengalaman pertama saya naik angkot di Jakarta pulang pergi ujian. Berbekal contekan nama-nama angkot dan rute dari papa Caca. Maklum jaman itu belum ada ojek online. Alhamdulillaah selamat. Ujiannya lulus?? Alhamdulillaah, nyaris lulus 😆. Belum rejeki…

Kali ke 4 ke Jakarta setahun kemudian untuk urusan yang paling menyayat hati. Dengan pakaian seragam kantor, pamitnya mau kerja tapi tujuan saya bukan kerja melainkan ke Bandara Kualanamu. Tak ada yang tau kecuali keluarga kandung yang itupun saya kabarin setelah selesai solat Dhuha di musolah ruang tunggu bandara. Saya putuskan untuk pamit dan minta restu terutama pada kedua orang tua. Anak anak saya serahkan sepenuhnya pada kakak saya. Saya fokus pada urusan saya dulu. Dijemput seorang kerabat di Bandara Halim. Atas izin Allah dan bantuan dari mereka akhirnya urusan selesai dengan lancar.

2016 kembali ke Jakarta mengantarkan adik kecil pulang. Di Jakarta hanya untuk transit menuju Bogor. Maklum adik kecil belum berani Medan Bogor sendirian.

Tahun yang sama kembali ke Jakarta mengantar keluarga untuk liburan ke Bogor. Sesekali ke Jakarta naik KRL untuk main ke Monas dan naik delman dan nyobain naik bajai. Biar pernah haha…

2017 kembali menginjakkan kaki di Jakarta pasca resign dari lembaga ribawi. Kali ini menetap agak lama karena ada satu kerjaan yang harus diselesaikan. Tinggal di Bogor tapi tiap hari bolak balik Bogor Jakarta. Dari yang awalnya ditemenin anter jemput supir sampe akhirnya harus jalan sendiri naik KRL dan belajar menyelesaikan pekerjaan itu sendiri. Kata oma biar mandiri dan makin berani. I did it very well! Setidaknya ngga nyasar, ngga bingung dan ngga takut adalah sebuah prestasi. Prestasi saya yang remeh temeh haha.
Betul kata pepatah. “What doesn’t kill u, make u stronger!”

 

Kota Tua
Istiqlal
Plaza Indonesia
Situ Lembang
Gondang Dia
Monas

Tak pernah membayangkan saya bisa begitu banyak meninggalkan jejak di Ibu Kota. Padahal silsilah keluarga kami ngga ada yang tinggal di pulau Jawa. Allah yang mengatur langkah hingga bisa sampe ke Pulau Jawa.
Biar begitu, saya punya banyak kenangan di Kota Jakarta. Terkadang terbersit rasa rindu untuk kembali mengunjunginya. Apalagi bila mengingat perjalanan yang indah.

Jakarta… Aku pasti datang kembali 😊. Ntah dengan siapa dan urusan apa…

Btw karna udah kepanjangan, soal Bogor ditulisan terpisah lah, hehe.

Iklan

4 tanggapan untuk “Kenangan di Kota Jakarta dan Bogor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.