Wisata Sejarah di Kota Tua

Saat berkunjung ke Monas malam itu, saya berharap segera datang pagi. Karena sudah tak sabar mendatangi suatu tempat. Sejak melihat foto foto yang terpampang disetiap medsos teman maupun keluarga dengan sepeda tua warna warni lengkap dengan topi bunga bunga berlatar belakang gedung gedung tua, saya tetapkan kalau ke Jakarta, tempat ini harus saya datengin. Saya memang suka dengan wisata sejarah dan mengetahui cerita dibaliknya. 

Adalah Kota Tua (KT) nama tempat yang saya kunjungi pagi ini. Pagi sekali selepas sarapan, saya langsung memesan taksi online. Yup, Grab. KT, berlokasi di Jalan Fatahillah, Jakarta Barat dekat sekali dengan stasiun kereta dan Halte busway membuat tempat ini sangat gampang diakses. Kalo kata meme “hanya lebaran yang mampu mengatasi kemacetan di Jakarta”, ternyata benar adanya. Saat itu memang beberapa hari pasca lebaran dan jalanan benar benar begitu lengang. Cuma butuh 10 menitan untuk sampai ke KT dari lokasi saya menginap sekitar Gondangdia. 

KT, sangat strategis krn dekat dengan stasiun dan halte busway

Waktu yang tepat, pagi itu sekitar jam 9 saya sudah tiba di komplek KT. Masih sepi dari hiruk pikuk pengunjung. Pandangan pertama yang menarik bagi saya adalah batu batu besar bulat yang berjejer di sisi kanan pejalan kaki. Takjub aja gitu, gimana mereka membentuk batu batu besar itu sampe bisa bulat sempurna. 

Batu2 bulat yang juga berfungsi sebagai tempat duduk2

Ada 5 museum yang ada di komplek KT ini. Museum pertama yang menyambut kita tepat di sebelah kanan pintu masuk adalah museum seni rupa. 4 yang lainnya adalah museum Wayang, museum Bank Mandiri, museum Bank Indonesia dan museum Fatahillah. Semua bangunan yang ada di komplek KT ini adalah peninggalan Belanda yang masi asli dan dirawat dengan sangat baik. Penyuka fotografi pasti akan betah disini. 

Gedung2 tua di komplek KT

Matahari pagi itu cukup terik luar biasa. Kondisi badan yang tidak fit membuat saya ngga kuat berjalan banyak. (siapa suruh juga sakit tapi jalan2, ya? šŸ˜…). Langkah kaki menuntun saya mencari tempat yang teduh menuju museum Fatahillah. Alhasil, kegiatan yang udah diagendakan pun gagal. Termasuklah gagal foto dengan sepeda tua warna warni dan topi bunga bunga serta nongkrong di kafe Batavia. Hiks…  

Foto sepeda tanpa model jg gpp deh…
Masi bisa pose sebelum kliyengan



Museum Fatahillah


Gedung Museum Fatahillah tampak depan

Saya akhirnya masuk museum ini dengan terlebih dahulu membeli tiket seharga 5ribu rupiah. Museum ini dulunya merupakan gedung Balai Kota dan dijadikan museum sekitar tahun 1974. Dijadikan tempat menyimpan perabotan, lukisan, patung dan berbagai prasasti. Perabotan jaman dulu oke punya, ya. Dengan usia ratusan tahun masih sangat kokoh. Handel pintunya juga dari besi yang gede dan beratnya luar biasa. 

Ruang rapat
Lukisan Gubernur Van Der Parra

Anak panah yang tergambar di lantai memudahkan kita untuk menyusuri ruang demi ruang di museum ini. Ada kamar tidur, ruang pengadilan, ruang pertemuan yang luas dan ruangan lainnya. Anak panah terakhir mengarahkan kita ke pintu keluar dan tembus ke taman bagian belakang. Sebelumnya ada penjara ruang bawah tanah yang bisa kita saksikan sebelum benar benar mengakhiri petualangan museum Fatahillah ini. Dengan melihat ruang penjara yang sempit, pendek, gelap dan pengap sudah bisa dibayangkan situasi tahanan saat itu. Lengkap dengan batu batu bulat dan rantai yang siap menggari kaki mereka supaya ngga kabur. Membaca keterangan informasi yang tertempel di dinding, para tahanan adalah mereka yang melakukan kesalahan dan juga mereka yang melawan. Bukan cuma ditahan, sebagian  dari mereka juga ada yang dihukum mati. 

Lorong sempit di depan penjara bawah tanah
Ruang penjara yang sempit gelap dan pengap

Selepas dari penjara, saya menuju pedagang tahu gejrot. Eh, lapar rupanya, haha. Saya memilih duduk santai di kursi kayu di bawah pohon beringin. Masih pingin berkeliling dan masuk ke semua museum. Tapi kondisi badan membuat saya ngga brani beraktifitas banyak. Takut kliyengan dan akhirnya pingsan, kan ngga lucu šŸ˜„. 

Tahu gerot super pedess obat meler

Makan tahu gejrot dan duduk santai diterpa angin sepoi sepoi itu aduhaii… Nikmatnya serasa makan rujak di pinggir pantai, haha. Cukup lama saya duduk santai sambil memperhatikan tingkah para pengunjung dan memotret motret seadanya dari tempat saya duduk. Oya, ngga sengaja dalam satu meja yang sama kok kita berkumpul pengunjung dari Medan semua. Hehee.. Ini, dunia yang sempit atau orang Medan yang sukanya melalak? 

Anak Medan rupanya šŸ˜„

Walaupun kunjungan perdana ini terasa kurang maksimal, tak apalah. Malah bisa dijadikan satu alasan untuk merindukan KT dan kembali lagi kesini suatu hari nanti šŸ˜Š

Taman belakang yang juga terdapat kantin dan musolah
Gedung museum Fatahillah dari belakang

Iklan

2 pemikiran pada “Wisata Sejarah di Kota Tua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s