Terpaku diteduhnya Hutan Pinus Mangunan 

Menuju kawasan Hutan Pinus Mangunan, tujuan kami selanjutnya. Sepanjang jalan kami harus melewati berbagai macam hutan lindung. Hutan kemiri, mahoni dan pohon jenis lainnya. Bahkan kami sempat ragu, karena tak kunjung melihat adanya kawasan hutan pinus. Namun, setengah jam kemudian kami melihat penampakan pepohonan pinus. Akhirnya tiba juga. Sudah ramai saja pengunjung disana. Padahal bukan weekend atau tanggal merah. Bahkan ada beberapa pasangan yang sedang foto praweding. Setelah memarkirkan kendaraan di sebuah lapangan yang terletak di seberang kawasan hutan pinus, siang itu terasa semakin sejuk ketika memasuki kawasan pepohonan pinus. Tidak dipungut biaya apapun, hanya ada satu kotak sumbangan sukarela pengunjung dan tarif parkir saja.

Suasana semakin terasa damai saat semilir angin memainkan jilbab kami, menyapu wajah serta suara gesekan dedaunan seolah membentuk sebuah simfoni alam. Kami langsung mengambil tempat masing-masing duduk di dahan pohon yang sudah ditebang. Ada yang bermain ayunan dan duduk di sebaris bambu yang menyatukan antara dua pohon pinus. Kami tak berminat berjalan-jalan. Kami hanya berfoto untuk mengabadikan setiap jejak yang kami lewati. Padahal katanya banyak spot keren untuk berselfi atau welfi. Hamok, mata air serta gardu pandang. Namun, selain karena lelah, kami juga terhipnotis untuk menikmati suasana udara pedesaan yang sudah sangat jarang kami dapat walaupun hanya sekedar duduk. Ketenangan itu mampu sedikit demi sedikit mengusir letih. Saya sempat membuka alas kaki karena hampir seluruh tanah dijatuhi dedaunan kering bagaikan permadani alam. semakin terasa sejuk serasa mata air menjalar ke seluruh tubuh.

Cahaya matahari yang mengintip dan menembus dari celah dedaunan mampu menghangatkan dan memperindah suasana seolah berada di sebuah pentas megah bertabur lampu hias. Tak kalah cantik dengan hutan pinus yang ada di film hollywood. Suara gelak tawa pengunjung menjadi melodi tersendiri di tengah ketenangan pepohonan. Konon, filosofi Korea menyebut pohon pinus berdahan lurus melambangkan sebuah kisah cinta yang begitupun banyak aral namun dapat dilalui dengan mulus, sementara daun hijau melambangkan kisah cinta yang selalu subur dan indah. Benarkah?? 🙂

Dari saya tak ada tips khusus berkunjung ke hutan pinus. Paling alas kaki jangan yang bertumit lancip karena tekstur tanah yang lembab bisa kerepotan kalau tumitnya nancep melulu :D. Oiya pastikan bawa kamera full batere aja sih supaya ga mati gaya karena setiap spot sangat instagramebel (kayak kata orang-orang jaman sekarang) Hehe

Dirasa cukup, (cukup lelah :D) kami segera beranjak kembali menuju kota Jogja. Ingin segera rasanya merebahkan diri di kasur. Meluruskan pinggang dan mengisitirahatkan fikiran sejenak. Karena besok akan memulai petulangan selanjutnya. 🙂

Yang sudah berkunjung, bagi ceritanya dong 🙂

Iklan

6 thoughts on “Terpaku diteduhnya Hutan Pinus Mangunan 

  1. Kalao lihat pohon pohon pinus gini kebayang musim salju, pohon natal dan felem felem vampire hiihihi

    Suka

    1. Hehehe…
      Tp beneran mendadak jadi syahdu klo udah di dalem 😀

      Suka

  2. sekarang hutan pinus jd wisata yang instagramble banget ya kak

    Suka

    1. He em…
      Emang enak sih di bawah puun2…:D

      Suka

  3. Harus bawa bekal kah atau di sana ada yg jual?

    Suka

    1. Ada kok mb penjual makanan di parkiran. Tp nyebrang dl. Klo di dalem hutan pinusnya ga ada. Steril dr pedagang 😀

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close