We Have A Very Simple Way To Be Happy (Part 2)

Saya lebih suka liburan yang di alam2. Ke mall, kalau bukan karna diminta nemenin, nonton atau ada yang dicari, ya paling sesekali bawa anak mandi bola. Kalau anak2 sih, pasti sukanya yang jenis playground ala2 mall gitu lah, ya. Yang ada perosotan, ayunan dll. Jadi, supaya anak2 saya ngga jadi manja apalagi kuper, sebisa mungkin saya biasakan mereka untuk main di alam.

Akhir pekan adalah saat yang paling saya tunggu. Apalagi kalau Jumat atau Senin ada angka merah di kalender, huaaaa bakalan libur panjang dan berlama2 di kampung. Hihii, kasian amat nasib karyawan.
Nah, momen liburan yang singkat itu sebisa mungkin saya manfaatkan untuk main sama anak2. Kapan lagi, kan ya? Untungnya lagi saya punya Mamak dan Bapak yang juga suka jalan. Diajak kemana2 jawabnya langsung, ayok! Apalagi Bapak, selalu siaga jadi supir, hihii. Makasi ya kakeek ❤
Kesempatan ini, kami diajak Bapak masih ke daerah puncak2. Gapapa ya nak, liburannya belum bisa ke Paris, hihi. Nanti aja Caca sama Cahyo ke Paris, pas kuliah aja dapet beasiswa ya, aamiin!
Puncak Penatapen Pintu Angin
Setelah bersiap, memakaikan anak2 jaket, penutup kepala, kaos kaki dan sepatu. Kemudian sekedar bawa cemilan, air putih di botol dan tak lupa kamera. Kami siap berangkat pukul 10 pagi. Cuaca masih adem, enak motor2an. Menyusuri areal perkebunan teh, kemudian persawahan dan kebun sayuran, diakhiri dengan panorama Danau Toba yang di sisi kanan dan kiri dipagari rumput ilalang. Sekitar 45 menit tiba di daerah Penatepen Pintu Angin. Jalanan menanjak dan licin, membuat saya hawatir di boncengan. Saya lebih memilih berjalan kaki, seperti biasa Caca selalu ingin ikut mamanya.
20161120_112752
Pemandangan Danau Toba Sepanjang Perjalanan
20161120_113622
Papan selamat datang sekaligus penunjuk arah sangat serderhana menuju Penatapan Pintu Angin
20161120_113544
Akses menuju Puncak

Mendapati sepetak hutan pinus, saya tak kalah girang. Saya kan, penggemar pohon pinus. tapi kami sempatkan dahulu memandang sepuasnya hamparan air nan luas dan tenang. Menghirup sedalam2nya udara sejuk yang sangat jarang saya dapatkan kalau di kota. Tak lupa berfoto. Angin kencang membuat saya menggigil. Sebaliknya anak2 sudah terbiasa dengan hawa sejuk, nyantai. Saya sampai hampir tak stabil berdiri dihembus angin kencang, haha. Dasar kurus! Bahkan memegang kamera pun, saya sempat limbung. Beberapa kali saya harus ambil foto berulang, karena hasilnya ngeblur.

