Megahnya Masjid Istiqlal

Masih cerita tahun lalu. Ntah kenapa kok keinget inget dan ngga bisa nahan pingin ditulis.

Jadi lebaran tahun lalu di Jakarta kami mengunjungi beberapa tempat seperti Monas, Kota Tua, Situ Lembang dan ngemol sambil nonton juga. Kemudian supaya agenda semakin lengkap, seperti biasa tak lupa untuk menyempatkan singgah ke salah satu masjid. Di Jakarta mana lagi kalo bukan Istiqlal.

Selepas mengunjungi Situ Lembang, karna kebetulan jaraknya ngga begitu jauh saya ngeGrab menuju masjid Istiqlal. Sudah diniatkan dari awal sebisa mungkin harus disempetin kesana sekalian shalat zuhur.

Masuk melalui pintu belakang kalo ngga salah. Pokoknya ngikut abang Grap aja deh dimana diturunin. Tapi dari pintu belakang menuju gedung masjidnya lumayan jauh. Ditambah panasnya terik paripurna. Untung saja puasanya udah selesai, haha. Sayangnya kunjungan pertama disuguhin serakan sampah. Ntah memang begitu sehari harinya atau mungkin karna baru ada acara kali ya, lupa nanya.

Penampakan hampir mirip sama monas dengan keberadaan pedagang kaki lima yang menjual aneka sovenir seperti baju-baju bertuliskan slogan slogan Jakarta atau gantungan kunci dan sovenir lainnya serta peralatan solat.

Pemandangan lain adalah anak anak yang menawarkan kresek dengan alasan untuk menaruh alas kaki. Tadinya beli satu cuma karna kasian sama anaknya, ngga taunya memang ternyata perlu supaya alas kaki kita ngga kececer. Setidaknya perlu kalo jamaah atau pengunjung sangat ramai seperti saat kami kesana.

 

IMG-20170702-WA0002

Zuhur di Masjid Istiqlal

Siang itu ntah ada perhelatan apa kok kayaknya pengunjungnya rame. Untuk masuk menuju penitipan sandal aja sampe berdesakan. Tempat berwudhunya luas dan kran airnya sangat banyak sekali. Sayangnya lorong menuju tangga ke ruang solat bercampur antara perempuan dan laki-laki. Jadi jalannya pun harus dijaga bener supaya jangan bersentuhan. Lagi lagi ntah ini karna lagi rame atau memang begini sehari hari.

Menuju ruang shalat saya harus berjalan lagi melewati lorong terbuka. Pun begitu, ruang solat yang harusnya terpisah (padahal memang udah ada pembatasnya) tapi tetep juga ada jamaah perempuan yang solat ditempat laki laki juga sebaliknya.

Sekalipun jamaah ramai dan dengan berbagai aktifitas. Ada yang shalat, mengaji, ngobrol , anak anak berlarian tapi merasakan shalat satu waktu disini ada perasaan berbeda. Lebih khusyuk rasanya dan maunya berdoa juga panjang panjang. Mungkin saya berpikirnya kesempatan beribadah disini belum tentu terjadi lagi 😊

Selepas solat, saya masih sempat duduk beberapa menit. Memandang sepuasnya keseluruhan mesjid. Dilantai 2 tampak beberapa wisatawan asing mengabadikan masjid dengan kamera mereka, salah satu diantaranya warga pribumi yang saya tebak adalah seorang tour guide. Mereka mengenakan pakaian khusus seperti jubah berwarna coklat yang memang disediakan oleh pengurus masjid. Mungkin untuk mereka yang berpakaian minim.

IMG20170701130844

Belum puas dengan suasana masjid, sambil menunggu teman saya selesai solat saya sempatkan duduk dipelataran bagian luar yang berlantaikan marmer. Angin semilir menyelinap dari selah selah dinding. Saya kemudian duduk di lantai sambil mengamati bangunan dan beberapa keluarga yang bercengkrama di pelataran sambil menahan kantuk 😄

Kebiasaan kalau udah ambil air wudhu kemudian kena angin sepoi sepoi jadinya adalah kalau ngga ngantuk ya lapar. Daripada buang waktu untuk tidur mending isi perut. Di depan masjid sebelah kiri terdapat banyak pedagang makanan. Tapi saya yang ngga hobi kulineran ini pilihannya selalu standar dan cari aman. Nasi goreng saja

IMG20170701131914

 

Istiqlal, Masjid Megah Rancangan Arsitek Non Muslim

Masjid Istiqlal merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara bukan hanya kebanggaan warga Jakarta tapi juga kebanggaan umat muslim seluruh Indonesia. Betapa tidak, mesjid ini merupakan wujud rasa syukur umat muslim atas kemerdekaan bangsa dari penjajahan yang tak lepas dari izin sang maha kuasa. Itu sebab masjid ini diberi nama “ISTIQLAL” yang artinya adalah merdeka.

Kemegahan masjid Istiqlal tak lepas dari rancangan seorang arsitek handal dan profesional. Dialah Friedrich Silaban, pemenang sayembara yang diadakan oleh Presiden Sukarno dan tim kala itu. Dari salah satu web yang pernah saya baca (lupa namanya) bahwa F.Silaban mengalami pergolakan batin saat akan mengikuti sayembara tersebut.  Sebab beliau adalah penganut nasrani. Beliau sempat berdoa pada Tuhannya yang kira kira isinya begini “jika tindakanku salah, jatuhkan aku pada suatu penyakit agar aku gagal merancang mesjid, namun jika tindakanku benar maka menangkan aku”. Tuhan mengabulkan doa beliau dan pada akhirnya Sukarno memenangkan hasil karyanya yang bertajuk “Ketuhanan”.

Pembangunan Istiqlal memakan waktu selama 17 tahun, waktu yang terbilang lama karna pada saat itu terkendala oleh situasi politik. Proyek pembangunan ini  menelan biaya sebesar 17 Milyar menggunakan biaya APBD kala itu.  22 Feb 1978 masjid ini resmi digunakan. Enam tahun kemudian F.Silaban menghembuskan nafas terakhir yang kemudian untuk mengenang jasanya nama jalan tempat kediamannya di Bogor tepatnya di Jalan Gedong Sawah diganti nama menjadi Jalan F. Silaban.

IMG20170701131856

Masjid megah berlantai lima ini konon mampu menampung hingga 200ribu jamaah. Di ruang utama, tampak kubah maha besar berdiameter 45M ditopang oleh pilar-pilar raksasa.

Selain terkenal dengan kemegahannya, lokasi masjid ini juga berhadapan dengan gereja katedral yang besar. Hal ini menjadi contoh perwujudan toleransi beragama. Salah satu kebiasaan mereka adalah meminjamkan lahan parkir pada saat hari besar agama.

Damai negeriku…

IMG20170701142359

 

Iklan

11 tanggapan untuk “Megahnya Masjid Istiqlal”

Komentar ditutup.