20161120_112724
Hutan Pinus sedikit mendaki
 Puncak Penatapen Pintu Angin, salah satu objek wisata yang baru di daerah ini. Belum ada fasilitas apapun. Pengelolaan juga masih seadanya. Warga setempat yang mematok “uang masuk” sebesar 5ribu rupiah. Kebetulan saya hanya pegang pecahan 20rb, si adek tak punya kembalian. Ambil saja dek, gapapa. Tak saya persoalkan soal tarif ini, tak ada harganya dibandingkan pemandangan eksotis Danau Toba dari ketinggian, yang belum tentu bisa kita nikmati kalau saja tempat ini tak dikelola oleh mereka. Ada bangunan yang belum rampung dikerjakan. Kelihatannya mau dijadikan restoran. Tapi sayang, seperti terbengkalai pengerjaannya. Kalau ingin berlama2 disini, disarankan bawa bekal makanan dan minuman karena ngga ada penjualnya. Benar2 belum dikelola dengan maksimal, masih fresh!
20161120_110201
Candid (kakak beradik lagi akur)
20161120_113049
Bangunan Belum Rampung
Puas berfoto berlatar Danau Toba, saya menggiring anak2 ke sepetak hutan pinus. Sedikit mendaki untuk bisa sampai di hutan pinus. Itu berarti kami semakin berada di puncak. Semakin ke puncak, maka pemandangan semakin indah. Tak ada yang bisa diucapkan selain rasa syukur dan kagum atas ciptaan Allah. Bapak, selalu setia menunggu, santai makan kacang kulit, sambil mendengarkan musik dari hp nya.
20161120_111530
latar belakang Danau Toba
20161120_111746
Ndeprok di rumput
Bahagia tak terkira melihat anak2 berlari di alam bebas. Menangkap kupu2, tertawa dan bercanda serta bernyanyi. Saya sibuk merekam dan mengabadikan setiap momen. Lagi-lagi mereka menjadi kreatif dan ingin tahu banyak hal. Bertanya segala macam yang mereka lihat, seperti rumput jenis apa? Binatang apa? Kenapa lautnya besar sekali, Kenapa kapalnya menjadi kecil, Kenapa airnya berwarna biru, kenapa lautnya mirip seperti langit dsb. Saya kewalahan? Tentu tidak, tidak salah lagi! Haha. Jawab aja apa adanya yang penting nyambung dan mereka bisa paham.
20161120_111324
latar belakang Danau Toba
20161120_111709
gitu doong…akur! 🙂 (kelihatan gardu pandang yang letaknya paling puncak)

Sebenernya masih ada lagi gardu pandang yang letaknya lebih memuncak, mendaki lah sedikit lagi, tapi saat itu lagi ada beberapa orang laki2 sedang merokok dan suasana kurang nyaman. Cukuplah sampai di sepetak hutan pinus.

Merasa puas, kami segera beranjak pindah ke lokasi selanjutnya. Seperginya kami, menyusul beberapa rombongan mobil baru tiba. Semoga ini langkah awal memajukan wisata daerah Simalungun, khususnya Sidamanik.
20161120_113015
akses menuju puncak dan halaman parkir lebih mendaki (terlihat deretan mobil yang baru tiba)
Puncak Simarjarunjung
Selanjutnya, Bapak membawa kami menyusuri jalanan berpanorama Danau Toba kembali menuju puncak bernama Simarjarunjung. Yang ini sih, uda bolak balik anak2 dibawa kakek neneknya kesini. Tapi tetap saja beda rasanya kalau jalan sama mama. Kalau sama nenek lebih santun dan banyak duduk. Ya, maklum nenek2 gimana gitu kemampuan berpetualangnya. Kalau sama mama? Ah, payah bilang lah, haha.
Sebelum tiba di Simarjarunjung, kita akan melewati semacam rest area. Di kawasan ini, tidak ada gardu pandang, Restoran apalagi hotel. Tempat ini murni untuk persinggahan sementara. Tempat pengunjung berhenti sebentar sekedar untuk beristirahat, memandang hamparan air danau atau berfoto. Hanya pedagang jagung rebus, kacang dan bakso bakar yang sifatnya berpindah2 mencari keramaian karena dagangnya pakai motor. Oiya, tetap dipungut biaya parkir, loh. Tak masalah lah, ya. Mereka sudah bersusah payah menyediakan lahan kecil, serta bangku2 sederhana untuk kita dudukin. Semuanya terhitung murah bila dibandingkan dengan kepuasan menikmati alam yang maha gratis dari Pencipta.
20161120_114326
pengunjung singgah di “rest area”
20161120_114145
Latar belakang Danau Toba di “rest area”
20161120_114459
Adek Cahyo
20161120_115345
blusukan di perkebunan warga yang ada bangkunya

Ngga jauh beda dengan Puncak Penatapen, Simarjarunjung juga tempatnya untuk kita menikmati panorama sepuasnya Danau Toba dari ketinggian. Tentu saja dengan sudut pandang yang berbeda lagi. Simarjarunjung ini, sudah lebih dahulu dikelola. Sudah tersedia hotel beserta restoran. Di Simarjarunjung, kita bisa lebih leluasa menikmati alam. Hamparan rumput hijau yang bersih menjadi tempat beristirahat yang nyaman bagi pengunjung. Dibebaskan membawa makanan dan tikar, membuat kawasan ini menjadi tempat wisata murah bagi keluarga. Anak2 juga lebih leluasa bermain tanpa alas kaki. Bahkan bisa lompat sambil berguling dengan bebasnya. Memanjat batang pohon pinus yang tumbuh agak mendatar dan menjorok ke tanah, letaknya di tengah padang rumput pula. Mamak setiap kesini pasti tertidur, hehe. Ngga bisa dipungkirin karna selain hawa sejuk bikin ngantuk ditambah klo kita memang bawa perlengkapan untuk tidur. Lagipula kondisinya sangat nyaman untuk beristirahat. Doanya cuma satu, jangan hujan! 😀

20161120_115738
Hotel sekaligus restoran di Puncak Simarjarunjung
20161120_120024
Banyak Main
20161120_115459
Danau Toba dari Puncak Simarjarunjung

Sayangnya, ngga ada transportasi umum menuju kawasan puncak ini. lagipula masing2 daerah sangat jauh dari pemukiman penduduk. Hanya dekat dengan ladang2 dan kebun, membuat lokasi ini sebelumnya masih terbilang jarang disentuh. Geliat wisata yang diharapkan mampu mendongkrak popularitas kawasan2 ini.

Ngga sampe 3 jam untuk bisa puas bermain. Kalau mau dilanjut sih, ya bisa banget. Hanya saja saya harus mengejar waktu balik ke Medan. Kami harus pulang segera. Di perjalanan anak2 kelelahan dan tertidur. Liburan lagi, kita pasti lanjutkan bermain ya, nak. Semoga kakek dan nenek sehat selalu dan mama cari uang lagi… 🙂
Iklan

31 pemikiran pada “We Have A Very Simple Way To Be Happy (Part 2)

    1. Aku hamil dua kali, ngidamnya jalan2 trus Win…
      Hamil gede masi sempet2ny mandi2 di sungai, naik bianglala di greenhill dan naik sepeda. Ngidam yg aneh haha.
      Smoga sehat dan lancar spe lahiran y say… 🙂

      Suka

  1. mbak, toss dulu ah,. Suamiku juga sama, lebih ngajak anak2nya liburan ke alam ketimbang emol. Adventurenya dapat, pelajaran hidup juga dapat kalo di alam bebas ya mbak. Seru ih pemandangan danau tobanya. Jadi mupeng

    Suka

  2. Sepadan banget dengan judul postingan ini. Perjalanan yang sederhana tapi maknanya banyak banget. Bisa belajar soal alam dan kebersamaan–esensi traveling yang kini mulai pudar. Saat ini malah orang berlomba-lomba buat ke destinasi yang hits dengan pemandangan mentereng, lupa kalau pemandangan yang tak kalah indahnya sudah disediakan Tuhan dengan cuma-cuma di bumi Indonesia. Ah, bahagia itu memang sederhana ya, Mbak. Tak apalah dipungut sedikit biaya, hitung-hitung biaya kebersihan orang yang sudah susah payah menyiapkan tempat itu untuk dikunjungi (meski kalau biayanya kebangetan juga kadang protes sih, haha).

    Suka

    1. Tergantung gmn kita menikmatinya ya Gar. Jgn2 wisata di tpt hits serba mewah tapi hatinya hampa, hehee.
      Kalau tpt wisata yg masi dikelola masyarakat lokal, biasa tarifnya suka2 mereka. Harap maklum lah klo begitunya :D. Yaitu, merka udh susah payah memugar lahan dari semak2 sampe jadi cantik. Sangat tak seberapa dibanding tarif segitu.

      Suka

      1. Iya duh, bagaimanapun yang penting itu hati yang bahagia kan Mbak, hehe.
        Iya, mesti ada mengerti juga dari kita. Bisa jadi kini itu mata pencaharian utama beberapa keluarga di sana, kan.

        Disukai oleh 1 orang

  3. liat ini aku kangen pgn mudik :(.. danau toba selalu aku lewatin kalo mudik ke sibolga mbak… tp aku g prnh kesana lewat jalurmu ini.. slalunya dr Parapat.. tapi mau diliat dari sisi manapun, danau Toba ga pernah failed bikin aku slalu kagum ;).. merinding liat megahnya… ga kebayang dulu sedahyat apa ya letusan gunung apinya sampe bikin danau sebesar ini

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s